Sofa kebahagiaan


" />
![]() |
![]() |
|
![]() |
||


Kayaknya saya sudah addicted dengan pelayanan Pria Sejati. Jadi saat kesempatan melayani di track itu kemungkinan hilang, saya jadi panik.
Kemarin sore terjadi percakapan yang tidak memuaskan saya. Gara-gara performa tim sangat tidak memuaskan, ada wacana untuk membunuh track di Maizonette ini. Deu...deu... Saya sudah terbayang rekan-rekan lain yang tidak ada pilihan lain dalam pelayanan. Saya sendiri? Ehm... jadi usher lagi pun tak apa. Tapi tetap rasa 'eman' itu melekat erat. Saya tahu ini ketergantungan yang tidak baik. Pelayanan Pria Sejati adalah privileges dari Allah buat saya. Kalau itu dicabut, tak seharusnya saya jadi sewot bukan?
Hm... entah. Kali ini saya cape' berdebat dengan dia. Semangat saya sedang turun serendah-rendahnya. Mungkin overcharge saya dari Juni - Oktober 2007 buat hal-hal lain saja, semisal benerin software camp itu. Sapa tahu bener-bener bisa jadi rupiah.
Harusnya beban biaya ini muncul saat kami punya rumah. Tradisi mengisi rumah setelah menikah merupakan hal yang lumrah. Tapi buat kami yang berkehidupan pas-pasan (oh ya?) hal itu terjadi melalui timeframe yang panjang.
Saya ingat tahun 2001 (persis saat banjir besar melanda Jakarta) saya menghuni rumah itu hanya dengan modal satu karpet kasar, satu spring bed pemberian orang tua, dan seperangkat alat masak. Meja satu-satunya saya buat sendiri dengan kayu bekas renovasi. Catnya pun hanya menggunakan cat tembok putih. Ajaib, sampai sekarang meja bersejarah itu masih berdiri kokoh.
Beberapa bulan kemudian setelah menikah, perabotan bertambah. Meja makan, lemari pakaian, tempat tidur, mesin cuci. Ada satu lagi yang "ngembat" punya bokap di Salatiga: kursi Betawi untuk ruang tamu. Hehehehe...
Pengeluaran mahal terjadi saat kami membeli meja tivi yang sekaligus sebagai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. 7 digit melayang menggantikan meja kayu bekas renovasi itu. Satu satunya perabot "wah" (menurut ukuran kami) saat itu.
Dua minggu lagi, sofa empuk akan nongol di rumah. Bukan ngembat bokap kok, ini hasil hunting dari pameran furnitur kemarin. 7 digit lagi melayang menggantikan... tak ada apa-apa. Gee... selama ini kami duduk di lantai saat bersantai nonton tivi.
Kemarin sore saat melihat pameran furnitur di Jakarta Convention Center, Yanty hampir saja bertabrakan dengan Maia, sedangkan Willi hampir nyungsep di antara kaki-kaki mereka. Entah siapa yang tak melihat, padahal suasana di pameran itu tak begitu ramai pengunjung. Sepertinya Yanty berjalan sambil melihat-lihat ke samping, demikian juga Maia.
Muka Yanty yang tinggal dua jengkal lagi dari mukanya, hanya berkomentar kecil soal dia, "pipinya halus... pori-porinya kecil...". Halah...!!! Saya cuman memperhatikan sekilas, badannya ramping (kalau tidak boleh dibilang kurus untuk selera saya), tinggi (lebih tinggi dari saya soalnya), dan selalu berkacamata lebar. Di belakangnya ada pria berkaus oblong membawa mini videocam, dengan lensa mengarah terus ke Maia, tak peduli itu shoot dari depan atau belakang.
Terus terang, saya lebih tertarik dengan videocamnya daripada kejadian dua orang Ibu itu... :D
Bapak paruh baya itu menggotong notebooknya yang masih menyala berikut adaptor dan kabel-kabelnya. Lalu dia masuk ke cubicle di sebelah ruang server dan mencoba mencolok notebooknya ke RJ-45 di meja itu. Curious saya bertanya, "Kenapa Pak?" Kedinginan di ruang meeting?". Jawabannya cukup mengejutkan saya, "Di ruang meeting Internetnya lambat, kalo deket sama server kan lebih cepat..." Deu...deu...deu...
Logika dari mana itu? Mengingat jaringan di kantor ini hanya 25 titik (dia tahu), hanya ada satu subnet (ini dia juga tahu), serta dia itu sudah puluhan tahun berkecimpung di bidang IT (masakan dia lupa yang ini?). Sedikit penjelasan dari saya dalam canda, tak membuat bapak itu mengambil malu saat diperhatikan beberapa orang memasang notebooknya kembali di ruang rapat.
Baca di milis FTJE yang memang gado-gado, saya sempat tertarik dengan thread buku yang tidak dijual secara umum berjudul "Kerusuhan Mei 1998 : Fakta, Data dan Analisa". Di thread ini tersebut juga karangan Marga T berjudul "Sekuntum Noszomi" yang ber setting juga di Mei 1998. Hm... tak ada salahnya menambah koleksi Marga T saya yang sudah lumayan banyak, meski tersusun rapi di Salatiga.
Walhasil fun Friday saya habiskan nongkrong di Trimedia Mal Ambasador. Ternyata "Sekuntum Noszomi" nya out of budget! Terdiri dari dua buku @ 55 ribu. Gee... Dengan uang segitu saya jauh lebih memilih "The Bear and The Dragon" nya Tom Clancy. Tapiii... sebelum saya mengangkat novel tebal itu, perhatian saya nyangkut di buku tanggung berwarna merah. Tulisan Lisa See berjudul "Liu Hulan: Flower Net". Baca sekilas di bagian belakangnya, saya langsung jatuh cinta. Ceritanya tak jauh dari Clancy's books, thriler tentang... euh, silakan Googling sahaja, belum baca belum berani kasih review.
Bukunya Tom Clancy nanti saja lah. Siapa tahu ada yang berbaik hati membelikan, atau sekedar meminjamkannya utnuk saya baca.

