Rumah baru

Yang satu ini, Tuhan benar-benar menguji kesabaran dan ketekunan
kami.

Dari awal kami bersepakat untuk mencari rumah tinggal sebelum melangkah
ke rencana yang lebih lagi (menikah! he…). Tahun 1998 kami sempat
getol keliling Jakarta Barat, keluar masuk perumahan, mencari tanda
"rumah dijual, hubungi…". Tiap kali ada pameran properti
kami pasti ada di sana. Tapi melihat harga, bentuk, ukuran, lokasi,
dan segala tetek bengeknya membuat kami menunda pencarian kami.
Ternyata mencari rumah di Jakarta susah juga ya.

Hampir setiap tahun kami mengulangi kegiatan hunting rumah ini.
Kami pun mulai searching di Internet, mendatangi broker properti,
dan kantor pemasaran perumahan. Hasil? sama saja. Aku hampir putus
asa. Untung saja ada Yanty yang mengingatkan (Pengkotbah 4:9-10),
untuk berserah kepada Tuhan. Aku dikuatkan kembali, tapi aku bukan
tipe orang yang hanya berserah kepada Tuhan semata tanpa melakukan
sesuatu. Setelah beberapa bulan "beristirahat", kami meneruskan
kegiatan ini, tanpa lelah (ya kadang saja sampai agak batuk pilek,
kehujanan).

Awal tahun 2000 kami menemukan rumah yang kami inginkan. Lokasi,
ukuran, dan bentuk sudah sesuai. Tinggal negosiasi harga dengan
pemilik. Ternyata Tuhan mementukan lain. Setelah baru beberapa hari
melakukan kontak telpon dengan pemilik untuk menentukan harga, ternyata
rumah tersebut telah terjual dengan selisih harga "hanya"
lima juta dengan penawaran kami. Saat itu saya kecewa. Sungguh suatu
harga yang mahal untuk setiap Sabtu naik motor berputar keluar masuk
perumahan, bertanya sana sini, melakukan kontak telepon, dan sampai
sedemikian dekat di tangan, akhirnya lepas juga. Kami terlalu berharap
pada kemampuan kami sendiri. Itu ujian besar kami yang pertama.

Sejak saat itu kami lebih mempercayakan pilihan kepada Tuhan. Tidak
pernah "ngoyo" kalau memburu rumah yang kami inginkan.
Jika penawaran harga kurang cocok, kami diamkan saja sampai pemiliknya
menghubungi kami kembali. Kami merasa bahwa usaha kami dalam tawar
menawar hanya sampai kontak pertama atau kedua saja. Selebihnya
kami serahkan kepada Tuhan untuk mengurusnya. Hal itu membuat kami
lebih tenang, berpikiran lebih luas, dan yang penting tidak mengganggu
kegiatan kami yang lain.

Selanjutnya hanya kerikil-kerikil kecil. Ada beberapa penawaran
yang sudah di depan mata, hanya beberapa masalah kecil saja. Tetapi
malah membingungkan. He…, yang dulu susah mencari, sekarang malah
bingung untuk memilih. Yanty pernah memohon kepada Tuhan, untuk
memberikan yang terbaik bagi kami. Pilihan minggu pertama, Rumah
bekas, siap huni, tapi lokasi di pinggir perumahan. Pilihan minggu
kedua, rumah bekas juga, besar, siap ditingkat, tusuk sate, perlu
renovasi. Pilihan minggu ketiga, rumah bekas juga, lokasi bagus,
lebih kecil dari pilihan kedua, termasuk 2 AC, siap huni.

Setelah beberapa minggu bertukar pikiran dan berdoa, akhirnya keputusan
jatuh di rumah kedua. Negosiasi pun tidak berjalan dengan lancar.
Perlu 2 bulan untuk menetapkan harga! Proses di notaris pun hampir
serupa. Ternyata kami berhadapan dengan pemilik yang cerewet dan
tidak percaya kepada siapapun. Puji Tuhan, semuanya telah selesai
awal Januari 2001.

Dari pengalaman ini kami mendapat banyak sekali pelajaran. Kesabaran,
ketekunan, rendah hati, berhikmat…, hampir semua ego kami serahkan
kembali di tangan Tuhan.

Catatan akhir:

  • Daya jangkau Internet sungguh luar biasa. Akupun kenal dengan
    pemilik lama ini karena dia memasang iklannya di Internet. Makanya
    aku bikin situs ini untuk menyebarkan kisah bersama Yesus-ku agar
    bisa dibaca oleh semua orang (dan berharap bisa menjadi berkat
    pula…)
  • Berdua itu baik. Bertiga apalagi. Banyakan sangat bagus! Jangan
    sampai engkau lepas dari komunitasmu. Apalagi sampai "madol"
    dari pertemuan-pertemuan rohani (komsel, de el el).
  • Ada kalanya Tuhan memberikan engkau kebebasan untuk menentukan
    pilihan. Ada kalanya pula kita harus menyerahkan pilihan itu kepadaNya.
    Kita mendapat hikmat dari Tuhan salah satunya untuk membedakan
    hal seperti ini.
  • Segala perkara di dunia ini akan menjadi pelajaran berharga
    jika kita menghadapi dan melihatnya di dalam Kristus.
  • Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
    dan bertekunlah dalam doa! (Roma 12:12).
January 22nd, 2001 by