" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: February 2005 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

February 28, 2005

Rp... Rp... Rp...

* lagi pusing, laper *

Kalo ngomongin soal duit, kok kepalaku selalu jadi pusing ya. Seperti dulu aku juga pusing dan sempet bertengkar gara-gara nggak bakat ngurusin duit registrasi MoCamp 2003 (kalo nggak salah) *Gee... Arianti, sorry banget ya*. Hem, itu dulu.

Sekarang, soal PPS, aku masih juga ngurusin registrasi peserta, tapi dah nggak ngurusin duitnya. Kekekekeke... *licikus* dikasih-serah-tugaskan ke divisi keuangan. Aku tinggal kasih rekap peserta pendaftaran aja, biar mereka yang bingung crosscheck. Gee...

Soal keuangan rumah tangga, aku juga pernah pegang *maksudnya ngurusin*. Tapi nggak berlangsung lama. Nggak smooth dan banyak bocornya. Akhirnya ada yang care dan pengertian dengan kemampuanku dan mengambil alih: my lovely wife! Yang dulu sistimnya dimasukin ke ATM semua, sekarang sama A Eng dimasukin ke amplop, per kebutuhan. Gee... efektif dan efisien juga. Jarang ada yang bocor, perpuluhan nggak pernah bolong, tagihan nggak pernah telat, duit belanja dan jajan makan ke luar ada kasnya, dan yang pasti: jadi bisa nabung!

Hem, soal nabung, jadi inget sekarang dah tanggal 28. Last day in Feb, dan aku blom gajian. Gee... Bakal telat lagi neehh...

February 23, 2005

Divisi Informasi

SMS Inbox 12:24:03pm
Shallom Pak Adhi. Saya ********, sdang training dPT.******. Sy mau tanya alamat Greja GBI yg t'dekat dr pulogadung dimn ya?. Mksh s'blmnya. GBU.

Walah... tanya gini kok ke saya. Hem... apa karena no hape saya tiap tiga bulan sekali dikasih embel-embel "Divisi Informasi" lalu saya mesti menyediakan informasi sebanyak-banyaknya tentang semua hal? Gee... sewot? nggak lah. Cuma ketawa, sambil buka Cybermap. Moga-moga bisa bantu orang ini.

Utamakan Selamat

... tertulis di belakang bak truk atau mobil box, itu biasa. Kemarin yang saya lihat tidak begitu biasa, "Utamakan Kernete' Bisa Makan Siang". Hem... hem... yang ini lebih spesifik.

Soal aksesori di belakang kendaraan, akhir-akhir ini saya sering melihat boneka kecil 'tersiksa' diikat di belakang motor. Sudah tidak begitu menarik, dan cepat kotor lagi. Oh ya, dulu pernah booming pasang plastic strap di mana saja. Khususnya buat pengendara motor. Di helm, dashboard depan, belakang...

Oh ya. Yang lucu, saat saya masuk gedung tadi. Seperti biasa berdasarkan Peraturan Gubernur soal pemeriksaan kendaraan, semua bagasi dibuka. Mobil di depan saya sedan, saat tutup bagasinya dibuka, ada tulisan di dalamnya yang membuat saya tersenyum, "mohon nutupnya pelan-pelan, jangan dibanting". Sepertinya sudah sering dibanting oleh satpam rupanya. Kalau pengalaman saya dengan satpam Plaza DM ini malah sebaliknya. Mereka bisa dengan pas menutup sliding door Espass tanpa membantingnya, tapi menutup dengan sempurna. Wah, saya sendiri masih perlu berlatih lebih lama lagi.

February 22, 2005

Nyante

Kemarin, aku ngebut dari maizt pulang. Jam 8.30pm, mesti nyampe rumah jam 9an, mo nonton film bareng A Eng. Gee... biasa? nggak. Yang ini spesial.

Jam 9 lebih dikit sampe di rumah. "Dah mulai?" "Baru aja". Aku trus lihat sebentar, pas iklan langsung lari nyambar handuk dan mandi. Kelar, trus ambil makan malam, dan duduk disamping A Eng, monton Legally Blond. Hee...

