" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: May 2005 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

May 31, 2005

DVD to VCD

Sudah lama menggeluti permainan ini. Barusan nyobain lagi, dengan tools yang sama tapi versi baru semua. Steps diambil dari www.videohelp.com, pake SmartRipper, DVD2AVI, dan terakhir TMPGEnc. Semua links bisa dilihat di Video Help. Hasil kerjaku bisa dilihat di sini, ambil yang Jack Jack Attack. Kalo bandwidth gede, silakan download versi VCD nya. Kalo cuma pake broadband, pake yang kecil aja deh...

Jemaat Kadang-Kadang

"Kamu ibadah di mana sih"? tanyanya.
"Ibadah dua dong" jawabku sambil bingung.
"Tapi kadang-kadang" balasnya.
"Ah nggak lah! Kok bisa sih"? aku dah mulai ada rasa nggak enak...

Percakapan tadi aku dapat saat mendaftarkan Willi "Penyerahan Anak". Nada mendakwa itu terdengar jelas sekali di kupingku. Nggak ada jeda untuk penjelasan, nggak ada jeda untuk mendengarkan. Ada apa sih dengan orang-orang di Blok D2 sehingga ada nada antipati dengan orang-orang PPS. Apa hanya ke aku saja?

*Brutal Truth Mode On*

Arman diminta pakai setelan jas setiap datang ibadah, dan diminta duduk di depan karena dia koordinator Gerakan Pria Sejati di Jakarta Barat, meskipun sama sekali tidak terlibat di dalam operasional kebaktian (sama seperti kadet yang kemana-mana diharuskan pakai seragam, meskipun saat tidur).

Sandera diminta untuk tidak datang lagi ke pertemuan ibadah karena "sesuatu hal". Dan sesuatu itu tidak diketahui apa, tidak diberitahukan ke yang bersangkutan. Hebat...

Pelayanan Pria Sejati tidak diikutsertakan dalam topik Doa Malam jumat sementara pelayanan lainnya disebutkan satu-satu secara detil. Waktu ditanya kenapa, pendoanya hanya bilang, "...memang tidak...".

...dan barusan aku didakwa jadi Jemaat Kadang-Kadang, oleh seseorang yang selalu aku lihat tiap kali aku datang ke ibadah.

*Native Mode Restored*

Ups, mungkin banyak orang panas telinga kalo baca tulisan di atas. Kenapa ya? Apa hanya Tuhan yang tahu? Apa karena aku saja yang terlalu sensitif ('coz we're pregnant now)... Ah... Ko David pernah bilang, untuk gereja yang besar pasti akan ada aturan-aturan yang baku (kalau tidak mau disebut kaku) untuk mempertanggungjawabkan kelakuan setiap jemaatnya. Seperti aturan untuk ikut SPK dan BPN dulu sebagai persyaratan bisa diberkati pernikahannya dalam gereja, lalu setiap pekerja harus sudah ikut SPK dan selalu aktif di komsel. Semuanya itu pasti ada tujuannya, yang kadang kita tidak bisa memahami. Apa sosialisasinya kurang? Apa memang menghindari sosialisasi? Gee... Church birocracy... and I stuck in it.

Well, untuk kasusku di atas soal jadi Jemaat Kadang-Kadang, mungkin sudah saatnya aku juga SMS ke orang itu setiap aku berhalangan datang ke ibadah. Yah, biar dia juga tahu aku ke mana. Hem... perlukah? Apa SMS ke Arman, ke Chosenlight, ke Papi nggak cukup yah? Apa sekali lagi aku yang sedang super duper sensitif karena kita sedang hamil?

May 30, 2005

We're Moving...

Emang nggak enak. Apalagi sudah banyak barang di rumah. Wong dulu pas masih kost aja pindahan pake Feroza berapa kali tuh bolak balik. Ni untung cuma deket.

Rencana tanggal 4 bulan depan mo pindahan "sementara" ke apartemen. Rumah mau "digusur ke atas", he... he... Lumayan lama prosesnya. Kata tukang bisa sampe 3 bulan. Yah, paling nggak adiknya Willi lahir dah di rumah, bukan di apartemen yang praktis lebih sumpek. Karena cuman dua kamar, so yang mau dibawa nggak banyak juga. paling cuman kasur, kulkas, tivi, kompor, dan setumpuk baju. Komputer mungkin aku tinggal, pake notebook aja dulu yang lebih ringkas. Lemari baju juga males bawanya. Mending ntar beli container box aja. Mesin cuci juga ditinggal. Biar lah pembantu mondar-mandir rumah-apt buat ngeringin baju.

