" />
![]() |
![]() |
|
![]() |
||
Ini kejadian nyata.
Teman saya, saat hendak berpetualang mengenyam bangku kuliah, jauh dari orang tua, hidup di kost-kostan, mendapat wejangan dari ayahnya tercinta. Petikannya...
...Sekarang kamu akan hidup terpisah dari orang tua. Kami ndak bisa lagi mengawasimu 24 jam sehari. Kamu harus bisa dan mampu mengendalikan diri. Sebagai laki-laki mungkin suatu ketika kamu akan tergoda untuk jajan. Prinsipnya ada tiga, yaitu pertama kalau masih mungkin lebih baik dihindari, tapi kalau ndak mungkin kamu harus pakai kondom. Kedua kalau suatu ketika kamu kena penyakit akibat jajan, jangan takut. Kamu harus terbuka pada papah, dan papah tidak akan marah, tapi akan mengobatimu, karena itu akan berbahaya bagi keturunanmu bila tidak diobati. Ketiga, jangan ambil yang murah, lebih baik yang mahal sekalian. Kalau mahal minimal kamu akan merasa sayang mengeluarkan uang, sehingga itu ndak menjadi kebiasaan, karena kenikmatannya ndak sebanding dengan pengeluaran...
Huaduh...! Saya masih belum berani ngomong seberani itu sama Willi kalau dia sudah cukup usia nanti. Entah, bila mengesampingkan apakah isi wejangan itu benar atau tidak, saya sangat salut dengan "papah" seperti ini. Nggak cuman diam saja, paling tidak ikut bertanggung jawab dalam mendidik anaknya.
Catatan: Buat Oom HT, maaf mengutip email Anda tanpa minta ijin terlebih dahulu. Saya sudah terlanjur terpesona dengan wejangan ayah Anda.

Saya sudah tahu kebiasaan ini sejak dia ngantor bareng saya. Tapi tetap saja merasa geli. Kasihan... apalagi saya suka sekali roti tawar. Hem....
Approved Vendor List. Saya baru dengar istilah ini, tapi tak heran kalau beberapa end user telah menerapkan kebijakan semacam ini. Hem, menyempitkan persaingan bukan? Terlebih lagi kalau AVL itu hanya terdiri dari dua baris: Judul kolom dan isinya. Gee...
Kemarin saya mendadak diminta menyusun proposal Data Cleansing untuk salah satu ex client. Saking bersemangatnya, saya menyusunnya dalam setengah hari. Tentu dengan bantuan template. Kalau tidak mana bisa. Setelah disetujui oleh boss, langsung saya kirim.
Eh, hari ini boss datang ke cubicle saya dan berkata bahwa kantor ini tidak termasuk dalam AVL mereka. Halah!!! Ini ex-client...! Hem. Usut punya usut, ternyata pendaftaran dalam AVL itu periodik, punya umur, dan mengurusnya pun harus melalui proses yang cukup panjang (dan mungkin menghabiskan uang tidak sedikit). Ah, entah. Yang pasti saya kecewa berat. Nggak jadi lagi main-main dengan data orang.
Lucunya, saya punya mejanya dulu daripada barangnya. Jadi waktu yang 21 ditaruh di atasnya seakan timpang. Meja besar menopang kotak kecil di atasnya. Yah, namanya juga usaha, baru bisa punya yang kecil, ya dinikmati saja.
Kemarin, 21 itu masuk kotak (yang anehnya masih saya simpan), diganti dengan 29. Memang sudah cukup uzur, 9 tahun mendampingi sejak saya mulai menghirup udara kotor Jakarta. Mungkin karena kotornya, dia lebih cepat rewel daripada punya adik saya yang merek tipe tanggal beli tokonya pun sama.