Karena ketidaksengajaan saja, tiap aku balik dari Men's Meeting, A Eng pasti sediain sup panas! Kalo nggak sup sayur biasa, ya sup kacang merah (jarang), atau sup spesial A Eng: sup sosis! Sukaaa deh.

Kelar makan, trus diterusin ma nut & coke. Sampe jam 11 kali. Bercanda, sante, menyenangkan diri. Uh... enak deh.

Ada temen bilang, "nikmati hari terakhirmu di 30". Well, that's what I did, and sooo fun!

Oeeee....

Oeeee...

February 21, 2005

Distribusi Tugas dan Beban Kerja

Saya pikir ada benarnya judul di atas. "One Man Show" yang selama ini saya jalani di bisnis reparasi pria itu sebenarnya berbahaya. Silakan berandai-andai, kalau saya berhalangan datang, atau saya tidak bisa datang tepat waktu, acara kelas pasti bakal molor. Coba saja: spanduk, absensi, daftar diskusi, daftar pr, daftar pengumuman, map pembina & name tag, alat tuls, notebook... er... apa lagi ya... semuanya masuk ke bagasi Espass tiap Senin. Benar-benar berbahaya.

Minggu kemarin saya sebar barang-barang saya ke seluruh tim, dengan maksud agar tidak terjadi penumpukan beban tugas. Gee... lega memang. Tapi ada efek sampingnya, saya jadi ada keinginan untuk nggak ikut kelas. Hue... hue... hue... Tapi hari ini saya datang, meskipun akan pulang cepat nanti.

Loper Koran & Sepuluh Juta

Tahun lalu saya masih sering pulang kantor lewat Cideng. Sampai pada akhirnya sadar kalau saya sedang membuang waktu sangat banyak untuk melalui ratusan mobil dan motor yang melintasi jurusan itu, dan membuat saya memilih Pejompongan - Slipi - Jelambar - ...

Masih terbayang di perempatan Cideng, setiap sore, dengan rajinnya seorang bapak tua mencari peruntungan dengan menjual koran. Stoknya tidak banyak seperti pada lazimnya loper koran yang membawa setumpuk koran dan majalah di lengannya. Bapak ini hanya membawa paling tidak lebih dari dua puluh koran. Berjalan dengan perlahan di antara kendaraan yang berhenti di lampu merah Cideng, tanpa agresif menawarkan dagangannya. Sekali lagi, tidak seperti lazimnya loper koran yang segera berlari mendekat jika melihat mata kita sedikit saja melirik ke koran mereka *makanya saya sering pakai kacamata hitam setiap pagi agar leluasa membaca headline koran-koran*. Kadang, bapak ini ditemani dengan dua anaknya. Mirip sekali wajah keduanya dengan bapaknya. Yang satu masih sangat muda, laki-laki. Mungkin masih SMP. Yang satu perempuan, berambut panjang, setara SMA, tanpa canggung menata korannya yang hanya sedikit di lengannya dan berjalan di antrian mobil lainnya. Mereka ini lain, karena memang berbeda. Lihat sajalah sendiri, coba lewat Cideng waktu pulang kerja.

Atau kalau anda kemarin Minggu sempat melihat Uang Kaget 10 jutanya Helmi Yahya, anda akan melihat dia, mendapat peruntungan yang tidak sedikit. Sangat besar saya kira. 30 menit untuk membelanjakan uang sebanyak itu, pilihan bapak ini sebenarnya tepat: Mal Ciputra. Dan yang pertama dimasukinya adalah Frank&Co! Gee... mungkin dengan uang 10 juta saja kurang untuk membeli barang termahal di toko ini. Hem... hem... itu toko langganan istri saya cuci mata.

Saya tidak akan menceritakan ulang acara episode kemarin, hanya mengulang kembali apa yang sering sekali diungkapkan bapak ini, "...saya selalu mencari uang dengan halal...". Ah, betapa bersyukurnya istri dan anak-anaknya. Meskipun hidup pas-pasan, dia layak menjadi panutan.