Seperti yang sudah saya katakan di postingan sebelumnya: twice satisfactory trade in services from Datascrip. Yang pertama adalah kamera PowerShot A80 -> EOS 350D. Yang kedua adalah printer IP1000 ke IP1880. Soal trade in kamera ceritanya panjang dan sudah lama. Untuk trade in printer, yah, ini benar-benar baru. Wong barangnya saja baru masuk mobil dua jam yang lalu. Ceritanya begini:
Printer Canon IP1000 punya anak boss rusak. Seperti biasa dibawalah ke kantor untuk diperiksa. Berhubung yang biasanya menangani hardware sudah resign, akhirnya saya harus turun tangan sendiri (ngerjain "Z"). Selidik ini selidik itu, akhirnya saya memutuskan (sok ahli) ada kerusakan pada printer, bukan hanya tintanya yang habis (halah!) So saya tanya ke boss, "mau dibetulkan atau dibuang?" Soalnya biaya perbaikan benda berlogo Canon memang "unbelievable". Lebih baik beli baru daripada diperbaiki. Boss tanpa berpikir langsung bilang, "buang saja". Nah, detik itu juga saya jadi pemulung.
Dalam perjalanan mencari biaya perbaikan dan spare part, perhatian saya tersita dengan email tawaran Ms. Irna dari Datascrip Mangga Dua tentang trade in. Haiyaa... trade in lagi? Mau... mau... mau...!!!
Akhirnya, dengan menambah beberapa ratus ribu, ngejogroklah barang ini sekarang di mobil saya...
The timeline should be like this:
2003: Canon PowerShot G3
2005: Canon Powershot Pro-1
????: Canon Powershot S5 IS
Another wishes Dad... wanna trade? (twice satisfactory trade in services from Datascrip)

Bodonya saya. 3 hari berkutat dg CDMA2000x1 nya Flexi ternyata WiFi di hotel ini kenceng banget. Dasar...
Hari ini saya mendapati kamar hotel yang tak berhanduk. Dalam kondisi kamar yang rapi, saya mengambil konklusi bahwa cleaning services pasti sudah bertandang ke kamar saya. Tapi handuk tak ada! Ah, mungkin mereka lupa.
Beberapa saat setelah mengubungi house keeping, salah seorang stafnya muncul dengan dua handuk dan sepiring kue. Halah! Ternyata dua keping kue inipun lupa mereka taruh di dalam kamar tanpa saya sadari (rutin mereka memang seperti itu).
OK lah, no problem kalau mereka lupa. Eh... Benar lupa? Bukannya mereka "ingat" belum memberi kamar saya kue tanpa saya ingatkan? He...