" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: December 2007 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

December 27, 2007

Whr eq Work-hour ?

Lagi-lagi ini trik orang jualan. Teman saya yang sedang ngiler dengan Dell XPS M1330 membanggakan spesifikasinya: Primary Battery 56Whr Lithium Ion Battery (6 cell). Dia bilang itu work-hour. Haiyaa... Berbantahan dengan orang yang sedang kasmaran percuma. Saya lalu mencari dukungan dari Mbah Wiki, ketemu di sini. Saya benar, ini watt-hour. Menurut Mbah, satuan Whr itu jarang digunakan. Biasanya kita kenalnya dengan KWh, seperti kebanyakan yang tertera di meteran listrik PLN. Nah, 1 Whr itu 1/1000 KWh.

Jika Dell XPS M1330 itu mengkonsumsi 15 Watt (coba cari di spesifikasi kok nggak tertera), berarti Primary Battery 56Whr Lithium Ion Battery (6 cell) bisa mensuplai selama kira-kira 4 jam. Got it?

December 19, 2007

Yahoo! Messenger tidak bisa login

Hal yang satu ini benar-benar menyebalkan, soalnya Y!M adalah salah satu media komunikasi antar meja di kantor kami. Ehm... boros bandwidth Internasional? Iya sih... habis mau gimana lagi. Dulu saya mendeklarasikan semua internal chat pakai CheesePopper, tapi sejak software jadul itu tak support di WS2003 (yup, saya pakai server sebagai workstation) ya saya sendiri tak konsisten menggunakannya.

Back to the topic, pengalaman tak bisa login ini terjadi di beberapa PC kantor. Sudah saya utak atik sampe kepala panas, tak ada hasil. Akhirnya mereka pakai web version, padahal kalau pakai versi itu traffic tambah banyak. Eehh... ternyata kejadian serupa terjadi di notebook saya sendiri! Waduh. Tak terpecahkan juga. Sampai pagi ini, entah Mbah Gugel sedang ngalem cucunya kali, saya menemukan link ini. Whaa... hanya gara-gara setting proxy di IE? Apa hubungannya? Undocumented relationship, yang sebenarnya bisa dimaklumi. Hee... Sekarang Y!M di notebook saya langsung wuss... wuss...

December 17, 2007

Melawan Air

Kata orang, air akan berbahaya kalau dalam jumlah banyak. Euh, ternyata banyak itu relatif. Kalau soal genteng bocor, air beberapa tetes pun sudah bisa mengundang bahaya: terpeleset jatuh dari tangga misalnya.

Workaround saya sebelumnya, ternyata tidak memuaskan hasilnya. Bocornya sudah tidak mengalir, tapi tetap saja menetes. Kemarin sebelum ke gereja saya sempatkan naik ke atas plafon, mencari sisa-sisa tetesan air, mencari tahu jalan masuknya. Ternyata tak mudah ya. Padahal baru saja hujan. Bekas-bekas air sudah hampir hilang. Global warming ternyata sudah menyerang plafon saya juga. Waktu tak memungkinkan untuk berlama-lama di atas plafon. Turun, mandi, berangkat ke gereja.

Sepulangnya saya naik ke atas genteng, kondisi gerimis. Sebenarnya saya ingin hujan deras sekalian, biar bisa benar-benar kelihatan dari mana bocornya. Tapi ternyata sampai malam hanya gerimis saja. Akhirnya cuma bisa menebak. Sabtu besok naik lagi, menutup kemungkinan-kemungkinan yang terpikirkan. Pusing juga ya.

December 9, 2007

Rumahku, istanaku

Dua hari yang melelahkan. Hari Sabtu rencana hendak memasang talang air baru agar tidak bocor saat hujan angin. Eh, pompa air minta perhatian. Setelah sempat tergenang air hujan, spool-nya terbakar, mati. Mengganti pompa 6 tahun itu cukup susah. Mesti ganti konstruksi pipa karena struktur suction & blow-nya berbeda dengan pompa kebanyakan saat ini. Jam 10 pergi beli peralatan (plumbing & talang air), jam 12 pulang, jam 4 selesai, dikerjakan sendiri ditemani istri tercinta. Hobi kali ya, makanya saya menikmati 4 jam nukang. Hasilnya memuaskan.

Malam hari saya masih sempatkan mengganti rel gorden kamar anak-anak. Yanty memang ingin mengganti suasana kamar. Tak perlu ngebor tembok, cukup di kusen saja. 20 menit per jendela. Mulai jam 8, jam 9 sudah berberes.

Besoknya saya baru naik ke atap. Ini cukup sulit. Selain tangga lipat saya tak bisa dipasang di 'medan tempur', posisi kompresor AC juga cukup menghalangi. Jam 6 mulai, jam 2 selesai, dikerjakan sendiri (lagi-lagi) ditemani istri tercinta. Hasilnya OK.

Eh, lha kok gantian tangki air atas bermasalah. Double napple antara stop kran dan water mur patah kejatuhan tutup tangki air saat dinding dalamnya dibersihkan oleh Yanty. Pergi lagi jam 2, beli yang dari kuningan, pulang, bereskan, jam 4 sudah tinggal bersih-bersih saja.

Cape? Jelas. Total habis 480 ribu hanya untuk material, tapi puas. Ada kenikmatan tersendiri ketika bisa menyelesaikan masalah. Suasana hati persis seperti saat menyelesaikan tugas programming waktu kuliah dulu.

