Permainan Broker PRT yang Tak Etis

Lagi-lagi kami krisis pembantu rumah tangga. Yang terakhir ini sungguh mengesalkan. Bagaimana tidak, kami membayar sejumlah uang ke broker PRT saat mendapatkan mbak yang terakhir ini, dengan garansi 2 bulan tidak akan resign. Kebetulan dia juga memasukkan PRT ke tetangga sebelah.
Tak tahunya setelah jalan satu setengah bulan, tiba-tiba saja minta pulang. Alasan klasik, mau dijodohkan, sudah dijemput orang tuanya. Mau gimana lagi, selain memulangkan mereka, dengan janji (yang ternyata gombal) akan balik lagi setelah satu minggu. Anehnya, mbak di tetangga sebelah pun juga ikutan pulang. Lho… jadi curiga. Benar saja, setelah satu minggu Yanty kejar terus dengan SMS, “kapan balik?” akhirnya dia ngaku kalau dia nggak pulang tapi dipindahkan ke rumah lain oleh sang broker! Wow!
Kami tahu, sejak pemerintah menetapkan UMR yang cukup tinggi, calon mbak-mbak PRT ini lebih memilih menjadi buruh pabrik. Para broker PRT jadi kekurangan stok, padahal permintaan tetap tinggi. Cara cepat untuk tetap berbisnis ya dengan memutar perpindahan PRT. Paling tidak dia mendapat easy money dua bulan sekali.
Sang broker ini adalah istri penjual mi ayam langganan kami sejak 2001. Benar-benar sudah kenal baik, hampir tiap Sabtu kami sarapan di tempat dia. Cuman rasanya di beberapa tempat memang uang masih nomor satu.

February 23rd, 2013 by