{"id":12,"date":"2001-01-22T00:12:58","date_gmt":"2001-01-21T17:12:58","guid":{"rendered":"http:\/\/adhi.widjajanto.net\/weblog\/index.php\/2001\/01\/22\/rumah_baru\/"},"modified":"2015-06-05T14:30:13","modified_gmt":"2015-06-05T07:30:13","slug":"rumah_baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/2001\/01\/22\/rumah_baru\/","title":{"rendered":"Rumah baru"},"content":{"rendered":"<p>Yang satu ini, Tuhan benar-benar menguji kesabaran dan ketekunan<br \/>\nkami.<\/p>\n<p>Dari awal kami bersepakat untuk mencari rumah tinggal sebelum melangkah<br \/>\nke rencana yang lebih lagi (menikah! he&#8230;). Tahun 1998 kami sempat<br \/>\ngetol keliling Jakarta Barat, keluar masuk perumahan, mencari tanda<br \/>\n&quot;rumah dijual, hubungi&#8230;&quot;. Tiap kali ada pameran properti<br \/>\nkami pasti ada di sana. Tapi melihat harga, bentuk, ukuran, lokasi,<br \/>\ndan segala tetek bengeknya membuat kami menunda pencarian kami.<br \/>\nTernyata mencari rumah di Jakarta susah juga ya.<\/p>\n<p>Hampir setiap tahun kami mengulangi kegiatan hunting rumah ini.<br \/>\nKami pun mulai searching di Internet, mendatangi broker properti,<br \/>\ndan kantor pemasaran perumahan. Hasil? sama saja. Aku hampir putus<br \/>\nasa. Untung saja ada Yanty yang mengingatkan (Pengkotbah 4:9-10),<br \/>\nuntuk berserah kepada Tuhan. Aku dikuatkan kembali, tapi aku bukan<br \/>\ntipe orang yang hanya berserah kepada Tuhan semata tanpa melakukan<br \/>\nsesuatu. Setelah beberapa bulan &quot;beristirahat&quot;, kami meneruskan<br \/>\nkegiatan ini, tanpa lelah (ya kadang saja sampai agak batuk pilek,<br \/>\nkehujanan).<\/p>\n<p>Awal tahun 2000 kami menemukan rumah yang kami inginkan. Lokasi,<br \/>\nukuran, dan bentuk sudah sesuai. Tinggal negosiasi harga dengan<br \/>\npemilik. Ternyata Tuhan mementukan lain. Setelah baru beberapa hari<br \/>\nmelakukan kontak telpon dengan pemilik untuk menentukan harga, ternyata<br \/>\nrumah tersebut telah terjual dengan selisih harga &quot;hanya&quot;<br \/>\nlima juta dengan penawaran kami. Saat itu saya kecewa. Sungguh suatu<br \/>\nharga yang mahal untuk setiap Sabtu naik motor berputar keluar masuk<br \/>\nperumahan, bertanya sana sini, melakukan kontak telepon, dan sampai<br \/>\nsedemikian dekat di tangan, akhirnya lepas juga. Kami terlalu berharap<br \/>\npada kemampuan kami sendiri. Itu ujian besar kami yang pertama.<\/p>\n<p>Sejak saat itu kami lebih mempercayakan pilihan kepada Tuhan. Tidak<br \/>\npernah &quot;ngoyo&quot; kalau memburu rumah yang kami inginkan.<br \/>\nJika penawaran harga kurang cocok, kami diamkan saja sampai pemiliknya<br \/>\nmenghubungi kami kembali. Kami merasa bahwa usaha kami dalam tawar<br \/>\nmenawar hanya sampai kontak pertama atau kedua saja. Selebihnya<br \/>\nkami serahkan kepada Tuhan untuk mengurusnya. Hal itu membuat kami<br \/>\nlebih tenang, berpikiran lebih luas, dan yang penting tidak mengganggu<br \/>\nkegiatan kami yang lain.<\/p>\n<p>Selanjutnya hanya kerikil-kerikil kecil. Ada beberapa penawaran<br \/>\nyang sudah di depan mata, hanya beberapa masalah kecil saja. Tetapi<br \/>\nmalah membingungkan. He&#8230;, yang dulu susah mencari, sekarang malah<br \/>\nbingung untuk memilih. Yanty pernah memohon kepada Tuhan, untuk<br \/>\nmemberikan yang terbaik bagi kami. Pilihan minggu pertama, Rumah<br \/>\nbekas, siap huni, tapi lokasi di pinggir perumahan. Pilihan minggu<br \/>\nkedua, rumah bekas juga, besar, siap ditingkat, tusuk sate, perlu<br \/>\nrenovasi. Pilihan minggu ketiga, rumah bekas juga, lokasi bagus,<br \/>\nlebih kecil dari pilihan kedua, termasuk 2 AC, siap huni.<\/p>\n<p>Setelah beberapa minggu bertukar pikiran dan berdoa, akhirnya keputusan<br \/>\njatuh di rumah kedua. Negosiasi pun tidak berjalan dengan lancar.<br \/>\nPerlu 2 bulan untuk menetapkan harga! Proses di notaris pun hampir<br \/>\nserupa. Ternyata kami berhadapan dengan pemilik yang cerewet dan<br \/>\ntidak percaya kepada siapapun. Puji Tuhan, semuanya telah selesai<br \/>\nawal Januari 2001.<\/p>\n<p>Dari pengalaman ini kami mendapat banyak sekali pelajaran. Kesabaran,<br \/>\nketekunan, rendah hati, berhikmat&#8230;, hampir semua ego kami serahkan<br \/>\nkembali di tangan Tuhan.<\/p>\n<p>Catatan akhir:<\/p>\n<ul>\n<li>Daya jangkau Internet sungguh luar biasa. Akupun kenal dengan<br \/>\npemilik lama ini karena dia memasang iklannya di Internet. Makanya<br \/>\naku bikin situs ini untuk menyebarkan kisah bersama Yesus-ku agar<br \/>\nbisa dibaca oleh semua orang (dan berharap bisa menjadi berkat<br \/>\npula&#8230;)<\/li>\n<li>Berdua itu baik. Bertiga apalagi. Banyakan sangat bagus! Jangan<br \/>\nsampai engkau lepas dari komunitasmu. Apalagi sampai &quot;madol&quot;<br \/>\ndari pertemuan-pertemuan rohani (komsel, de el el).<\/li>\n<li>Ada kalanya Tuhan memberikan engkau kebebasan untuk menentukan<br \/>\npilihan. Ada kalanya pula kita harus menyerahkan pilihan itu kepadaNya.<br \/>\nKita mendapat hikmat dari Tuhan salah satunya untuk membedakan<br \/>\nhal seperti ini.<\/li>\n<li>Segala perkara di dunia ini akan menjadi pelajaran berharga<br \/>\njika kita menghadapi dan melihatnya di dalam Kristus.<\/li>\n<li>Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,<br \/>\ndan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12).<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang satu ini, Tuhan benar-benar menguji kesabaran dan ketekunan kami. Dari awal kami bersepakat untuk mencari rumah tinggal sebelum melangkah ke rencana yang lebih lagi (menikah! he&#8230;). Tahun 1998 kami sempat getol keliling Jakarta Barat, keluar masuk perumahan, mencari tanda &quot;rumah dijual, hubungi&#8230;&quot;. Tiap kali ada pameran properti kami pasti&#46;&#46;&#46;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-my-life-with-jesus"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1985,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12\/revisions\/1985"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/adhi.widjajanto.net\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}