Hem, mana lagi pilek. Ugh... bener-bener di luar rencana nih (mana ada sakit direncanain ya...) Willi juga meler, nggak enak tidurnya, bangun terus. Ah, doain deh ya, biar bisa cepet pindahannya.

May 26, 2005

Works @ Hotel Room

Hem, mulai jadi kebiasaan nih. Datang, pasang notebook, kerja di kamar hotel sampe subuh, online cari dokumentasi via GPRS sampe gosong... Bersyukur aku ditemani gadget yang lumayan.

Hari ini akhirnya begitu juga. Kemarin datang cuma kerja sampe subuh. Nothin' more. Hari ini terpaksa beli Flexi Trendy lagi seperti bulan lalu. 50 ribu untuk pulsa 100 ribu, murah kan. Online dengan 3 rupiah per kilo, hitung aja sendiri bisa buat kemana-mana. Dan super cepat! Keren dah Flexi di Samarinda. Ini sekarang lagi video streaming Inside Your Heavennya Carrie Underwood (American Idol #4). Lumayan, lebih baik daripada 'kakak'nya di Jakarta.

Oh ya. Tadi terpaksa beli flexi karena mesti cari dokumentasi cara maksa Proliant 350 diinstall Windows XP. Gee... problemnya sih simpel, software yg kita bawa dari Jakarta cuma bisa di workstation, license untuk server nggak bawa (or bisa dibilang nggak punya? gee). Dan Proliant ini 'ngeyel' harus server based OS. Akhirnya diakalin dengan bongkar isi support CD nya, tarik paksa driver-drivernya, lalu install XP. Sayang RAID nya sia-sia. Belum berhasil install dari BIOS. Manualnya nggak ada, dan situs HP tadi siang nggak mau diajak bekerjasama.

Well, karena pake GPRS, browsing sana sini, download driver, chat ama Tris & Mikey di kantor, sempet cari-cari pemenang AI#4, cuman habis 20 ribu pulsa (or 10 ribu rupiah!). Malam ini dilanjutin dengan blogging.... Kekekeke... Flexi expired 12 Juli 2005. Masih lama walaupun kemungkinan ke Samarinda lagi dalam rentang waktu itu kecil. Hem... udah ah. Di samping lagi disiarin Dying Young. Film keren...

May 25, 2005

@ Samarinda

Day 1: Datang, meeting-in agenda kerja, install SAS, betulin manual, install iRMS, balik hotel, browsing...

Day 2: Install XP di server, install SAS di server, install iRMS, ngumpulin data...

Day 3: Bengong nungguin pesawat jam 4 sore...

Buset dah, nggak ada kolam renang di hotel ini...

May 21, 2005

Office Works @ Home

"Tutup notebooknya, temenin Willi sebentar...". Kata bijak itu yang aku dapat dari Yanty saat aku minta saran tentang kejadian barusan.

Jam 9 malam, aku sedang berkutat dengan manual aplikasi iRMS. Memang ini kerjaan staf lain, tapi aku harus me-reviewnya sebelum implementasi Rabu besok di Samarinda. Sementara itu Willi benar-benar ingin menarik perhatian papanya. Aku ngetik, dia ikutan di sebelah persis. Saat mau tidur saja, aku ditarik ke dalam kamarnya. Padahal sudah bareng Yanty lho. Aku mengambil jalan tengah, copy manual ke flashdisk, matiin pc, hidupkan notebook, bareng Willi masuk kamar, ngejogrok di pojokan, nyalain notebook, colok flashdisk, copy ke hdd, dan meneruskan kerja. Sementara itu Willi mulai sibuk dengan mainannya.

