www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

September 11, 2008

PD kantor

Siang ini seperti biasa saya ngantor di client. Kali ini, saya datang pas jam makan siang. Biar ngirit, saya makan di kantor dulu jam 11 baru ngeluyur ke client. Sampe di ruang developer, sepi, ngabur semua. tapi ruang meeting besar di sebelah rame. Ada presentasi kayaknya. Soalnya pakai pengeras suara segala.

Eh, tiba-tiba ada genjrengan gitar, dan lagu yang mengalun saya kenal baik! Whaa... ada PD juga di sini. Hm... Kamis ya... jam 12 siang ya... Minggu depan coba ngikut ah...

Betapa hatiku berterimakasih Yesus
Kau mengasihiku Kau memilikiku
Hanya ini Tuhan persembahanku
Segenap hidupku jiwa dan ragaku
Sbab tak kumiliki harta kekayaan
Yang cukup berarti tuk ku persembahkan
Hanya ini Tuhan permohonanku
Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku sebagai alatMu
Seumur hidupku

April 7, 2008

Public Pray

Beberapa minggu yang lalu, Yanty mengingatkan di salah satu acara komsel DM, tentang pentingnya berdoa, anywhere. Jangan sampai lokasi menjadi batu sandungan untuk berdoa. Konteksnya pada waktu itu adalah doa antar pasangan, antar suami istri, antar dua kekasih. Kami berdua.... eh, berempat masih melakukannya meski di tempat keramaian, misal food court. Willi pun sudah kami ajarkan untuk "berteriak" sampai telingamu sendiri mendengar saat berdoa.

Kemarin lihat "I Am Legend". Sang istri pun tak malu meng-initiate doa di pintu helikopter yang sedang meraung siap lepas landas. Itu salah satu contoh "Surat Kristus" yang terbuka... bukannya "Untuk Kalangan Sendiri". Hee...

Btw, film ini menggambarkan tentang keyakinan yang dalam. Robert Neville yakin bahwa dia bisa menemukan the cure di ground-zero. Perempuan & anaknya (saya lupa namanya) yakin dituntun Tuhan berkendara ratusan mil untuk bertemu dengan Neville.

Well, keyakinan apa yang anda pegang erat-erat saat ini?

May 23, 2007

Ketergantungan

Kayaknya saya sudah addicted dengan pelayanan Pria Sejati. Jadi saat kesempatan melayani di track itu kemungkinan hilang, saya jadi panik.

Kemarin sore terjadi percakapan yang tidak memuaskan saya. Gara-gara performa tim sangat tidak memuaskan, ada wacana untuk membunuh track di Maizonette ini. Deu...deu... Saya sudah terbayang rekan-rekan lain yang tidak ada pilihan lain dalam pelayanan. Saya sendiri? Ehm... jadi usher lagi pun tak apa. Tapi tetap rasa 'eman' itu melekat erat. Saya tahu ini ketergantungan yang tidak baik. Pelayanan Pria Sejati adalah privileges dari Allah buat saya. Kalau itu dicabut, tak seharusnya saya jadi sewot bukan?

Hm... entah. Kali ini saya cape' berdebat dengan dia. Semangat saya sedang turun serendah-rendahnya. Mungkin overcharge saya dari Juni - Oktober 2007 buat hal-hal lain saja, semisal benerin software camp itu. Sapa tahu bener-bener bisa jadi rupiah.

March 26, 2007

Wating to exhale

Tahu kenapa, akhir2 ini banyak tekanan dari sana sini. Aku merasa sendiri lagi. Tanya kenapa? Aku sudah cuti berdoa hampir setahun setengah. Nggak nyadar dari dulu diketuk pintunya sama Dia, sampe akhirnya mesti digedor pake palu godam...

Ugh... sakit... Tapi b...e...r...t...o...b...a...t...

November 21, 2006

The Touch

I miss her touches... It really bothers me... But I can't tell you how... When I start humming at Him... She's leaning at me, again... It only takes one silently morning...

April 23, 2006

Ngamen Gaya Baru?

Syallom Sebelumnya saya minta maaf sebanyak2nya Mohon dungkungan bapak/ibu mendo'akan saya supaya saya bisa dapat krj. saya selama ini nganggur Selama ini uang makan aja sudah habis. klo gak ada yg nolong saya bisa mencuri buat bayar utang sya.Dan saya bertahan saya tdk mau mencuri aku takut krn tuhan yesus sudah melaran di alkitb. Mohon bantuañya klo bsa dari gereja atau dari mana saya benar2 butuh pertolongan bapak/i utk kebutuhan sehari2 dan buat mkn klo bapak/i bisa melong saya melaluiBANK BCA NO REKNING SAYA (479XXXXXXX) Kiranya bapak /i bisa menolong saya Syallom tuhan membrkati amin

SMS di atas dikirimkan ke nomor HP saya yang sudah tersebar ke mana-mana. Hem, layaknya pengamen di angkot & angkutan umum lainnya, cuma ini modal 4 X 350 rupiah dan telepon selular. Gaya baru nih?

February 18, 2006

Beratnya Kelas Modul 2 - Build Men Raise Sons

Gee... dari jam 9 pagi sampe jam 4 sore. 4 Sesi, berat karena self discovery. Kalau nggak fokus atau ngantuk ya bablas, nggak dapat apa-apa.

Hari ini kelas pertama, sampai 3 minggu berikut bakal seberat ini. Heh, banyak perubahan sih. Saya juga mau berubah, banyak.

January 20, 2006

Komsel...?

Yup, di awal tahun 2006 ini Aku & Yanty memulai sesuatu yang baru: ikut komsel lagi! Hehehehe... setelah sekian tahun absen di dunia per-komsel-an akhirnya kemarin ikutan lagi, bareng komsel Franky-Yuyun di Greenville.

Keinginan untuk ikut komsel lagi emang diwarnai dengan kemalasan tingkat tinggi. Dari gimana transportasinya, gimana Willi, gimana kotak esnya, dan seabreg alasan lain.

Tapi akhirnya kemarin sore, yanty mencoba berangkat dari Kota ke Citraland naik TiJe. Sedangkan saya sudah 5.45 nongkrong di KFCnya. Yanty sampai jam 6.20, pesan makan, dan karena saking kelaparannya, selesai jam 6.30. Gee... Istirahat sebentar lalu berangkat ke Greenville.

Kami datang pertama, setelah beberapa menit pampi nongol. Lalu Barita & Vinda dan tidak lama kemudian Torkis bareng Ivan, anaknya muncul. Setelah ngobrol sana sini barulah bahas firman dimulai. Saya sempat melirik jam, 20.00, gosh... pasti balik malam. Saya sih biasa pulang malam, tapi anak-anak di rumah belum terbiasa dengan pola seperti ini. Hari itu Yanty dua kali telpon ke rumah.

Well, soal isi komsel, banyak yang berubah sejak kami terakhir ikut. yang sekarang lebih terarah, tahu posisi, dan akibatnya kami semua pasti mendapat sesuatu yang baru. Hem... next week we meet again.

January 15, 2006

Obedient

Nggak pernah komsel lagi sejak ada Willi.
Nggak rajin baca firman lagi sejak nggak tahu kapan, alias lupa saking kelamaan.
Jarang banget saat teduh bareng keluarga.
Nggak jadi panutan yang bener buat keluarga.
Masih sering emosi sama Eng & Willi

Sedihnya, saya dalam track "reparasi pria". Kali ini saya akan ikut dobel jadi peserta. Tuhan pasti bantu saya.

January 10, 2006

Pictures that can't be taken in my CF cards

Kemarin pulang dari pertemuan pelayanan saya mendapati rumah sudah dikunci, lampu ruang tengah padam menandakan semuanya sudah masuk kamar. Mungkin malah sudah tidur mengingat sudah jam 10 malam.

Masuk ke dalam, saya tidak merasakan hembusan dingin AC dari celah pintu kamar utama. Hm, pasti di kamar Willi. Saya naik dan menemukan mereka. Sisi tidur di kasur bawah, sementara Yanty bobo' melingkar diantara Sisi & Willi yang tidur dengan khas dia: berantakan. Radio masih menyala, mengiringi tidur pulas mereka.

Sekian menit saya hanya bersandar di pintu melihat, dan merenung. Betapa Allah memberi saya yang terbaik. Menjaga keluarga saya & memberi berkat yang berkelimpahan. "Thanks God...", bisik saya dalam hati.

Perlahan saya kecup mereka satu-satu sebelum keluar kamar dan turun ke lantai bawah dengan rasa tak terkatakan.

October 26, 2005

Our 3rd Anniversary

Biasanya di tahun-tahun lalu, saya dan Yanty selalu merencanakan ini-itu untuk hari ini. 26 Oktober, 3 tahun yg lalu, pernikahan yang tak terlupakan.

Nggak nyangka sudah 3 tahun menikah, punya istri cakep pengertian sayang & cinta sama saya, punya anak 2 cowok cewek. Hm... saya lalu berpikir, "Apa sih yg nggak Allah sediain buat keluarga kecil saya ini". Kalau merenung ke belakang, yang keluar hanyalah pujian syukur. Saya sering lupa, Allah begitu baik.

Hari ini pun begitu. 26 ini kami rayakan dengan sukacita sederhana, doa ber-4 nanti di Hermina. Mengucap syukur untuk segala yg Dia beri...

Happy anniversary Dear. I love u forever.

October 2, 2005

Maximized Manhood Camp

Hem, camp kali ini pun 80% nggak bisa ikut. What's up with me, God?

September 6, 2005

Jenuh jalan bareng Dia

"Jenuh blogging tentang Dia?"
"Bukan..."
"Lalu?"
"Jenuh jalan bareng Dia"

Hii... ngeri. Tapi kenyataannya? Aku sedang dalam posisi menjaga jarak denganNya. Huu... parah. Kangen, membutuhkan, tapi enggan menghampiri. Itu aku saat ini.

