www.priasejati.or.id www.narkoba-metro.org

January 1, 2009

End Year

Saya pikir malam pergantian tahun di kompleks bakal lebih sepi. Ternyata tidak. Para tetangga yang 'rela' membakar 'uang lebih'nya, seperti tahun lalu, menyalakan ratusan kembang api raksasa. Ramainya sama saja. Tak ada yang berubah, seakan resesi global dilupakan sejenak di tanggal 31 Desember..

Jam 16.45 saya baru keluar kantor. Beres-beres seakan tak ada habisnya. Untung jalanan lengang, 1 jam sampai rumah. Para A'ie Willi & Sisi baru datang jam 19 membawa ransum seabreg dan sekilo cumi & udang untuk dipanggang. Perlu setengah jam untuk menyalakan arang. Kipas komputer tak cukup kuat. Hem, note untuk acara bbq selanjutnya: siapkan desk-fan, bukan pc-fan. Pakai kipas tradisional? Cape. Paling tidak acarg panggang memanggang kali ini sukses. Udang & cuminya berasa manis gurih. Entah karena masih fresh atau karena bumbu bbq. Jagung bakar? Sudah habis 2 jam sebelum 'the count down'.

Soal itu, 'the count down', saya pun tak seantusias tahun-tahun lalu. Hanya 1-2 letupan model baru, sisanya ada di koleksi foto kembang api. Jam 2, setelah telpon TP11 dan menghabiskan soft drink, kami semua terkapar. Saya sendiri bangun jam 9. He...

Happy new year Guys!

December 31, 2008

Our New Office


Difoto saat malam hari, saat semua sudah pulang kecapean beres-beres barang yang rasanya nggak ada habisnya.

December 30, 2008

Back Online!

Phew! Akhirnya setelah seminggu putus karena pindahan, siang ini server-server sudah kembali online. Nice! Bisa blogging gratis lagi, bisa Plurking gratis lagi... :D

December 26, 2008

Natal Personal

"Natalan mo di mana?" Banyak yang tanya begitu. Beberapa mengharapkan jawaban tempat ibadah, beberapa lagi tempat wisata. Well, nope. Kami sekeluarga sudah merayakan Natal tanggal 21 di gereja. So, tanggal 25 adalah "Natal Personal", hanya Saya, Yanty, Willi, dan Sisi.

Pagi-pagi dibangunkan anak-anak yang sudah ribut tak sabar membuka kado Natal (deuh...). Siangnya jalan-jalan. Malamnya? Dinner @ Pizza Hut! Hehehe...

Merry Christmas everyone!

December 22, 2008

GCI On The Move


Baru kelihatan banyak barangnya saat dikumpulkan di dalam satu ruangan. Sejak nongol tahun 1997 di Jl. Mandala - Grogol, trus pindah ke Wisma Bank Surya - Thamrin, trus ke lt. 10 Menara DEA - Kuningan, trus ke lt. 2 di gedung yang sama, trus ke Plaza DM lt 25, trus ke blok lain di lantai yang sama, trus ke lt. 24 masih di gedung yang sama, dan akhirnya ini ke lt. 3 tetep di gedung yang sama. Berapa kali tuh? 7 kali ya. Saya ikut mengalami yang 6 terakhir. Saya juga yang ngurusi networknya untuk yang 6 terakhir. Tapi yang kali ini saya juga ngurusi layout ruangan! Hui! Besok lagi saya bisa jadi kontraktor interior, hehehehe...

Foto lt.3? Mau? Ntar kalo udah jadi aja... wkwkwkwkwk...

December 5, 2008

Durian Kita

Barusan Bokap ngemail, isinya bener-bener bikin homesick...

ini gambar sebagian duren di pohon belakang dekat tower

Huuu... huuu... Aku dikirimin ga ya... aslinya maksudnya...

November 19, 2008

"Speedy Terpasang Di Rumah"

Itu SMS Bokap barusan. Whaa... Enak juga ya. Hm... kapan giliranku???

November 14, 2008

M2A2 Bradley IFV

Gara-gara membuat ARC-170, saya jadi kenal dengan Jules, desainernya. Sempat beberapa kali chat di Y!M, sampai dia nyeletuk mau nge-desain Bradley. Pikiran saya langsung tertuju dengan buku-bukunya Tom Clancy. "Indent", itu yang terketik langsung di keyboard. Rabu minggu lalu (kalo nggak salah) Jules announce the design, tapi di JulesCrafter! Whaa... murah sih, 20 ribu. Tapi saya kan nggak punya akun buat transfer-transfer. Heh... pasrah deh. But... masih Ada yang sayang sama saya. Jumat Jules menawarkan beta builder di thread Kaskus. Saya langsung ngacung secepat kilat, he...

Dan akhirnya PDF nya datang juga. Jules bilang hanya dua orang yg jadi beta builder. Deu... beruntungnya saya. Setelah mengucapkan terima kasih berat, saya langsung print. 100gr? 160gr? Jules bilang 100gr cukup soalnya desainnya cuman 15 senti. Ah, pusing amat, sudah mo buru-buru pulang, print 2x saja. Malamnya saya mulai dengan yang 100gr. Langsung menyerah pada part pertama yang paling gede, jari saya terlalu besar rasanya. Akhirnya beralih ke 160gr.

Parts yang kecil-kecil membuat saya sering menahan nafas saat memotong dan menempel. Badan jadi cepat cape'. Tapi akhirnya kemarin malam jam 11.30 jadi juga setelah berjibaku selama 7 malam 2 hari!. Sesi pemotretan baru nanti malam bareng Willi. Yang ini teasernya dulu...

November 13, 2008

Daun Kering

Kemarin ternyata bengkel sukses menggantinya dalam sekejap. Sampai rumah, saya amati ternyata patahannya sudah berkarat, dengan kata lain patahnya sudah cukup lama. Deu... Kapan? Kenapa? Jelas tak akan terjawab.

November 12, 2008

Daun Langka

"Pak, per daunnya nggak bisa beli satu doang, mesti set, harga 700 ribuan". Deu... deu... Kalau mikir cepet saya pasti bilang, "Biarin, yang bayar kantor ini". Tapi ini kan kantor saya? Hehehe...

Akhirnya mesti dibawa ke bengkel juga, diakalin or diganti satu lembar doang. Jadi, besok kayaknya masih naik TiJe deh, kecuali kalo saya ambruk lemes. Ni badan rasanya mo flu... hiks...