Kelihatanna dia tahu kalo papanya masih tidak 'really pay attention to him'. Mulailah ndempel ke aku. Ikutan nyerobot ketikanku. Gosh... suer aku jadi rada emosi. Jadi nggak wise, jadi galak, jadi rada keras sama Willi. Sampai-sampai aku tarik dia ke atas kasur untuk main di sana sementara aku meneruskan ketikanku. Argh... nggak mempan. Tetep aja balik ke aku, cabut flashdisk dari colokannya (untung dah dikopi ke hdd sebelum diedit). Nyerah deh...

Aku ikut naik ke kasur. Willi akhirnya bergulingan juga di situ. Semenit kemudian sudah terdengar dengkurannya. Gee... Lalu aku bertanya ke istriku, "Dhi harusnya gimana ya tadi"? dan jawabannya seperti di atas itu.

Yah, mau gimana lagi. Ini resikonya... bukan, bukan, ini salah satu imbal baliknya dalam berkeluarga. Harus bisa menempatkan diri, memposisikan diri sebijaksana mungkin. Office Works @ Home are okay, selama dikerjakannya saat lagi sendirian. Siap-siap lembur di rumah. Ah...

PS. not continuing my review, I write this journal instead. Published with fren beamed from my zyrex ir, right from Willi's room.

May 19, 2005

Business Card

DUA BERSAUDARA
Jual Bermacam-Macam Sayur mayur segar siap antar

Wito/Rohma
HP. 081316614339

Alamat:.....


Jaman sekarang bukan cuma middle manager dan eksekutif yang punya kartu nama. Minggu kemarin saat istri saya belanja ke 'booth' sayuran langganan di pasar Taman Surya, saya tidak tahu pasti ceritanya bagaimana, tahu-tahu pulang dengan membawa kartu nama. Dari ceritanya, istri saya pun terkejut saat si Wito memberi dia kartu nama. Lebih terkejut lagi saat dia bilang kalau rata-rata pedagang di pasar ini juga memiliki kartu nama, melakukan jasa pemesanan barang via telepon dan mengirimkannya pula! Jadi teringat dengan layanan sejenis dengan skala yang lebih besar, yang berakhir... terlalu singkat, gee...

So, saat ini kartu nama sudah menempatkan diri dengan semestinya: Show Ourselves. Bukan lagi untuk sekedar gaya. Makanya belakangan ini mencetak kartu nama sudah sedemikian gampangnya, dan murah! Kalau kita jeli, hanya mencetak satu dus dengan harga 15 - 20 ribu saja bisa kita dapat.

Well, semoga saja bisnis di pasar Taman Surya lebih meriah dengan kartu nama dan layanan antar-mengantar.


PS: Mikey, kalah deh kamu sama Wito. U still don't have a company card! Kekekekeke....

May 13, 2005

Willi's Fun Day

Hari ini kelihatannya sangat menyenangkan buat Willi. Jam 9 pagi bareng Yanty berangkat ke Haga Perniagaan, naik 'ompreng'. OK banget! Nggak rewel meskipun ini pengalamannya pertama naik kendaraan umum. Sangat membantu, kalau belum bisa dibilang pengertian, dengan mamanya yang cukup repot membawa tas perlengkapan Willi, sekantong besar bagelen, dan dagangan Oriflame.

Sampai di kantor, dikerubutin anak-anak admin. Ribut sekali 'cubitin' dan cium si kecil. Sampe Willi sendiri nggak tahan, mewek nangis saking hebohnya temen-temen kantor Yanty. Diselamatkan mamanya ke bagian legal yang sedikit lebih moderat, kekekekeke... sama aja. Tapi paling tidak Willi sudah bisa menikmati suasana kantor yang aktif (telepon berdering di sanan sini, printer sibuk kanan kiri. orang lalu lalang). Willi juga ikutan aktif nggeratak sana-sini. Selesai Yanty delivery dagangan, berangkatlah ke halte TransJakarta Beos naik... bajaj...!!! Gee... sudah lama kita ingin menaikkan Willi ke dalam bajaj. Soalnya dia selalu menunjuk-nunjuk setiap lihat bajaj di jalan. Hui... untung ni bajaj suaranya nggak begitu heboh. Rada pelan dikiiiitttt. Sampai halte Beos, antri, beli tiket (cuma satu, Willi sepertinya tidak dihitung), duduk (ambil dua seat, gee...), dan berangkatlah ke Sudirman, jemput Papa!

