Combat Car
Saya sampai terheran-heran melihat mobil ini. Sangat inovatif! Euh, apakah operator selular lain juga punya ya?

Telkomsel COmpact Mobile BAse sTation. Diambil di halaman parkir Grage Mall, Cirebon, tanggal 8 Desember 2006.
" />
![]() |
![]() |
|
![]() |
||
Saya sampai terheran-heran melihat mobil ini. Sangat inovatif! Euh, apakah operator selular lain juga punya ya?

Telkomsel COmpact Mobile BAse sTation. Diambil di halaman parkir Grage Mall, Cirebon, tanggal 8 Desember 2006.
Bukan saya, tapi media penyimpanan di komputer. Gara-gara terlalu sering nyemplung di photo & video editing, harddisk saya sering penuh dengan backups, templates, dan proyek yang belum selesai di render. Hah... Padahal saya sudah pasang 40 + 20 + 20 Giga. Perlu pasang berapa sih yang reasonable untuk home production kayak saya ini?
Oh ya, kata sohib multimedia saya, kalau harddisk sering dipake buat rendering, bakal cepet jebol. Benarkah? Kalau rata-rata merender satu DVD setiap bulan, berapa tahun harddisk bisa bertahan?
Di beberapa tempat, penggunaan telepon genggam dilarang. Yang pasti di pompa bensin sudah dilarang. Di beberapa tempat lain seperti ruang operasi di rumah sakit atau di dalam pesawat udara yang sedang take off atau landing juga dilarang. Bagaimana dengan ruang rapat? Beberapa orang memang menginginkan tak ada gangguan dari si kecil ini, terutama oleh pembicara tentunya.
Kami juga mengalaminya di Men's Camp Sabtu-Minggu lalu. Disaat proyektor sudah memampangkan tulisan "Saat sesi berlangsung handphone harap di non aktifkan" dengan warna mencolok dan berkedip kedip, tetap saja dering aneh-aneh dari handphone berbagai jenis bersahutan sana sini. Tak bisa saya bayangkan bagaimana suasana di Camp Eksekutif yang sebagian besar pesertanya adalah para pebisnis. Euh, mungkin larangan ini tak ada di camp itu. Yang jelas, suara dering handphone kemarin sudah membuat Pak Timotius Liur mengeluarkan pernyataan keras, "matikan handphone, atau pulang", begitu kira-kira.
Hari ini saya iseng cari solusi di Internet, dan mendapatkan satu yang pasti efektif: cellular jammer! Hehehe.... Siapa yang punya? Saya pinjam dong buat dipakai bulan Mei nanti.
2007.03.04.13.25
2007.02.26.14.10
2007.02.26.23.57
2007.02.23.13.27
2007.02.22.15.37
2007.02.22.12.12
2007.02.22.10.06
2007.02.22.09.51
tansah happy .... Weling kulo namung setunggal, gesang punika namung sepisan, dados kedah
dipun isi kalian hal-hal ingkang manfaat lan sekeco...kadosto mangku wanito limo tanpo busono sedoyo....Cekap semanten atur kula, ampun nakal lan tetap semangat !!!
2007.02.22.09.38
2007.02.22.09.38
2007.02.22.09.25
2007.02.22.09.01
buaanyakkkkkkk rejeki...... Gbu
2007.02.22.08.08
2007.02.22.08.02
2007.02.22.08.35
2007.02.22.07.07
2007.02.22.06.00
2007.02.22.05.52
2007.02.22.05.31
2007.02.21.14.59
2007.02.21.11.07
Lagi-lagi rootkit. Ampun deh. Laris banget sih ni server.
Siang tadi melihat sesuatu yang aneh di daftar process Solaris kantor. ./john 202.xxx.xxx.xxx. Apaan nih... Saya cari, eh, berarah ke /var/tmp/run/john. Cepat browsing dan menemukan beberapa, antara lain ini: http://en.wikipedia.org/wiki/John_the_ripper. Huuu!!! Sebeeeelll...!!! Dari tanggal 3 Desember 2006 server saya jadi passwd crawling ZOMBIE. Semoga sekarang sudah sembuh.
Sore tadi saya dan Yanty makan malam di salah satu restoran cepat saji terkenal di dunia. Kami memesan paket ayam & nasi, dan pelayanannya kali ini lebih cepat dari biasanya. Potongan ayam itupun masih mengepul panas.