Mungkin aku jenuh dalam melayani Dia karena motivasiku melenceng jauh, mungkin karena sebab lain lagi. Yang pasti aku lebih banyak di rumah sekarang. Banyak merenung dan menemani Yanty & Willi di rumah. Paling tidak aku nggak kehilangan pegangan. Yang aku tahu pasti Dia sekarang sedang memperhatikanku. Banyak 'batu sandungan' 2 bulan terakhir ini, tapi kehadiranNya tambah nyata di depanku.

August 1, 2005

9 Tahun Bersama

Tepat 9 tahun yang lalu saya membuat janji untuk menemani Yanty selama sebulan, saat libur kuliah, agar dia tetap di Salatiga. Hem... itulah awal dari kedekatan kami. Saling membutuhkan, saya pikir. Yanty harus tetap di Salatiga untuk meneruskan bimbingan skripsinya, sedangkan saya perlu teman untuk melewatkan liburan panjang ini, he... he...

Awal komitmen seperti itu ternyata berat juga. Hari Rabu malam adalah hari saya nongkrong di depan SCTV nonton The X-Files, dan bulan Agustus itu saya terpaksa melewatkan sekitar 4 eposide. Bayangkan, tiap hari dari pagi sampai malam mesti menemani Yanty kemana saja. Pagi cari sarapan, lalu ke perpustakaan sampe siang, habis itu makan (akhirnya saya jadi hapal segala makanan di luar rumah), sore bimbingan skripsi, trus cari makan, dan antar Yanty pulang ke kost. Memang tidak setiap hari seperti itu. Sering kali malah bertengkar, diem-dieman & nggak ketemu beberapa hari (jadi bisa nge-game, kekekeke...), tapi trus kangen, telpon, beresin. Hie... hie... hie...

Selama sebulan itu kami "exclusively hang out", begitu kata anak-anak GBIPDS3 bilang. Nggak sehat dan sangat tidak disarankan, tapi banyak hal yang kami dapat dari situ. Kami jadi saling tahu karakter masing-masing, jadi saling tahu kejelekan masing-masing.

Sampai 31 Agustus berakhirlah janji saya, tetapi tidak dengan kedekatan kami. 26 Oktober 2002 kami mengucapkan janji nikah, lalu 23 Juli 2003 kami dapat titipan dari Allah bayi yang lucu yang bertumbuh menjadi anak yang luar biasa, lalu akhir tahun ini pula kami menunggu adiknya Willi lahir. Tak terasa 9 tahun sudah berlalu. Sungguh suatu perjalanan hidup yang luar biasa bersama Allah, Tuhan kami.

Happy anniversary my lovely wife!

July 19, 2005

Penyerahan Anak

Di hadapan Tuhan dan jemaat, saya sebagai orang tua mengambil komitmen; membawa anak saya Daniel William Widjajanto mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus; mengambil tanggung jawab untuk mengasihi, melindungi, dan mendidik anak saya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan; menjaga anak saya dari pengaruh jahat termasuk media, pergaulan, dan lain-lain yang dapat merusak hidupnya sehingga ia dapat membedakan hal yang baik dan jahat.

Komitmen di atas kami ucapkan saat momen penyerahan anak di Abbalove Greenville. Setelah itu para konselor mendoakan Willi dan kami sekeluarga. Terharu, Yanty sampai meneteskan air mata. Setelah itu foto bersama, dan sempat-sempatnya Willi menunjuk ke A Siong saat shutter ditekan. Tau' deh jadinya kayak apa. Thanks juga buat Pampi yang udah rela ditodong pegang handycam buat shooting juga.

Continue reading "Penyerahan Anak" »

June 28, 2005

A Prophetic Message

Sabtu kemarin, setelah doa penutup acara Wisuda Pembinaan Pria Sejati periode 2005, Arman menghampiri saya dan berkata, "Kok rasanya hati kita nggak di sini ya, ada yang kurang, tapi gue ngak tahu apa". Saya duduk terpekur, mencerna perkataannya dan tiba-tiba saja saya berkata, "Kita sudah dalam comfort zone Man. Soal wisuda ginian aja, kita siapin dalam seminggu juga bisa. Semua udah tahu kerjaan masing-masing, udah bisa jalan sendiri-sendiri". Bukan sombong, cuma pekerjaan kami di pelayanan Pria Sejati ini sudah terpatri di benak masing-masing. Jadi seperti robot saja, bekerja setelah diperintahkan, dan melakukan sesuai kebiasaan. Tidak lagi dengan sepenuh hati melayani jiwa-jiwa dan Dia.

Saya pribadi sudah tujuh periode dalam pelayanan ini. Jujur, semakin hari saya mengingat bahwa ini adalah pekerjaan Allah hanya dikala kuota peserta kurang, saat pembagian kelompok, dan saat-saat altar call. Selebihnya saya bekerja demi kepuasan pribadi. Bisa dekat dengan pemimpin, bisa punya data demografi dengan berbagai variabel sebaran, bisa coba-coba gadget baru (kemarin di wisuda sempat main-main dengan video mixer 4 channel). Salah... tujuan pelayanan saya sudah melenceng jauh.

Continue reading "A Prophetic Message" »

May 13, 2005

When I say... "I am a Christian"

By Maya Angelou

When I say... "I am a Christian"
I'm not shouting "I'm clean living."
I'm whispering "I was lost,"
Now I'm found and forgiven.

When I say..."I am a Christian"
I don't speak of this with pride.
I'm confessing that I stumble
and need CHRIST to be my guide.

When I say... "I am a Christian"
I'm not trying to be strong.
I'm professing that I'm weak
and need HIS strength to carry on.

When I say... "I am a Christian"
I'm not bragging of success.
I'm admitting I have failed
and need God to clean my mess.

When I say... "I am a Christian"
I'm not claiming to be perfect,
my flaws are far too visible
but, God believes I am worth it.

When I say... "I am a Christian"
I still feel the sting of pain,
I have my share of heartaches
So I call upon His name.

When I say... "I am a Christian"
I'm not holier than thou,
I'm just a simple sinner
who received God's good grace, somehow.

Continue reading "When I say... "I am a Christian"" »

February 7, 2005

Men's Camp, day 2

Pagi itu, Papi Indrawan bangun duluan, mandi, trus bersiap untuk mengkoordinir doa pembina, jam 6.30. Aku bilang, "Pak, saya siangan ya bangunnya". Papi cuma bilang, "Ya..." sambil ke luar, karena sepertinya sudah terlambat. Matahari memang selalu engan muncul di Puncak yang selalu berkabut di musim hujan ini. Aku tidur lagi. Rasanya pulas banget tidurnya, sampe jam 06.57 N6100 ku nge-beep. SMS dari Arman, "Sanka, are you dead?". Gee... reply, "I'm cool. Be there in 20 mins".

Bangun, nyalain air panas (yap, PLB punya air panas 24 jam), mandi, rapiin badan, panasin mobil sambil doa pagi plus menikmati keheningan PLB (lainnya dah masuk aula, yang lumayan jauh dari kamar panitia, salah bagi kamar aku). Jam 7.30an dah nongkrong di depan notebook lagi. Sun An lagi berkutat dengan handycam. Dan Johny sedang berkutat dengan EasyWorship. Oh, gantian nih ceritanya. Gee... Kapan ya ada yang bisa gantiin aku untuk arrange bagi kelompok, bagi kamar...

Oh, Arman nggak ada di aula. Yg in charge Agus, dan setelah lihat aku di belakang, dia seakan memindahkannya ke aku. Buset dah. Sibuk lagi. Padahal otakku dah mulai mikir teknikal beres-beres dan kepulangan. Motoku, "peserta pulang, tim juga pulang, barengan". Ya udah, ditunda dulu.

Acara rada molor. Gee... emang ada yang pengin membatasi lawatan Allah? Let it be... Akhirnya acara foto bersama dilewatkan. Mungkin nanti saja pas kelas terakhir, per supervisor bisa kali ya di Maizt lantai 3. Sesi terakhir di luar hujan deras. Ko Rubin sempet lihat mataku yang kecapekan, "Nopo Dhi, kok lemes". "Pilek Ko, ket teko mrene. Awas ketularan lho...". Sempat pinjem payung mo ke mobil ambil baju ganti. Buset deh, tiap kelar kotbah, Ko Rubin pasti ganti baju, berkeringat. Gee... padahal di Puncak lagi dingin-dinginnya, hujan lagi.

Sesi terakhir ditutup dengan wipe out altar call (semua maju ke depan) sekitar jam 4. Aku dan tim sudah packing, berberes apa yang bisa diberesin duluan. Plung-plung... semuanya masuk container box plastik. Hee... jadi inget Taswin yang beliin box pertama kalinya. Dia sekarang 100% di KEGA. Upload ke espass, dan viola! Jam 4.30 sore Aku, Erwin, dan Junanta dah meluncur ke bawah. Di depan bis pertama. Hebat! Ini rekor, baru pertama kalinya aku pulang di depan bis.

Turun pelan-pelan karena hujan dan jalan super mini. Sampe jalan raya Puncak, agak merembet. Jalan bisa dibilang super sepi kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena minggu depan ada libur panjang, jadi banyak yang masih berlibur di Puncak. Arus turun lumayan sedikit. Cuman macet di daerah pasar... apa tuh. Nggak tahu namanya. Menyentuh tol Ciawi, langsung 120. Berhenti sejenak ambil kartu tol, lalu 120 lagi. Kadang 135 kalo rada sepi. Nggak hujan. Keluar tol Slipi, anterin Junanta di Kavling Polri (baru tahu itu daerah di sekitar Jelambar), lalu masuk tol Kapuk. Sampe di rumah jam 7.