Daun Patah

Dua hari lalu saya pulang lewat Taman Ratu. Air menggenang di jalan membuat saya menyetir perlahan. Genangan sedikit pun bisa membuat Espass terbatuk-batuk (jadi inget pernah mogok di lajur kanan tol dalam kota... ngeri...). Jelas tak hapal lubang di jalan, ada satu yang rasanya cukup besar. Roda depan masuk cukup keras, saya lalu lebih memelankan mobil. Tapi ternyata kurang pelan, roda belakang masuk cukup keras juga. Sampai di sini saya baru sadar, setir posisinya miring ke kiri! Weh... ada yang nggak beres nih. Sampai Daan Mogot, mencari tempat yang agak lengang & terang, saya cek roda & kaki depan. Beres. Belakang? Whaa!!! roda kiri amblas ke dalam!

Tak ada penerangan cukup, saya hanya meraba2. Roda masih bisa bebas menggelinding. Ada dua pilihan: putar balik dan menitipkan mobil di bengkel (Astrido cuman berjarak 1-2 kilometer dari situ) atau terus pulang (masih 5-10 kilo lagi) dan melihat kondisinya lebih jauh. Saya pilih yang kedua, soalnya mencoba telpon ke bengkel, satpam pun tak mengangkat. Saya teruskan pulang ke rumah, kecepatan max 20-30kph. Legaaa... rasanya waktu mobil sudah parkir di depan rumah. Saya langsung mengambil senter, dan... gasp... per daun nomor 1 (paling atas) patah! Deu... itu kan plat baja setengah senti! Pasrah dah.

Besoknya saya nggak masuk kantor, idenya mo manggil mekanik & tunggu di rumah. Jam 8 sukses telpon ke bengkel dan akan dikabari. Sampai jam 15.30 belum ada kabar, saya telpon balik ke bengkel. Eh, ternyata per daun saja harus inden! Whaa... Hari ini saya ngantor nge-busway. Mereka akan datang ke rumah & pasang kalau barang sudah ada. Hm... semoga hari ini dapat.

Btw, naik ojek jam 6.05 ke Sumur Bor, 6.10 naik busway, 7.15 sampe kantor. Hm...

October 27, 2008

Six years of marriage

Sayapun masih menghitungnya dengan jari tadi malam sebelum membisikkannya di telinga Yanty sebelum tidur. Masih sedikit, takut salah, membuyarkan romantisme yang sudah dibangun... :P

Di lain sisi, enam tahun itu tak juga cepat. Enam tahun yang tak bisa dibilang gampang, hanya karena Allah saja kami bisa bertahan. Banyak cerita, kalau saya summary di sini, anda jadi enggan baca postingan-postingan saya sebelumnya... kekekeke...

Nah... happy anniversary Say!

August 1, 2008

Dua belas tahun yang lalu

Beberapa minggu lalu saya menemukan ketikan kartu ulang tahun buat Yanty, yang ke dua puluh tiga! Wow, masih muda sekali kami waktu itu ya, mengingat sekarang sudah tiga puluh empat tahun. Pertama kali kami bertatap muka itu di depan kampus, depan gedung DMU (Dept. Matakuliah Umum). Yanty menunggu saya jemput untuk survey lokasi KKN, hmm... tahun berapa itu ya... mesti buka catatan offline saya.

Dua belas tahun lalu, di tanggal yang sama, saya berjanji pada Yanty untuk menemaninya selama satu bulan saat liburan semester, dengan dalih akan menemaninya menyusun skripsi. Padahal saya hanya ingin punya teman saat liburan. Sebagai "Penjaga Salatiga", teman-teman saya yang kebanyakan kost sudah mudik ke rumah masing-masing. Hasilnya, Yanty tetap nongkrong di kost selama Agustus 1996 sementara saya tiap hari... hampir tiap hari kalau tidak sedang bertengkar atau ada serial The X-Files di hari Rabu... main ke kostnya.

Dua belas tahun yang lalu, dan sampai detik ini pun kami tetap memegang janji itu...

July 23, 2008

Ultah Willi Ke-5







Tiup lilinnya... tiup lilinnya...


Potong kuenya... potong kuenya...


Peluk Sisi... yang "diculik" dari kelas sebelah


Gantian dipeluk Miss Evi



Kado...


With the girls..."


With the boys..."

July 7, 2008

School Holiday @ S3

Ternyata saya ndak kuat kalau mulai nyetir luar kota dengan start jam 9 malam. Sampai lokalan Brebes saya "pingsan" 30 menit di pom bensin terdekat, habis itu kebut lagi. Sampai Semarang jam 7an kali, trus bablas nganter pengasuhnya anak2 pulang dulu ke pucuk Kopeng. Dinginnya menusuk kulit, tapi saya turunkan juga kaca mobil. Anak-anak sampai menarik selimutnya kembali.

 

Salatiga sedang dingin-dinginnya, mengingatkan saya pada belasan tahun yang lalu. Hari Minggu bangun pagi disambut udara super segar dan birunya langit yang sempurna. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya (kata orang tua saya) membuat hawa semakin dingin, disertai sinar matahari yang tak terhalang apapun. Terang benderang tapi dingin, katanya ini yang membuat kulit jadi mudah terbakar.

 

Siang harinya kami ke Tlatar, Boyolali, wisata air. Pertama datang langsung disuguhi pemandangan sungai jernih beraliran deras. Dasar sungai berbatu hitam tanpa kotoran plastik dan sebangsanya. Di kiri kanannya beberapa orang sedang mencuci pakaian, sambil bertelanjang dada (pria) atau bertelanjang paha (wanita), saya sudah mengangkat kamera, tapi tak jadi memotret, takut digebuki... hehehe...

 

Makanannya lumayan. Mereka hanya sedia ikan goreng dan bakar. Gorengnya sangat garing, anak-anak sampai mengunyah duri-durinya. Bumbu bakarnya berasa unik, entah dicampur apa. Worth to try, but that's it.

 

 


Tanggal 30 keponakan saya ulang tahun. Hadiah dari pengasuhnya spesial: kelinci! Hee... Ini tampang imutnya...

 


Tanggal 1 gantian Yanty yang ultah. Nothing special (yet), cuman malamnya kami ke MJ resto di bilangan ABC. Menunya biasa saja, tempatnya lumayan.

 

Tanggal 2 seharusnya kami ke Joglo Rini, tapi disambut dengan banner, "tutup", bah! But blessing buat anak-anak. Eyangnya keceplosan menyebut KFC dan disambut dengan koor ceria. Lumayan sih, kami bisa santai dengan menu yang tak memerlukan otak untuk meresapinya...

 

 

Tanggal 3 pagi kami meluncur ke Museum Kereta Api di Ambarawa. Niatnya mau naik kereta uap, apa daya mesti carter dua gerbong hampir 3.5 juta! Woops! Besok lagi kami mungkin akan bawa rombongan puluhan orang agar "cucuk" dengan biayanya. Fun for the children, fun for me & Dad too bisa foto2 barang-barang kuno perkereta apian Indonesia. Kami juga menyempatkan menyusuri rel Ambarawa - Kopeng dengan kereta wisata.

