Category: DIY

September 14th, 2020 by Adhi Widjajanto

This was sucks, really, having this awesome notebook but can’t use the fancy fingerprint login. Months searching finally stuck on this post. Apparently it has to be done physically by re-seating the ribbon wires.

How: Shutdown the notebook. Open 10 tiny star screws, remember, 3 screws are longer than others are mounted near the hinges. Open the back cover, just pull it using your nails begin at front side, then lift and slide to release the back hook. Open 4 battery screws, and lift it a bit. Release fingerprint sensor ribbon wire and re-attach it. Put all back together. Turn on the notebook. Enter Device Manager. Delete Synaptic WBDI and uninstall the driver. Scan for hardware changes. If Synapric WBDI is up and run without any warning or error marks, then you’re up and go. Go to fingerprint settings and you know what to do.

Posted in DIY, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , ,

August 27th, 2020 by Adhi Widjajanto

Repair: lapisan chrome sudah banyak karat di sana sini. Busa dropbar sudah mengeras dan sobek di satu sisi. As crank (bottom bracket) bengkok.
Enhance: ganti sadel yang lebih comfortable dan ganti brake lever agar saya bisa dapat posisi hood yang lebih agresif.

Cat: Diton Premium Series. Prosesnya: semua parts dilepas, yang mau dicat diamplas dulu sampai karatnya habis. Lalu dicuci pakai air sabun. Setelah itu diolesi bensin biar yakin tidak ada lemak sama sekali, baru dicat Primer Grey dua lapis, lanjut cat dasar pakai Silver Metallic satu lapis.

Untuk warna, frame saya lapis dengan Candy Tone Red tiga lapis, sementara crank dan pedal pakai Black Metallic dua lapis. Sisanya saya biarkan warna Silver Metallic. Terakhir semua parts pakai Clear Gloss + Activator dua lapis.

Penggantian dan perbaikan parts: untuk as bottom bracket saya kesulitan mencari yang sama dengan yang lama (125mm), sudah dua kali beli tidak ada yang cocok. Akhirnya pakai seadanya, crank sebelah kiri jadi lebih menjorok keluar sekitar satu senti dari crank kanan. Biarin lah, paling kaki aja di adjust pas injak pedal, kaki kanan keluarin sesenti.

Pe-er yang harus dikerjakan setelah ini, beresin rims yang berkarat dan setel jari-jari rims, atau ganti sekalian dengan rims ukuran 700.

  • Old parts:
    • Frame: Raleigh Sports
    • Shifter: David
    • FD: Sun Race
    • RD: Sun Race
    • Chainring: Shimano Biopace HP 3 speed 46-36-26
    • Crank: Shimano Deore FC-MT60 MTB 170
    • Sprocket: Shimano Hyperglide 7 speed 28-24-21-18-16-14-12
    • Chain: CN-UG50 Narrow (7 speed)
    • Hub: Shimano FH-HG20
    • Dropbar: classic
  • New Parts
    • Chain quick link
    • Bar tape: foam
    • Saddle: Velo Plush
    • Bottom bracket: 5R
    • Chainstay protector: DIY
    • Brake lever: alloy

Edit: Bottom bracket saya ganti dengan Shimano UN54 110mm karena BB jadul yang lalu selalu berderit apapun settingannya. Terpaksa mengorbankan chainring 26 karena BB terlalu pendek.

Posted in DIY, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , ,

August 3rd, 2020 by Adhi Widjajanto

Beberapa hari lalu saya membeli kamera ini di toko online, karena diklaim suport ONVIF, direct access ke NVR. Build quality lumayan. Terkesan murah karena memang cukup murah, tapi ga murahan. Bahan plastiknya tidak begitu baik, walau moldingnya cukup rapi. Motor PTZ nya terdengar cukup halus walau tidak silent. Mountingnya sendiri cukup simpel, walau saya ragu bisa awet kalau ditaruh di luar. Apalagi oleh seller disarankan mounting di ceiling dengan posisi terbalik agar mendapat coverage yang banyak.

Untuk inisialisasi, perlu aplikasi YCC365 Plus. Saya download dari Google Playstore. Saat install, pastikan aplikasi mendapat permission untuk akses GPS. Jika tidak, deteksi kamera akan gagal. Setelah install, bikin akun di aplikasi. Pastikan hape terkoneksi dengan WiFi 2.4G, karena kamera tidak support WiFi 5G.

Cara install jangan ikuti manual yang ada di kemasan (scan QR code) ga akan bisa (mungkin yang saya beli versi kw). Ikuti manual yang diberikan oleh seller. Ada dua mode: WiFi Mode dan AP Mode. Sebelumnya, nyalakan kamera dan tunggu sampai motor PTZ selesai berputar dan kamera bersuara “Please configure camera by AP hotspot or scanning code”.