Disambut Yanty, cup di bibir (jangan ada yang iri yaa... :D), dan A Eng nyeletuk, "Kok lebih cepet dari yang dulu..." He... he... he... Sukses Man, kita potong waktu nih! Lalu say bye to Erwin, dan masuk rumah. Bercanda sama Willi, mandi, bercanda lagi, makan sup panas, trus bobo.

Whoaa...!!! What a wonderful weekend!!!

February 6, 2005

Men's Camp, day 1 (cont.)

Malam, pilekku tambah mengganggu. Sesi ketiga Kak Budi Jo aku dah nggak bisa konsentrasi. Untung masalah admnistrasi seperti ganti nama, ganti kelompok, pindah kamar, de es be, udah kelar sebelum sesi dua.

Malam itu, pas altar call, biasanya aku ambil alih kamera untuk shoot di panggung. Tapi saat itu aku biarkan Johny yang berkreasi. Aku duduk terkapar di belakang. Sambil sentlap-sentlop, bersin nggak ada habisnya. Dan aku percaya Allah tahu batas kekuatan badanku, Allah tahu kapasitasku di camp ini. Tiba-tiba Kak Budi Jo bilang, "...yang sakit, maju ke depan! Kita akan mendoakan saudara..." gee... selagi Kak Budi berdoa, dan para pembina menumpangkan tangannya ke peserta di depan panggung, rasanya badanku lebih enak. Bersin tiba-tiba berhenti, dan hidungku bisa menghirup udara dingin Puncak lagi... Nggak mungkin pengaruh Panadol Cold & Flu yang baru aku minum dua menit yang lalu. It's super extraordinary!!! Padahal aku masih duduk di kursi yang sama, di belakang, bareng Sun An...

Jam 1 pagi semua tim kembali ke kamar. Arman, Andre, dan Sun An masih lembur, kerjaan kantor. He... he...

February 5, 2005

Men's Camp, day 1

Pagi terbangun jam 5, alarm hape bunyi. Ouaahhh... mata masih berat. Tapi terbayang peserta camp bakal berangkat jam 8 dari Jakarta. Ui... mesti prepare cepet-cepet. Lihat hape, sms dari Agus yang lagi ngorok di kamar sebelah, minta ijin bagun siang. Nggak apa-apa lah. Dia nanti kan on stage, nggak mungkin menguap di depan.

Mandi, doa bentar sambil menatap karya Allah di Puncak, trus gedorin pintu satu satu, lupa kalo Agus minta bangun siang. Gee... Sorry Gus. Silakan bobo lagi.

Akhirnya baru jam 6.30 kita semua ready, kerja 150% di aula. Bongkar semua perlengkapan dari Espass (bangku belakang aku copot, saking penuhnya). Angkat ke Aula. Set up meja panitia sepanjang 6 meter!). Bersihin aula, tempel daftar tempat tidur di 56 kamar, pasang 12 spanduk, bikin 170 name tag, atur 180 bangku, pasang 2 lampu spot 500 watt, pasang proyektor dan 30 meter kabel VGA (so Sun An bisa operate dari belakang mentok, kalo mau sambil tidur juga bisa), set up 2 notebook linked dan satu printer, set up handycam dan tripodnya nangkring di atas meja, tempel absensi di teras aula, tempel daftar kamar dan daftar kelompok di teras aula, dan terakhir isi perut alias sarapan.

Arman datang jam 9, tanya, "ada yang perlu dikhawatirkan nggak?" Aku bilang, "nope, kecuali ini" sambil jempolku menunjuk ke 1/4 bagian aula yang masih tertutup. Jam 10 bis pertama sampai, aula mulai ramai. Kita sampe harus memberi penjelasan ke Acer kalau kita akan berusaha meredam sebisa mungkin kegaduhan di aula...

Akhirnya jam 11 sekat pembatas itu dah dibuka... Kita lalu memanjangkan meja panitia jadi 12 meter! Set up meja pembayaran, meja penjualan buku, meja kunci kamar, dan terakhir meja complaint center (yap, sudah ada sejak camp tahun lalu).

Jam 12 makan siang dihidangkan, aku ikut ngantri, makan, kenyang, dan lalu duduk terhenyak di depan notebook, sebelahan sama Sun An. Siap-siap dengerin Kak Eddy menyampaikan pesan Tuhan buat seluruh pria...

Men's Camp, day -1

Janjian kumpul di Maizt jam 8, akhirnya molor sampe jam 9 malam. Willi sakit, jadi pulang kantor mesti anterin yanty beli obat dulu. Gee... untung Erwin nitipin motornya di rumah, jadi kalo ada perlu mendesak ke luar bisa pinjem motor dia. Pas berangkat, kena macet lagi. Akhirnya datang paling telat di Maizt, lainnya dah pada nongkrong di sana. Istirahat sebentar, lalu berangkat.

Pas itu aku dah rada pilek, iseng minta tolong Joshua buat nyetirin Espass. Eh, lha kok mau! He... he... Hebatnya lagi, Joshua saat itu bawa supir karena males nyetir ke puncak. Hebat ya... Thanks Josh...!!!

Di jalan ngobrol bareng Sun An, dari A sampe Z soal IT. Erwin ma Joshua cuman nyindir, nggak mudeng kita ngomong apa. Naik ke puncak, batereku dah bener-bener abis. Apalagi hidung ma tenggorokan dah seret flu. Ketiduran...

Bangun pas udah sampe belokan Pusdiklat Lautan Berlian. Selagi mikir point-point briefing malam, ngeliat lampu-lampu Cipanas dari ketinggian. Gee... keren... sayang udah jam 12 malam, nggak sempet berhenti buat foto-foto. Penginnya tidur.

Sampe PLB, beberapa problem kecil bermunculan. 1/4 aula masih dipake untuk Acer Sales Camp, dan mereka kelar jam 12 siang. Wah, overlap 1 jam nih dengan kita. Akhirnya aku putusin pake seluas yang kita bisa. Hee... sampe pasang kursi persis di dinding pemisah tempat mereka mengadakan acara. Setelah nge-brief staf PLB yang 100% kooperatif, lalu diterusin briefing malam. Bagi tugas (yang baru disusun di jalan barusan) untuk besok pagi jam 5... er... benernya nanti pagi. Soalnya briefing malam itu jam 00.30. Bagi tugas kelar, kita masuk kamar. Bobo... Aku sempetin SMS Arman soal kondisi aula dan kamar yang masih kepake... no response off course. Pasti dah bobo... Uh, kangen Yanty...

February 2, 2005

Calling Earth...

Beberapa hari ini saya dikejar deadline untuk registrasi Men's Camp. Atur peserta sesuai kuota, bagi kelompok, bagi kamar, bikin name tag, atur pembina, cetak materi, cetak hand out, cetak perlengkapan camp, dan seabreg printil-printil kecil lainnya. Tapi semuanya itu harus melewati satu tahap: pendaftaran peserta, dan sampai sekarang belum beres-beres juga. Masih ada yang batal tambah. Hem, seperti daftar mata kuliah saja.

Setelah itu harus telponin setiap calon peserta yang tidak memberikan konfirmasi keikutsertaan. Kemarin Senin semua supervisor (total 5 orang) berjibaku kontak ke 41 calon peserta yang tidak datang di Kelas Awal. Nggak tahu deh habis pulsa berapa. Salah satu bentuk what we pay untuk pelayanan ini selain super capek.

Tapi worthed kok dengan what we get. Seperti kemarin, ada ibu-ibu yang daftarin suaminya ikut camp. Di akhir pembicaraan teknis keberangkatan, si istri tanya ke saya, "Pak, camp ini bisa bikin suami saya berubah nggak, dia nggak bisa memaafkan saya...". Sedetik saya 'speechless'. Tapi Allah mengingatkan saya apa yang Dia ucapkan hari Minggu kemarin di ibadah, "Bu, memang materi seluruh sesi di Men's Camp berkaitan dengan pemulihan. Tapi biarlah Allah yang bekerja. Kita serahkan semuanya ke Allah..." dan saya jadi sedikit lupa kata-kata apa saja yang sudah saya ucapkan selanjutnya untuk sedikit menenangkan seorang istri yang penuh harap di acara ini.

Saya single fighter mengurusi seluruh pendaftaran via SMS, email, fax, dan telepon. Dan memang tidak sedikit pendaftar adalah perempuan! Jadi inget Pak Cole pernah bilang, "mereka merindukan kita (para pria) berubah".

January 24, 2005

Ngerasain nggak punya duit tunai

Pengalaman baru...

Libur panjang kemarin kita terpaksa ngirit banget. Uang cash di rumah terbatas sekali, dan udah lama banget saldo di ATM nggak pernah nambah. Gaji selalu aja mengalir buat bayar ini itu, keperluan bulanan. Biasanya sih kita sediain dikit buat jajan gorengan (KFC, A&W...) atau kalau ada keperluan mendesak. Tapi nggak tahu bulan ini Eng iseng masukin semua uang sisa ke tabungan Willi yang memang dirancang untuk susah diambil. Hasilnya, gee...

Hari Sabtu Willi imunisasi DPT, dan dipastikan suhu badan bakal naik. Oom Bachtiar dah wanti-wanti untuk sedia obat turun panas di rumah, dan memang kita masih punya persediaan Proris. Yang nggak kita tahu, ternyata Willi panasnya sehari setelah imunisasi alias Minggu! Dan yang nggak kita tahu lagi Proris di botol ternyata tinggal satu teguk lagi. Hgyaa...

Masih untung kemarin ada uang hasil jualan Oriflame yang belum dimasukin ke tabungan. Cuma 52 ribu, tapi cukuplah buat kemarin beli Proris (13,5 kemahalan nggak ya?) sama hari ini bayar tol Kapuk. Heh, kemarin Eng sempet nyeletuk, "He... jadi ngerasain susahnya orang yang nggak puna duit mau berobat ya Dhi, masih untung kita beli obatnya pake mobil. Orang lain mungkin mesti jalan kaki..."