 

Sehari sebelum pulang akhirnya kami berhasil juga ke Joglo Rini. Ini kali kedua saya setelah sebelumnya ke sini karena undangan nikah Ko David. Pagi hari sudah amazing dengan backyard kolam ikan dan sawah. Malam hari memberikan sensasi yang tak kalah bagusnya! Kami pesan iga panggang. Enak, tapi terlalu sedikit buat porsi saya. Kali lain ke Salatiga saya pasti ke sini lagi untuk iganya. Nyam-nyam...

 

Liburan penuh suka saja tak akan berkesan. Saat pulang ke Jakarta, tanpa disadari kami hanya bergantung pada dua dari puluhan serat baja yang menarik tuas kopling mobil. Sampai di pintu gerbang tol Sedyatmo, dua serat itu memutuskan untuk menyerah, menyuruh saya mendorong dari gate 6 ke pinggir. Untung sedikit turun. Perlu 3,5 jam untuk menghubungi bengkel langganan, menunggu mereka datang, mengganti kabel kopling, dan ke bengkel untuk pembayaran.

 

Plus, eyecup 350D saya lenyap entah dimana, entah kapan. Mahal lagi, 167 ribu di JPC. Halah!

June 2, 2008

Baby Chloe

"Akhirnya aku punya keponakan juga..." celetuk Yanty. Well, di keluarganya memang penyumbang keponakan terbanyak memang dari kami: 2 :D

Foto Chloe bisa diklik di sini... Maaf baru satu... Sisanya biar nyokapnya aja yg pamer...

May 22, 2008

Sekeping Harapan

Indonesia belajar berdemokrasi dengan pilkada. Saya juga sedang berusaha menerapkannya di kantor ini. Bukan pemilihannya, tapi demokrasinya... :D

May 19, 2008

Replacements

Bulan lalu saya berbuat ini:

Sabtu kemarin, saat membongkar mobil, saya menemukan ke"parah"an seperti ini:

dan menggantinya (sementara) dengan ini:

Sepertinya bakal ada beberapa lagi yang harus saya ganti lagi. Entah di mobil, entah di rumah, entah di sisi kehidupan saya yang lainnya. Dua bulan terakhir ini saya benar-benar drifted, nggak bisa mikir lurus. Banyak yang saya korbankan sia-sia.

Hari ini saya mulai dengan kepala berat. Kemarin nggak bisa tidur blas. Merebahkan diri jam 2 pagi hanya gara-gara reporter di TV mengucapkan "selamat pagi".

May 13, 2008

AV-98 Ingram Status: Assembled

Finally it fully assembled! Sampe jam satu tadi pagi. Walau ada satu part yang "patah" tapi tak menghilangkan fungsionalitas & estetikanya. Hghly posable. Tunggu sampai saya pasang stickers & decalsnya. Tak yakin dengan kemampuan saya menorehkan marker. Hee...

May 11, 2008

12 hours exhausting moments

Wake up early @ 5 am. Can't get enough sleep while got awake every couple hours. Nervous? Probably. Take a quick bath, dressed up, quick pray with my wife, and drove to the airport, it was 6.30. Make a quick stop for refueling, then drove as fast as the car allowed to park gate B1. Hope i can remember the spot, i ran for checking in. Kinda late for a window seat. But "Something" cares me that morning. 25F! The last in the tail, right behind the jet engine. It's quick flight without delay. I've got nervous again, kept reminding "it's just another business meeting" didn't work well. Arrived @ 9 am. They made me wait @ the airport until 10.30! That was very stressful! 11 am. I was made to the meeting, it's a chinese restaurant. Dumplings! Gosh... it remind me to the office gathering last 2 weeks when we're eating "all you can chew & swallow" dumplings. They came 5, adding 1 more surely enhance the cheer. I was in a good mood. English chatting is always easy, but kept him sat next to me is one thing, "I must" talk to him! Hahaha... Later we continue more serious talks in a cafe. No exact conclusion, I say bye to them @ 1.30 pm. Rush to the airport just facing 2 hours delay! Aarrggh! Barely ran again through the departure hall & found my car park in a glitch, got home @ 7 pm. The children's voices and screams relieved me. My wive warm kiss & her new hair cut gave me more. What a day. I probably won't do that again. Twice is more than enough (the first was in Singapore, years ago).

April 30, 2008

Teman... blogger lama

Hari ini saya lembur. Apes, padahal besok libur. Jam 15.30 tadi saya diajak rapat mendadak soal proyek baru. Kelar meeting jam 17.30 dan membaca SMS staff saya yang sudah meluncur pulang duluan, "Mctnya prh bgt di blkg sm casablnc. gw dr td br smp wtc" Ampun! Saya lebih baik menunggu jam 8 saja.

Sembari nongkrongi batch-job SAS yang seharusnya tak layak ditongkrongi saya baca-baca email dan install XP di atas VirtualBox. Tiba-tiba "pacarnyabudi" nongol di jendela Kopete, saya langsung teringat dengan blognya, tulisannya... euh... gaya tulisannya yang ngangeni sih. Ternyata.... hehehehe

Setelah kunjungan saya terakhir, blognya sudah berubah, lebih cantik, lebih rapi, lebih enak dibaca. Sempat ngobrol beberapa saat, sampai kemudian kami berdua tenggelam lagi dalam pekerjaan masing-masing.

What a nice coincidence, eh?

March 7, 2008

Berbagi Pengalaman Hidup

Dua minggu yang lalu Viktor meminta kesediaan kami berdua menjadi narasumber di komsel ibadah Dewasa Muda. Tema: membangun keluarga... atau semacam gitu lah. Ehm... Saya ragu sejenak. Bukan karena temanya, tapi tempat komselnya! Cideng hari Rabu jam 7 malam termasuk tempat yang 'susah' untuk didatangi. Well, setelah tanya Yanty, kami mengiyakan juga.

Mundur jadi Kamis, untuk menghindari macet saya jam 4 sore dari kantor jemput Yanty. Jam 5 langsung dari Kota ke Cideng. Macet di perempatan Tarakan, sampai di lokasi hanya setengah jam. Sempat menonton warga Hindu membakar ogog-ogog, lalu makan nasi goreng (kebanyakan minyak!) di pinggir jalan. Sampai jam 7.15 kami baru berhasil masuk tempat komsel. Aneh, di jalan itu yang bernomor '2' ada dua rumah!

Mereka mulai tepat waktu, saat kami masuk mereka sedang 'mencairkan suasana'. Hee... ice-breaker masih ada ya? Viktor memberi gambaran 'komsel jomblo matang'. Yang Saya lihat, mereka masih muda sekali! Dion pun masih terlihat culun di antara mereka. He...he...he... Beberapa muka lama seperti Dion, Viktor, Johny, dan Lie Mi (cmiiw) yang sudah kami kenal sebelumnya. 2 lagu, doa, kenalan, dan 16 pemuda-pemudi ini kemudian siap dengan pertanyaan-pertanyaan mereka setelah Saya bercerita sedikit tentang keluarga kami sendiri.

