" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: February 2011 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

February 26, 2011

Cara Membersihkan Keping CD / DVD

Kebanyakan orang, termasuk saya, menyimpan keping CD/ DVD di dalam binder plastik. Binder jelas menyimpan lebih banyak daripada menggunakan jewel case. Lagipula, katanya, jewel case memiliki resiko terkena jamur karena terdapat rongga udara di antara keping CD/ DVD.

Tapi ternyata sama saja! Sleeve yang saya pakai untuk menyimpan CD dan DVD ternyata meninggalkan bekas/ noda pada kepingnya! Keping-keping itu jadi susah dibaca oleh reader. Harus dibersihkan nih! Data yang saya simpan terlalu penting: foto dan home video.

Cara pertama saya hanya menggunakan air keran dan tissue, gagal. Cara kedua ekstrim: pembersih noda aspal buat mobil, tapi ini gagal juga. Cara ketiga: cuci dengan sabun cuci tangan, yang ini kadang berhasil, tapi lebih sering gagalnya. Cara keempat: cuci dengan sabun cuci piring yang iklannya bisa menghilangkan lemak membandel. Nah yang ini berhasil, walau tetap saja dari puluhan ribu file masih ada yang tak terbaca (relakan saja dah).

Cara cucinya, pertama ambil tissue, lalu lipat sampai sedikit tebal. Basahi dengan air sedikit, lalu tuangkan beberapa tetes Sunlight di atasnya. Basahi keping sampai merata. Gosok keping menggunakan tissue yang sudah diberi sabun. Gosoknya mesti dari dalam ke luar (dan sebaliknya). Tidak boleh digosok memutar karena jika terjadi swirl mark akan mengganggu proses baca optik. Saya sih gosoknya sampai sekuat tenaga, seringnya sampai tissuenya sendiri hancur. Setelah itu dibilas dengan air, dan goncang-goncangkan untuk meminimalisasi air yang tersisa.Untuk mengeringkannya cukup diletakkan di atas tissue yang sudah dibuka. Lalu tutupi dengan tissue lagi di bagian atasnya dan ditepuk-tepuk perlahan. Jika masih ada air, seka menggunakan tissue baru dari arah dalam ke luar. Untuk keping yang ada stikernya, keringkan juga. Habis itu coba deh dimasukkan lagi ke reader. Kalau belum bisa, langkah di atas bisa diulang 1 - 2 kali lagi.

Sekarang, saya tak akan mem-backup data penting ke keping-keping itu lagi. Lebih baik beli harddisk saja yang gedean. Nanti kalau sudah punya uang lebih, saya akan bikin dua backup identical di dua harddisk.

February 25, 2011

Utilisasi GMail Secara Penuh

Sejak bulan lalu saya sudah menggunakan GMail sebagai alamat surel utama, menggantikan alamat surel kantor lama. Alasannya simpel: saya tak mau bergantung pada POP3 server lagi. Kenapa? Karena saya lebih ingin mobile. Pakai GMail saya bisa cek email kapan saja, di mana saja.

Trus akun POP3 yang sudah ada bisa saya tarik dari GMail juga. Jadi saya terbebas dari Thunderbird yang sering menyita resources. Ada dua akun yang saya tarik ke GMail: pertama akun kantor lama (yup, saya masih punya karena saya masih maintain server-server mereka), dan kedua akun personal situs ini. GMail ternyata juga punya fitur untuk mengirimkan email dengan sender akun sekunder. Asik kan!

Filtering? Mudah. Puluhan filter sudah terpasang di GMail saya, memudahkan memilah-milah email ke kotaknya (GMail menyebutnya Label) masing-masing. Meski tak sehebat fitur Thunderbird filtering, tapi cukup lah buat saat ini.

Keamanan data? Hoho... namanya juga gratisan. Mau gimana lagi? Ada harga yang harus dibayar. Yah, kalau kita mau berkompensasi sedikit, hidup kita bisa lebih mudah kok. Ya nggak?

Ehm... ada fitur GMail yang belum saya pakai? Kasih tahu dong!