God is make a way...
Where there seems to be no way...

November 3, 2004

Papi, bapak rohaniku...

Senin malam lalu kita bersebelas meeting untuk konser tangal 6 ini. Pak Indrawan, aku dan beberapa rekan manggil "Papi", juga ikutan. Papi memang satu-satunya tim yang paling senior dan yang paling setia. Dulu pas pertama kali pelayanan ini dirintis Papi juga selalu setia dampingi kami yang rata-rata masih 'culun'.

Well, rapatnya sampe jam 10.30 malem. Capek lah buat aku yang udah nggak terbiasa lembur kayak Sun An. Keluar pelan pelan, barengan sama Papi. Aku masuk mobil duluan dan, eh..., kok kayaknya mobil Papi baru nih... Gee... Innova! Iseng aku SMS, "Wah, sejak kapan ganti innova?". Balasannya nongol pas aku dah di exit tol Kapuk, "Tiada yg mustahil dlm Tuhan! Nantikan berkat berikutnya dari Tuhan untuk Adhi". Wah... bener-bener deh. Rasanya gimana gitu. Beberapa bulan terakhir ini aku rada nggak ada yang ngayomi, jalan kesana kemari sendirian. Jadi kepala keluarga emang berat yah... He... sampe situ aku jadi trenyuh... Papi itu bener-bener jadi Papi rohaniku...

October 18, 2004

Kesetiaan... Ketaatan...

Buset dah. Bulan Oktober ini sepertinya batu sandungan di jalan hidupku rada banyak. Yah, meskipun gitu turunnya berkat juga nggak tanggung-tanggung. He... jadi bukannya blog kali ini menggerutu aja lho, cuman mau share soalan batu sandungan ini.

Total udah tiga kali nggak ke gereja bulan ini. Berturut turut lagi. pertama, karena Yanty ada acara kantor (gerak jalan), kedua karena ngecat kamar Willi, ketiga karena pengin jalan-jalan. Uh... Trus juga tiga kelas terakhir Men's Meeting aku juga nggak datang. Gosh... rasa di hati ini nggak enak banget. Mungkin karena itu juga aku merasa batu sandungannya tambah banyak. He... he... he.... Hape hilang, disewotin Mom soalan ngasih makan Willi, trus kemarin kartu kredit mentok limitnya. Padahal dah di depan kasir (untung ada Visa Goldnya ...). Trus kemarin jadi serak gara-gara makan tahunya Carrefour (nggak menghormati orang puasa kali ya), sekarang jadi meriang, pilek. Ah... Soalan nggak ke gereja itu, benernya "Guardian Angel"ku dah warn lho. Satu lewat Devi yang ngingetin soal Blogku Tukang Tambal Ban. Trus satu lagi kemarin Arman call aku. Ah...

Tadi aku bilang ke 'my secret eye', "I'm drifted...". Mungkin sih... Jadi sedih mikirinnya. Tahu nggak, saking nggak konsennya aku kemarin, kepala Willi kebentur tembok kenceng banget. Trus malem juga terguling dari kasur sekali, ama kejeduk kepalaku pas tidur. Emang sih aku nggak bisa berbuat apa-apa (lha wong aku lagi tidur) tapi kok aku menyalahkan diriku ya soal itu. Huuu... Sama sekai nggak enak. Nggak tentram aku bulan ini. Padahal tanggal 26 nanti our second aniv... Hgyaa....

God forgive me...

August 6, 2004

Men's Camp tinggal seminggu lagi

Hm... udah deket ya. Belum persiapan sama sekali nih. Padahal hampir semua teknikal ada di aku. Cuma acara aja yang nggak. Phui... dari SD sampe kerja nggak pernah berubah: SKS, sistim kejar semalam. He... he... bad habit, eh?

Hm, baru bisa kerja malam ini. Ngeprint berbagai dokumen. Eh, mungkin bagi kelompok dulu aja kali ya... Baru ngeprint lainnya. Sabtu besok belanja ATK. Uh, perlu duit banyak lagi. Whoey... mesti ganti ban Zebra juga! Lupa. Persiapan ke Puncak kan nggak cuma materi doang. Tuh mobil mesti disiapin juga. He...

Uh, doain deh pren, biar semuanya lancar. Kadang kalo lagi gini aku jadi lupa sama Yang Kasih Kekuatan. Sok bisa sendiri. He... padahal nggak ada apa-apanya kalo nggak bareng Tuhan.

Oh ya, sampe sekarang dari 167 orang yang daftar (via SMS or Internet) baru 120 yang udah bayar. Hui... Padahal target 150. Oh ya. Prosedur daftar via SMS itu bener-bener 100% berfungsi. Efisien, efektif lagi. Lebih lagi kalo hape lagi konek ke PC. Ui... langsung masuk ke file, tinggal copy-paste ke database aja. Gak perlu ngetik! He... he...

April 13, 2004

Pertemuan Pembina CMN

Gee...

Meeting kemarin bikin seger hati, setelah berminggu-minggu nggak konsen di camp. Walau aku belum ready technically (data, perlengkapan, etc) tapi udah fokus lagi ke camp. Tinggal 2 minggu lagi bo'!

Kemarin sampe deg degan. Pembina yang terdaftar cuma 31 sedangkan peserta udah membludak sampe 156. Padahal harus 1:4. Phew, bakal puyeng lagi aku bagi kelompoknya. Puyeng lagi bagi kamarnya. Duh, sampe kapan ya aku yang ngerjain ini bagian. Anyway, aku perlu notebook nih. Hang on to office property nggak oke lagi. Heh...

August 18, 2002

Momentum Camp 2002 - Start

Saatnya menabur dan menuai bersama, itu tema Momentum Camp tahun ini. Didasarkan dari Mazmur 126, kami semua bersatu hati untuk bersiap untuk jiwa-jiwa.

Aku memulainya sendiri dari satu hari sebelum keberangkatan. Pulang dari Sekretariat gereja pukul 12 malam (kalau tidak salah, sudah lupa). Aku pikir pagi hari bangun pagi dan bisa menata barang-barang bawaanku. Tidak perlu malam itu, badanku sudah capai sekali. Saat itu mandi dan langsung tidur.

Paginya aku bangun, dan aget setengah mati, jam 6.30! Padahal pendaftaran ulang akan dimulai jam 7. Terburu-buru aku menyambar pakaian dari jemuran dan perlengkapan yang aku ingat, jejalkan di tas, dan langsung berangkat. Belum mandi, belum saat teduh... Sampai di gereja sudah ada beberapa peserta yang datang.

Aku langsung mencari meja-meja untuk tempat pendaftaran ulang. Aku angkat sendiri dari lantai 4 dan 3 ke bawah. Lift mati lagi. Panitia lainnya belum terlihat. Akhirnya setelah kalang kabut beberapa menit aku bisa bersantai setelah teman-teman lainnya datang. Aku hanya men-supervisi mereka. Total panitia yang berjaga untuk pendaftaran ulang 'hanya' empat orang, untuk peserta sekitar 400 orang. Ramai, tapi teratur. Panitia lainnya sudah berangkat sebagai 'advance team' sehari sebelumnya. Semestinya sih kami berlima, tetapi malam sebelum keberangkatan ibunya sakit keras, sehingga dia harus pulang, naik pesawat ke luar pulau Jawa.

Sekitar jam 10 (atau jam 11 ya?) bis berangkat. Heh... aku berpikir ini baru 'kloter' pagi. Nanti sore jam 6 akan ada pemberangkatan sore lagi, dan akan lebih banyak dari sesi pagi ini. Jam 12 aku sempatkan untuk mandi di sekretariat gereja.

Menunggu sampai pendaftaran ulang sore di sekretariat sungguh membuat hati dan pikiran gundah. Bukan karena pekerjaan kita, tapi telepon berdering terus, bermacam permintaan datang dari tim advance. Dari yang minta dibawakan kabel proyektor sampai mnta dibelikan sambal dan mentega untuk bakar jagung. Tidak ketinggalan pula masalah akomodasi di lokasi sepertinya bermasalah. Sepertinya mereka di sana sudah dalam tingkat emosi yang tinggi. Kami di sini hanya bisa membayangkan saja. Aku sempat ditelpon pemimpin yang sudah berangkat di sana, complain soal kesiapanku di lokasi. Tapi semuanya sudah diatur demikian. Saat itu aku tidak bisa menolong banyak. Hanya hatiku agak sedikit khawatir. Aku tahu Tuhan sedang bekerja dengan aku...

Pendaftaran ulang sore relatif lebih teratur, walaupun jumlah pendaftar lebih banyak. Kami berangkat tepat waktu, pukul 19.20....

Momentum Camp 2002 - Preparation

Aku sudah sejak lama di 'book' oleh Jaspan (koordinator panitia Momentum Camp, M Camp) untuk ikut dalam kepanitiaan. Ada saat aku ragu karena waktunya sungguh berdekatan dengan tanggal pernikahanku. Ada kemungkinan akan saling mengganggu dan aku menjadi tidak optimal di kedua acara. Tapi Tuhan membimbing aku dan membiarkanku berjalan bersama Dia untuk masuk dalam kepanitiaan itu, dengan sepenuh hati.

Oh ya, M Camp ini berbentuk seperti retret khusus para pekerja gereja dalam mempersiapkan diri menghadapi saat-saat penting yang Allah sediakan bagi kegerakan kekristenan, khususnya di gereja lokal. M Camp tahun lalu memiliki tema untuk mempersiapkan 'tentara Allah' dalam membangun kerajaanNya. Topik tiap sesi dirasakan berat, dan panitia tahun lalu mendapat beban yang berat pula. Keadaan itu membayangi panitia tahun ini.

