" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: July 2005 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

July 26, 2005

Ngedit Movie

Ugh... kemarin main-main sama JVC camcorder dapat dua kaset total sekitar satu setengah jam. Ini baru editing 7 menit pertama udah ngabisin waktu seharian. Gee, biasa lah. Karena cuman pake camcorder biasa, hasil yang di dapat juga biasa. Mau di-enhance jelas perlu waktu. Aku pilih pake Ulead Video Studio 8. New user neh, biasanya pake yang gratisan dari Bill Gates, Movie Maker 2. Nggak puas dengan hasil Movie Maker yang bikin aku pindah ke Ulead. Berlama-lama ngedit, rendering pake P4 2,8GHz cepet juga. Hehehehe...

July 24, 2005

Sesiang di Kota

Sabtu bangun pagi-pagi lagi. Minggu lalu karena ada momen Penyerahan Anak, kalau hari ini karena Willi mau diajak ke kantor Yanty. Berangkat jam 8 lebih, 'berjuang' di semrawutnya lalu lintas Bandengan Utara, Pejagalan, Petak Baru, & Perniagaan akhirnya bisa dapat parkir hanya beberapa meter dari Hagabank. Oh ya, nyetir lewat situ kudu hapal ukuran mobil sendiri, kemampuan belok dan daya remnya. Tantangan tersendiri lho (hayo Pam, wani rak kowe...). Kalo nggak mungkin sudah nyerempet ojek sepeda atau trolley atau pejalan kaki atau mobil box yang parkir berdesakan di bawah kolong fly over. Total super padat, ngebayangin nembus pasar pake mobil. Gee...

Setelah Willi dan Yanty masuk kantor, saya ngeluyur sendirian ke Jl. Pinangsia. Uadoh tenan ternyata... Jalan kaki melewati Asemka, sudah banyak debu, padahal masih pagi. Menyusur trotoar di Pancoran, yg jualan buah sudah banyak, saingannya yang jualan 'piringan pastik illegal' masih menata barangnya di display. Jujur, sempat juga ngelirik sampul-sampulnya yang... duh... Naik ke ruko jembatan penyeberangan Glodok, pemandangannya lebih menyenangkan, PS2... PS2... :D Sayang nggak punya, jadi ya cuman lihat sekilas anak-anak muda main di situ. Turun ke Glodok, wah... aroma barang elektronik baru sudah tercium. Di sini memang bukan tempat buat window shopping. Tiap kali memperhatikan suatu barang pasti salesnya sudah mencecar kita dengan teknik dagangannya yang menurut saya cuma memekakkan telinga. Memilih aman, saya hanya berputar-putar melihat barang-barang baru di display. Terakhir ke sini waktu beli handycam, sekitar dua tahun yang lalu. Dulu masih sedikit yang jual, sekarang hampir tiap toko memajang handycam berbagai merek dan tipe. Harga saya pikir pasti super miring, mengingat di sini 'raja'nya barang BM. Mungkin malah ada yang tanpa dus dan manual, 'batangan' orang sini bilang.

Tembus ke belakangnya, lebih teratur, Glodok Plaza. Masih beberapa yang buka, saya memutuskan untuk cari 'tiles' dulu di Pinangsia. Mampir ke ATM, tarik tunai 2 juta, lalu menyeberang ke Pinangsia. Pusatnya perlengkapan properti. Toko yang saya tuju letaknya di ujung dekat Beos, jadi otomatis saya menyusur seluruh jalan Pinangsia. Panas, berdebu, demi keramik bermutu berharga murah. Sebenarnya sih hanya terpaut 2 ribu per meter persegi (1 box kira-kira 1 meter persegi, kalau beli keramik 40x40 isi satu box 6 keping), dan saya hanya beli 40 meter persegi. 80 ribu buat saya worthed lah, wong sudah di sini juga. Oh ya, saya membandingkannya dengan Mitra 10, toko bangunan ber AC di kawasan Daan Mogot Baru. Belanja habis satu setengah juta lebih, saya kembali ke Glodok Plaza. Mampir sebentar di Kotaraya, at least di sini bisa leluasa window shopping, melihat handycam baru. Sempat lihat Sony HC-90 dengan aksesori lengkap (extra mic, extra tele lens, tripod remote Sony). Sempat melirik jam, eh, hampir jam 11 dan saya masih harus mencari kaset miniDV. Balik ke jembatan penyeberangan, saya membeli kaset di situ. Er... kayaknya kemahalan. Habis nggak tahu harga sih. Satu pak miniDV Sony isi 3 80 ribu murah nggak? Kalo di Disctarra sih dihargain 175 ribu.