February 18, 2005

Drafting...


Tadi malam seharusnya saya mengikuti pertemuan... bukan, bukan, tapi komsel tim PPS di Mal Ciputra. tapi karena ada kesibukan mendadak di kantor (beresin SAVCE9) akhirnya saya keluar dari kantor jam 20.15. Naik tol dari Semanggi, dan mendapat 'hadiah' pemandangan menarik: BMW 520i yang baru.

Hem, sempat mengekor 90KPH selama 2 menit sampai dia berbelok ke kiri, mengikuti antrian ular ke arah Kebon Jeruk. Hm... bagus belakangnya. Kesan galak dan sangarnya kentara sekali. Lampu belakang yang ditarik sedikit ke atas itu mungkin yang memunculkan kesan itu.

BMW lewat, saya langsung pindah nge-drafting *as in NFS-UG* mobil tercepat yang saya temui: ML320. Dari sekitar MTA sampai pintu tol Kapuk. Menikmati visual kerja suspensi independen belakang yang sempurna. Uh, jadi pengin.

February 16, 2005

Bisnis Membiakkan Uang

Gee... syerem judulnya. Tapi buat sebagian *besar* orang hal seperti itu sudah biasa. Apalagi sejak beberapa tahun lalu bukunya Kiyosaki soal 4 kuadran jenis manusia pencari duit dan betapa bahagianya bisa memiliki passive income meledak di Indonesia.

Sedangkan saya, ah, sama sekali tidak berbakat menjadi enterpreneur. Sebagian *sangat besar* orang lainnya memang seperti saya. Lebih memilih pendapatan mapan dengan profit seadanya dan rencana kedepan yang pendek. Untuk 5 tahun ke depan, yah, lihat saja nanti. Jadi, kuadran keempat Kiyosaki itu hanya bisa dicapai oleh segelintir *besar* manusia saja di Indonesia. Mungkin??? Apa iya???

Dua tahun lalu saat Willi belum lahir saya benar-benar tertarik dengan reksadana. Tapi karena produk finansial tersebut tidak dijamin pemerintah, A Eng tidak setuju. Masih lebih memilih deposito dengan interest 6,5%pa. Belum kena pajak ini itu. Yah, namanya duit nganggur, kepakenya nanti kalau Willi mau sekolah, dan kepepet nggak ada duit di bawah bantal. Akhirnya ngejogrog di deposito bertahun-tahun *grin, kayaknya lama aja, padahal cuma beberapa tahun*. Akhirnya ide danareksa masuk account Microsoft Money kami terkubur...

Sampai dua minggu lalu, edisi khusus Kontan membahas reksadana, dan A Eng yang beli, dan dia kasihkan ke saya dengan harapan saya lebih mengerti banyak soal risiko dan untung-ruginya. Ah, benar-benar bacaan berat. Liburan Imlek dan 1 Muharam kemarin saya habiskan untuk menelaah belasan artikel di majalah itu. Capek memang, tapi akhirnya A Eng setuju kami memindahkan sebagian (50% ding!) deposito ke dalam reksadana. Gee...

Proses pembukaan rekening dua hari, kita lihat saja apakah kami puas atau kami tutup tahun depan. Oh ya, saya invest di BPAM. Bukan promosi, pilih itu karena modal minimumnya bisa kecil, produknya termasuk yang direview di Kontan, dan bertetangga dengan kantor saya.

February 14, 2005

Padat...

Hari ini lalu lintas padat kembali, setelah saat libur Imlek dan 1 Muharam saya menikmati lengangnya jalan protokol di Jakarta. Tadi pagi berangkat jam 6.40 seperti biasa, sampai kantor 8.30 tidak seperti biasa. Macet? bukan, saya hanya bilang padat. Tapi sama-sama tidak menyenangkan.