WiFi Mode:

  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Tekan tanda + di kanan atas layar
  • Pilih Smart Camera
  • Pilih Addition of AP hotspot
  • Pilih Next
  • Pilih Go to Setting
  • Pilih WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcam_xxx
  • Pilih Back, lalu pilih Next
  • Aplikasi akan mendeteksi WiFi yang available di sekitar, pilih WiFi yang diinginkan (yang terhubung ke NVR dan/ atau yang terhubung ke Internet), isi password WiFi, dan pilih Next
  • Tunggu hingga proses selesai, beri nama kameranya.

AP Mode:

  • Sambung hape WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcsm_xxx
  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Pilih Local Direct Connection di kiri bawah layar
  • Isi device account: YCC365
  • Isi device password: 0123456

Menu pengaturan akan muncul seluruhnya saat kamera terhubung pada WiFi Mode. Kualitas gambar bisa diatur SD atau HD, walau saya bilang kualitas HD nya pun sesuai harga lah. PTZ nya tidak begitu sensitif, semoga awet, karena kamera saya taruh di luar dan dalam posisi terbalik. PTZnya benar bisa berputar horisontal 360 derajat dan vertikal sekitar 100 derajat. Infrared bisa diatur on/ off atau automatic. Saya prefer off karena depan rumah cukup terang saat malam. Audio terdengar cukup jelas. Saya tidak memasang sdcard, tidak mengaktifkan cloud storage, tidak mengaktifkan mode rekam, dan tidak mengaktifkan Intelligent Tracking, karena kamera akan dihubungkan ke NVR.

Seperti yang dijanjikan, ONVIF kamera terdeteksi oleh Zoneminder. Alamat RTSP nya: rtsp://xxx.xxx.xxx.xxx:554, dengan username admin dan password blank. Nice! Saya hanya belum sukses mengatur PTZ kamera via Zoneminder. Tak apa lah, saya memang lebih memerlukan ONVIF nya daripada PTZ nya. Kalau dua bulan lagi masih hidup, saya akan tambah satu lagi, sudah janji ke Pak RT.

Posted in DIY, IT Freaks, Shouts & Whispers

July 12th, 2020 by Adhi Widjajanto

Waktu PSBB saya ga bisa panggil tukang buat bersihin AC, eehh di masa transisi ini malah tukangnya yang ga ada. Di toko langganan saya terpampang tulisan “Dicari: tukang/ kenek Servis AC“.

So, kenapa ga bersihin sendiri aja? Perkara ngerjain sendiri, apapun itu kerjaannya, yang susah itu bukan cari alat atau waktu, tapi cari niat itu yang paling susah… 🤣 Tapi kali ini tinggal cari alatnya sih. Pompa air, saya punya Nilfisk, 100bar (1.450psi). Cuman dari hasil cari-cari sepertinya terlalu kuat, sirip-sirip evaporator bisa lepas. Mesti cari yang lebih kecil tekanannya. Pompa 160psi sepertinya cukup. Saya beli di olshop, sekalian dengan plastik cuci AC.

Rakit pompanya sih gampang, UYCS kalau kata para sohib di Perikertas. Cuman cara pasang plastik cuci AC nya hang rada tricky. Bentuknya seperti rumah terbalik, tapi satu sisi plastiknya lebih panjang. Setelah Googling, baru tahu ternyata sisi yang panjang diselipkan ke belakang AC, agar air yang jatuh tak mengenai dinding. Walau kelihatannya mudah, pasang plastik jahanam itu lebih lama dari bersihin ACnya…

Bersihinnya dengan hati-hati karena di bawahnya ada tumpukan koleksi milik BTS Army… 😁

Bersihinnya simpel. Lepas cover AC, copot stop kontaknya, pasang plastik cuci AC (jangan lupa kasih ember di ujung selang), dan semprot mulai dari blowernya dulu (yang paling menyenangkan), baru sirip-sirip evaporator. Dan yakinlah jangan sampai membasahi bagian kelistrikannya, saya kasih huruf tebal, karena ini yang paling penting. Setelah yakin bersih, lap kering sisa-sisa tetesan air, lalu colok stop kontak, dan nyalakan AC. Sisa air di blower akan terlempar keluar, angkat sedikit plastik cuci AC agar cipratannya tak kemana-mana. Setelah filter AC juga dicuci, kembalikan semuanya.

Biaya. Pompa cuci motor lengkap 189rb. Plastik cuci AC 26rb, ongkir gratis. Total cuman 215rb. Jasa cuci AC di tempat langganan dulu 50rb, cuci 5 AC udah balik modal, plus nambah konten di blog 🤣🤣🤣

PS. Buat outdoor unit, saya bersihin pakai Nilfisk. Posisinya cukup mudah karena sejajar dengan lantai 2 jadi bisa disemprot agak jauh biar tekanannya tak terlalu kencang.