Yang 29 ini, lain lagi ceritanya. Sudah sejak lama ingin ganti, tapi apa daya dompet (dan rasionalitas kesadaran kondisi keuangan) belum mengijinkan. Beberapa bulan lalu muncul tipe baru, menyenangkan melihatnya. Fitur tak menjadi pertimbangan utama karena hampir semua merek menawarkan serupa. Saya melihat harganya. Masih (sadar) tak mampu, sabar... sabar... Ehem, saya jadi ingat teman saya yang selalu membeli barang tanpa berpikir lama-lama. Bulan lalu saya melihat harganya turun, minggu lalu turun lagi, dan kemarin tokonya menawarkan diskon 10% untuk (hampir) semua barang. Well, itupun saya tak langsung beli. Dua hari berpikir dan tukar pendapat dengan Yanty. Akhirnya nongkronglah 29 di atas meja yang muat 29 juga. Hem...
Halah...
Mungkin gara-gara spam di bagian blog comments, CGi saya dioprek-oprek sama admin Ardhosting, tempat situs saya bercokol. Euh, tak etis. Saya sudah kirim surat complain tadi siang, berharap segera ditanggapi ternyata tak ada balasan sampai detik ini. Biarlah, walaupun "Customer adalah Raja", tapi raja yang satu ini juga cukup sabar menghadapi penjual yang lelet.
Saya tak suka menunggu, akhirnya memutuskan untuk upgrade MT. Beres. Aktifkan TypeKey, jadi harap maklum bagi yang demen posting komentar di tempat saya, silakan login dulu pakai TypeKey.
Eehh... ternyata upgrade MT tak membuahkan hasil. Beberapa CGI saya masih "hibernate" dengan error code 406 termasuk edit template. Ampuunn...!!!
Mungkin saya lebih baik ikut saran Pampi yang situsnya juga mati karena server Ard SG bunuh diri: claim refund dan pindah! Gee...
Pagi ini saya tak bisa login ke server menggunakan user root. Waduh, apa saya lupa mengganti passwordnya? Tapi saya yakin 100% tak ada jadual penggantian password kok. Pikiran saya langsung jelek: hacked!
Saya lalu mencoba masuk dari console. Useless, password memang sudah terganti. Saya lalu masuk menggunakan user biasa, tapi apa daya, tetap tak bisa mengakses apapun karena privilege root hanya dipegang oleh satu UID. Lalu saya mencoba jalan akhir: mereset password. Untung berhasil, kalau tidak saya terpaksa me-rebuild kembali server yang sudak too complicated itu.
Skenario saya:
1. "Dia" melakukan snoop dari jalur FTP yang (salah saya memang) tidak secure.
2. Setelah dapat user & password FTP, meskipun sudah di jailed di dalam direktori home nya, "dia" bisa ambil, atau paling tidak memasang rootkit.
3. Setelah menunggu saya login local (entah login dengan SSH bisa bolong juga atau tidak), dapat password root
4. Saat weekend, tanpa penjagaan berarti "dia" masuk ke server dengan user root, mengganti password dan entah apa lagi.
Now what? Patch... patch... patch...!
Memalukan? Untuk kebanyakan orang Jakarta mungkin. Tapi tadi saya begitu menikmatinya. Willi saja sudah beberapa kali naik TransJakarta. Yanty apalagi, sudah tak terhitung dengan jari. Saya yang sudah sekitar setahun ikut milis suaratransjakarta baru kali ini naik kendaraannya. Well, kenapa baru sekarang?
Tak terencana tadi. Setelah memasukkan mobil ke bengkel dan mendengar estimasi pengerjaan cukup lama, saya memutuskan meninggalkannya di bengkel. Lebih baik saya ke kantor, mengerjakan pekerjaan saya yang sudah "menumpuk tapi masih saja malas dikerjakan". Melihat halte Indosiar kosong, saya mantap menyusuri tanga yang berkelok-kelok itu. Menunggu sekitar 15 menit, terlewati tiga sampai 4 bus karena aking penuhnya dari arah Kalideres, akhirnya naik juga. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.
Perjalanan biasa, jadi teringat saat saya sering naik shuttle bus kawasan Mega Kuningan beberapa tahun yang lalu. Sampai di HCB, turun, dan mengantri ke arah Blok M. Cukup padat, tapi antrian bus cukup banyak sehingga antrian itu berjalan cukup cepat. Tak kurang dari 10 menit saya sudah naik JET-xxx (lupa saya perhatikan). Turun di Setiabudi pukul sembilan kurang. Hem, cepat juga. Sambil berjalan perlahan ke Lippo Plaza saya merenung, membayangkan kehidupan jalan raya saya jika memilih TiJe. Alangkah simpelnya! Bebas macet, bebas kaki pegal, bebas bertanding urat syaraf dengan pengemudi lain... Hem...