February 22, 2011

Penipuan Dengan Call Bomb

Beberapa jam yang lalu ada orang iseng yang terus-terusan telpon ke henpon saya. Yah, namanya juga nomor public, maklum lah. Cuman yang ini rada aneh. Tiap kali saya angkat, si penelpon langsung memutuskan sambungan dan detik berikutnya telpon lagi. Begitu juga tiap kalo saya reject langsung telepon saya berdering dengan caller yang sama. Belum sempat curiga, tiba-tiba Yanty telpon ke nomor kantor. Cerita kalau tadi ada yang telpon ke rumah ngabarin kalau saya kecelakaan blablabla, masuk rumah sakit blablabla, mesti operasi blablabla, perlu biaya & transfer segera blablabla, dan hubungi dokter di nomor 081574350287. Sedetik saya ngekek, detik berikutnya panas!

Ini yang saya lakukan. Tolong buat pembelajaran bagi yang lain:
Pertama, biarkan henponnya berdering terus dan catat nomornya. Yang telepon saya adalah nomor ini: 085716911524
Kedua, telpon beberapa orang yang paling dekat dengan kita. Saya sih tadi langsung telpon ortu dan adik. Beritahu kalau sedang ada kasus penipuan & berikan nomor telepon darurat sementara. Ehm... bagus juga ya kalau kita punya lebih dari satu henpon di tangan.
Ketiga, matikan jaringan GSM (masuk ke profile flight mode), aktifkan call blocker & masukkan nomer yang terus-terusan telpon itu, lalu nyalakan lagi henponnya.

Selama beberapa menit Best Blacklist saya "bertempur" dengan software si penipu (saya panggil gitu saja lah, MO nya dah jelas sih). Asik juga, tapi bikin boros baterai. Akhirnya berhenti juga. lalu saya SMS balik ke nomor 0857 itu, "dah kelar nipunya? ga punya kerjaan halal lainnya ya?". Delivered but no reply.

Hebatnya, Yanty yang sempat menelpon si dokter tetap diminta datang ke rumah sakit. Wow, apakah mereka menyiapkan jurus hipnotis juga? Paket all in dong. Ampun dah. Soal data, untuk cari tahu nama saya sih gampang. Cari nomor henpon saya juga gampang. cari nomor telepon rumah saya juga gampang walau perlu pe-er sedikit lebih keras. Saya malah pengin tahu pakai software/ alat apa dia ya?

February 21, 2011

DIY: HDD Docking Fan


Akhirnya jadi juga beli docking harddisk. Untuk saat ini, harddisk yang terpasang akan berganti antara 1,5TB (berisi backup foto, home videos, movies, dan ratusan archive docs) dan 80GB (berisi game-game Nintendo Wii). Cuman waktu kemarin mulai proses backup, harddisknya benar-benar panas! Lha kalau di dalam casing CPU gimana tuh? Well, saya tidak mau ambil risiko. Lebih baik dikipasi saja.

So, ignore the warranty, saya mau pasang kipas permanen saja. Untungnya, power supply harddisk docking mirip dengan power supply CPU: ground, 5V, 12V. Jadi saya bisa memakai kipas casing CPU. Pas saya punya bekas copotan power supply yang rusak. Setelah dibongkar (stiker garansi sobek tentunya), saya cari tempat yang cocok untuk melewatkan kabel kipas. Setelah dilubangi (A), kabel kipas dimasukkan, kemudian ujungnya disolder ke konektor power 12V (B). Test dulu, setelah itu casing harddisk docking ditutup kembali. Kipas saya tempel di bagian belakang docking menggunakan double tape.

Beres! Ini hasilnya:

Dari testing, harddisk cukup mendapat angin. Yang tadinya menyengat panas kalau disentuh, sekarang mau nempel berapa lama pun jari hanya akan berasa hangat.

February 18, 2011

Sepatu Tahan Air

Haiya... sudah baca DIY saya soal pengering sepatu? Sukses sih buat bagian luar dam dalam. Cuman ternyata sepatunya sendiri ada bagian yang ga bisa dikeringkan: kertas!!! Ha... apa-apaan nih! Masak bikin sepatu dari kertas? Ya bukan bagian yang kelihatan dari luar sih. Mereka pakai kertas... well... karton tebal lah buat ganjal antara karet sepatu dengan alas kakinya. Ehm... bingung? Ni kalo diurutin dari bawah: karet sepatu/ sol, lalu karton tebal, lalu alas sepatu, lalu kaki kita. Kertas gitu lho!!! Sebel dah.