Posted in DIY, Shouts & Whispers

June 6th, 2020 by Adhi Widjajanto

Kalau jok BR-V anda bunyi klotak-klotak saat diduduki, berarti posisi tumpuan jok bagian belakang tidak pas mengunci ke kaitnya. Biasanya karena jok pernah dibongkar untuk pasang sarung atau sejenisnya. Coba cara praktis saya memperbaikinya:

Kaki jok, masih ada covernya. Posisi baut kira-kira di situ, ga sempet foto tadi pas benerin.
  • Buka cover kaki jok, tarik ke depan bilah muka, bantu pakai obeng minus yang diselipkan ke ceruk antara kedua cover kaki jok
  • Kendorkan baut kaki jok, total ada 4 baut untuk setiap jok
  • Duduk di atas jok, goyang-goyang dikit, lalu kencangkan kedua baut yang ada di posisi depan sambil tetap duduk di atas jok
  • Lipat ke depan jok secara perlahan, lalu kencangkan 2 baut bagian belakang
  • Pasang kembali cover kaki jok, mulai dari yang bilah belakang, kemudian bilah depan. Pastikan kait-kait cover kaki jok terpasang dengan baik
  • Tes jok dengan duduk di atasnya, kalau perlu bawa mobil melalui jalan yang tidak rata

Works for me, setelah dari 2017 bunyi-bunyi setelah pasang sarung jok kulit… Wkwkwk…

Posted in DIY Tagged with: , , , , , , ,

April 7th, 2020 by Adhi Widjajanto

Terakhir ngerjain ginian tahun 2014. Sekarang jelas sudah lebih fasih. Dikerjakan di antara jeda meeting online (well, salah satu enaknya #workfromhome). Silakan dinikmati proses dan hasilnya. Ini terpasang di Honda BR-V.

Posted in DIY

March 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Honda BR-V yang bocor saat melalui genangan tinggi, ini beberapa foto tambahan untuk melapisi baut jok dengan sealtape agar air tidak rembes dari lubangnya.

Baut jok yang rembes air
Buka dengan kunci sok nomor 14
Pakai sealtape yang ga abal-abal
Lapis dengsn sealtape, kalau saya 12-15 putaran

Semoga sembuh rembesnya. Eh… Semoga Jakarta ga banjir lagi… Hehehe…

Posted in DIY, Shouts & Whispers

February 26th, 2020 by Adhi Widjajanto

Hari ini saya menerjang banjir cukup tinggi si jalan Daan Mogot, Jakarta. Kalau lihat dari rekaman dashcam, kira-kira 30-40 cm tinggi airnya.

Setelah sampai rumah, ternyata nasib BR-V saya ga jauh beda dengan rekan-rekan BRaVer lainnya: air masuk ke kabin! Usut punya usut ternyata air masuk dari baut jok depan yang bagian belakang.

Read more of this article »

Posted in DIY, Shouts & Whispers

February 7th, 2020 by Adhi Widjajanto

Karena saya hanya pakai mesin kecil untuk NVR, jadi saya kena banyak masalah, banyak error, banyak warning. System saya hanya pakai Intel Atom dan RAM 2GB.

Kemungkinan Crash Saat Mati Listrik

Sudah beberapa kali, kalau mati listrik server tidak bisa boot karena boot loader hilang tak bisa dibaca. Kenapa? dunno, di fsck selalu tidak terdeteksi adanya bad sector. Tapi kalau langsung reformat dan install Ubuntu selalu gagal karena disk tak terdeteksi. Perbaikannya gampang: copot harddisk, colok ke docking station, format ulang pakai Windows. Baru balikin dan install Ubuntu dari awal.

Muncul Warning Buffer Overrun

Tepatnya: Buffer overrun … slow down capture, speed up analysis or increase ring buffer size. Nah kalau ini karena RAM saya yang imut. Kalau ngikut hitungan di link ini, saya harus nge tweak beberapa konfigurasi dengan cara coba-coba yang sangat memakan waktu: gedein mapped memori jadi 70%, gedein image buffer size jadi 100, dan turunin target color space jadi 24.

Posted in DIY, IT Freaks

December 16th, 2019 by Adhi Widjajanto

Teman saya mengeluh klaksonnya hanya bisa berbunyi saat setir diputar 30 derajat ke kanan. Posisi lainnya mati. Oleh bengkel divonis ganti clock spring/ cable reel dengan harga jutaan. Di online shop ada sih cuman beberapa ratus ribu, sempet beli juga, cuman kualitasnya kawe sekian, rada serem pakenya.

Iseng saya cek pin lainnya yang tak terpakai, dan ternyata masih berfungsi. FYI, clockspring Livina ada 11 jalur, dan hanya dipakai 2 untuk airbag dan 1 untuk klakson. Jadi yang putus hanya yang digunakan oleh klakson saja, eh, mungkin. Saya ga sempet cek tuh kabel yang dipakai sama airbag…

Biar cepat, saya pindahkan pin klakson ke lubang sebelahnya.

Soket di sisi bodi mobil. Awalnya di situ, saya pindahkan ke sebelahnya ( no 2 dari bawah).
Soket di sisi tombol klakson/ airbag. Saya pindahkan ke bawahnya (no 4 dari atas).

Semoga awet.

Posted in DIY