Mereka menanyakan hal-hal ini bergantian. Saya mencoba meringkasnya, semoga bisa berguna untuk orang lain juga.

Continue reading "Berbagi Pengalaman Hidup" »

February 26, 2008

Influencer

Pak T.A, seorang notaris di Jakarta, mengajukan dirinya sebagai calon wakil gubernur Maluku periode 2008 - 2013 di bawah bendera PDIP. Kebetulan beliau juga menjadi salah satu notaris langganan bank tempat Yanty bekerja. Suatu hari mereka sempat ngobrol soal pencalonan ini. Yanty hanya nyeletuk beberapa kalimat saja, intinya menanyakan tujuan utama pencalonan itu. Cari uang? Jelas sebagai notaris Pak T.A. bisa dibilang sudah lebih dari cukup. Cari ketenaran? Beliau dicalonkan karena termasuk salah satu putra daerah yang berhasil di rimba Jakarta, bisa dikatakan: tanpa jadi wagub pun sudah terkenal. Lalu? Pak T.A. nyeletuk, "Yah... hanya rame-rame bareng teman-teman saja Bu Yanty". Not a solid base reason.

Senin kemarin, di salah satu harian nasional nama-nama calon diumumkan. Pak T.A tak ada di daftar. Rumor yang sampai ke telinga Head Legal Wilayah 1, menyebutkan bahwa salah satu anak buahnya lah yang menyebabkan Pak T.A tak jadi mencalonkan diri. Whaa...!!!

Sore hari saat Yanty naik angkutan umum pulang ke rumah, beliau menyempatkan menelpon, mengucapkan terima kasih atas pemikirannya. Percakapan hari itu, katanya, membuat beliau berpikikir berhari-hari, sampai akhirnya mengambil keputusan itu.

What a conversation...

PS: Beberapa berita ada di sini:
DMS FM
Situs PDIP
Harian Siwalima
Kantor Berita Antara

February 25, 2008

Mouse Trap

Sabtu lalu saya dan Yanty sempat terpana dengan benda itu. Racun tikus! Buset. Saya saja yang sudah tidak bisa dibilang "anak-anak" saja masih tertarik dengan bungkus kuning cerah, yang mengingatkan saya pada plastik M&M. Nyam... Bagaimana dengan anak-anak? Gambar ini saya jepret di salah satu tempat publik lho, yang kebanyakan para ibu-ibu yang membawa anak lebih memperhatikan "belanjaannya" daripada anaknya sendiri.

Balik ke kemasannya. Sepengetahuan saya, tikus lebih tertarik pada bau daripada warna, jadi pemilihan warna kuning lebih ditujukan kepada manusia. Lalu kenapa kuning? Biar menarik perhatian semua orang? Mungkin saja. Gambar tikus dan tulisan "jauhkan dari jangkauan anak-anak" oleh produsennya dirasa sudah cukup. Asumsi yang berbahaya, soalnya soal racun tikus sepertinya tak masuk dalam daftar kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan.

February 4, 2008

Semalam di Tol Sedyatmo

Lucia (2/1/2008 12:14:01 PM): kg plg neh,..banjir loh jlnan

Hanya satu baris YM itu saja yang saya baca, selanjutnya sudah turun ke tempat parkir dan pulang, diguyur hujan super deras. Menyempatkan diri mengisi bensin di Semanggi, saya lihat genangan air hampir sampai di tutup tangki bawah tanahnya. Saya langsung berputar di Semanggi ke arah Slipi.

Tol macet! Saya putuskan untuk tetap di arteri. Radio bilang daerah Citraland banjir. Euh, saya mau tak mau harus masuk tol untuk menghindar banjir. Masuk di Slipi, ternyata pilihan saya tak begitu bagus: seluruh toll lane kebanjiran! Merayap, sepertinya jalan kali lebih cepat. Jam 6 sore genangan air mulai terlihat. Bwhaaa...! Tinggi! Saya sempat lihat sebuah CRV menerobos dari arah yang berlawanan, setinggi kaca spion! Eh... eh... lolos juga dia. Saya dapat jalur yang cukup ringan, tapi harus berdesakan dengan motor dari arah depan: 20cm. Setelah itu arah Pluit & Bandara lengang. Ngebut, sambil mencoba telpon Yanty yang tadi bilang tak ada kendaraan sama sekali untuk pulang, tak ada jawaban.

Jam 6.30 ternyata mandeg di pintu tol Sedyatmo. Beberapa orang "sok" mensortir kendaraan. Yang tinggi suruh lewat, yang rendah (termasuk saya) disuruh minggir.
"Kenapa Pak?"
"Banjir, sedada" sambil menaikkan tangannya di depan dadanya. "Lebih baik Bapak balik lagi aja, nggak bisa lewat"
"Keluar Kamal pun nggak bisa?"
"Nggak. Tapi kalo Bapak mo maksa ya silakan"
Waduh! Akhirnya saya parkir di tempat yang cukup aman (di parkiran kantor Jasa Marga) lalu keluar mencari info. Yang saya dapat ada 1001 versi! Ada yang bilang exit Kamal bisa dilalui tapi macet. Ada yang bilang exit Kamal dipakai untuk jalur balik arah dari Tol sehingga macet. Ada lagi yang bilang exit Kamal termasuk yang terendam satu setengah meter. Itu semua saya dapat dari orang-orang Jasa Marga. Bikin pusing saja. Coba renungkan pengumuman resmi dari Jasa marga di pintu tol:
"Diberitahukan kepada seluruh pengguna jalan tol, bahwa di kilometer 25 sampai 27 terdapat genangan air setinggi satu setengah meter, sehingga tidak dapat dilalui oleh kendaraan apapun. begitu pula dengan exit Kamal. Jangan memaksakan kendaraan anda. Pilihan terbaik adalah berbalik, arahkan kendaraan anda kembali ke Jakarta. Jika anda tetap memaksa terus, siapkanlah logistik dengan cukup karena setelah pintu tol ini tidak ada putaran balik lagi dan surutnya air tidak dapat diprediksi."

Jam 8 malam Yanty telpon sudah sampai rumah, jalan kaki dari Pantai Indah Kapuk ke rumah di Kalideres! Sedikit lega, saya mulai berimprovisasi: ikutan ngantri di pintu tol. Di daerah itu pun sudah tak ada logistik, keputusan awal tidur di pintu tol menjadi pilihan yang tak menyenangkan. Lebih baik tidur di jalan, sambil pelan-pelan merangsek pulang. Memang benar-benar parah. Berjalan 10 - 25 meter, lalu berhenti satu - dua jam. Tak ada air minum, saya berusaha untuk benar-benar tidur. Dibangunkan oleh klakson truk saat sudah bisa jalan lagi, hanya untuk lagi-lagi 10 - 25 meter.