Jam setengah dua belas sampailah di Plaza DM lantai 25. Cuma satu komentar anak-anak, "gede... ndut..." Karena di ruangan Ganesha hanya dikerubuti 5 orang, Willi nggak sampe trauma. Setelah minum, mulailah menggeratak juga kesana kemari, pencetin tuts keyboard, ngelongok CPU yang lagi dibongkar, mainin mobil VW-nya Deasy. Sebentar, lalu kita berdelapan, seperti biasa kalau hari Jumat, ke Mal Ambasador... makan!

Aku, Yanty, dan Deasy duduk di belakang. Tris ama Renny di kursi tengah. Sementara Johny pegang setir, Willi dipangku sama Mikey di depan. Gee... kayaknya lengket tuh. Dari parkiran sampe food court digendong Mikey. Yah, pokoknya aku dah ngingetin kalo Willi berat, 15 kilo. Eh, food court penuh, mesti turun ke A&W bawah. Mikey akhirnya tersadar kalo Willi benar-benar berat. Kekekeke... Turunlah ke lantai 1 jalan kaki. Makan satu ayam, satu nasi, sedikit root beer, dan ditutup sedikit Sundaes. Perhatiin nggak, kecepatan makannya sama dengan Tris yang sedang mencoba menghabiskan waffle, hihihi...!!! Habis itu jalan-jalan sebentar, beli ransum buat nanti malam ke Cirebon, dan balik ke Plaza DM. Kali ini Willi di depan bareng Renny. Becanda bentar, dan... hmm... hmm... sepertinya lebih enak daripada Mikey, tidur!

Di drop di lobby, aku gendong ke atas. Eh, bangun! Saatnya minum susu! Habis dalam beberapa menit, sampe yang lain terkaget-kaget. Ngerecokin Johny dan Renny sebentar, lalu kita pamitan pulang. Eh, digandeng Renny ke ruang Babe, pamer. Hehehehe... "Ayo salam", dan Willi mengulurkan tangannya bersalaman. Saking gemesnya kali, Pak Har mencoba menggendong Willi... eh, bukan... diberdirikan di atas meja kerjanya! Gosh! Bawahnya kan kaca! Untung Willi cuman mesam-mesem aja. Barang di atas meja Pak Har cukup banyak yang menarik perhatian. Pembuka amplop 'emas' berbentuk pedang, kotak kartu nama perak, dan beberapa kotank kecil lainnya (nggak tahu isinya apa) yang membuat rasa eksplorasi Willi muncul lagi. Coba pegang 'pedang emas', untung segera disingkirkan. Turun dari meja malah dikasih kotak kartu nama. Hehehe... kalo di rumah sih nggak pernah tergantikan. "Kembalikan kotaknya Sayang..." saat kita benar-benar mau pulang. Dan kota itu diserahkan kembali ke Babe. Komentarnya, "Eh, sudah bisa ya"? Gee... kita sendiri malah bingung mau jawab apa. Sempat menjadi perhatian beberapa staff saat Willi berlarian ke arah pintu, tapi nyasar.

What a day. He really make us proud...

Ekspektasi Berlebihan?

Apakah pelayanan ini menjanjikan sesuatu yang pasti? Apakah pelayanan ini sudah 'kena batunya' dengan power statement "Perubahan Adalah Perubahan Sampai Terjadi Suatu Perubahan" yang dipasang setiap waktu? Apakah dengan hanya ikut Camp Pria Sejati saja seorang laki-laki pasti berubah menjadi seorang pria serupa Kristus?

Tentu saja tidak bukan? Perubahan dan segala pemulihan lain itu tergantung dari pribadi masing-masing. Kita dalam pelayanan Pria Sejati ini hanya 'memberi tahu jalannya' serta memfasilitasi semampu kita. Ah, tapi apakah itu saja cukup? Kenapa keluhan-keluhan seperti ini muncul juga?

Beberapa hari lalu ada salah satu istri pembina 'complain' di depan suaminya sendiri dan beberapa tamu tentang perubahan yang tidak tampak pada kehidupan suaminya. Padahal sudah menjadi pembina, ikut camp lebih dari dua kali. Si istri meminta kita untuk selalu mengajak suami dalam pelayanan ini agar bisa segera terlihat perubahannya.