Pertemuan demi pertemuan yang dimulai bulan April (kalau tidak salah) diwarnai dengan pergantian struktur kepanitiaan. Komitmen untuk menjadi panitia merupakan issue yang tak terbantahkan. Terlebih lagi dengan beban tema yang belum ada, dan kuota 500 peserta menghantui kami.

Bulan Juli 2002, setiap minggu paling tidak ada dua kali pertemuan. Persiapan pun makin intensif. Yang hebat, persiapan pernikahanku pun banyak yang terjadual pada bulan itu, fitting jas, fitting pakaian pengantin Yanty, foto studio, booking tempat pernikahan, dan persiapan-persiapan kecil lainnya. Semua itu hanya bisa dilakukan pada hari Sabtu atau Minggu. Sedangkan pertemuan M Camp pun sering dilakukan pada hari yang sama. Tapi Tuhan memberiku kekuatan dan hikmat. Aku bisa membagi waktuku untuk melakukan keduanya. Hampir tiap hari pulang malam, di atas jam 22.00. Tuhan memberiku kesehatan. Aku kalau terlalu cape, biasanya langsung kena flu. Kali ini tidak. Sungguh Allah itu luar biasa.

Berkat yang aku dapat saat itu sungguh banyak: aku sungguh dapat mengatur waktu Sabtu - Minggu ku dengan baik, kesehatanku tidak terganggu walaupun kurang tidur dan itu waktu pergantian musim, persiapan pernikahanku terlaksana sesuai jadual, persiapan M Camp terlaksana sesuai jadual pula.

Oh ya, aku menjadi koordinator di bidang registrasi peserta. Bayangkan saja tugasku saat itu sungguh menumpuk. Dari membuat form pendaftaran, membuat program data, memasukkannya ke komputer, sinkronisasi dengan data di setiap counter pendaftaran, menghitung uang pendaftaran yang masuk, membuat name tag peserta dan panitia, membagi kamar peserta, dan hal-hal kecil lainnya yang sekarangpun aku sudah lupa saking banyaknya...

Catatan akhir:

  • Halangan dan rintangan apaun akan kita lalui dengan indah saat kita melangkah bersama Tuhan.

April 15, 2002

Tunangan

(diambil dari email balasan untuk Ko David)

He... he... he.... Ternyata enak juga ngelamar :)

Emang udah direncanain lama buat lamaran tanggal 13 April lalu. Soalnya kan pas libur, jadi ortu di Salatiga bisa lebih gampang ngatur jadualnya. Setelah beberapa kali email, SMS, en telpon akhirnya jadi deh. Komsel BPN aja sampe dimajuin ke hari Rabu (yang biasanya Jumat) karena mereka pengin ngedoain kita dulu...

Yang berangkat dari Salatiga cuman Bapak sama sepupuku. Tadinya mau adik, calon ipar, tante sama oom juga mau ikut. Tapi tanggak 11 April Bapak bilang kalo mereka pas ada acara sendiri, sedangkan adik gak bisa ninggalin puskesmasnya. Gak ada gantinya, katanya. Ya udah, jadi yang berangkat cuman berdua. Yah, ngirit ongkos hotel dah... :)

Rencana Aku sama Yanty mo berangkat ke Cirebon tanggal 12 April pagi naik kereta. Tapi setelah dipikir, lha kok barang bawaannya banyak en berat banget! Wah, gimana nih, kalo dipaksain bawa bisa gempor sampe sana. Ada pemikiran bawa mobil aja dari Jakarta. Hm, di situ Aku dilema. Doa, minta tolong ama Tuhan, sampe hari Kamis malem tuh aku belum tenteram, suara dari Atas sepi... apa Aku yang budeg ya? :). Akhirnya aku mikir, dengan hikmat Tuhan, benernya yang penting di rencana ini tuh apa. Ya pas lamarannya kan. Hal itu yang Aku merasa penting karena Aku pengin Allah yang memimpin di acara itu. Na setelah dipikir-pikir dan ditimbang, akhirnya kita bawa mobil. Berangkat Jumat pagi, bareng Yanty, adiknya yang paling kecil, sama temennya. Total berempat. Dari Jakarta jam 7.30, sampe Cirebon jam 2 siang, macet!!!

Jumat siang itu istirahat bentar, makan, terus pergi booking hotel buat Bapak sama sepupu. Pesen parcel buah (kalo bawa dari Jkt takut udah abis duluan di jalan...). Sementara keluarga Cirebon lagi bikin rencana acaranya. Papa Yanty pas itu masih di Selat Panjang, gak bisa dateng. Sayang juga. Benernya sih enakan ada Papa karena ngomongnya kan jadi lebih enak. Ntar pas lamaran, Mama yanty ngajak sohibnya buat nemenin en ngobrolnya. He... tahu kan, komunikasinya masih satu arah.

Hari Sabtunya Bapak dateng telat. Naik bis dari Salatiga jam 5 pagi, sampe Semarang ternyata bis Coyo susah dapetnya. Penuh terus! Akhirnya baru bisa berangkat jam 9. Sampe di Cirebon jam 4 sore. Padahal tadinya acara mo jam 3. Diundur deh. Eh, hujan deres lagi. Terus terang, Aku bersyukur bawa mobil. Bawa 3 parcel besar cuman bertiga, hujan susah juga kalo mesti nunggu taksi dulu. Setelah jemput Bapak, anter ke hotel, istirahat dulu. Berangkat jam 5...

Di rumah Yanty ya gitu lah. Setelah ngasihin angpau sama parcelnya, terus ya ngobrol. Bapak ngobrol sama temen Mamanya Yanty, terus sama Franky (yg pernah kuliah di Akutansi UKSW), rame deh. Pokoknya suasana kakunya cuman sebentar pas di depan. Setelah Bapak ngomong (ngelamar), he... he... susah ceritanya. Ya intinya sih dari keluarga Yanty menerima. Terus bersepakat kalau untuk rencana selanjutnya ntar yang ngurus ya Aku sama Yanty, gitu. Jam 6 kita keluar makan sea food, enak tenan!!! :)

Terus terang persiapanku cuman doa. Tadinya nggak punya duit buat lamarannya. Eh, tahu tahu bonus tahunan yang udah diperkirakan sama temen-temen kerja nggak dapet, dibagi juga akhirnya, disaat yang sangat tepat banget. Na ini entar buat wedding gitu juga. Aku sama Yanty bener-bener ngandalin Tuhan. Soalnya daripada dipikir sendiri bisa stress, bertengkar melulu, en mempengaruhi yang lain. Kita sekarang mempersiapkan pernikahan ini dengan hati damai karena kita mempersiapkan acaranya Tuhan. Kita berdua pengin acara pemberkatan pernikahan ini jadi berkat buat banyak orang. Doa, doa, doa terus. Kita sekarang pasti rutin tiap Minggu mo ke gereja berdoa dulu buat rencana Allah ini. Tuhan udah buat jalan bagi kita berdua, tinggal 'melek ati' liat jalan Tuhan. God is good all the time...

December 31, 2001

Penyerahan diri sepenuhnya

Allah sering menegur aku dalam hal ini. Ceritanya begini:

Bulan Desember tahun 2000 aku secara tidak sengaja menjadi panitia Natal Bersama Ibadah Area Barat. Saat itu sebenarnya aku hanya menggantikan teman usherku dalam rapat panitia, dan berpikir bahwa dalam rapat itu hanya menjadi pendengar untuk diinformasikan kembali ke temanku. Ternyata tidak, aku tertunjuk menjadi salah satu koordinator usher. Uah, saat itu hatiku tidak tentram. Bukan masalah pelayanannya, tapi karena kepanitiaan ini dipersiapkan dengan sangat mendadak dan kurang persiapan.

Terlebih lagi saat itu aku harus membagi perhatian untuk keluarga di Salatiga juga. Bila anda membaca kesaksian-kesaksianku sebelumnya, anda pasti mengerti. Natal dan Lebaran yang datang pada bulan bersamaan selalu mengganggu daftar prioritasku. Banyak perkara-perkara kecil yang mengganjal. Tanpa berhikmat, aku menggunakan pikiranku untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul. Ternyata Tuhan mempunyai rencana lain: aku diijinkan sakit, flu berat.

Selama tiga hari aku merasa badan ini tidak mau diajak berkompromi. Padahal Natalan tinggal beberapa hari lagi. Sampai suatu saat aku bertanya-tanya: apa sih maunya Tuhan? He... dalam doaku itu Tuhan dengan jelas menyadarkan aku. Aku sudah tidak mengandalkan Dia lagi dalam pekerjaanku (yang ironisnya) untuk kemuliaanNya. Payah!

Aku mengaku dosaku, berdoa, dan mengubah caraku. Dan hei!, aku jadi bekerja tanpa beban. Dan saat bertugas tanggal 23, walaupun dengan sangat berkeringat, aku bekerja dengan sukacita. Aku melakukan apa yang menjadi tugasku, dan Tuhan menyelesaikan bagianNya: sekitar masing-masing 600 - 700 orang memenuhi ibadah Natal yang kami selenggarakan dua kali.

Catatan akhir:

  • (lagi-lagi) Berserah penuh, latihlah dari perkara-perkara kecil.
  • Terima kasih untuk rekan-rekan usher dari ibadah Pelajar, Keluarga, Mahasiswa, Dewasa Muda; yang telah melayani 600an orang dalam ruang terbatas selama 2 jam lebih.
  • Terima kasih buat panitia, Jaspan, Maryono. You all did a good works!
  • Terima kasih buat Tuhan, aku naik kelas lagi...

September 6, 2001

God works in mysterious ways

Sejak aku beli rumah di Taman Surya, air PAM hanya mengalir sekitar 1 bulan pertama. Setelah itu mati. Air diantar dengan truk oleh PAM. Jadi tiap Sabtu atau Minggu pasti ada hari yang dikorbankan untuk 'menunggu air'.