Jam 11 lebih sudah di Asemka lagi. Nyempetin lihat-lihat mainan, sama die cast model. Uuu.... banyak yang bagus euy. Untung inget mesti ngirit duit karena lagi bangun rumah. Sebenarnya sih nyari mainan pesawat terbang buat Willi, tapi kok ya nggak ada yang sreg. Kebanyakan pesawat tempur, dan kita emang mau menunda memperkenalkan destructive toys & figures ke Willi sampai dia sudah besar nanti. Hem, ada RC helikopter pakai baterai yang menarik perhatian saya. Nanti deh kalau Willi sudah 4 tahun, menyenangkan juga main RC bareng. Gee... beli dua dong... huehuehuehue...

Jam 12 dah nongkrong di mobil, kepanasan. Nunggu Yanty & Willi selesai. Setengah jam kemudian saya sudah merangsek pasar lagi, menerobos ke arah Pintu Kecil, Kali Besar Barat, Gedong Panjang, Pluit, dan masuk tol Bandara. What a day...

July 21, 2005

Pasar Taman Surya... Digusur... Digusur...

Aku subuh tadi di SMS sama Ibu, tanya mau ke pasar yg mana setelah pasar Taman Surya digusur. Ha...!!!??? digusur??? Aku malah nggak tahu. Wong Sabtu kemarin masih rame pol dan nggak ada issue soal penggusuran seperti waktu lalu.

Curious, pagi tadi berangkat kantor lewat pasar, dan ampun... sudah rata dengan tanah! Padahal itu bangunan tinggi besar dengan rangka baja. Sedih rasanya melihat bangunan yang tiap Sabtu ditongkrongin sekarang sudah tinggal puing. Sambil lewat pelan-pelan tadi masih ada beberapa pedagang yang berjualan disekitarnya. A Eng bingung juga, soalnya harus belanja banyak buat makan 4 tukang. Tau' deh besok mau kemana.

Ini ada beritanya, diambil dari situsnya Sinar Harapan...

Nasib Pedagang Pasar Taman Surya III
Dari Pinggir Jalan, Masuk Pasar, Lalu Digusur