Seperti lingkar perut saya, juga sudah mulai padat. Sudah sejak Willi di perut ibunya, perut saya juga mulai membesar. Ketularan makan banyak seperti istri saya. Selain bikin berat di ongkos belanja groceries, bikin berat juga di ongkos pakaian. Saya dulu biasa pakai 31. Tanpa bertahap, tiba-tiba melewati nomor 32 jadi 33. Yang bikin sedih (dan malu) kejadian kemarin. Tertarik dengan discount jeans di Matahari, pilih-pilih, menentukan pilihan, dan minta no 33. Jawab pramuniaganya, "Paling besar 32 Pak...". Haiks...!!!

Di perjalanan saya mengambil komitmen untuk diet, sit up, kembali aktif berenang. Pokoknya harus mengecil dan bisa beli regular comfort fit lagi. Nggak mau yang model lain. Sampai rumah, sadar kalau besok (hari ini) Valentine, dan ngajak A Eng ke Awong, makan kepiting. Lupa sama komitmennya... Huh...

February 11, 2005

Soaking Wet, and Bubbling

Hgyaa...

Kemarin pagi, pembantuku nyeletuk ke istriku, "Mbak Yanty, iki nopo, kerendem..." sambil nunjukin flash disk ku. Uaa...!!! Panik aku. Udah bener-bener basah, dan bersabun lagi. Gee... moga-moga sabunnya nggak sampe masuk. Dicipratin banyak banget yang masuk. Sampe nggak keluar air lagi, trus mikir, masak mesti dibuka casingnya kayak Paul pernah cerita punya dia kecemplung got...

Hem, sayang. SanDisk Cruzer Mini casing nya bagus euy, masak dicongkelin. Akhirnya aku ambil hairdryer A Eng, dinyalain, taruh di atas meja, dan si SanDisk aku taruh persis di depannya. 10 menit kali, sampe aku yakin *sigh, nggak juga sih* kering. Trus dengan sangaaaaattt hati-hati aku coba colok ke tancepan USB. Dan...

Viola...!!! Puji Tuhan, lampunya berkedip nyala. Coba copy, delete, move, de el el. Sepertinya OK. Phew...

February 7, 2005

Techie, Money, Techie, Money, Techie, Money...

Hem, sepertinya tugas kerja saya di kantor ini sudah berayun diantara sales marketing dan technical. Dulu, waktu menyusun proposal atau penawaran, saya hanya menulis bagian technical saja seperti sys config, hw req, sw req.

Lalu waktu berlanjut, GM pindah kerja, ber'wira'swasta, dan tugasnya dilimpahkan ke saya. Dari mengurusi perijinan cuti, interview karyawan baru, menyusun jadual proyek, mengatur beban kerja staf, sampai menentukan 'jabatan' yang akan ditulis di tiap kartu nama baru.

Saat ini, saya juga kelimpahan tugas untuk melakukan penawaran untuk salah satu client, existing, big, and bawel. Ugh... Ternyata berhubungan dengan manusia dan uang itu lebih sukar daripada technical problem solving. Saya mesti spend banyak waktu untuk melakukan kontak, telepon, email, sampai berkunjung hanya untuk menjaga hubungan.

Capek? Jelas! Saya belum bisa menikmatinya. Saya masih lebih puas jika bisa membantu staf menyelesaikan algoritma pemrograman yang ruwet. Saya masih akan bersorak keras jika menemukan hal teknis baru di Internet. Untuk hal penawaran dan penjualan, paling-paling menghela nafas karena sudah selesai. Komisi? Memang ada, sedikit tapi lumayan. Tapi kerja tidak hanya mencari uang bukan?

Saya sepertinya harus belajar menikmati keduanya. Gelagat hawa di kantor bakal tidak akan mencopot tugas itu dari pundak saya. Hem, mungkin sudah saatnya saya memperluas kapasitas di kantor ini.

Men's Camp, day 2

Pagi itu, Papi Indrawan bangun duluan, mandi, trus bersiap untuk mengkoordinir doa pembina, jam 6.30. Aku bilang, "Pak, saya siangan ya bangunnya". Papi cuma bilang, "Ya..." sambil ke luar, karena sepertinya sudah terlambat. Matahari memang selalu engan muncul di Puncak yang selalu berkabut di musim hujan ini. Aku tidur lagi. Rasanya pulas banget tidurnya, sampe jam 06.57 N6100 ku nge-beep. SMS dari Arman, "Sanka, are you dead?". Gee... reply, "I'm cool. Be there in 20 mins".

