" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: January 2001 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

January 22, 2001

Rumah baru

Yang satu ini, Tuhan benar-benar menguji kesabaran dan ketekunan kami.

Dari awal kami bersepakat untuk mencari rumah tinggal sebelum melangkah ke rencana yang lebih lagi (menikah! he...). Tahun 1998 kami sempat getol keliling Jakarta Barat, keluar masuk perumahan, mencari tanda "rumah dijual, hubungi...". Tiap kali ada pameran properti kami pasti ada di sana. Tapi melihat harga, bentuk, ukuran, lokasi, dan segala tetek bengeknya membuat kami menunda pencarian kami. Ternyata mencari rumah di Jakarta susah juga ya.

Hampir setiap tahun kami mengulangi kegiatan hunting rumah ini. Kami pun mulai searching di Internet, mendatangi broker properti, dan kantor pemasaran perumahan. Hasil? sama saja. Aku hampir putus asa. Untung saja ada Yanty yang mengingatkan (Pengkotbah 4:9-10), untuk berserah kepada Tuhan. Aku dikuatkan kembali, tapi aku bukan tipe orang yang hanya berserah kepada Tuhan semata tanpa melakukan sesuatu. Setelah beberapa bulan "beristirahat", kami meneruskan kegiatan ini, tanpa lelah (ya kadang saja sampai agak batuk pilek, kehujanan).

Awal tahun 2000 kami menemukan rumah yang kami inginkan. Lokasi, ukuran, dan bentuk sudah sesuai. Tinggal negosiasi harga dengan pemilik. Ternyata Tuhan mementukan lain. Setelah baru beberapa hari melakukan kontak telpon dengan pemilik untuk menentukan harga, ternyata rumah tersebut telah terjual dengan selisih harga "hanya" lima juta dengan penawaran kami. Saat itu saya kecewa. Sungguh suatu harga yang mahal untuk setiap Sabtu naik motor berputar keluar masuk perumahan, bertanya sana sini, melakukan kontak telepon, dan sampai sedemikian dekat di tangan, akhirnya lepas juga. Kami terlalu berharap pada kemampuan kami sendiri. Itu ujian besar kami yang pertama.

Sejak saat itu kami lebih mempercayakan pilihan kepada Tuhan. Tidak pernah "ngoyo" kalau memburu rumah yang kami inginkan. Jika penawaran harga kurang cocok, kami diamkan saja sampai pemiliknya menghubungi kami kembali. Kami merasa bahwa usaha kami dalam tawar menawar hanya sampai kontak pertama atau kedua saja. Selebihnya kami serahkan kepada Tuhan untuk mengurusnya. Hal itu membuat kami lebih tenang, berpikiran lebih luas, dan yang penting tidak mengganggu kegiatan kami yang lain.

Selanjutnya hanya kerikil-kerikil kecil. Ada beberapa penawaran yang sudah di depan mata, hanya beberapa masalah kecil saja. Tetapi malah membingungkan. He..., yang dulu susah mencari, sekarang malah bingung untuk memilih. Yanty pernah memohon kepada Tuhan, untuk memberikan yang terbaik bagi kami. Pilihan minggu pertama, Rumah bekas, siap huni, tapi lokasi di pinggir perumahan. Pilihan minggu kedua, rumah bekas juga, besar, siap ditingkat, tusuk sate, perlu renovasi. Pilihan minggu ketiga, rumah bekas juga, lokasi bagus, lebih kecil dari pilihan kedua, termasuk 2 AC, siap huni.

Setelah beberapa minggu bertukar pikiran dan berdoa, akhirnya keputusan jatuh di rumah kedua. Negosiasi pun tidak berjalan dengan lancar. Perlu 2 bulan untuk menetapkan harga! Proses di notaris pun hampir serupa. Ternyata kami berhadapan dengan pemilik yang cerewet dan tidak percaya kepada siapapun. Puji Tuhan, semuanya telah selesai awal Januari 2001.

Dari pengalaman ini kami mendapat banyak sekali pelajaran. Kesabaran, ketekunan, rendah hati, berhikmat..., hampir semua ego kami serahkan kembali di tangan Tuhan.

Catatan akhir:

  • Daya jangkau Internet sungguh luar biasa. Akupun kenal dengan pemilik lama ini karena dia memasang iklannya di Internet. Makanya aku bikin situs ini untuk menyebarkan kisah bersama Yesus-ku agar bisa dibaca oleh semua orang (dan berharap bisa menjadi berkat pula...)
  • Berdua itu baik. Bertiga apalagi. Banyakan sangat bagus! Jangan sampai engkau lepas dari komunitasmu. Apalagi sampai "madol" dari pertemuan-pertemuan rohani (komsel, de el el).
  • Ada kalanya Tuhan memberikan engkau kebebasan untuk menentukan pilihan. Ada kalanya pula kita harus menyerahkan pilihan itu kepadaNya. Kita mendapat hikmat dari Tuhan salah satunya untuk membedakan hal seperti ini.
  • Segala perkara di dunia ini akan menjadi pelajaran berharga jika kita menghadapi dan melihatnya di dalam Kristus.
  • Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12).

January 14, 2001

Say NO MORE! to: 'Untuk Kalangan Sendiri'

Early December 2000, I got an idea to develop a web site for my church. That time, my friend Arman said yes to support me for the contents. Good for me, because I don't have any official links to workers in my church and I want this site will be officially used.

In development time, this question occurred, should we create a password to enter the site? I said we don't have to. It will limit the surfers on the web. I don't want it happened. It should be opened widely for everyone to read and interact with it.

I remember one email I've sent to another Indonesian Christian site who protect their site with member registration. They answer it's used to limit the browsers for internal use only and avoid unwanted actions from others that don't like the contents. We're still living in a sensitive society, they said. In short, they put the words 'Hanya untuk kalangan sendiri' in front of their site.

Well, surely I don't agree with them. My opinion was strengthened with a sermon about how close can you be with God. The preacher told us about Moses, Daniel, and Joseph who's became a master in their skills. They did that because they have met, personally, with their master, the God Him self. He continued with examples: when Moslems claims about Ajinomoto, when Balinese warns vehicle business not to name their products with Rama or Brahma (or others similar), why Christian never shout to the world that Close Up commercial on TV despise the wedding ceremony which it should be a God sacred time to unite two person become one. Why no Christian claim and publish their faith that nothing will happened on January 15th!

He close the sermon with a call, for everyone in that room whose heart was touched by the Holy Spirit, closer to The Master to become a master. Even I didn't stand up, I feel His touch and said amen for every words. It's time we say no to 'Untuk Kalangan Sendiri'!!!

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®