December 7, 2007

Nebeng

Kalau nebeng mobil orang lain, si supir pasti tahu. Kalau nebeng jaringan wireless orang, belum tentu si admin tahu. Ehm...

Sudah dua hari saya numpang wireless orang lain. Network kantor sih ga ada masalah. Cuman "WiFi tetangga" bandwidth nya lebih kenceng, 300an kbps, bikin saya ngiler. Tadinya cuman numpang sebentar, update AVG, lalu update Windows. Hee... total mungkin sudah sampai seratus mega lebih. Tadi pagi, saya coba LAUNCHcast nya Yahoo!. Lumayan, sampai jam 9 baru tersendat, mungkin si empunya bandwidth mengklaim haknya.

Kalau soal legalitas, sepertinya di Indonesia belum ada hukumnya deh, nggak seperti di luar negeri yang aturan berkembang seiring dengan teknologi. Lalu, mau diteruskan?

Etika. Itu saja yang membatasi saya. Terlebih lagi setelah tahu (pakai trace route) koneksi wireless tetangga pakai Speedy. Siapa tahu mereka langganannya volume based. Lha kalau setiap hari saya nyalain LAUNCHcast ya kasihan yang punya kuota.

December 4, 2007

Hujan 9 jam + Citra 6 = banjir 30-60 cm

Tadi pagi bangun jam 5 masih hujan. melirik tempat-tempat langganan bocor di rumah. Eh, nambah, kamar anak-anak di lantai dua bocor. Pakai atap asbes, harusnya tidak bocor kalau hujan tanpa angin. Weh, mesti naik ke atas nih.

Jam 6.30 naik ke mobil sambil payungan soalnya tadi malam tidak dimasukkan ke carport. Distarter nggak mau! Mogok! Kedinginan! Haiyaaa... Untung aki masih kuat, setelah dicoba 30 menit baru bisa greng. Tangan saya sudah kotor karena sempat membuka kap mesin. Enaknya Espass, bisa buka kap mesin dari dalam, tanpa kehujanan. Jalan deh.

Sampai depan kompleks langsung brenti, liat depan air menggenang tinggi banget kayaknya. Di depan ada Honda Jazz lewat. Saya lalu memberanikan diri. Eh... eh... ternyata tinggi airnya! Mbrebet sedikit, langsung saya menyerah, daripada mesin kemasukan air. Dorong yuk! Weleh, yang bantuin ternyata tukang sampah kompleks dan pedagang buah langganan Yanty di pasar. He... udah siapin dua lembar lima ribuan, akhirnya diterima juga sama adik tukang sampahnya, sementara mas pedagang buah hanya nyengir dan ngeloyor pergi.

Lalu mau lewat mana? Nggak bisa balik lagi karena jalan balik ke rumah airnya setinggi 60 cm. Memberanikan diri lewat apartemen Taman Surya, balik lagi setelah melihat Kijang kapsul mogok di tengah genangan air. Lalu lewat tengah pasar Bambu Larangan, tembus Taman Surya depan, lalu berjibaku dengan air 30 cm sepanjang Taman Palem Boulevard. Sampai outer ring road kering. Halah!

Yanty sampai kantor jam 8 lebih, sementara saya bisa ngebut sampai kantor jam 9. Office boy pun tak tampak, saya yang buka kantor jadinya. Dengar di radio, nanti sore bakal hujan lagi. Duh, lebih baik saya pulang siang saja. Yanty akan aman pulang nanti karena naik kendaraan yang lebih tinggi.

Lalu kenapa bisa banjir? Sementara tahun 2001 dan 2006 lalu kompleks kering. Saya, dan pasti ada pula banyak orang berpendapat sama: pembangunan Citra 6 di daerah resapan itu yang membuat Taman Surya & Palem tergenang. Menuduh? iya lah!

December 3, 2007

Jauh?

Satuan kilometer rasanya sudah tidak relevan lagi di Jakarta, lebih baik diganti dengan menit... eh... jam saja. Bilang ke sebelahmu, "saya tahu apa yang penulis maksud"... :D

Jarak rumah saya ke Mal Puri Indah jauh lebih dekat daripada jarak rumah saya ke Mal Ambasador. Tapi kalau disuruh memilih untuk jalan-jalan hari Sabtu, saya jelas memilih di Ambasador karena memerlukan waktu lebih singkat untuk mencapainya daripada saya mesti berjibaku melalui outer ring road. Jalan memang menjengkelkan, seperdelapan waktu saya ada di jalan menginjak pedal gas, rem, dan kopling yang semakin lama semakin berat saja. Tapi itu konsekuensi hidup di Jakarta. Nggak mau? Pindah saja, jangan bikin KTP Jaya Raya.

Beberapa tahun yang lalu saya diberi kesempatan untuk hidup di negeri singa. Menikmati keteraturannya, sampai saya jenuh sendiri. Terlalu monoton? Hee... sampai saya menolak tawaran "membelot" ke client. Sekarang? Entah. Ada sedikit rasa kecewa dengan keputusan saya dulu. Tapi buat apa? Lebih baik melihat ke depan, bukan?

Dari dulu rencana office move untuk mengurangi overhead sudah lama bergaung, tapi tak kunjung terealisasi. Saya pribadi "harus" setia kemanapun kantor ini pergi, soalnya resign karena alasan lokasi untuk saya saat ini adalah sama sekali tidak masuk akal. Yang lain? Silakan. Saya sudah mati rasa dengan turnover.

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®