Oleh
Moh Ridwan

JAKARTA - Beberapa hari terakhir ini ratusan pedagang yang menempati kios di Pasar Taman Surya III, Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, resah. Pasalnya, Pemerintah Kota Jakarta Barat (Pemkot Jakbar) melalui surat edaran Nomor 4514/-1.75, tertanggal 15 Juli 2005 yang ditandatangani Asisten Tata Praja dan Aparatur, Mardani, telah melayangkan perintah pengosongan Pasar Taman Surya III kepada para pedagang dan imbauan agar pedagang tidak memperpanjang kontraknya kepada pengelola.
Surat perintah pengosongan itu juga bukan gertak sambal belaka. Buktinya dalam keterangan persnya di hadapan wartawan, Selasa (19/7) siang, Mardani kembali menegaskan sikap Pemkot Jakbar yang akan tetap membongkar seluruh bangunan di Pasar Taman Surya III pada Kamis (21/7) mendatang. "Tolerasi yang diberikan kepada pedagang yang telanjur membuat kontrak kepada pengembang sudah habis masa berlakunya pada Juni 2005," tegasnya.
Alasan pengosongan dan pembongkaran Pasar Taman Surya III itu, ungkap Mardani karena bangunan pasar tersebut tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan lokasinya pun menyalahi peruntukan. Diakui, lokasi yang dijadikan pasar tersebut merupakan lahan untuk fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos/fasum) yang belum diserahkan ke Pemprov DKI oleh pihak pengembang yakni PT Putra Swaya Persada (PSP). "Setelah dikosongkan dan diserahkan kepada Pemprov DKI, lahan tersebut sementara akan dijadikan RTH (Ruang Terbuka Hijau/red)," ungkap Mardani.
Sebelumnya, Wali Kota Jakbar, Fadjar Panjaitan yang dikonfirmasi SH melalui ponselnya, Senin (18/7), juga menegaskan bahwa Pemkot Jakbar tetap akan melakukan pembongkaran Pasar Taman Surya III. " Pasar tersebut dibongkar karena tidak memiliki IMB dan menyalahi peruntukan," tegas Fadjar.
Fadjar maupun Mardani mengaku sebelum melakukan pembongkaran, Pemkot Jakarta Barat sendiri telah menempu prosedur yang berlaku termasuk memberikan toleransi waktu kepada pihak pengelola maupun pedagang.
Mardani mengatakan, solusi yang diberikan kepada pedagang yang masih berminat untuk berdagang yakni di pasar milik PD Pasar Jaya Cengkareng dan Kalideres. Dua lokasi tersebut masing-masing bisa menampung sekitar 270 pedagang.
Untuk mengamankan pelaksanaan eksekusi Pasar Taman Surya III, pada Kamis (21/7) siang, Pemkot Jakbar rencananya akan menurunkan kekuatan penuh. Seperti diungkapkan Kepala Suku Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Jakbar, Sukarno pelaksanaan eksekusi itu nantinya akan didukung sebanyak 1.200 personel gabungan yang terdiri dari aparat Sudin Trantib Jakbar, TNI dan Polri.

Arogan
Sikap Pemkot Jakbar yang tetap akan melakukan pembongkaran paksa Pasar Taman Surya III tersebut, dinilai sangat arogan oleh pihak pengelola, pedagang serta masyarakat sekitar. Bahkan para pedagang dan masyarakat sekitar yang ikut terbantu dengan
keberadaan Pasar Taman Surya III, mengancam akan melakukan perlawanan untuk menghadang buldoser Pemkot Jakarta Barat pada Kamis (21/7) mendatang.
Menurut Kosim, ia dan para pedagang Pasar Taman Surya III, merasa dibohongi oleh Pemkot Jakbar yang telah berkali-kali menggusur mereka. "Ini sudah dua kalinya kami digusur. Pertama kami digusur dari pinggir jalan Taman Surya II ke Pasar Taman Surya III, sekarang mau digusur lagi. Padahal setiap pemindahan kita mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit," ungkapnya.
Direktur PT Sapta Bakti Mandiri, Tony Lito selaku pengelola Pasar Taman Surya III, yang dikonfirmasi SH melalui ponselnya, Selasa (19/7) malam, mengaku tidak mengerti dengan sikap Pemkot Jakbar yang dinilainya terlalu arogan.
Menurutnya, Pemkot Jakbar seharusnya bersyukur dengan keberadaan Pasar Taman Surya III yang selama ini dapat menampung para Pedagang Kaki Lima (PKL) dan membantu kehidupan masyarakat baik di dalam kompleks perumahan Taman Surya maupun masyarakat di luar kompleks.
Menyinggung perizinan dan peruntukan lahan yang kini dipersoalkan oleh Pemkot Jakbar, Tony menilai hal tersebut mengada-ada dan terkesan dipaksakan oleh salah seorang oknum yang diduga memiliki kepentingan dengan kedua pasar yang rencananya bakal dijadikan lokasi penampungan.
Diakui, sejak dipercaya untuk mengelola Pasar Taman Surya III, pihaknya telah berupaya mengurus perizinan berupa Surat Keterangan Membangun (SKM) kepada pihak Pemkot Jakbar. Namun seiring berkembangnya pasar tersebut, tiba-tiba Tony dan 254 pedagang Taman Surya III, seperti tersambar petir setelah mendengar rencana pembongkaran oleh Pemkot Jakbar yang mengklaim lokasi pasar merupakan fasos fasum yang belum diserahkan oleh pihak developer.
Seperti diungkapkan pengelola Pasar Taman Surya III lainnya, Siregar, rencana pembongkaran Taman Surya III itu juga dinilai bermuatan politis dan sarat kepentingan, mengingat status dua lokasi pasar yang rencananya akan dijadikan tempat penampungan juga tidak memiliki IMB. "Seharusnya pihak Pemkot Jakbar berkoordinasi dahulu dengan PT PSP selaku pemilik lahan dan pengembang. Saya menduga latar belakang pembongkaran ini hanya lantaran persaingan bisnis saja melihat Pasar Taman Surya III lebih maju dari pasar di sekitarnya yang dikelola PD Pasar Jaya," ujarnya.