Keluhan lain yang diterima tentang suami yang sudah ikut camp beberapa tahun yang lalu tapi belum mengalami (lagi-lagi) perubahan. Sang istri menanyakan perihal pembina yang sudah tidak lagi telepon ke rumah, sudah tidak lagi menjalin hubungan dengan suaminya.

Ada lagi kejadian seorang kakak perempuan yang mencek keberadaan adik laki-lakinya di camp. Sepertinya tidak percaya sang adik benar-benar ikut camp.

Ada lagi satu istri yang mengharapkan suaminya bisa berubah sepulang dari camp. Pengharapan itu diucapkan saat dia mendaftarkan suaminya ke saya.

He... he... he... Dulu saya pernah sering menyebut pelayanan ini dengan 'bisnis reparasi pria'. Analoginya, kalau mobil kita rusak, kita mengharapkan bengkel akan membetulkannya, segera. Begitu kan? Tapi ternyata pelayanan ini bukan bengkel. Montir saja kita pun tidak. Bengkelnya sendiri adalah Tuhan.

Well, paling tidak kita sebagai fasilitator mungkin memang belum memaksimalkan potensi yang ada. Contohnya kita bisa bekerja sama dengan pelayanan lain seperti komsel untuk selalu mendukung peserta lama agar bisa tetap bertumbuh. Pembina dalam pelayanan ini seperti guru, muridnya untuk tiap periode selalu baru. Mereka memang tidak diharapkan untuk bisa 'keep contact' dengan peserta lama.

Yah, saya saat ini hanya bisa menyerahkan kembali kepada Tuhan, yang menaruh saya di posisi menyenangkan ini. Dan Allah akan melakukan bagiannya, seperti baru saja, SMS dari salah satu istri peserta seperti air terjun segar mengguyur saya:

suami sy ROHANIny BERTUMBUH.trimaksh TUHAN..Trimakih ut org2 yg MENDOAKAN kelg sy..Akhirny suami sy lbh lg MENCINTAI TUHAN.Tolong trus dukung kelg sy ya.Tx.GBU

When I say... "I am a Christian"

By Maya Angelou

When I say... "I am a Christian"
I'm not shouting "I'm clean living."
I'm whispering "I was lost,"
Now I'm found and forgiven.

When I say..."I am a Christian"
I don't speak of this with pride.
I'm confessing that I stumble
and need CHRIST to be my guide.

When I say... "I am a Christian"
I'm not trying to be strong.
I'm professing that I'm weak
and need HIS strength to carry on.

When I say... "I am a Christian"
I'm not bragging of success.
I'm admitting I have failed
and need God to clean my mess.

When I say... "I am a Christian"
I'm not claiming to be perfect,
my flaws are far too visible
but, God believes I am worth it.

When I say... "I am a Christian"
I still feel the sting of pain,
I have my share of heartaches
So I call upon His name.

When I say... "I am a Christian"
I'm not holier than thou,
I'm just a simple sinner
who received God's good grace, somehow.

Share this with somebody who already has this understanding, as reinforcement. But more importantly, share this with those who do not have a clear understanding of what it means to be a Christian, so that the myth that Christians think they are "perfect" or "better than others" can be dispelled.

May 10, 2005

Merry's Kitchen of Indonesian Cuisine & Recipes

Situs ini sudah bertahun-tahun membantu saya di dapur. Dulu tahun 1998 waktu mau tugas lama di SG, saya coba-coba mencari situs resep yang paling lengkap dan mudah aksesnya. Soalnya kebetulan saya dapat studio apartemen di sana, ada dapurnya. Bayangkan saja kalau hidup tiga bulan makan jajanan luar terus. Hui... Akhirnya saya jatuh hati sama MKIC dengan 400 koleksi resepnya. Sampai-sampai saya download semua ke notebook, dibawa ke SG. Waktu berlalu, saya menikah, punya seorang istri yang demen masak, saya melupakan MKIC.

Sampai kemarin, Yanty minta dicariin resep rawon. Buka Internet, Googling "resep rawon" dan muncullah satu kata yang nggak asing buat saya, mkic. Hie... hie... masih ada juga setelah 7 tahun! Salut!