Tahunya setelah beberapa hari dipakai, kok ada pritilan-pritilan seperti kertas berwarna merah nyangkut di kaos kaki. Hari berikutnya pritilannya tambah besar, benar-benar menganjal kalau dipakai jalan. Kemarin sore akhirnya saya bongkar, dan whoaaa...!!! Lihat gambar di sebelah. Bisa dibenerin ga ya? Diganti pake busa tipis kali ya. Ampun-ampunan deh. Padahal itu sepatu ga murah, 200 ribu lebih, eh... apa itu murah? Hehehe... jarang beli sepatu sih. Cuman ini bener-bener baru 3 minggu beli!

Mesti ganti yang tahan air nih...

Emang udah lama sih ngincer AP Boots. Tapi beli di mana? Di toko sepatu nggak ada. Di Kaskus yang Moto 1 dijual 65 ribu, yang Moto 2 85 ribu, belum ongkir 10 ribu. Eh, lha kemarin mampir ke Ace malah jual Moto 1 dan Moto 2 satu harga: 68 ribu. Sikaaattt...!!! :D

Pagi ini pake itu buat berangkat kantor. Rada aneh, pergelangan kaki jadi kaku, turun naik jadi rada aneh. Sampai saya posting ini masih berasa pake boots padahal sudah dilepas 3 jam yang lalu... :D

February 16, 2011

Sepedahan Lagi

Dulu sekali (maksudnya benar-benar dulu banget, 2001 kali) saya memutuskan untuk mengirimkan sepeda balap saya ke Jakarta. idenya mau "berolah-raga". Hasilnya? Karena sudah nggak dipakai selama 3 tahun (di Salatiga nongkrong di gudang sejak saya tinggal ke Jakarta) bannya sudah rada mati, remnya langsung putus begitu digunakan. Akhirnya di Jakarta-pun sepeda itu nongkrong di dekat dapur. Lama-lama dijadikan jemuran lap-lap dan keset yang baru dicuci. Suer jadi kotor, berkarat, berdebu, ber... apa lagi lah pokoknya nggak asik dilihat.

Dua minggu lalu saya tak sengaja harus dealing dengan sepeda-sepeda lagi. Anak-anak sudah harus ganti sepeda yang lebih besar. Willi dapat kiriman dari eyangnya, sementara Sisi gantian pakai punya Willi. Namanya juga bekas, kotor lah, berkarat lah, ada yang somplak lah. Akhirnya saya berkutat dan "bergaul" dengan toko sepeda, mbetulin sepeda ex-Willi yang mau dipakai Sisi. Sukses dah.


Tapi side effectnya saya kok jadi ketagihan. Akhirnya libur kemarin saya pakai untuk menghidupkan sepeda saya sendiri. Mulai jam 10 pagi, kelar jam 6 sore! Kerjaannya memang berat: Pertama, pretelin semua parts sebisanya. Soalnya gumpalan debunya benar-benar tebal dan masuk ke dalam sela-sela parts. Lalu pakai sikat gigi tiap parts yang berdebu disikat. Setelah cukup puas lalu saya masukkan ke ember dan cuci pakai sabun, lalu dikeringin. Beberapa parts yang bisa dikilapkan saya gosok pakai metal polish (pasti pada kenal Sunpoly). Kerjaan ini yang menyita banyak waktu dan tenaga. Setelah itu pasang balik lagi semua parts. Beberapa yang dari karet (ban & rem) serta tali-tali (tali rem & gigi) mesti diganti. Total belanja habis 150 ribu, tapi puas... :D

Next, ada dua pilihan: upgrade rem atau upgrade batang setang jadi versi MTB. Ga akan kebut-kebutan lagi lah, pakai setang lurus kayaknya lebih nyaman daripada setang balap. Plus bisa ganti tuas dan tali rem jadi yang biasa.