Tapi hidup ini tak hanya mencari kemudahan bukan? Buktinya saya bosan dengan kehidupan perjalanan di Singapura yang "terlalu monoton".
Sapa ya yang pernah nulis ginian? Rasanya baru-baru saja saya baca. Walaupun dengan kata pendahuluan "Sorry" tapi kok sekilas saya merasa keangkuhan dalam kalimat ini. Entah, yang jelas saya sendiri sampai sekarang juga sudah memutuskan untuk tidak memasang URL blog teman dan lain sebagainya di catatan harian saya. Yang mau blogsurfing silakan menggunakan fasilitas yang bertebaran di Internet.
Tapi kali ini saya berbuat lain, memasang URL milik seseorang. Bukan karena saya kenal, tapi karena terpesona dengan isinya yang saya pikir benar-benar orisinil. Well, saya akan tetap pasang "my appreciation" itu di halaman utama situs saya selama isinya konsisten. Hem... fair enough, isn't it?
PS. Yang curious, silakan buka main site saya dan cari warna merah muda di sana.
Sedang berpuasa, tapi berjalan-jalan dari satu toko ke toko lainnya dengan ceria. Walau peluh meleleh deras tapi tak menghalangi Ibu itu menggandeng kedua anaknya keluar masuk toko-toko di sepanjang Passer Baroe. Bagi saya hal itu hampir tak mungkin. Tidak berpuasa-pun saya sudah sering complain kalau digeret sana sini sama Yanty di Pasar Baru. Tak peduli dengan label dan pengumuman diskon besar-besaran.
Soal belanja, tak lepas juga dengan belanja online. Barusan saya mengunjungi beberapa "toko online" kegemaran saya. Hem, merekapun menempel papan diskon. Euh.... elektronik diskon juga? Wah... wah... Saya pikir tanpa diskon pun mereka akan mengeruk untung lebih banyak menjelang Hari Raya. Biasalah, ritme bersilaturahmi dengan memamerkan perkakas yang melekat di badan masih berlaku. Dari pakaian, sepatu, handphone, dan mungkin pula kamera digital... hehehehe.... new trendsetter...
Seperti Anindita yang pernah mengaku bahwa lensa tele D50 nya memberi ego boost saat menonton MotoGP, apapun, yang namanya pamer itu sah-sah saja. Apalagi kalau boleh dipinjamkan, berbagi suka, berbagi ilmu. Selamat belanja. Promo Olympus di sini ini jelas menggoda... :D
Dua hari... benar-benar dua hari saya hanya nongkrong di depan PC dan flatbed scanner, memasukkan lebih dari 400 foto-foto lama ke dalam media digital.
Tadinya saya hanya akan memasukkan foto-foto jadul SMA untuk keperluan reuni. Tapi setelah bercapai-capai membawa scanner ini dari kantor, kenapa tidak semua saja? "Good idea", first thought. But it was killing me...!!! Tadinya masih serius mendigitasi satu-satu dengan resolusi 2400dpi. Tapi lewat 30 foto sudah menyerah. CanoScan D1250 U2 ini perlu satu setengah menit untuk scanning 4R foto dengan resolusi 2400dpi...!!! Belum lagi proses buka tutup scanner covernya. Ugh... akhirnya saya pilih mendigitasi 4 foto sekaligus, menggunakan fasilitas auto crop. Cuma sayang hanya bisa 600dpi.
Jam 3 sore hari Minggu selesai. Kepala saya pening, saat berdiri saya tiba-tiba duduk lagi. Entah, kena radiasi scanner? Hehehehe... Hasil scan sebanyak ratusan mega saya masukkan ke harddisk external, akan saya proses lagi di kantor. PC rumah saya sudah ngos-ngosan, kepanasan. Sayang tidak bisa minum... :D