Sampai di exit Kamal saya mencari genangan air, yang ternyata tak ada! Bekasnya pun sudah kering! Ampun! Jadi saya berjam-jam terganjal orang-orang yang nekat mau ke bandara. Coba kalau setelah exit Kamal diportal, tak akan ada penumpukan kendaraan seperti ini karena semuanya akan keluar ke Kamal.

Sampai rumah jam 5.30 pagi, hari Sabtu! Mandi... trus tidur.


  • mejeng di depan Taman Anggrek, dari jalur 1 tol dalam kota
  • motor masuk tol, melawan arus lagi
  • danau dadakan di depan Citra Land

December 4, 2007

Hujan 9 jam + Citra 6 = banjir 30-60 cm

Tadi pagi bangun jam 5 masih hujan. melirik tempat-tempat langganan bocor di rumah. Eh, nambah, kamar anak-anak di lantai dua bocor. Pakai atap asbes, harusnya tidak bocor kalau hujan tanpa angin. Weh, mesti naik ke atas nih.

Jam 6.30 naik ke mobil sambil payungan soalnya tadi malam tidak dimasukkan ke carport. Distarter nggak mau! Mogok! Kedinginan! Haiyaaa... Untung aki masih kuat, setelah dicoba 30 menit baru bisa greng. Tangan saya sudah kotor karena sempat membuka kap mesin. Enaknya Espass, bisa buka kap mesin dari dalam, tanpa kehujanan. Jalan deh.

Sampai depan kompleks langsung brenti, liat depan air menggenang tinggi banget kayaknya. Di depan ada Honda Jazz lewat. Saya lalu memberanikan diri. Eh... eh... ternyata tinggi airnya! Mbrebet sedikit, langsung saya menyerah, daripada mesin kemasukan air. Dorong yuk! Weleh, yang bantuin ternyata tukang sampah kompleks dan pedagang buah langganan Yanty di pasar. He... udah siapin dua lembar lima ribuan, akhirnya diterima juga sama adik tukang sampahnya, sementara mas pedagang buah hanya nyengir dan ngeloyor pergi.

Lalu mau lewat mana? Nggak bisa balik lagi karena jalan balik ke rumah airnya setinggi 60 cm. Memberanikan diri lewat apartemen Taman Surya, balik lagi setelah melihat Kijang kapsul mogok di tengah genangan air. Lalu lewat tengah pasar Bambu Larangan, tembus Taman Surya depan, lalu berjibaku dengan air 30 cm sepanjang Taman Palem Boulevard. Sampai outer ring road kering. Halah!

Yanty sampai kantor jam 8 lebih, sementara saya bisa ngebut sampai kantor jam 9. Office boy pun tak tampak, saya yang buka kantor jadinya. Dengar di radio, nanti sore bakal hujan lagi. Duh, lebih baik saya pulang siang saja. Yanty akan aman pulang nanti karena naik kendaraan yang lebih tinggi.

Lalu kenapa bisa banjir? Sementara tahun 2001 dan 2006 lalu kompleks kering. Saya, dan pasti ada pula banyak orang berpendapat sama: pembangunan Citra 6 di daerah resapan itu yang membuat Taman Surya & Palem tergenang. Menuduh? iya lah!

November 29, 2007

Naik Gaji...???!!!

Tunggu... bukan saya, tapi sang istri tercinta... :D

Sudah tahu kan, Hagabank dibeli sama Rabobank. Dengan tingkat kepemilikan Rabobank sebesar 95% maka mereka berhak mencampuri dari A sampai Y, termasuk fasilitas dan gaji karyawan. Whoaaa... Proses akuisisi sudah resmi sejak awal 2007 dan issue tentang perubahan gaji, pensiun dini, dan segala tetek bengek lainnya beredar kencang, tak hanya di aras bawah, para staff, manager, sampai pimpinan cabang pun memiliki gosipnya masing-masing. Sampai akhirnya kemarin, 28 November 2007, status mereka jelas sejelas-jelasnya. Ini perubahannya:

Continue reading "Naik Gaji...???!!!" »

November 5, 2007

Cat hunting @ 02.30 a.m.

Hari Sabtu Willi sudah komplain soal kucing-kucing nakal di atas plafon rumah. Saya mengiyakannya untuk naik ke atap untuk mengusirnya. Tapi sampai tadi malam pun belum saya lakukan. Yang terjadi, saya kena batunya...

Jam 2 pagi tadi suara gemerisik dan meong sana sini terdengar persis dari atas tempat tidur saya. Mencoba "sok tak terganggu" akhirnya saya bangun juga setelah Yanty mencoba menyodok plafon dengan sapu tanpa menghasilkan kesunyian apapun. Ambil karung, senter, tangga, saya pun naik ke atas plafon. Gee... itu jam setengah tiga pagi!

Ternyata ada tiga bayi kucing di situ plus induknya. Sinar senter yang mengenai mata kucingnya sungguh menyeramkan, soalnya yang terlihat hanya matanya, badannya mungkin berwarna hitam. Setelah mendekat, si "seram" kabur dari sela-sela genting dan tembok (malam ini saya harus tutup dengan kawat). Ketiga bayi itu saya masukkan satu per satu ke dalam karung. Hem... bersih! Bulunya halus sekali... Hehehehe...

Saya bawa turun ke bawah, lalu dibawa Yanty keluar, dibuang di tong sampah lapangan basket dekat rawa. Sementara itu saya mandi lagi. Untung tidak di Salatiga, air Jakarta pukul 3 pagi cukup hangat... Gee... Mengingatkan saya harus naik lagi nanti malam, menutup celah-celah itu...

October 30, 2007

5 tahun pertama

Kata pembina BPN, masa-masa tersukar dalam pernikahan adalah 5 tahun pertama. Oh ya? setelah itu santai-santai saja? He... Yanty bilang jangan takabur. Jalani apa adanya, jangan menghitung waktu.

Doh... tapi tetap saja, 5 tahun itu sangat cepat. Sepertinya baru kemarin kami tergopoh-gopoh bangun pagi untuk memulai proses janji nikah, sekarang di rumah sudah ada dua kepala yang bercerita ini itu tak henti (kecuali saat mereka sedang makan dan tidur).

Dua minggu lalu kami mudik ke Salatiga, membuat heboh rumah Eyang sampai detik waktu pulang membuat goresan kenangan indah tetesan air mata melepas kepulangan kami ke Jakarta. Begitu besarnya makna keluarga kami ini di mata mereka. Sampai terharu...

5 tahun bukan juga berarti cukup waktu untuk mengisi penuh pundi-pundi receh kami. Selalu saja ada yang membuatnya kosong lagi. Bayari ini lah, bayar itu lah. Minggu depan, kami dihadapkan dengan ketukan baru: biaya sekolah, gee... Entah, selalu pada saatnya, pundi kami bisa terisi pas dengan keperluan. Habis itu kosong lagi. Hem... Tuhan memang membuat kami berada dalam jalanNya sesuai denan caraNya pula.