February 14, 2011

DIY: Shoes Dryer (Upgraded)

Dah ditambahi solder. Udara yang ditiup ke dalam jadi lebih hangat. Semoga lebih cepat kering.

DIY: Shoes Dryer

Sejak naik motor lagi, kok ya pas Valentine kehujanan. Yang basah tas (sarungnya cuman depan doang sih), pergelangan tangan, kerah jaket, pergelangan kaki, sama sepatu (yang ini parah banget).

Sampe kantor masuk kamar mandi, trus nge-lap semua yang basah. Sepatu sama kaos kaki pasrah dah. Sampe jam 10 yang masih basah sepatu sama kaos kaki, lainnya dah kering. Kaos kaki akhirnya dipake aja, wong tinggal lembab doang. Lha sepatu? Akhirnya DIY dikit, jadi deh seperti di gambar... :D

Tenang, itu push bukan pull. Jadi nyembur angin ke dalam sepatu, nggak bikin pingsan orang-orang sekantor kok. Odorless... xixixixixi... Emang akan lebih efektif kalo ada heat sourcenya. Next time deh cari solder, trus bikin pegangan buat ditaruh di atas kipasnya... :D

Btw, bikers lainnya, kalo pas kena ujan gini biasanya gimana?

February 8, 2011

Niat Download

Yang upload sih gampang, pakai IDWS uploader langsung otomatis naik semua dengan rapi. Lha yang download bisa gempor. File 10GB lebih dipecah per 100MB, jadinya terfragmen 115 biji! Ala IDWS untuk download 1 file diperlukan 3x klik minimal. Belum lagi window scroll-nya. Jadi bayangkan repotnya. Nah, soal repot, karena lagi nganggur, ya diniatin lah... :D Eksekusinya nanti sore, sekarang diantrikan saja dulu semua... :D

Jualan Barang-barang Eks Pacaran

1st: ini bukan saya! Masa pacaran sudah belasan tahun lewat, ga ada deh sisa-sisanya, apalagi yang bisa dijual... :D

Ini saya nemu di salah satu trit FJB Kaskus. Unik, bikin ngekek. Bukan soal barangnya, ada dua MOS di lapak ini:
Pertama, yang buka lapak punya ide unik buat jualan. Regardless it's validity, dengan nyebut ini barang-barang eks pacaran akan menarik orang lebih banyak untuk melirik. Dan barang-barang bekas cewek memang kebanyakan mempunyai kualitas "lebih baik" daripada barang-barang bekas punya cowok.
Kedua, soal emotional effects. Pemilik lapak sudah berani invest buat beliin barang-barang itu. Buat PDKT? Entah. Yang pasti berani keluar modal. Seringnya kita malah pinjam sana sini sebelum punya dulu. Eits... apa jangan-jangan karena "hanya" dibelikan perlengkapan bikers jadi putus? Ha...!!! Mungkin mesti beli mobil baru pacarannya langgeng ya... Matre...

Penasaran dengan tritnya? Silakan cari sendiri.

February 7, 2011

After 10 Years Driving To Riding

Masih teringat 10 tahun yang lalu saat pengelola gedung kantor ini tidak memperbolehkan mobil menginap, saya terpaksa membawa mobil operasional kantor ke rumah sementara motor yang biasa saya pakai berangkat-pulang kantor dititipkan ke warung padang sebelah parkiran mobil. Besoknya saya berangkat naik bis dan pulang membawa motor saya. Itu terakhir kalinya saya naik motor jarak jauh (sekitar 20 km). Selebihnya... sampai kemarin... saya tak pernah keluar dari radius 5 km dari rumah pakai motor.

Hari ini beda. Setelah sekian lama dormant (bukan ding... cuman duduk injek-injek gas rem kopling) akhirnya tadi pagi saya naik motor lagi. Berangkat 6.30 dari rumah, sampai tempat Yanty 7.15. Sampai tempat saya 7.30. Nggak buruk lah buat rute Daan Mogot, Tomang, Sudirman. Nggak buruk juga buat pantat dan punggung saya. Sampe kantor langsung minum seliter air.

Abis cuci muka, cuci tangan, ganti baju, feel fresh... :D Makanya tas bawaan saya segede ini:

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®