Seperti juga hari Minggu lalu, sudah sejak hari Jumat aku minta dikirimkan truk air, agar datang hari Sabtu. Maksudnya agar hari Minggu aku bisa santai sedikit dan acara ke gereja tidak terganggu. Tapi sepertinya PAM tidak mau mengerti. Aku sampai bosan setengah mati, dan ada dilema di hatiku: berangkat gereja nggak ya? Aku ikut kebaktian jam 6 sore. Sedangkan truk air biasanya memang nongol antara jam 12 siang sampai malam.

Saat itu aku tahu (lagi...) apa maksudnya berserah kepada Tuhan. "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (Matius 6:26). Yah, kalau Tuhan memang berkenan aku mandi hari ini pasti truk itu akan datang. Tapi bagaimana dengan acaraku ke gereja? Akhirnya saat itu aku memutuskan untuk menunggu air. Ternyata aku belum bisa berserah sepenuhnya...

Akhirnya datang juga truk itu, jam 6 sore pas. Jarak rumah sampai gereja sekitar 30 menit (kalau tidak macet) dan aku belum mandi. Jadi aku akan sangat terlambat kalau dipaksakan berangkat. Hari itu aku merasa tidak enak. Terus terang, pergi ke gereja tiap Minggu sudah menjadi kebutuhan (mendapat kesegaran baru, bertemu teman-teman, memuji Tuhan bersama, de el el...).

Perenungan hari itu mengingatkanku pada satu pertanyaan salah satu anggota komsel beberapa minggu lalu, "Apakah Karya Salib Yesus akan tetap terjadi seandainya Yudas tidak menjualnyaNya?". Saat itu diskusi kami menyatakan bahwa Yudas telah diberi kesempatan untuk tidak melanjutkan niatnya (Matius 26:20-25). Tapi misalkan Yudas tidak mencium Yesus pagi itu, Karya Salib akan terjadi juga, dengan cara lain.

Dalam skala kecil dan permasalahan lain, begitu juga soal keputusanku menunggu air. Jika aku sudah berserah kepada Tuhan, maka air itu akan aku dapatkan juga, bagaimanapun dan kapanpun (pada saatnya). Tapi aku diberi kebebasan Tuhan untuk memilih, apakah aku berangkat ke gereja hari itu atau tidak.

Minggu berikutnya, aku tidak mau hal itu terulang lagi. Gee..., air datang jam 10 pagi! Tuhan memang bekerja menurut jalanNya yang kadang sukar dimengerti. Haleluya!

Catatan akhir:

Berserah penuh, latihlah dari perkara-perkara kecil.

Kita sebagai anakNya telah diberikan kemampuan untuk menggunakan hikmat yang telah diberikan olehNya. Pakailah untuk meninggikan nama Tuhan.

Tuhan memiliki cara sendiri yang kadang kita sebagai hambaNya tidak dapat mengerti.

June 17, 2001

We need extra 'food'...

Ini hanya hasil 'wawancara', jadi sangat singkat.

Saat altar call, Yanty merasa tidak nyaman selama ini dan 'kangen' dengan kedekatannya dengan Allah. Dia maju untuk mendapatkannya, mengalaminya kembali.

Well, that's it. Terlalu singkat? Bagi yang kenal Yanty, silakan tanya sendiri...

Catatan akhir:

Mengikuti retret, KKR, atau sebangsanya secara rutin adalah perlu. Bukannya menjadi 'Kristen pompaan', tetapi kita perlu juga 'makanan tambahan' selain nasi yang kita makan setiap hari.

Peliharalah hatimu dalam Tuhan, jagalah sumur air kehidupanmu, agar selalu menjadi sumber kedekatanmu dengan Tuhan.

Holy Spirit is here!!!

Kami, aku dan Yanty, akhirnya berangkat kebaktian tanpa keraguan. Hanya sedikit mengantuk saat di perjalanan. Sesampainya di Maizonette, seperti biasa, aku naik tangga ke lantai 4 dan Yanty naik lift (payah!..., he....). Bertemu dengan Chandra, teman se-usher dulu yang sekarang berkebaktian di Serpong, memberikan undangan pernikahannya (ui..., kita kapan?).

Kebaktian dimulai, dengan pendahuluan yang menyatakan bahwa kebaktian sebelumnya, jam 3 sore, benar-benar seru! Lalu, ada apa sih? Pujian penyembahan dimulai. Dari belakang aku melihat sekilas Arman bersama seorang 'bule' berjalan ke kursi barisan depan. Aku pikir, "wah, interpreter lagi nih". Terus terang aku nggak begitu suka kalau kebaktian dengan preacher berbahasa Inggris lalu diterjemahin. Mengganggu! Tapi yah, gimana lagi. Toleransi sama yang lain.... Aku pikir kebaktian ini akan biasa-biasa saja (padahal setiap kebaktian selalu berbeda kan! Selalu ada jamahan Allah yang baru!). Ternyata aku keliru.

Dia, si 'bule', ternyata David Reedy dari Hillsong Church, Australia. Gee... setelah pujian penyembahan selesai, dia meneruskannya! Dengan talenta seperti itu, David dipakai Tuhan 'menjamah' kita semua! Amen! Kita sangat bersuka cita hari itu. Yang nggak, berarti sedang membawa beban sangat berat ke gereja, he.... Sempat menyanyikan lagu yang baru akan diliris di album bulan Juli.

David membawakan firman Tuhan dari Kejadian 26, tentang sumur.'Sumur' Roh Kudus yang harus 'digali, dibersihkan, dan dijaga'. Aku nggak berpanjang lebar soal ini, tapi kotbah ditutup dengan altar call, dengan tiba-tiba. David menunjuk seseorang di barisan ketiga dari depan, dan bernubuat untuknya. Diteruskan untuk orang kedua, ketiga, keempat, dan akhirnya dia memberikan panggilan bagi siapa saja, yang tidak bisa menggali dan menjaga sumur Roh Kudusnya, untuk maju ke depan.

Sejak David bernubuat untuk orang pertama, aku merasakan sesuatu. Ada aliran Roh Kudus di tempat itu. Seseorang pernah berkata, "Jika kamu merasakannya, ikuti! Jangan sampai tertinggal". Mungkin pernyataan itu bukan untuk diimpelentasikan secara harfiah, tapi aku ikuti juga. Aku mulai berdoa, meminta Tuhan untuk dapat merasakan kehadiran Roh Kudus di tempat ini. Dan, tiba-tiba aku bergetar, merasakannya. Sama seperti yang pertama kali aku rasakan saat menerima Roh Kudus untuk pertama kalinya, di Kopeng dulu. Tenteram, damai menyelimutiku.

Dan tiba-tiba sesuatu mendorongku untuk berkata, "Go... Go... Go..." untuk Yanty yang duduk di sebelahku. Aku terus berdoa. Hingga suatu saat aku merasakan angin saat Yanty bergeser dibelakangku untuk ke depan. Aku terus berdoa, berbahasa roh, untuk Yanty. Ini benar-benar bukan keinginanku sendiri, tapi seperti didorong untuk melakukannya. Aku sendiri tidak maju ke depan, hanya berdiri di barisanku, berdoa, sampai altar call itu selesai.

Aku membuka mataku, Yanty belum kembali ke kursinya, dan di depan sudah hampir kosong (nggak tau deh ke mana dia). Aku duduk dan merasakan sesuatu yang kurang. More !!! I need it more! Sayang kebaktian harus diakhiri. Pujian kolekte hari itu, yang itu-itu saja, agak membuatku kesal. Untunglah David menutupnya lagi dengan pujian.

Kebaktian hari itu sungguh luar biasa, dan kami sungguh diberkati.

Catatan akhir:

  • Matius 7:11b, Yohanes 16:24b, I Yohanes 5:14-15. ...Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
  • Bila anda belum mengalami jamahan Roh Kudus, mintalah kepada Tuhan, karena Dia akan 'bekerja dengan indahnya' dalam dirimu.
  • Belajarlah mengenali suara Tuhan, yang keluar dari hati kecilmu (kalau perlu, baca buku: Mengenal Suara Tuhan, ...)
  • Great thanks to David Reedy, for your service that day

Anyone can God use to bless someone

Ban mobil bekas di rumah kami benar-benar mengganggu. Dulu kami kira bisa digunakan untuk sesuatu, tapi ternyata tidak muncul ide satupun. Ah, paling hanya bisa dijual ke tukang loak, atau diberikan ke seseorang. Ah, akhirnya kami sepakat untuk memberikannya saja ke tukang tambal ban langganan di dekat rumah (langganan bukan berarti ban motorku jelek!...).

Pukul 3 sore itu, Minggu 17 Juni, aku dan Yanty baru saja pulang dari mengantar mama Yanty ke mal Taman Anggrek. Biasa, jalan-jalan, melelahkan. Di perjalanan pulang, timbul kemalasan untuk berangkat ke gereja. Yanty bilang mau pulang saja dan tidur. Ampun! Untuk yang satu ini aku biasanya menyerah. Dulu pernah kejadian serupa dan timbul pertengkaran (sudah dibereskan tentunya). Sebelum mengantar Yanty pulang, kami mampir ke tukang tambal ban, dan percakapan yang terjadi akan selalu diingat Yanty;

"Mas, mau nggak saya kasih ban mobil bekas?"
"Wah, gimana ya, saya nggak punya uang tuh"
"Lho, nggak gitu. Saya mo kasih ban bekas buat Mas"
"Oh, kalau gitu boleh deh. Kalo mau dijual saya nggak punya uang". Dia tersenyum. "Ban mobil Feroza itu kan?"
"Iya. Bisa nggak diambil sekarang?"
"Wah, besok saja deh. Saya sudah mau tutup, mau ke gereja..."

Di sisa perjalanan Yanty berkata, "He,... Mas-nya aja mau ke gereja. Masak A Eng nggak. Uuu...". Di depan aku hanya tersenyum saja . Akhirnya kita berangkat ke gereja, dan sesuatu yang hebat terjadi di sana.

