" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: February 2008 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

February 26, 2008

Influencer

Pak T.A, seorang notaris di Jakarta, mengajukan dirinya sebagai calon wakil gubernur Maluku periode 2008 - 2013 di bawah bendera PDIP. Kebetulan beliau juga menjadi salah satu notaris langganan bank tempat Yanty bekerja. Suatu hari mereka sempat ngobrol soal pencalonan ini. Yanty hanya nyeletuk beberapa kalimat saja, intinya menanyakan tujuan utama pencalonan itu. Cari uang? Jelas sebagai notaris Pak T.A. bisa dibilang sudah lebih dari cukup. Cari ketenaran? Beliau dicalonkan karena termasuk salah satu putra daerah yang berhasil di rimba Jakarta, bisa dikatakan: tanpa jadi wagub pun sudah terkenal. Lalu? Pak T.A. nyeletuk, "Yah... hanya rame-rame bareng teman-teman saja Bu Yanty". Not a solid base reason.

Senin kemarin, di salah satu harian nasional nama-nama calon diumumkan. Pak T.A tak ada di daftar. Rumor yang sampai ke telinga Head Legal Wilayah 1, menyebutkan bahwa salah satu anak buahnya lah yang menyebabkan Pak T.A tak jadi mencalonkan diri. Whaa...!!!

Sore hari saat Yanty naik angkutan umum pulang ke rumah, beliau menyempatkan menelpon, mengucapkan terima kasih atas pemikirannya. Percakapan hari itu, katanya, membuat beliau berpikikir berhari-hari, sampai akhirnya mengambil keputusan itu.

What a conversation...

PS: Beberapa berita ada di sini:
DMS FM
Situs PDIP
Harian Siwalima
Kantor Berita Antara

February 25, 2008

Mouse Trap

Sabtu lalu saya dan Yanty sempat terpana dengan benda itu. Racun tikus! Buset. Saya saja yang sudah tidak bisa dibilang "anak-anak" saja masih tertarik dengan bungkus kuning cerah, yang mengingatkan saya pada plastik M&M. Nyam... Bagaimana dengan anak-anak? Gambar ini saya jepret di salah satu tempat publik lho, yang kebanyakan para ibu-ibu yang membawa anak lebih memperhatikan "belanjaannya" daripada anaknya sendiri.

Balik ke kemasannya. Sepengetahuan saya, tikus lebih tertarik pada bau daripada warna, jadi pemilihan warna kuning lebih ditujukan kepada manusia. Lalu kenapa kuning? Biar menarik perhatian semua orang? Mungkin saja. Gambar tikus dan tulisan "jauhkan dari jangkauan anak-anak" oleh produsennya dirasa sudah cukup. Asumsi yang berbahaya, soalnya soal racun tikus sepertinya tak masuk dalam daftar kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan.

February 22, 2008

Quiet ...day

Bokap, lalu Yanty, trus Willi, & Mom. Deasy, trus Tris, Renny, Miera. Evy, trus P' Hari, P' Rachman, P' Budi, P' QQ. Terakhir Babe.
Dah tua... hehehehe...

08.02.26: dan ini tambahannya (karena ada yang protes): Setelah itu Neny, Cherie, Neng, De' Icha, M' Najib. Last of the day: Jun

February 18, 2008

Mencari Jati Diri

Baca berita ini, saya tak berharap banyak dari SAS Indonesia..., eh PT. SAS Institute. Tak menyombongkan diri, 12 tahun yang lalu, boss saya yang membawa SAS ke Indonesia dan menjadi "the founder" SAS Indonesia. Waktu berlalu, SAS mencoba melupakan akarnya, termasuk membuat kebijakan yang memakan pagarnya sendiri. Itulah bisnis...

Dengan nama baru, kantor baru, orang-orang yang (semoga) baru juga, saya tetap pesimis SAS mau memandang partner & reseller dengan kedua belah mata. Kita lihat saja nanti.

Khusus Hari Libur, Halal


...daftar menu salah satu warung di mal taman palem...
...layout itu sangat penting, apapun bidangnya...

February 17, 2008

Enjoying Life

Pukul 4 sore saya nangkring di kursi ruang tamu ditemani Nescafe Pas dan The Chamber, pandangan terkadang lepas ke taman di depan rumah, melihat anak-anak bermain di sana. Rasanya sore itu saya benar-benar menikmati hidup.

