2010 ini merupakan tahun yang berat buat saya. Pelayanan di Pria Sejati mandeg nggak ada aktivitas. Kerjaan di kantor juga “makan gaji buta” karena nggak ada proyek baru sama sekali. Di penghujung tahun ini saya malah merasa kena rintangan bertubi-tubi. Diawali dengan dibatalkannya Men’s Camp karena yang daftar kurang dari 5 orang. Lalu beberapa kejadian tidak mengenakkan yang tiba-tiba saja muncul di rumah. Ditambah tanda-tanda dari perusahaan: jah, apa yang ada di pikiran anda kalau boss bilang, “…jika kamu punya rencana lain, silakan dimulai…” Saya benar-benar merasa membawa keluarga saya ke ujung dunia.


Tak perlu introspeksi diri. Saya sudah lama sekali meninggalkan komunitas saya yang seharusnya: komunitasnya Allah. Ke gereja malas-malasan, bayangkan, sampai anak-anak sering bertanya, “Kita nggak ke gereja hari ini Pa?” Mereka dah kangen sama sekolah minggunya. Perpuluhan di rumah sampai bertumpuk 2 amplop, yang akhirnya ditransfer ke rekening gereja oleh Yanty, istri saya.
Saya juga sering menghindar pertemuan-pertemuan CMN. Alasannya simpel: saya lebih mementingkan bertemu dengan keluarga. Yap, keluarga yang saya bangun ini tidak dicapai dengan mudah. Ditentang keluarga, modal sendiri, mikir sendiri, etc… etc… Makanya saya sudah menjadikan keluarga di atas segalanya. Kedengarannya bagus ya, tapi salah. Yang paling atas itu harusnya Allah dan pekerjaan-pekerjaannya.
Kemarin, saya mendengar cerita yang mirip dari rekan-rekan seperjuangan di CMN Barat. Karena rendahnya intensitas aktivitas pelayanan ini, menjadikan kami kurang berkomunikasi, banyak yang jadi “berjuang sendirian” melawan dosa masa lalu. Tak diragukan lagi, alumni Pria Sejati yang lain pun pasti mengalami hal yang sama kalau mereka tidak punya komunitas yang seharusnya. Kenapa hal itu bisa terjadi? Lalu bagaimana selanjutnya? Itu beberapa dari sekian agenda yang kami bahas di retreat Api CMN hari Sabtu – Minggu lalu di D’ Agape, Ciawi.
Semuanya disiapkan secara mendadak. Semua sadar kalau pertemuan ini sangat penting untuk diadakan, walau mungkin yang datang hanya 7 orang. Puji Tuhan sampai pada saatnya kepala yang ikut panas berjumlah hampir 30. Datang tepat waktu, acara dimulai jam 6 sore. Kepala panas mulai jam 7.30 setelah makan siang, sampai jam 23.30. Exhausted. Saya sendiri masih harus merekap semua yang sudah dikeluarkan. Baik itu uneg-uneg, kritik, saran, usulan, dan ide. Masuk kamar jam 12 malam, saya rangkum belasan lembar corat-coret menjadi dua halaman. Tahu nggak, kejadian ini saya belum cerita ke siapa-siapa: Allah memberi saya sukacita saat merangkum semuanya itu. Bersemangat, nggak ngantuk, nggak pegal-pegal. Padahal posisi saya bekerja sama sekali nggak enak: duduk di kasur empuk hawa dingin dan 3 rekan yang sudah tidur dengan pulasnya.
Hari ini, satu dari sekian agenda itu akan dilaksanakan: Kompas jam 19.30 di kompleks depan rumah. Saya akan di sana nanti. Berharap banyak saat saya merapat kembali ke Allah, pekerjaanNya semakin dahsyat terasa di keluarga saya.
PS: Saya tidak menyalahkan rendahnya aktivitas CMN Barat membuat saya jadi mendapat banyak rintangan. Saya menyalahkan diri saya sendiri sebagai sebab kenapa CMN Barat jadi rendah aktivitas.
MOS: Tuhan, kuatkan saya untuk kembali merapat kepadaMu.

Sendirian? Loyo!

One thought on “Sendirian? Loyo!

  • December 1, 2010 at 11:00 am
    Permalink

    Tetap semangat bro….show must go on….GBU

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.