April 13, 2001

Perayaan Paskah di rumah kami

Siapa sangka rumah yang belum ada isinya (perabotannya maksudnya) bisa menjadi berkat buat orang lain. Tuhan emang bekerja dengan caraNya sendiri.

Beberapa minggu yang lalu Yanty memberitahuku jika Sherline, Pengawas Area komsel kami, sedang mencari tempat untuk perayaan Paskah komsel bersama, dan Yanty telah menawarkan rumah kami. Hei...! Kenapa tidak? Rumah kami masih kosong dari (yang nantinya menjadi) ruang tamu sampai dapur belakang. Barang-barangku sendiri masih cukup muat ditata di salah satu kamar. Maklum, bekas anak kost.

Hm... aku sudah membayangkan belasan orang datang ke rumah kami, merayakan Paskah. How wonderful! Tapi dua minggu sebelum perayaan Paskah, aku mendengar ada rencana lain. Ada yang mengusulkan di rumah makan saja. Ada juga yang mengusulkan acara Paskah ini dilaksanakan di Ancol (!...???). Heh... ada rasa kecewa di hati.

Tapi ternyata Tuhan mempunyai rencana lain. Gereja mengadakan puasa bersama untuk tanggal 13 - 15 April itu, dan acara Paskah per-komsel nya pun telah disusun (walaupun secara garis besar). Ha.... Akhirnya jadi juga rumah kami dipakai. Bayangkan, acara pertama di rumah kami bukannya pesta sukuran rumah baru, atau pesta ulang tahun, bukan pesta pernikahan, tapi lebih indah dari itu: memperingati saat-saat Kristus menebus dosa kita di atas salib. Sungguh indah Kau Tuhan....

Kamis tanggal 12 April aku pulang lebih awal. Bersih-bersih dulu lah. Sherline sempat memberitahuku ada sekitar 30 orang yang akan datang. Uh,... mana muat! Tempat yang ada hanya sekitar 3x10 meter. Sambil mengepel lantai aku merenung, mencoba membayangkan 30 orang 'dimasukkan' ke dalam rumah kami. Tiba-tiba hatiku bersuara, 'Ini kan acaraNya! Biar Dia lah yang mengatur. Nggak usah kawatir!' He..., benar juga. Saat itu aku menjadi tenang. Aku bersih-bersih sampai jam 11 malam. Capai juga.

Besoknya jam 9 pagi mulai berdatangan. Puji Tuhan, ternyata rumah kami cukup mudah untuk dicapai! He... Cuman satu mobil yang rada nyasar. Teman-teman masuk, sandal dan sepatu mereka ditingal di luar. Kami semua duduk di lantai (tentunya! Aku sampai detik ini cuman punya satu kursi!). Beberapa saat aku khawatir soal ini. Terus terang di kompleks ini agak kurang aman untuk meninggalkan sesuatu di halaman tanpa dijaga. Tapi sekali lagi aku diingatkan, ini acaraNya. Bukan 'Adhi' yang mengurus, tapi Tuhan sendiri.

Acaranya sendiri dibuka dengan pujian. Wow! kenceng juga. Sempat aku berpikir tentang tetangga. Terganggukah mereka? Ah, bukan begitu! Biar mereka mendengar tentang Kristus dari pujian kami. Hoi!!! kurang keras!!! Haleluya!

Acara kemudian dilanjutkan dengan perenungan salib. Tuhan, saat itu aku sedih sekali. Sebenarnya aku nggak bisa konsentrasi. Anggota komselku, Ci' Lia meninggal dunia. Dia berkorban nyawa untuk melahirkan anak pertamanya. Duh, aku sesaat merasa Tuhan tidak adil. Mereka seharusnya ikut merayakan acara Paskah ini! Perkataan Arman tentang pengorbanan Ci' Lia untuk anaknya dan pengorbanan Yesus untuk kita semua meluluhkan hati, pikiran, dan perasaanku. Saat itu aku menangis....

Setelah perjamuan kudus dan doa penutup, beberapa dari kami langsung melayat ke RS. Sumber Waras, tempat Ci' Lia disemayamkan.

Catatan akhir:

  • Tuhan memiliki cara sendiri yang kadang kita sebagai hambaNya tidak dapat mengerti. Aku mendapat berkat yang melimpah dari perayaan Paskah di rumah baru kami. Sungguh benar-benar indah.
  • Terima kasih Tuhan acara ini berlangsung sesuai dengan rencanaMu.
  • Berkati Ko Indra (suami Ci' Lia) agar dia tabah mengadapi peristiwa ini.

January 22, 2001

Rumah baru

Yang satu ini, Tuhan benar-benar menguji kesabaran dan ketekunan kami.

Dari awal kami bersepakat untuk mencari rumah tinggal sebelum melangkah ke rencana yang lebih lagi (menikah! he...). Tahun 1998 kami sempat getol keliling Jakarta Barat, keluar masuk perumahan, mencari tanda "rumah dijual, hubungi...". Tiap kali ada pameran properti kami pasti ada di sana. Tapi melihat harga, bentuk, ukuran, lokasi, dan segala tetek bengeknya membuat kami menunda pencarian kami. Ternyata mencari rumah di Jakarta susah juga ya.

Hampir setiap tahun kami mengulangi kegiatan hunting rumah ini. Kami pun mulai searching di Internet, mendatangi broker properti, dan kantor pemasaran perumahan. Hasil? sama saja. Aku hampir putus asa. Untung saja ada Yanty yang mengingatkan (Pengkotbah 4:9-10), untuk berserah kepada Tuhan. Aku dikuatkan kembali, tapi aku bukan tipe orang yang hanya berserah kepada Tuhan semata tanpa melakukan sesuatu. Setelah beberapa bulan "beristirahat", kami meneruskan kegiatan ini, tanpa lelah (ya kadang saja sampai agak batuk pilek, kehujanan).

Awal tahun 2000 kami menemukan rumah yang kami inginkan. Lokasi, ukuran, dan bentuk sudah sesuai. Tinggal negosiasi harga dengan pemilik. Ternyata Tuhan mementukan lain. Setelah baru beberapa hari melakukan kontak telpon dengan pemilik untuk menentukan harga, ternyata rumah tersebut telah terjual dengan selisih harga "hanya" lima juta dengan penawaran kami. Saat itu saya kecewa. Sungguh suatu harga yang mahal untuk setiap Sabtu naik motor berputar keluar masuk perumahan, bertanya sana sini, melakukan kontak telepon, dan sampai sedemikian dekat di tangan, akhirnya lepas juga. Kami terlalu berharap pada kemampuan kami sendiri. Itu ujian besar kami yang pertama.

Sejak saat itu kami lebih mempercayakan pilihan kepada Tuhan. Tidak pernah "ngoyo" kalau memburu rumah yang kami inginkan. Jika penawaran harga kurang cocok, kami diamkan saja sampai pemiliknya menghubungi kami kembali. Kami merasa bahwa usaha kami dalam tawar menawar hanya sampai kontak pertama atau kedua saja. Selebihnya kami serahkan kepada Tuhan untuk mengurusnya. Hal itu membuat kami lebih tenang, berpikiran lebih luas, dan yang penting tidak mengganggu kegiatan kami yang lain.

Selanjutnya hanya kerikil-kerikil kecil. Ada beberapa penawaran yang sudah di depan mata, hanya beberapa masalah kecil saja. Tetapi malah membingungkan. He..., yang dulu susah mencari, sekarang malah bingung untuk memilih. Yanty pernah memohon kepada Tuhan, untuk memberikan yang terbaik bagi kami. Pilihan minggu pertama, Rumah bekas, siap huni, tapi lokasi di pinggir perumahan. Pilihan minggu kedua, rumah bekas juga, besar, siap ditingkat, tusuk sate, perlu renovasi. Pilihan minggu ketiga, rumah bekas juga, lokasi bagus, lebih kecil dari pilihan kedua, termasuk 2 AC, siap huni.

Setelah beberapa minggu bertukar pikiran dan berdoa, akhirnya keputusan jatuh di rumah kedua. Negosiasi pun tidak berjalan dengan lancar. Perlu 2 bulan untuk menetapkan harga! Proses di notaris pun hampir serupa. Ternyata kami berhadapan dengan pemilik yang cerewet dan tidak percaya kepada siapapun. Puji Tuhan, semuanya telah selesai awal Januari 2001.

Dari pengalaman ini kami mendapat banyak sekali pelajaran. Kesabaran, ketekunan, rendah hati, berhikmat..., hampir semua ego kami serahkan kembali di tangan Tuhan.

Catatan akhir:

  • Daya jangkau Internet sungguh luar biasa. Akupun kenal dengan pemilik lama ini karena dia memasang iklannya di Internet. Makanya aku bikin situs ini untuk menyebarkan kisah bersama Yesus-ku agar bisa dibaca oleh semua orang (dan berharap bisa menjadi berkat pula...)
  • Berdua itu baik. Bertiga apalagi. Banyakan sangat bagus! Jangan sampai engkau lepas dari komunitasmu. Apalagi sampai "madol" dari pertemuan-pertemuan rohani (komsel, de el el).
  • Ada kalanya Tuhan memberikan engkau kebebasan untuk menentukan pilihan. Ada kalanya pula kita harus menyerahkan pilihan itu kepadaNya. Kita mendapat hikmat dari Tuhan salah satunya untuk membedakan hal seperti ini.
  • Segala perkara di dunia ini akan menjadi pelajaran berharga jika kita menghadapi dan melihatnya di dalam Kristus.
  • Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12).

September 26, 2000

If I speak in the tongues of men and of angels, but have not love, I am a noisy gong or a clanging cymbal

Aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini, mungkin karena aku menaruh harapan besar akan pemulihan keluargaku di jalur cepat. Pada intinya, kasih di hatiku tertutup dengan ambisiku ini.