Tahun ke 5 kami tak dirayakan. Malah saya pergi pelayanan di Men's Camp. Tak ada ucapan selamat, tak sempat berdoa pula, diburu waktu untuk advance ke Ciawi sore-sore. Sempat sedih juga, entah Yanty berasa sama atau tidak.

Sabtu ini kami hendak merayakannya kecil-kecilan. Sudah pesan Strawberry Cheese dari Harvest Cakes tanpa tulisan apapun jadi bisa buat kami, plus buat Sisi yang tanggal 24 lalu pun berumur dua tahun.

Apapun, baru 5 tahun hidup serumah patut disyukuri....

September 25, 2007

Sup Jagung Paling Enak Sepanjang Masa

Pulang ke rumah jam 11 malam dengan kondisi belum makan ditambah cuaca dingin gerimis membuat perut saya benar-benar melilit. Kejutan pertama, Yanty masih bangun untuk membukakan pintu. Hee... biasanya sudah tidur. Kejutan kedua, Yanty masak buat saya. Hui...!!! Sudah lama Yanty nggak masak lagi setelah ada dua asisten di rumah. Ketiga, Yanty bikin sepanci besar sup jagung! Haiyaaa...!!! Ini benar-benar menjawab kebutuhan! Hehehehe...

Habis dua piring, jasmani & rohani terpuaskan. Nyam...nyam...

August 8, 2007

Pilkada, Tinta Cap, dan Perempuan

Pagi ini saya bangun disambut pagi yang cerah. Setelah mandi, pukul 8 bersama istri ke TPS yang hanya berjarak 8 rumah dari tempat tinggal kami.

Masih sepi. Ko Aan, ketua RT kami masih segar mengawasi kotak pencoblosan. Saya dan istri pun masuk, mendapat nomor antri, mengambil kertas pemilih, dan mencoblos tanpa antri. Lucunya, saat saya mencelupkan satu buku jari kelingking saya di tinta, mereka bersorak, "Naa... ini baru betul...!!". Kami menyempatkan diri melihat-lihat sebelum pulang. Memang, kebanyakan pemilih agak takut-takut menandai jari mereka.

Secara keseluruhan saya menikmati prosesnya, meskipun ada sedikit masalah dan mengganjal beberapa detik antrian:

...padahal saya 100% laki-laki. Nggak percaya? Tanya istri saya.

August 1, 2007

Janji... sebulan... selamanya...

01.08.96, berjanji sebulan menemani...

26.10.03, berjanji selamanya bersama...

01.08.07, happy 11th anniversary Sayang...

June 8, 2007

99,9%

Ya... Tidak... Ya... Tidak... Ya... Tidak...

April 2, 2007

Privatisasi Makian

Siang tadi istri saya ditelpon oleh penelpon gelap yang cukup sopan pada detik pertama, sempat melakukan konfirmasi identitas penerima (dengan bertanya, "Ini Yanty ya?"). Detik berikutnya yang keluar adalah ucapan sumpah serapah yang tak layak tayang di blog ini. Hebatnya lagi, makian itu tidak ditujukan kepada istri saya, tapi pada orang lain kenalan istri saya. Ampun...!!!

Meskipun sebal setengah mati, istri saya masih bisa berpikir jernih. Setelah melakukan penyelidikan singkat, sudah bisa diketahui siapa penelpon gelap itu, dan seketika juga memakluminya. Lho? kok bisa? Bisa lah, soalnya orang itu memang sudah pernah melakukan hal yang sama dengan orang lain: memaki si "X" dengan menelpon si "Y". Hehehehehe...

Yang merasa hal ini aneh, silakan kasih komen, yang merasa tidak aneh pun silakan kasih komen. Saya pribadi, jika tiba-tiba menjadi "Y", saya akan menambahkan nomor teleponnya pada daftar CSB saya.

March 13, 2007

Church Headhunter

Di saat beberapa teman mengerjakan pelayanan gereja yang bertumpuk-tumpuk, di sisi lain ada pula yang bersusah payah mencari komunitas pemberdayaan di gereja. Hei...! Ini hal baru buat saya!

Kemarin, seorang sohib digital mereferensikan saya sebagai headhunter nya pelayanan gereja. Whoei...! Bisa dibilang begitu bukan? Orang ini rindu untuk melayani jemaat Allah. Entah dengan tujuan apapun, mestinya semangat yang seperti ini bisa diberdayakan bukan? Sayang, di gerejanya atau di komunitasnya tidak ada lowongan, atau entah karena alasan apa lagi yang membuat dia harus mencarinya di luar komunitasnya.

Nah, problemnya cuman satu: saya bukan church headhunter! Atau paling tidak, saya belum memiliki kapasitas untuk itu. Tapi saat saya memberikan nomor Arman sebagai referensi, hati kecil saya berteriak keras. Seakan saya sedang bermain ping pong. Saat SMS balasan terakhir datang, hati saya pecah, salah saya....

"Dia dr grj lain, dia rndu ada dlm komunitas pmbrdayaan. Ok tx infonya"

February 28, 2007

Combat Car

Saya sampai terheran-heran melihat mobil ini. Sangat inovatif! Euh, apakah operator selular lain juga punya ya?

Telkomsel COmpact Mobile BAse sTation. Diambil di halaman parkir Grage Mall, Cirebon, tanggal 8 Desember 2006.

February 16, 2007

Replacement

Sore tadi saya dan Yanty makan malam di salah satu restoran cepat saji terkenal di dunia. Kami memesan paket ayam & nasi, dan pelayanannya kali ini lebih cepat dari biasanya. Potongan ayam itupun masih mengepul panas.

Kami mulai makan, perlahan karena saking panasnya. Sampai Yanty menyobek potongan paha bawah itu dan..., masih merah darah! Waaa...! Ditukar boleh nggak ya? Celingukan ke arah counter, tak enak juga dengan pelanggan lainnya yang sedang antri. Saya sempat melirik ke papan Duty Manager, muka seperti yang terpampang tak ada. Akhirnya Yanty menyetop pelayan yang lewat, minta tukar sambil memperlihatkan merahnya yang menetes. Euh... beserta piringnya dibawa. Halah, padahal masih ada nasi setengah dan sambal. Rada mendongkol karena saya berbagi sambal dengan Yanty.

Akhirnya piring Yanty dikembalikan dengan potongan ayam yang baru, mengepul pula. Entah, kami jadi risih menghabiskan nasi dan mencolek sambal yang tadi ikut dibawa ke belakang.

Mestinya, pelayan tadi hanya membawa ayamnya saja, tak perlu piring dan isinya...