Dulu, saat saya beli rumah ini, taman di depan rumah masih gersang. Foto yang tercetak di Google Earth (2002) bisa membuktikannya. Sekarang, dengan rumput tebal hijau, beberapa pohon, gazebo, dan 5 mainan anak-anak membuat taman blok saya itu jadi favorit buat anak-anak blok lain untuk bermain bersama. Sore yang lengang gersang menjadi hijau ramai dengan "kicauan" anak-anak yang bermain.

Satu lagi yang tak tergantikan dengan uang, ketika bisa melihat anak tumbuh kembang dengan semestinya, di lingkungan yang semestinya. What a life... plus, kopi ini enak juga... hahahahaha...!!!

February 15, 2008

65% Visual Spatial

65% visual/spatial saya memberikan dampak yang menyenangkan saat membaca buku, terutama buku yang memberikan deskripsi lingkungan yang detil dan jelas, seperti yang sering saya temukan di buku-buku Tom Clancy's, J.K. Rowling, dan terakhir ini Dan Brown. Untuk sebagian orang, mungkin deskripsi detil itu membosankan, tapi tidak bagi otak saya. Membaca buku semacam itu mengubah otak saya menjadi layar bioskop. Dan menonton bioskop tak mungkin dilakukan berhari-hari bukan? Saya cenderung menghabiskan 600 halaman hanya dalam dua malam. Melelahkan tentu, tapi mengasyikkan. Seperti detik ini, saya hampir tak bisa membuka mata dengan penuh, tadi malam hanya tidur 4 jam!

Saya punya pengalaman unik dengan salah satu buku. Bayangan saya tentang bola-bola kaca berisi pikiran manusia di rak-rak yang tinggi itu tervisualisasi dengan tepat di filmnya... Tebak film apa... :D

February 13, 2008

Kipasnya sedang tertutup

Well, no need to say. Saya harus berusaha membukanya kembali. Pantang menyerah. Gee...

Makasih buat yang minggu lalu sudah membukanya.

February 12, 2008

Leaving The Comfort Zone in 34?

Memang tidak mudah, namanya saja comfort zone. Tapi seringkali perubahan itu memerlukan pengorbanan. Ada yang mengorbankan (baca: menjual) Honda Astrea Prima nya untuk migrasi ke "tanah terjanji" OZ. Ada yang mengorbankan sahabat-sahabat dekatnya untuk mendulang SGD, sendirian, tanpa teman.

Saya? 10 tahun di Jakarta dengan segala tetek bengeknya tak sadar membuat saya nyaman. Heh? Nyaman dengan banjirnya? Nyaman dengan macetnya? Tentu saja tidak. Faktor lain yang membuat saya melekat di Jakarta masih banyak, dan seringkali menutupi keburukannya. Membuat mata saya selalu tertutup dengan opsi-opsi lainnya yang lebih baik. Tahun 1999 saya menolak 1500SGD per month hanya gara-gara saya belum menikah. Halah! Saya terpaku pada rencana masa depan yang tak bisa dibelokkan.

Di ujung 33 tahun ini, rasanya saya harus melihat masa depan bukan sebagai sumpit, tapi sebagai kipas yang punya peluang lebih banyak. Saya tak bilang lebih besar. Semoga mata saya terbuka lebar. Belum terlambat bukan?

February 6, 2008

Twin Server

Done...

Gosh... ini baru benar-benar migrasi total. Bukan hanya upgrade, soalnya ganti server, ganti konfigurasi. Dulu, NS2 hanya nyata di IDNIC (sekarang PANDI). Sekarang, silakan lakukan DNS Check... Dulu, SMTP hanya bisa dipakai dari LAN. Sekarang, silakan pakai dari mana saja (asal punya ID & PW). Dulu, POP menggelandang bersama SPAM, VIRUS, dan fauna lainnya. Sekarang ada spamassassin dan clamav sebagai polisinya. Dulu, sering main di terminal SSH. Sekarang, sering pakai ISPConfig dan Webmin. Dulu, Solaris 8. Sekarang Ubuntu 7.04. Dulu, single fighter. Sekarang... PERFECT!