Hari Selasa, 26 September 2000, aku terima email dari bapak, isinya gini:

Hari ini jam 08.35 HP dicopet di bis kecil jurusan ke Kampus dari jalan Solo (deket RS Bethesda) Yogya. Sorry banget karena itu kan dari Mas.

Wah, hand phone bapak hilang! He... termasuk kartu SIM-nya juga dong, yang kata orang termasuk nomor unik (+62 816 4881884). Sempat juga kecewa, tapi hanya sebentar. Pertama, yang menghilangkan bukan aku (egonya...). Yang kedua, itu kan hanya barang. Aku ingat dengan Roni, saat jam tangannya dirampok orang di depan Roxy Mas. Begitu juga dengan Yanty yang (lagi-lagi) jam tangannya direbut orang, saat pulang kantor, (lagi-lagi) di depan Roxy Mas. Mereka merelakannya karena semua berkat kita datang dari Allah. Jadi, hatiku beres saat itu juga. Tapi bagaimana dengan bapak?

Malam harinya aku telpon ke rumah. Ah, nada menyesal dan kecewa yang aku rasakan dari suara bapak. Aku sampai setengah mati membujuk bapak agar merelakannya. Apalagi beberapa hari yang lalu kita berencana untuk beli satu lagi untuk dipakai ibu, karena akhir-akhir ini mereka berdua sangat aktif berpergian.

Karena hampir putus asa, aku sms adikku. Dia lebih dekat dengan bapak, jadi aku minta tolong dia saja yang telpon. Beberapa saat kemudian, dia telpon balik. Katanya, dia lebih kawatir dengan ibu. Na..., aku jadi tambah pusing. Aku telpon lagi ke rumah. Dari sinilah permasalahan dimulai....

Ternyata ibu lebih kecewa lagi. Dari yang aku tangkap, ibu sama sekali tidak bisa merelakan hilangnya hand phone itu. Ada sesuatu di perkataan ibu yang membuatku berkata tidak pada tempatnya. Aku bersikap menasehati daripada menghibur. Dan itu membuat ibu sakit hati, dan memutus hubungan telepon. Wa....

Malam itu hatiku berkecamuk. Apa yang salah denganku? Dua jam suntuk berat, aku mulai berdoa, minta hikmat yang lebih lagi dari Tuhan..., di depanku ada Alkitab, diary, pena, dan 7110-ku. Tiba-tiba mataku terpaku dengan tulisan pengganti operator logo di layar 7110-ku, 1 Korintus 13:7, kasih. Ampun! Itu yang salah! Aku tadi menjadi bersikan menasehati karena tidak ada rasa kasih di hatiku. Aku hanya menunjukkan rohaniku saja, tanpa menggunakan kasih sama sekali. Aku hanya show off! Tuhan telah membuka mataku, hanya dengan kasih aku bisa masuk ke dalam hati orang yang menutup dirinya seperti ibuku. Uh, malam itu aku tidur pagi....

Tanggal 12 Oktober 2000 aku ikut LBC-A. Aku "dikuliti" habis-habisan di situ, juga disadarkan kalo persoalan hand phone itu belum selesai tanpa pemberesan. Sakit hati itu akan tetap ada dan membesar dan tanpa pemberesan berarti aku tidak ada perubahan di mata keluargaku. Sebenarnya aku takut ada penolakan. Tapi setelah sesi Hati Nurani berakhir, aku telpon ibu, minta maaf dan,... it's all going to a better way. God is good all the time.

Catatan akhir:

  • Akhirnya jadi juga beli 2 hand phone. Punya Yanty (Nokia 6110) dikirim untuk ibu, bapak dan Yanty sekarang pakai Siemens C35. Walaupun keluar uang lebih banyak, tapi peristiwa ini memberi berkat buat orang lain juga, kan.

August 31, 2000

He has made everything beautiful in its time

Someone said to me, it's a sad story. But I thought it was not.

We're choosing the hard way in our relationship. So much difference, even we can accept them all but not everyone around us. My parents, for example. I thought my dad can accept some, but it seems degrading lately. Still confuse and curious? Send me request then I'll tell you why. It's a very long story and I haven't write in my home page yet.

Friday, August 25, 2000, Yanty and I went to Salatiga for my friend's wedding on Sunday, 27 August. Normally for other couples, they will stay at their parents. So I think the same way. But somehow my dad sends me sms told me that my mom does mind with my idea and he has to make priorities. I don't know in what number he put Yanty and me. Well... I get the point. Staying at hotels still a better way even Yanty must check in at 11.30 pm! OK lah, and then on Friday morning I start looking for hotel room. Even I've call Ko David for suggestion. Well, it seem she had to stay at hotel. Then I prepare my self, brought extra money for the rent. Eh, does Lippo ATM have working online already in Salatiga? I don't know, so I brought it from Jakarta.

Went home from office little late, Yanty was little nervous because her bank was being audited by BI (he... they pick the right day to bother us!) and she had to go home early. Get to the train station on time, at 5 p.m. I told Yanty that she had to stay at hotel because Ahun doesn't stay in Salatiga no more. Even she didn't want to stay at hotel alone, she's accepted that reality. Gee...

But suddenly, just before I sat on my seat, my cell phone beeps. Then I read, dad wrote that Yanty can stay at home, mom was already prepare a room for her. What a surprise! In the perfect time, God give us the way! So, on travel time, I was so cheerful. I don't know how's Yanty felt about it. But I think she felt the same, plus little nervous to see my mom! Ha... In dad's SMS, he said to Yanty to prepare for cool welcome. I just told her that I'll support her what so ever.

At Tawang train station, I thought dad will pick me alone. He... my mom was also there! It's another surprise! And she welcomes us normally. 2 days in Salatiga runs smooth, no fight, no cry. Just normal. Another hope grows in our hearts...

We came back to Jakarta at August 27, 2000 in peaceful heart.

Last notes:

  • Thanks to Tante Simon and Ko David for your opinion and suggestion. That affects us much.
  • Thanks to Lusi who reply my first mail and already support us so far.
  • Thanks to everyone in Pondok Daud who still thinks Yanty is Lusi every time Yanty come to PD.
  • Thanks to oldies, show your presence when we're in Salatiga, feel nice at home!

September 23, 1996

Praise & WOrship, the effects fot unsaved souls

Hari itu adalah pengalaman pertamaku ikut acara pujian & penyembahan (p&p). Sebenarnya aku diajak oleh Yanty dan teman-teman kostnya.

Aku masih ingat nama acaranya, Relax Night. Namanya juga p&p, ya dibuka dengan doa, duduk, berdiri, menyanyi, bersorak, menari, duduk lagi, operet, berdiri lagi, dan ditutup lagi dengan doa. Saat itu aku benar benar canggung. Kalau semua berdiri, aku ikut berdiri. Duduk, aku ikut duduk. Nyanyi, ya kalau pas kelihatan teksnya ya ikut. Perasaanku juga jadi nggak enak. Mungkin karena pengalaman pertama, atau karena hal lain? Misalnya karena tidak, eh, belum pada tempatnya?

Saat operet dimainkan, aku jadi teringat akan pelajaran agama saat di SD. Cerita-cerita itu naik lagi dari dalam otakku. Mengguncang logikaku, meremas perasaanku. Pokoknya ada sesuatu yang mengganjal di hati. Saat itu aku nggak tau apa.

Catatan akhir:

  • Acara pujian & penyembahan, merupakan cara paling gampang (menurut saya, tentunya) untuk membawa jiwa mengenal Yesus

September 12, 1996

First time He open my heart and mind

Hari itu, adalah hari biasa. Hanya saja hari itu Yanty cerita tentang masa lalunya. Tentang bagaimana saat SMA diajak temannya untuk mengenal lebih jauh tentang Yesus. Sejak saat itu Yanty hidup di dalamNya.

Aku merenungi ceritanya. Hidupnya penuh berkat dari Tuhan. Aku mulai membuat perbandingan denganku. Jujur, aku dulu mempunyai keyakinan seperti ini: aku percaya adanya Tuhan yang membimbing kita di dalam hidup ini. Tapi aku tidak mempercayai kitab suci apapun, nabi apapun, apalagi Yesus. Aku nggak menganut agama apapun, tapi bukannya atheis. Aku tahu bagaimana caranya berdoa, berbicara kepadaNya. Ada satu lagi, tapi rasanya bukan di bagian ini aku bercerita. Pokoknya, that's my old way of life.

Balik lagi soal Yanty. Aku lihat dari hari ke hari, walaupun di kehidupan kostnya banyak sekali masalah, dia tetap tegar, ceria. Selalu bersyukur kepada Tuhan terhadap berkat yang dia terima walau sekecil apapun! Yang lebih hebat lagi, aku melihat hal yang serupa dari teman kostnya!

Ada rasa iri di hatiku. Kenapa aku tidak merasakan hal yang sama? Yanty mendapat nilai A untuk KKN, dan dia bersyukur sekali, dia bersuka cita! Bersuka cita, kata-kata yang baru bagiku. Aku mendapat nilai yang sama. Aku hanya senang saja. Tidak bisa menikmatinya seperti Yanty. Kenapa?

Sejak saat itu aku membuka diriku, untuk mendapat suka cita itu. Benar tidaknya tujuanku, yang pasti, pada akhirnya, aku sadar bahwa Yanty hanya bercerita, dan hidup dalam Kristus, tidak lebih dari itu. Ada sesuatu yang membimbingku, membuka hati dan pikiranku, untuk Yesus.

  • Catatan akhir:
  • Biarlah hidupmu menjadi terang untuk orang lain
  • Kesaksian yang paling mudah tentang Kristus, adalah menceritakan kehidupanmu sendiri, ditambah sedikit keberanian untuk terbuka