February 4, 2007

Banjir 2007.02.03

Exit tol Pluit banjir memacetkan sampai pintu tol Kapuk sehingga saya tak bisa keluar dari situ. Cisadane meluap sehingga Daan Mogot menjadi bagian dari Cisadane. Gerbang bandara banjir 20cm. Banten banjir juga. Posisi ini hampir sama dengan 5 tahun yang lalu: daerah Cengkareng - Kalideres jadi "pulau".


Sungai kecil di sebelah rumah, menyatu dengan rawa di sebelahnya.


Rawa di samping kompleks. Saya pikir rawa ini menjadi "buffer" air di daerah ini.


Biasanya ketinggian air hanya satu meter di bawah jembatan bambu itu.


Masih (atau tinggal?) 50cm sebelum meluap ke jalan kompleks.

January 17, 2007

Mertua Lebih Perhatian Daripada Suami?

Ehem... ehem. Barusan dapat SMS dari istri tercinta

Eh tadi aku di SMS Bapak, dia mau kasih semprotan bunga yang di rumah untuk Eng and dia beli lagi yang 5 liter. Tuch kan mertua lebih perhatian ketimbang suami...

Wah, bisa-bisanya... Itu semprotan (pressurized) kan muahual. Di Toko Trubus dijual 40-60 ribuan. Lagian waktu saya menawarkan, dia bilang "too expensive". Ya sudah to, saya taruh lagi semprotan itu.

October 17, 2006

Wejangan Tentang Seks

Ini kejadian nyata.

Teman saya, saat hendak berpetualang mengenyam bangku kuliah, jauh dari orang tua, hidup di kost-kostan, mendapat wejangan dari ayahnya tercinta. Petikannya...

...Sekarang kamu akan hidup terpisah dari orang tua. Kami ndak bisa lagi mengawasimu 24 jam sehari. Kamu harus bisa dan mampu mengendalikan diri. Sebagai laki-laki mungkin suatu ketika kamu akan tergoda untuk jajan. Prinsipnya ada tiga, yaitu pertama kalau masih mungkin lebih baik dihindari, tapi kalau ndak mungkin kamu harus pakai kondom. Kedua kalau suatu ketika kamu kena penyakit akibat jajan, jangan takut. Kamu harus terbuka pada papah, dan papah tidak akan marah, tapi akan mengobatimu, karena itu akan berbahaya bagi keturunanmu bila tidak diobati. Ketiga, jangan ambil yang murah, lebih baik yang mahal sekalian. Kalau mahal minimal kamu akan merasa sayang mengeluarkan uang, sehingga itu ndak menjadi kebiasaan, karena kenikmatannya ndak sebanding dengan pengeluaran...

Huaduh...! Saya masih belum berani ngomong seberani itu sama Willi kalau dia sudah cukup usia nanti. Entah, bila mengesampingkan apakah isi wejangan itu benar atau tidak, saya sangat salut dengan "papah" seperti ini. Nggak cuman diam saja, paling tidak ikut bertanggung jawab dalam mendidik anaknya.

Catatan: Buat Oom HT, maaf mengutip email Anda tanpa minta ijin terlebih dahulu. Saya sudah terlanjur terpesona dengan wejangan ayah Anda.

October 16, 2006

21 ke 29

Lucunya, saya punya mejanya dulu daripada barangnya. Jadi waktu yang 21 ditaruh di atasnya seakan timpang. Meja besar menopang kotak kecil di atasnya. Yah, namanya juga usaha, baru bisa punya yang kecil, ya dinikmati saja.

Kemarin, 21 itu masuk kotak (yang anehnya masih saya simpan), diganti dengan 29. Memang sudah cukup uzur, 9 tahun mendampingi sejak saya mulai menghirup udara kotor Jakarta. Mungkin karena kotornya, dia lebih cepat rewel daripada punya adik saya yang merek tipe tanggal beli tokonya pun sama.

Yang 29 ini, lain lagi ceritanya. Sudah sejak lama ingin ganti, tapi apa daya dompet (dan rasionalitas kesadaran kondisi keuangan) belum mengijinkan. Beberapa bulan lalu muncul tipe baru, menyenangkan melihatnya. Fitur tak menjadi pertimbangan utama karena hampir semua merek menawarkan serupa. Saya melihat harganya. Masih (sadar) tak mampu, sabar... sabar... Ehem, saya jadi ingat teman saya yang selalu membeli barang tanpa berpikir lama-lama. Bulan lalu saya melihat harganya turun, minggu lalu turun lagi, dan kemarin tokonya menawarkan diskon 10% untuk (hampir) semua barang. Well, itupun saya tak langsung beli. Dua hari berpikir dan tukar pendapat dengan Yanty. Akhirnya nongkronglah 29 di atas meja yang muat 29 juga. Hem...

October 5, 2006

My First Trip In TB-038

Memalukan? Untuk kebanyakan orang Jakarta mungkin. Tapi tadi saya begitu menikmatinya. Willi saja sudah beberapa kali naik TransJakarta. Yanty apalagi, sudah tak terhitung dengan jari. Saya yang sudah sekitar setahun ikut milis suaratransjakarta baru kali ini naik kendaraannya. Well, kenapa baru sekarang?

Tak terencana tadi. Setelah memasukkan mobil ke bengkel dan mendengar estimasi pengerjaan cukup lama, saya memutuskan meninggalkannya di bengkel. Lebih baik saya ke kantor, mengerjakan pekerjaan saya yang sudah "menumpuk tapi masih saja malas dikerjakan". Melihat halte Indosiar kosong, saya mantap menyusuri tanga yang berkelok-kelok itu. Menunggu sekitar 15 menit, terlewati tiga sampai 4 bus karena aking penuhnya dari arah Kalideres, akhirnya naik juga. Waktu menunjukkan pukul delapan kurang lima menit.

Perjalanan biasa, jadi teringat saat saya sering naik shuttle bus kawasan Mega Kuningan beberapa tahun yang lalu. Sampai di HCB, turun, dan mengantri ke arah Blok M. Cukup padat, tapi antrian bus cukup banyak sehingga antrian itu berjalan cukup cepat. Tak kurang dari 10 menit saya sudah naik JET-xxx (lupa saya perhatikan). Turun di Setiabudi pukul sembilan kurang. Hem, cepat juga. Sambil berjalan perlahan ke Lippo Plaza saya merenung, membayangkan kehidupan jalan raya saya jika memilih TiJe. Alangkah simpelnya! Bebas macet, bebas kaki pegal, bebas bertanding urat syaraf dengan pengemudi lain... Hem...

Tapi hidup ini tak hanya mencari kemudahan bukan? Buktinya saya bosan dengan kehidupan perjalanan di Singapura yang "terlalu monoton".