Kami mulai makan, perlahan karena saking panasnya. Sampai Yanty menyobek potongan paha bawah itu dan..., masih merah darah! Waaa...! Ditukar boleh nggak ya? Celingukan ke arah counter, tak enak juga dengan pelanggan lainnya yang sedang antri. Saya sempat melirik ke papan Duty Manager, muka seperti yang terpampang tak ada. Akhirnya Yanty menyetop pelayan yang lewat, minta tukar sambil memperlihatkan merahnya yang menetes. Euh... beserta piringnya dibawa. Halah, padahal masih ada nasi setengah dan sambal. Rada mendongkol karena saya berbagi sambal dengan Yanty.
Akhirnya piring Yanty dikembalikan dengan potongan ayam yang baru, mengepul pula. Entah, kami jadi risih menghabiskan nasi dan mencolek sambal yang tadi ikut dibawa ke belakang.
Mestinya, pelayan tadi hanya membawa ayamnya saja, tak perlu piring dan isinya...
Ehem, dengan alasan meningkatkan fleksibilitas kerja, saya membuka satu jalur lagi untuk bekerja secara remote. Dulu, saya selalu pakai direct dial up (plus call back). Setelah peristiwa banjir lalu, satu pelajaran buat saya: line telepon kantor mati, tapi koneksi Internet tetap berjalan. Nah lho. kalau begini, bagaimana dong?
Setelah mencari-cari, lalu saya memberanikan duru membuat jalur alternatif: tunnelling. Ilmunya dari sini. Setelah berkutat beberapa jam, akhirnya sukses juga. Hem... Satu lagi yang membuat kantor ini bergantung pada saya. Hehehehehe...
PS. kalo nanti line telepon dan Internet mati berbarengan? Ya benar-benar nggak kerja...
Daripada nganggur bengong di rumah karena jalan banjir jadi nggak bisa berangkat kerja mendingan posting hasil kerjaku yang terakhir. Dua minggu yang lalu saya membelikan Willi aplikasi PC untuk edukasi, serinya JumpStart. Setelah diinstall di accountnya Willi, saya baru sadar kalau saya tak mungkin mendengarkan instruksi-instruksi dari aplikasi itu tanpa speaker PC yang memadai. Selama ini saya menggunakan headphone. Duh, tambahan biaya sudah terbayang di depan mata. Yah, demi Willi, saya lalu browsing beberapa tipe dan harga speaker aktif. Hei...! Tak mahal juga. Dengan dua ratus ribuan saya bisa mendapatkan speaker aktif 2.1 yang lumayan. Pilihan saya jatuh ke Creative SBS 370, tak jelek kan? Tapi ternyata hari itu bukan keberuntungan saya. Di seluruh lantai Mal Ambasador dan ITC Kuningan tak satupun yang menjual SBS 370. Kebanyakan merek Simbadda, yang meskipun kualitas suaranya tak kalah dengan Creative, tapi saya masih meragukan daya tahannya. Saya pulang dengan tangan kosong.
Malamnya, tak sabar mendengar dentum bass dari PC, saya berinisiatif menghidupkan kembali power amplifier yang pernah saya buat semasa kelas tiga SMP (tahun 1988) . Rangkaiannya cukup baik, sehingga sempat bertahan sampai sepuluh tahun, tergantikan dengan HiFi 5.1 Aiwa yang ternyata tak cukup murah meskipun beli barang display bekas pameran. Euh, ternyata tak mudah menghidupkannya. Rongsokannya sudah benar-benar tak terpelihara. Saya ragu dengan kualitas solderan saya sendiri. Tapi ternyata saya masih beruntung. Setelah membetulkan beberapa solderan dan wiring power supply akhirnya ampli saya itu hidup kembali. Setelah dimasukkan ke dalam kotak es krim, ampli itu sekarang nangkring di sebelah monitor. Speakernya punya sejarah sendiri. Saya dapat dari hunting bersama Bapak di pasar loak Semarang, sembilan belas tahun yang lalu. What a day.
Exit tol Pluit banjir memacetkan sampai pintu tol Kapuk sehingga saya tak bisa keluar dari situ. Cisadane meluap sehingga Daan Mogot menjadi bagian dari Cisadane. Gerbang bandara banjir 20cm. Banten banjir juga. Posisi ini hampir sama dengan 5 tahun yang lalu: daerah Cengkareng - Kalideres jadi "pulau".

Sungai kecil di sebelah rumah, menyatu dengan rawa di sebelahnya.
Rawa di samping kompleks. Saya pikir rawa ini menjadi "buffer" air di daerah ini.

Biasanya ketinggian air hanya satu meter di bawah jembatan bambu itu.

Masih (atau tinggal?) 50cm sebelum meluap ke jalan kompleks.