February 4, 2008

Semalam di Tol Sedyatmo

Lucia (2/1/2008 12:14:01 PM): kg plg neh,..banjir loh jlnan

Hanya satu baris YM itu saja yang saya baca, selanjutnya sudah turun ke tempat parkir dan pulang, diguyur hujan super deras. Menyempatkan diri mengisi bensin di Semanggi, saya lihat genangan air hampir sampai di tutup tangki bawah tanahnya. Saya langsung berputar di Semanggi ke arah Slipi.

Tol macet! Saya putuskan untuk tetap di arteri. Radio bilang daerah Citraland banjir. Euh, saya mau tak mau harus masuk tol untuk menghindar banjir. Masuk di Slipi, ternyata pilihan saya tak begitu bagus: seluruh toll lane kebanjiran! Merayap, sepertinya jalan kali lebih cepat. Jam 6 sore genangan air mulai terlihat. Bwhaaa...! Tinggi! Saya sempat lihat sebuah CRV menerobos dari arah yang berlawanan, setinggi kaca spion! Eh... eh... lolos juga dia. Saya dapat jalur yang cukup ringan, tapi harus berdesakan dengan motor dari arah depan: 20cm. Setelah itu arah Pluit & Bandara lengang. Ngebut, sambil mencoba telpon Yanty yang tadi bilang tak ada kendaraan sama sekali untuk pulang, tak ada jawaban.

Jam 6.30 ternyata mandeg di pintu tol Sedyatmo. Beberapa orang "sok" mensortir kendaraan. Yang tinggi suruh lewat, yang rendah (termasuk saya) disuruh minggir.
"Kenapa Pak?"
"Banjir, sedada" sambil menaikkan tangannya di depan dadanya. "Lebih baik Bapak balik lagi aja, nggak bisa lewat"
"Keluar Kamal pun nggak bisa?"
"Nggak. Tapi kalo Bapak mo maksa ya silakan"
Waduh! Akhirnya saya parkir di tempat yang cukup aman (di parkiran kantor Jasa Marga) lalu keluar mencari info. Yang saya dapat ada 1001 versi! Ada yang bilang exit Kamal bisa dilalui tapi macet. Ada yang bilang exit Kamal dipakai untuk jalur balik arah dari Tol sehingga macet. Ada lagi yang bilang exit Kamal termasuk yang terendam satu setengah meter. Itu semua saya dapat dari orang-orang Jasa Marga. Bikin pusing saja. Coba renungkan pengumuman resmi dari Jasa marga di pintu tol:
"Diberitahukan kepada seluruh pengguna jalan tol, bahwa di kilometer 25 sampai 27 terdapat genangan air setinggi satu setengah meter, sehingga tidak dapat dilalui oleh kendaraan apapun. begitu pula dengan exit Kamal. Jangan memaksakan kendaraan anda. Pilihan terbaik adalah berbalik, arahkan kendaraan anda kembali ke Jakarta. Jika anda tetap memaksa terus, siapkanlah logistik dengan cukup karena setelah pintu tol ini tidak ada putaran balik lagi dan surutnya air tidak dapat diprediksi."

Jam 8 malam Yanty telpon sudah sampai rumah, jalan kaki dari Pantai Indah Kapuk ke rumah di Kalideres! Sedikit lega, saya mulai berimprovisasi: ikutan ngantri di pintu tol. Di daerah itu pun sudah tak ada logistik, keputusan awal tidur di pintu tol menjadi pilihan yang tak menyenangkan. Lebih baik tidur di jalan, sambil pelan-pelan merangsek pulang. Memang benar-benar parah. Berjalan 10 - 25 meter, lalu berhenti satu - dua jam. Tak ada air minum, saya berusaha untuk benar-benar tidur. Dibangunkan oleh klakson truk saat sudah bisa jalan lagi, hanya untuk lagi-lagi 10 - 25 meter.

Sampai di exit Kamal saya mencari genangan air, yang ternyata tak ada! Bekasnya pun sudah kering! Ampun! Jadi saya berjam-jam terganjal orang-orang yang nekat mau ke bandara. Coba kalau setelah exit Kamal diportal, tak akan ada penumpukan kendaraan seperti ini karena semuanya akan keluar ke Kamal.

Sampai rumah jam 5.30 pagi, hari Sabtu! Mandi... trus tidur.


  • mejeng di depan Taman Anggrek, dari jalur 1 tol dalam kota
  • motor masuk tol, melawan arus lagi
  • danau dadakan di depan Citra Land

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®