Ngaruhnya Tivi: Wajib Baca Buat Orang Tua

Kemarin, hari pertama yanty cuti satu bulan. Hem, Willi sudah mengeluarkan tanda-tanda kolokan, nempel terus! Padahal baru satu hari! Yah, biarlah. Paling tidak Willi akan dapat ilmu baru dari mamanya selama satu bulan penuh.

Kemarin pagi Yanty nonton "Canda" bareng Willi. Ada adegan, si Titi Kamal diajarin cium dahi. Weh, lha kok Willi langsung niru. Kepala mamanya ditarik lalu di-kiss jidatnya. Hgyaa... itu baru lihat sekali lho. Untungnya sama mamanya, lha kalo sama orang lain gimana...!? kalo yang dilihat ciuman bibir gimana...!? Wah... Willi daya tangkapnya bagus sekali... Kita sebagai orang tua yang harus jadi filternya. Kalo nggak bisa-bisa semua hal di dunia ini masuk ke pikirannya termasuk yang seharusnya tidak.

So seharian Yanty cuman nyetel "The Wheels On The Bus" atau channel Space Toon. Jadi inget, ada beberapa keluarga yang sudah "menendang" tivi keluar dari rumah. Radikal memang... tapi membuat pikiranku lebih terbuka.

May 9, 2005

Willi First Flight

Akhir April 2005

Berencana mau pulang ke Salatiga. Ahun, sohib Yanty, mau married. Hem... hem... Rencana mau berangkat tanggal 29 April sore pake Muria. Yah, sekalian men-training Willi naik kereta api kan. Wong biasanya dia cuman lihat kereta berseliweran di Gambir saat antar or jemput eyangnya...

Eh, kok tahu-tahu kepikiran naik pesawat aja. Tanya lah sama Lucia, adiknya Yanty yang kerja di travel. Batavia dapat 240! Whoa... beda 50 doang sama Muria. Ya wis, issued 4 seat (lagi borju... kekekeke...) untuk tanggal 30 pagi. Nggak jadi 29 soale harganya terpaut jauh sekalee... (Jumat banyak orang mudik...)

29 April 2005

Pulang kantor double packing. Soalnya tanggal 5 Mei juga langsung berangkat ke Ciawi, Men's Camp. Sementara itu Yanty sibuk menjejalkan pakaian Willi ke dalam kopor. Gee... biasanya kita pulang bawa Zebra dan Yanty cuma tarik laci container baju Willi, tutupin dengan kain, lalu dimasukkan ke mobil. Kali ini harus pake kopor. Uih, capeknya... Lemes deh. Tidur jam satu kali.

30 April 2005

Jam lima pagi bangun, rencana jam 5.45 berangkat. Nggak bakal telat, wong Surya - Bandara hanya 10 menit. Eh, baru mau masuk ke kamar mandi, taksinya dah nongol di depan. Rajin betul... Sama yanty ditawarin ngopi dulu, he... he... he... Setengah enam Willi dibangunin, ganti diaper (kagak mandi...), pake kaos kaki dan sepatu, dan viola... berangkat!!!

Jam enam di bandara sudah seperti pasar. Antrian di gate B seru sekali. Sudah seperti ular, dari pintu mentok sampe tepi jalan, lalu berbelok ke kanan. Yanty dengan perut rada buncit dan gandeng Willi dapat 'privileges' khusus, dikasih 'nyelak' antrian sama ibu-ibu... Willi nggak rewel sama sekali. Malah asik lihat sana-sini. Check in, diwanti wanti pesen seat 3-1. Masukin bagasi, trus jalan deh rendengan ke pintu D4. Willi keliatannya benar-benar menikmati 'jalan-jalan' kali ini. Di ruang tunggu sibuk sekali mengintip pesawat yang 'parkir'. Terkadang kaget waktu ada yang take-off. Saat boarding pun Willi cuek aja dengerin deru mesin pesawat yang hanya 5 meter dari kupingnya. Di kursi jelas bergerak terus. Nggak mau dipasangin seat belt, sampe akhirnya dia pasang sendiri. Waktu take-off juga lucu, bengong lihat kanan kiri. Hie... hie... Coba deh lihat di Galeri Foto > Keluarga > Willi > Momen Spesial > Pertama Naik Pesawat Terbang.

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®