Bangun, nyalain air panas (yap, PLB punya air panas 24 jam), mandi, rapiin badan, panasin mobil sambil doa pagi plus menikmati keheningan PLB (lainnya dah masuk aula, yang lumayan jauh dari kamar panitia, salah bagi kamar aku). Jam 7.30an dah nongkrong di depan notebook lagi. Sun An lagi berkutat dengan handycam. Dan Johny sedang berkutat dengan EasyWorship. Oh, gantian nih ceritanya. Gee... Kapan ya ada yang bisa gantiin aku untuk arrange bagi kelompok, bagi kamar...

Oh, Arman nggak ada di aula. Yg in charge Agus, dan setelah lihat aku di belakang, dia seakan memindahkannya ke aku. Buset dah. Sibuk lagi. Padahal otakku dah mulai mikir teknikal beres-beres dan kepulangan. Motoku, "peserta pulang, tim juga pulang, barengan". Ya udah, ditunda dulu.

Acara rada molor. Gee... emang ada yang pengin membatasi lawatan Allah? Let it be... Akhirnya acara foto bersama dilewatkan. Mungkin nanti saja pas kelas terakhir, per supervisor bisa kali ya di Maizt lantai 3. Sesi terakhir di luar hujan deras. Ko Rubin sempet lihat mataku yang kecapekan, "Nopo Dhi, kok lemes". "Pilek Ko, ket teko mrene. Awas ketularan lho...". Sempat pinjem payung mo ke mobil ambil baju ganti. Buset deh, tiap kelar kotbah, Ko Rubin pasti ganti baju, berkeringat. Gee... padahal di Puncak lagi dingin-dinginnya, hujan lagi.

Sesi terakhir ditutup dengan wipe out altar call (semua maju ke depan) sekitar jam 4. Aku dan tim sudah packing, berberes apa yang bisa diberesin duluan. Plung-plung... semuanya masuk container box plastik. Hee... jadi inget Taswin yang beliin box pertama kalinya. Dia sekarang 100% di KEGA. Upload ke espass, dan viola! Jam 4.30 sore Aku, Erwin, dan Junanta dah meluncur ke bawah. Di depan bis pertama. Hebat! Ini rekor, baru pertama kalinya aku pulang di depan bis.

Turun pelan-pelan karena hujan dan jalan super mini. Sampe jalan raya Puncak, agak merembet. Jalan bisa dibilang super sepi kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena minggu depan ada libur panjang, jadi banyak yang masih berlibur di Puncak. Arus turun lumayan sedikit. Cuman macet di daerah pasar... apa tuh. Nggak tahu namanya. Menyentuh tol Ciawi, langsung 120. Berhenti sejenak ambil kartu tol, lalu 120 lagi. Kadang 135 kalo rada sepi. Nggak hujan. Keluar tol Slipi, anterin Junanta di Kavling Polri (baru tahu itu daerah di sekitar Jelambar), lalu masuk tol Kapuk. Sampe di rumah jam 7.

Disambut Yanty, cup di bibir (jangan ada yang iri yaa... :D), dan A Eng nyeletuk, "Kok lebih cepet dari yang dulu..." He... he... he... Sukses Man, kita potong waktu nih! Lalu say bye to Erwin, dan masuk rumah. Bercanda sama Willi, mandi, bercanda lagi, makan sup panas, trus bobo.

Whoaa...!!! What a wonderful weekend!!!

February 6, 2005

Men's Camp, day 1 (cont.)

Malam, pilekku tambah mengganggu. Sesi ketiga Kak Budi Jo aku dah nggak bisa konsentrasi. Untung masalah admnistrasi seperti ganti nama, ganti kelompok, pindah kamar, de es be, udah kelar sebelum sesi dua.