July 19, 2005

Hunting Software

Huaa... ini yang terparah. Biasanya sudah tahu aplikasi apa yang dicari, download trialnya, lalu cari crack di ***********. Nah, kali ini aplikasinya aja masih cari-cari. Jadi mesti sinkronkan dengan ketersediaan cracknya. Huu... dasar orang Indonesia.

Well, setelah dari Senin ngoprek Internet, akhirnya lihat review dari Pocket PC magazine, trus download trialnya, dan cari cracknya. Viola... dapat! Gee... Akhirnya. Software ini emang susah nyarinya. Berhubung Ms. Access for Pocket PC nggak ada, aku memutuskan pake Data On The Run v.4.7. Dah hampir 100% nggak perlu bawa notebook kemana-mana lagi...

Penyerahan Anak

Di hadapan Tuhan dan jemaat, saya sebagai orang tua mengambil komitmen; membawa anak saya Daniel William Widjajanto mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus; mengambil tanggung jawab untuk mengasihi, melindungi, dan mendidik anak saya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan; menjaga anak saya dari pengaruh jahat termasuk media, pergaulan, dan lain-lain yang dapat merusak hidupnya sehingga ia dapat membedakan hal yang baik dan jahat.

Komitmen di atas kami ucapkan saat momen penyerahan anak di Abbalove Greenville. Setelah itu para konselor mendoakan Willi dan kami sekeluarga. Terharu, Yanty sampai meneteskan air mata. Setelah itu foto bersama, dan sempat-sempatnya Willi menunjuk ke A Siong saat shutter ditekan. Tau' deh jadinya kayak apa. Thanks juga buat Pampi yang udah rela ditodong pegang handycam buat shooting juga.

Sebenarnya momen penyerahan anak di gereja ini bukan hanya formalitas belaka. Tetapi sama dengan janji nikah yang harus diucapkan saat pemberkatan di gereja. Momen ini memberikan kesempatan bagi kami sebagai orang tua bersaksi di depan banyak orang untuk mengambil komitmen mendidik Willi sesuai dengan jalan Tuhan. Memeteraikan komitmen itu di hati kami, dan dengan ketulusan dan keseriusan melaksanakan komitmen itu.

Dealing with used 6365

Nyari barang second ternyata lumayan susah ya. Sabtu kemarin hunting iPAQ 6365 di Roxy. Sebenarnya banyak juga yg jual second di ITC Kuningan, tapi harganya nggak ada yang mau kurang dari 4 juta... Akhirnya diniatin deh merangsek di padatnya pengunjung Roxy. Bareng Willi lagi. Kalo Yanty pasti ngikut, lha wong bendahara plus tukang tawar, kekekekeke...

Sampai jam 12.24 (begitu yang tertera di struk parkir) diputuskan mengisi perut dulu, sambil memberi kesempatan buat melihat-lihat. Soalnya terakhir ke Roxy itu sudah lebih dari satu tahun yang lalu waktu membeli Samsung X600 ku (R.I.P... hik). Suasana tidak banyak berubah sih, hanya tambah rame saja.

