" /> Catatan Harian Adhi Widjajanto: June 2011 Archives
 
www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

June 13, 2011

Susahnya Merelakan...

Wow... What an exhausting day. Pagi berangkat naik motor ke DMB, 'nitip motor' trus lanjut dengan TiJe ke Kelapa Gading. Habis itu lanjut dengan angkot ke Autoland, ambil mobil yang sudah 2 minggu lebih ngendon di sana untuk body repair. Cek sana sini sedetil mungkin, puas, tanda tangan, bayar, dan meluncur ke kantor. "Gosong Lu" seloroh Arief.

Sore jam 15.45 ngabur, biar terhindar dari 3 in 1. Jemput Yanty lalu pulang. Sampe rumah cuci mobil, pake sabun walau tak begitu kotor, lalu di light wax. Kelar jam 8 malam. Cape, tapi puas. Tinggal bagian dalam nanti dibersihkan saat mau pergi saja.

Mungkin ini kali terakhir saya merawat mobil ini. "Collectible item", kata Pampi. Setelah itu mobil akan ngendon di Salatiga. Semoga tetap dirawat dengan serius... Jujur, ga tega, ga rela. Tapi mau gimana lagi. Walau Mom bilang masih my responsibility buat merawatnya, tapi saya kan tak bisa memolesnya setiap minggu... :(

June 7, 2011

Bermain-main dengan Proxmox, VM yang mencengangkan

Cuti bersama lalu saya gunakan untuk sesuatu yang produktif. Mampir ke salah satu klien dan mengubah salah satu server menjadi VM OS. Saya pilih Proxmox VE, atas masukan dari teman-teman di milis id-ubuntu.

Setelah download ISOnya sekitar 300MB lebih, burn ke CD dan install. Ga ada apa-apa yang perlu di set-up. Beberapa menit kemudian selesai, eject CDROM dan reboot. UI nya via web mesti dari komputer lain karena Proxmox hanya menyediakan shell prompt saja. Pembuatan VM nya cukup mudah. ISO OS lainnya bisa dikumpulkan di dalam Proxmox serupa repositori ISO. Bagi yang sudah biasa menggunakan VMWare atau VirtualBox, membuat VM di Proxmox akan sangat mudah.

Performa? Benar-benar mengasikkan. Hardware yang saya pakai i5 2400 series dengan 500GB SATA dan 4GB DDR3. Proxmox sendiri "hanya" menggunakan RAM sekitar 200MB, jadi sisa 3,8GB bisa dialokasikan untuk VM-VMnya. Bottleneck saya rasakan hanya dari harddisk I/O. Selebihnya... :D Recommended lah...

June 5, 2011

Dispose this... dispose that @ Nokia N97 Mini Service Manual

Beberapa minggu lalu saya sedang blogging di henpon saat shuttlecock Willi nyangkut di kanopi carport. Henpon saya kantongi, panjat dinding carport dan mencutik jatuh shuttlecocknya. Saya lalu melompat turun... dan henponnya mendarat dengan kerasnya di carport.

Well, itu memang bukan yang pertama kali. Ehm... yang pertama di lokasi yang sama, new year eve kemarin. Lalu beberapa kali lagi di tempat lain. Lucunya kejadian itu setelah henpon saya lepas dari shell tambahannya (pertama beli saya pasangi hardcase dari Capdase, tapi kaitnya patah setelah beberapa bulan dipakai).

Entah karena terakumulasi, jatuh kali ini bikin henpon saya byar pet. Casing sih sudah baret sana sini. Baterai juga terkelupas plastiknya di beberapa sisi. Sudah saya tutup dengan isolasi, tapi tetap saja byar pet. Menyebalkan, masuk kantong longgar pun mati. 'Dilempar' ke atas kasur pun mati. Setelah diperiksa, bodi ternyata bisa dipelintir! Dan tentu saja langsung mati. Wah mesti dibongkar nih.


Sekrupnya pakai Torx 4! Saya cuma punya nomor 5 sampai 7. Setelah menyerah cari-cari di Mitra 10 dan Ace, akhirnya nemu 1 set dari nomor 3 sampai 15 di toko kelontong. Gee...

Berbekal 'Nokia N97 Mini Service Manual' (terbitan Nokia Academy) yang saya dapatkan di Internet, saya mulai membongkarnya. Buka casing belakang, copot baterai, copot slot SIM card, lepas 4 sekrup dan buang. He??? Saya baca lagi dan memang instruksinya sekrup itu tidak boleh digunakan lagi. Saya scroll ke bawah lagi dan menemukan beberapa parts 'harus dibuang', cannot be re-used. Wow! Yang hebat lagi keypad pun termasuk yang ditandai 'dispose' dengan gambar keranjang sampah 'Recycle Bin' nya Windows. Hebat! Tapi setelah membongkarnya saya tahu alasannya. Sekrup sepertinya sengaja dibuat sempit pada bagian atasnya sehingga saya harus 'menekan' obeng agar ujungnya benar-benar masuk ke celah sekrup dengan bunyi 'tik' yang cukup mantap. Keypad dibuka dengan mencongkelnya lepas dari rangka, hanya ditempel pakai double tape! Saya harus buka dengan sangat hati-hati. Melengkung sedikit dan saya akan benar-benar kehilangan keypadnya.

Di bawah keypad saya menemukan 2 sekrup lagi. Setelah itu baru bisa membuka cangkangnya. Kali ini 'Service Manual' itu benar-benar membantu. Saya jadi tahu persis di bagian mana saya harus mencongkel terlebih dahulu. Untung kuku saya pas panjang. Kalau di manualnya disebut menggunakan prying tool seperti alat petik gitar.

Sukses terbuka saya dapat mengakses mainboard. Lepas satu-satu semua konektor, lalu saya bersihkan dengan lens blower, lalu saya pasang semuanya kembali, dengan tekanan sedikit lebih kuat pada setiap konektor. Selesai, hidupkan (nyala tentunya).

Sudah tak melintir lagi, sudah tak mati saat dibanting di atas kasur, dan besoknya saya bawa ke kantor di dalam kantong celana dan selamat sampai di kantor. Done.

MOS: kalau saya bawa ke Nokia Care, berapa parts yang harus saya bayar untuk reparasi tuh? Sekrup, keypad, kabel pita konektor ke antena,dan beberapa konektor lainnya. Euh... Itu kalau mereka mengikuti & lulus Nokia Academy. Kalau tidak? Hohoho...

Member Of

Personality

Hosted by
Powered by
Movable Type 3.33
Some images hosted by
ImageShack®