Malam itu, pas altar call, biasanya aku ambil alih kamera untuk shoot di panggung. Tapi saat itu aku biarkan Johny yang berkreasi. Aku duduk terkapar di belakang. Sambil sentlap-sentlop, bersin nggak ada habisnya. Dan aku percaya Allah tahu batas kekuatan badanku, Allah tahu kapasitasku di camp ini. Tiba-tiba Kak Budi Jo bilang, "...yang sakit, maju ke depan! Kita akan mendoakan saudara..." gee... selagi Kak Budi berdoa, dan para pembina menumpangkan tangannya ke peserta di depan panggung, rasanya badanku lebih enak. Bersin tiba-tiba berhenti, dan hidungku bisa menghirup udara dingin Puncak lagi... Nggak mungkin pengaruh Panadol Cold & Flu yang baru aku minum dua menit yang lalu. It's super extraordinary!!! Padahal aku masih duduk di kursi yang sama, di belakang, bareng Sun An...

Jam 1 pagi semua tim kembali ke kamar. Arman, Andre, dan Sun An masih lembur, kerjaan kantor. He... he...

February 5, 2005

Men's Camp, day 1

Pagi terbangun jam 5, alarm hape bunyi. Ouaahhh... mata masih berat. Tapi terbayang peserta camp bakal berangkat jam 8 dari Jakarta. Ui... mesti prepare cepet-cepet. Lihat hape, sms dari Agus yang lagi ngorok di kamar sebelah, minta ijin bagun siang. Nggak apa-apa lah. Dia nanti kan on stage, nggak mungkin menguap di depan.

Mandi, doa bentar sambil menatap karya Allah di Puncak, trus gedorin pintu satu satu, lupa kalo Agus minta bangun siang. Gee... Sorry Gus. Silakan bobo lagi.

Akhirnya baru jam 6.30 kita semua ready, kerja 150% di aula. Bongkar semua perlengkapan dari Espass (bangku belakang aku copot, saking penuhnya). Angkat ke Aula. Set up meja panitia sepanjang 6 meter!). Bersihin aula, tempel daftar tempat tidur di 56 kamar, pasang 12 spanduk, bikin 170 name tag, atur 180 bangku, pasang 2 lampu spot 500 watt, pasang proyektor dan 30 meter kabel VGA (so Sun An bisa operate dari belakang mentok, kalo mau sambil tidur juga bisa), set up 2 notebook linked dan satu printer, set up handycam dan tripodnya nangkring di atas meja, tempel absensi di teras aula, tempel daftar kamar dan daftar kelompok di teras aula, dan terakhir isi perut alias sarapan.

Arman datang jam 9, tanya, "ada yang perlu dikhawatirkan nggak?" Aku bilang, "nope, kecuali ini" sambil jempolku menunjuk ke 1/4 bagian aula yang masih tertutup. Jam 10 bis pertama sampai, aula mulai ramai. Kita sampe harus memberi penjelasan ke Acer kalau kita akan berusaha meredam sebisa mungkin kegaduhan di aula...

Akhirnya jam 11 sekat pembatas itu dah dibuka... Kita lalu memanjangkan meja panitia jadi 12 meter! Set up meja pembayaran, meja penjualan buku, meja kunci kamar, dan terakhir meja complaint center (yap, sudah ada sejak camp tahun lalu).

Jam 12 makan siang dihidangkan, aku ikut ngantri, makan, kenyang, dan lalu duduk terhenyak di depan notebook, sebelahan sama Sun An. Siap-siap dengerin Kak Eddy menyampaikan pesan Tuhan buat seluruh pria...

Men's Camp, day -1

Janjian kumpul di Maizt jam 8, akhirnya molor sampe jam 9 malam. Willi sakit, jadi pulang kantor mesti anterin yanty beli obat dulu. Gee... untung Erwin nitipin motornya di rumah, jadi kalo ada perlu mendesak ke luar bisa pinjem motor dia. Pas berangkat, kena macet lagi. Akhirnya datang paling telat di Maizt, lainnya dah pada nongkrong di sana. Istirahat sebentar, lalu berangkat.