Perut kenyang, lalu mulai menyisir dari lantai paling atas. Menurut pengalaman (udah 10 kali lebih belanja hape di Roxy) lantai lebih atas barangnya bisa ditawar lebih banyak. Pertama yang dilihat hanya casingnya saja. Baret dikit nggak apa, asal nggak retak or pecah. Soalnya bisa diperkirakan pernah jatuh atau terbentur keras. Ugh, banyak juga yang jual dalam kondisi mengenaskan. Ujung dekat lubang stylus patah, atau grid speaker patah, ada lagi yang baterainya pecah. Kebanyakan yang dijual di Roxy tidak sebagus yang aku temukan di ITC Kuningan, yang rata-rata masih mulus, garansi masih 4 - 8 bulan, dan kelengkapan standar masih ada semua.

Setelah tercengang dengan kualitas barangnya, dikejutkan pula dengan harganya. Buset dah, batangan doang ex T-Mobile plus charger hanya 3 juta. Ada lagi yang lengkap plus hardcase dan baterai dua (tapi BM) 4 juta. Tapi ya itu, handsetnya sendiri kualitasnya di bawah standarku. Hampir selesai di lantai 3, di toko terakhir dapat juga. Masih mulus, hanya hilang belt clip dan original handsfree. Harga buka 4 juta. Karena Yanty, akhirnya bisa 3,7 saja. Ngirit banyak lah.

Lalu testing di tempat. Charging, phone features, screen, memory, dan yang terakhir kelengkapan lainnya. Done, bawa pulang. Puas deh, meski Yanty (seperti biasa) masih kurang puas dengan harga 3,7 yang terlalu cepat disetujui oleh penjualnya.

Besok Seninnya testing features lainnya. Ternyata perlu upgrade ROM. Yang aku dapat ini versi super kuno, 1.00.03 ENG. Download dari Compaq FTP Server (ehem, masih belum direname jadi HP ya) 24 mega, lalu nge-flash ROM via USB. Rada ngeri juga kalo gagal. 10 - 15 menit menunggu akhirnya sukses! Bluetooth checked, irDA checked, WiFi checked, all internal checked. Super puas dah!

Lalu download Resco Explorer 2003 v5.13, Battery Pack Pro v2.0.0, Calysta Dictionary Reader v2.5, e-Sword v2.52 plus LAI bible. Tinggal satu yang rada susah nyari: buat buka & edit mdb-nya Access, susah amat ya.

Hem, habis itu processornya dipake full pas meeting di gereja. Buka Excel, pindah data dari inbox SMS ke Excel, nyatet di Word, dan kirim-kiriman file via bluetooth ke N9500. Batere masih tahan sampe siang tadi. Not bad, not bad at all.

July 15, 2005

Mupeng Abizz

Tahu rasanya kalau lagi pengin banget sama sesuatu? Di kantor kepikiran, kalo lagi browsing nyarinya ituuu... terus, kalo lagi jalan-jalan selalu mampir ngecek harga, kalo di rumah ngomongnya ituuu... terus, kalo dah mo tidur bilang, "nggak bisa tidur neh, mikirin ituuu... aja", kalo dah tidur sampe mimpi dah punya. Gee... Sampe segitunya? Nggak lah ya. Belum pernah, hampir kali yaaa... Cuman sempet masang desperate Y!M status aja.


Soal kata mupeng, ini dari temen chat paling gaul di nusa dua.

July 11, 2005

Cuman Pengin Nangis Aja

Seperti biasa sebelum bobo' kita bercanda dulu di atas kasur. Sehabis baca firman, Willi selalu ogah langsung bobo. Wrestling dulu, atau setel lagu dulu, atau paling nggak camping di bawah selimut. Yanty biasanya hanya tersenyum, ketawa, nggak ikutan. **Iya lah! kan lagi hamil!** Kemarin entah kenapa sewaktu saya dan Willi sedang bergelut tiba-tiba Yanty nangis. Sampe terisak segala. Lha kan bingung, ada apa ini. Ditanya malah tersenyum merenges sambil masih berlinangan air mata. Peluk cium dan serbuan Willi tidak meredakan tangisannya. Entah kenapa, sampe besoknya, sepulang dari belanja di Carrefour, Yanty nyeletuk, "Eh, kemarin itu Eng nangis nggak ada tujuannya lho, cuman pengin aja" !!!... **gubrak...** Saya sampe mengkonfirmasi pernyataan itu berkali-kali. Siapa tahu dia menyimpan sesuatu.

Hem, kadang perasaan cewek itu lebih tak tertebak daripada apapun di dunia ini...

Cuman Pengin Nangis Aja

Seperti biasa sebelum bobo' kita bercanda dulu di atas kasur. Sehabis baca firman, Willi selalu ogah langsung bobo. Wrestling dulu, atau setel lagu dulu, atau paling nggak camping di bawah selimut. Yanty biasanya hanya tersenyum, ketawa, nggak ikutan. **Iya lah! kan lagi hamil!** Kemarin entah kenapa sewaktu saya dan Willi sedang bergelut tiba-tiba Yanty nangis. Sampe terisak segala. Lha kan bingung, ada apa ini. Ditanya malah tersenyum merenges sambil masih berlinangan air mata. Peluk cium dan serbuan Willi tidak meredakan tangisannya. Entah kenapa, sampe besoknya, sepulang dari belanja di Carrefour, Yanty nyeletuk, "Eh, kemarin itu Eng nangis nggak ada tujuannya lho, cuman pengin aja" !!!... **gubrak...** Saya sampe mengkonfirmasi pernyataan itu berkali-kali. Siapa tahu dia menyimpan sesuatu.

Hem, kadang perasaan cewek itu lebih tak tertebak daripada apapun di dunia ini...

July 6, 2005

An ordinary people with an extraordinary manner

Sroookkk... mobil di depanku tiba-tiba berhenti. Derap kaki Zebraku terpaksa melambat. Pengemudinya keluar, berjalan ke depan kap mobil dan membungkuk, memungut sesuatu.

Helm...!!! Dia lalu berdiri dan dengan tersenyum menghampiri pengendara motor yang lari tergopoh-gopoh mendekatinya. Entah secuil apa percakapannya saya tidak dengar. Yang pasti sipengendara motor bernafas lega helm full face nya tidak gepeng, dan dengan masih tersenyum bapak ini kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan.

...Hem, mungkin akan lain kejadiannya kalau helm itu jatuh di depan truk, atau di depan Zebra...

July 4, 2005

Pemberian Terbaik

Jika dunia tak kenal kata MEMBERI...

Mentari tak kan mau memancarkan sinarnya
Burung tak lagi sudi berkicau riang
Kuntum bungan enggan merekah
Hujan menolak turun
Sawah ladang tak menghasilkan
Damai pun sirna berganti perseteruan
Tiada lagi senyum ramah, tatap simpati dan sapa hangat

Hidup ini singkat...

Bukankah selayaknya diisi dengan keindahan?
Memberi senyum termanis
Berbagi perhatian tulus
Uluran tangan
Dorongan semangat
Hati yang lebar buat sesama
Tawa damai menyejukkan
Membagi hidup

...itulah PEMBERIAN TERBAIK


Diambil dari undangan pernikahan temanku Barita & Vinda

Caraku Nyetir Mobil

...mang kadang rada "gila". Masa' cuman pake Zebra Neo berani kebut-kebutan sama Vios. Beberapa bulan lalu waktu berangkat persiapan camp, Greenville - Ciawi 45 menit dalam keadaan hujan deras. Motivasinya cuman satu: udah malam, rada ngantuk, pengin cepet sampe tujuan, karena kerjaan masih banyak.

Aku adalah salah satu yang beruntung bisa bawa pulang mobil kantor, Zebra Neo CX 1600 silver metalik tahun 2001. Pertama bawa pulang awal tahun 2002 dalam keadaan bodi penyok sana sini (padahal baru 1 tahun...!!!) dan mesin agak tidak terawat. Waktu itu kayaknya odometer baru 15 ribu kilometer. Cari gampangnya, servis rutin ke bengkel Daihatsu. Tinggal masukkan, ngomong dikit soal keadaan mobil, tunggu beberapa jam, beres dah. Tune up standar pabrik, spare part asli Daihatsu, montir standar pabrik juga. Pokoknya aku nggak mau repot deh, mahal biarin, wong dibayarin kantor. Udah beberapa kali aku bawa pulang Cirebon/Salatiga. Pernah kejadian kejebak macet 22 jam di jalan juga nggak masalah. Setahun paling nggak tiga kali dibawa ke Puncak dengan beban maksimum. Itupun di Jagorawi pasti 'terbang' di atas 120.