Pas itu aku dah rada pilek, iseng minta tolong Joshua buat nyetirin Espass. Eh, lha kok mau! He... he... Hebatnya lagi, Joshua saat itu bawa supir karena males nyetir ke puncak. Hebat ya... Thanks Josh...!!!

Di jalan ngobrol bareng Sun An, dari A sampe Z soal IT. Erwin ma Joshua cuman nyindir, nggak mudeng kita ngomong apa. Naik ke puncak, batereku dah bener-bener abis. Apalagi hidung ma tenggorokan dah seret flu. Ketiduran...

Bangun pas udah sampe belokan Pusdiklat Lautan Berlian. Selagi mikir point-point briefing malam, ngeliat lampu-lampu Cipanas dari ketinggian. Gee... keren... sayang udah jam 12 malam, nggak sempet berhenti buat foto-foto. Penginnya tidur.

Sampe PLB, beberapa problem kecil bermunculan. 1/4 aula masih dipake untuk Acer Sales Camp, dan mereka kelar jam 12 siang. Wah, overlap 1 jam nih dengan kita. Akhirnya aku putusin pake seluas yang kita bisa. Hee... sampe pasang kursi persis di dinding pemisah tempat mereka mengadakan acara. Setelah nge-brief staf PLB yang 100% kooperatif, lalu diterusin briefing malam. Bagi tugas (yang baru disusun di jalan barusan) untuk besok pagi jam 5... er... benernya nanti pagi. Soalnya briefing malam itu jam 00.30. Bagi tugas kelar, kita masuk kamar. Bobo... Aku sempetin SMS Arman soal kondisi aula dan kamar yang masih kepake... no response off course. Pasti dah bobo... Uh, kangen Yanty...

February 4, 2005

Mau Berangkat Malah Sakit

Gee...

Kemarin ke A&W, makan ayam, keasinan.
Sampe rumah, kurang minum, bobo' jam 1 pagi.
Sekarang tenggorokan serak, badan nggak enak banget, meriang.

Padahal malam ini bakal naik ke Puncak.
Jadi tim pendahulu.
Jadi 'kuli' siapin segalanya.

Oo... God, give me strength...

February 2, 2005

Calling Earth...

Beberapa hari ini saya dikejar deadline untuk registrasi Men's Camp. Atur peserta sesuai kuota, bagi kelompok, bagi kamar, bikin name tag, atur pembina, cetak materi, cetak hand out, cetak perlengkapan camp, dan seabreg printil-printil kecil lainnya. Tapi semuanya itu harus melewati satu tahap: pendaftaran peserta, dan sampai sekarang belum beres-beres juga. Masih ada yang batal tambah. Hem, seperti daftar mata kuliah saja.

Setelah itu harus telponin setiap calon peserta yang tidak memberikan konfirmasi keikutsertaan. Kemarin Senin semua supervisor (total 5 orang) berjibaku kontak ke 41 calon peserta yang tidak datang di Kelas Awal. Nggak tahu deh habis pulsa berapa. Salah satu bentuk what we pay untuk pelayanan ini selain super capek.

Tapi worthed kok dengan what we get. Seperti kemarin, ada ibu-ibu yang daftarin suaminya ikut camp. Di akhir pembicaraan teknis keberangkatan, si istri tanya ke saya, "Pak, camp ini bisa bikin suami saya berubah nggak, dia nggak bisa memaafkan saya...". Sedetik saya 'speechless'. Tapi Allah mengingatkan saya apa yang Dia ucapkan hari Minggu kemarin di ibadah, "Bu, memang materi seluruh sesi di Men's Camp berkaitan dengan pemulihan. Tapi biarlah Allah yang bekerja. Kita serahkan semuanya ke Allah..." dan saya jadi sedikit lupa kata-kata apa saja yang sudah saya ucapkan selanjutnya untuk sedikit menenangkan seorang istri yang penuh harap di acara ini.

Saya single fighter mengurusi seluruh pendaftaran via SMS, email, fax, dan telepon. Dan memang tidak sedikit pendaftar adalah perempuan! Jadi inget Pak Cole pernah bilang, "mereka merindukan kita (para pria) berubah".