Ini untungnya Zebra. Kalau beban di belakang penuh, mau diajak tarik-tarikan juga berani. Super stabil deh. Aku tahunya juga waktu berangkat camp. Loadnya segini: 5 container ukuran 40 liter penuh kabel dan kertas, notebook, printer, tripod, handycam, dan tetek bengek lainnya, kursi belakang dilepas, plus empat atau lima penumpang. Kalau udah gini, dijalanin 135 juga anteng-anteng aja. Paling cuma suara mendenging agak mengganggu dari lubang-lubang di dashboard. Pulang dari puncak dulu juga pernah lewat Jongol. Ini baru pertama kalinya lewat situ. Jalan jelas nggak hapal. Jadi ngekor Kijang kapsul di depan. Niatnya mau nyetir santai, tapi "kepalanya" kok ngajak lari. Kijang yang nyetir Joshua, super hapal jalan sepertinya. Sedikit perasaan takut tertinggal, akhirnya ikutan lari juga. Gee... bagi yang udah pernah lewat Jonggol pasti tahu naik turun kanan kirinya. Ampun dah! Itu kalau Zebra nggak full load mungkin udah terlempar dari jalan. Tapi ini lain, beban sama seperti di atas, mobil rasanya dilem ke aspal. Sun An malah sempet ber-notebook ria di sampingku. Tembus TMII, kijang aku tinggal... :D

Pertama belajar nyetir pas SMP. Suzuki Jimny SJ410V 4x4, bokap beli second. Trip terjauh pertama waktu kelas satu SMA, Salatiga - Mojokerto - Surabaya - Bali - Jepara - Semarang - Salatiga. He... he... penalaman itu nggak akan pernah lupa. Nyalip truk sampe keluar jalan, nyetir ketiduran di Denpasar... Hue... hue... Lalu pernah juga sama bokap jalan Salatiga - Bandung - Salatiga non stop. Cuman mau lihat pengumuan penerimaan di STT Telkom. Gee... untung nggak keterima. Bisa-bisa nggak ketemu Yanty... kekekekeke....

10 tahun bertahan, akhirnya ganti dengan Daihatsu Feroza. Masih teringat aku kagum sama tarikan di gigi 3 nya. Badan bisa sampe nempel di jok. Pengalaman keren waktu nganter bokap Salatiga - Jogja (kayaknya dah pernah cerita deh). Minta 1 jam nyampe! Hui... hui... Akhirnya ngebut lewat Kopeng. Sampe UGM 45 menit. Nyante di bawah pohon, nungguin rapat. Bosen, akhirnya keluar, cek ban. Lah! ada ranting nancep! Untung tubeless. Ini saking cepetnya, sampe ranting ,yang aku tarik pake tang aja remuk, bisa nembus karet ban setebal ini. Bokap kelar rapat lihat aku sudah kucel berkeringat habis ganti ban, ketawa... Gee...

Feroza hanya 6 tahun. Ganti lagi sama Taruna CSX Limited Edition. Hem, yang ini interiornya bener-bener mewah. Sound system tertata rapi jali, karpet tebal menutup sampai ke pojok-pojok yang terkecil, dan semua aksesori lampu berfungsi. Oh ya, sudah ada CD changer, V-Kool, dan garansi dari Tuff Kote Dinol. Mesin sih sama aja, 1600. Tapi di tol Pantura bisa tuh aku bawa 160. He... he... Waktu itu bawa pulang dari Jakarta ke Salatiga berdua doang bareng Yanty yang lagi hamil Willi 3 bulan. Gee... Pengalaman pake Taruna cuman pas di Salatiga aja. Selebihnya berjuang di jalanan Jakarta pake Zebra.

Hem, love it? Probably. Tapi kalo suruh milih, aku masih kesengsem sama Ford Escape XLT merah... :D