September 18, 2006

2 Jam di Glodok

Sudah lama saya tidak bermain-main di daerah ini lagi. Sabtu lalu, dengan bebasnya saya berjalan sendiri. Yanty tertahan di kantornya karena ada acara "kerja bakti". Hem, salah satu acara yang menghambur-hamburkan uang dan waktu. Well, paling tidak saya punya waktu beberapa jam sendirian menjelajah daerah ini, tempat kongkow waktu pertama kali ke Jakarta (norak nggak sih).

Dari Jl. Perniagaan Timur, saya melangkahkan kaki ke arah Pintu Kecil II. Hem, disambut dengan toko mainan spesialis die cast model! Hui... harganya bikin ngiler. Toko tanpa nama itu mudah dicari karena hanya satu-satunya toko mentereng di gang itu dengan rak display Maisto dan.... satu lagi entah apa. Setelah mampir di situ sebentar saja (takut nanti malah boros ingin beli) saya kemudian melanjutkan "traveling" kecil saya ke arah Asemka.

Panas! Jam 10.30 hari itu benar-benar terik menyengat. Tadinya saya hendak berkeliling di toko-toko mainan di situ, tapi entah, mungkin karena saking panasnya, kaki saya cepat melangkah terus ke arah Glodok. Naik dari Plaza Pancoran (? CMIIW), lalu ke jembatan penghubung ke Orion Plaza. Di atas jembatan itu memang "sarangnya" pecinta PS. Dari jualan sampai servis dan aksesoris lengkap. Ehem, ada bumbu tambahan, sekarang hampir semua toko menjual pula digital player mp3 or mp4 (movie clips). Entah harganya berapa saya tidak tanya.

Turun ke Orion Plaza, jadi teringat akan kulkas dan AC saya. Dulu belinya di daerah ini. Muter-muter dengan Yanty sampai nemu yang benar-benar paling murah. Hehehe... masa lalu yang tak terlupakan. Cukup sudah, saya masuk ke dalam. Melihat masih banyak juga yang berjualan video cam. Bahkan JVC GR-DVX400 saya yang saya pikir sudah obsolete, di situ masih ada yang kinclong dipajang di etalase. Wah... wah...

Tembus sampai belakang, bedeng grosir CD bajakan (yang anehnya tak pernah kena razia) saya lewati saja, langsung ke Glodok Plaza yang terletak di belakang. Tapi, eh, gedung "lama" ini menarik ingatan saya kembali. Lokasinya diantara bedeng CD dan Glodok Plaza, tempat saya sering sekali beli sparepart komputer. Masih teringat betapa dulu saya naik turun gedung yang tidak besar ini untuk mendapatkan CDROM cepat & murah untuk menonton VCD di kamar kost. Hem... Tanpa ragu saya belok ke situ. Ternyata di dalam tak semeriah dulu sebelum terbakar, meski banyak pula toko peralatan komputer. Coba lihat-lihat, he.... harga yang ditawarkan memang benar-benar miring. Bayangkan, multi card reader yang di tempat lain dijual 75 ribuan tak bisa ditawar lagi, di sini hanya dijual 40 ribu. CF card Kingston Elite Pro 1 GByte dijual hanya 250 ribu. Dengan harga yang sama, disebelahnya ditawarkan flashdisk Kingston 2GByte! Hem... Di situ saya hanya tertarik card readernya saja, untuk melengkapi peralatan di dalam tas kamera. Beli satu lalu "ngabur", takut merogoh kocek lebih dalam untuk sesuatu yang tak diperlukan saat ini.

Di Glodok Plasa saya cuci mata dan mengeringkan keringat juga. Berlama-lama di depan Kotaraya, melihat high-end gadgets bertebaran di display kacanya. Yummie sekali, sayang Kotaraya juga terkenal dengan harga mahalnya.

Tak terasa sudah setengah 12. Saya mesti mengakhiri "traveling" saya. Semoga saya masih diberi kesempatan ke tempat ini lagi, dengan kantong tebal siap dibelanjakan tentunya... :D

August 18, 2006

Tujuh Belasan

Tahun ini kami sibuk sekali. Willi ikut lomba sepeda hias di sekolah. Lalu ikut berbagai lomba juga di lingkungan RW. Untuk sepeda, tak sia-sia kami mempersiapkannya. Willi nomor satu...! Dapat piala lagi. Hem... Dari guru yang menilai, Willi menang karena 1) bersepeda dengan baik. 2) tidak rewel dan taat pada perintah. 3) tidak didampingi orang tua. 4) sampai finish dengan baik. He... kalau hiasan, saya sudah 100% minder dengan sepeda-sepeda lainnya. Dengar-dengar, bisnis menghias sepeda saat 17an sudah berumur di Jakarta. Di lapangan kompleks, lagi-lagi Willi yang pertama menyelesaikan memindahkan bola, lari dari ujung lapangan ke ujung satunya. Sudah biasa di KEGA sih. Untuk membawa kelereng dan memancing cukup dengan hadiah hiburan. 17 malam, saya digeret tetangga untuk menarik tambang antar RT. Huaduh... padahal seharian saya membongkar dan membersihkan sepeda motor. Well, 17an kali ini memang ramai... capai tapi senang, tanpa melupakan esensi Kemerdekaan Indonesia ini. Merdeka...!!!

July 31, 2006

Sepuluh Tahun Bersama... Berjanji

Pagi tadi disela kelelahan, saya teringat akan janji yang pernah saya ucapkan padanya. Menemaninya sepanjang Agustus itu, tahun 1996. Tak pernah kami sangka, oleh kasih karunia Allah, janji itu diperpanjang, dan dikuatkan.

Yanty pun lupa tanggal ini. Saking capainya dengan sakit Willi. Malam ini, dia ingin menemaninya. Gee... tidur sendiri saya. Saat saya menaruh iPAQ di atas kepala, sesuatu muncul dari bawah bantal. Dengan kartu mungil bertuliskan singkat, "Makasih buat janjinya... I always love you" serta pena dengan grafir nama saya...

Mixed thoughts, hati saya tersentuh. Happy anniversary my dear...

July 16, 2006

Pesta Rakyat #3: Festival Jajanan Jakarta

Minggu lalu, salah satu teman milis iPAQers mengirimkan undangan ini, plus komentar, "Disini nih.... sedep banget kayaknya...". Hmm... makanan terenak se-Jakarta ngumpul di sini. Yanty OK untuk ikut, dan saya forward ke teman-teman kantor & komsel. Franky & fam langsung membalas mau ngikut... :D rame!

Sabtu itu, jam tujuh kurang, kami sampai di Lapangan Banteng. Duh! parkir mobilnya berantakan! Letaknya di pinggir jalan dan sudah dua lapis. Saya melongok ke bagian dalam, ternyata memang sudah penuh. Untung, ada Suzuki Katana bergerak keluar dari lapis luar. Untung lagi Zebra saya cukup masuk ke celah yang ditinggalkannya.

Kami masuk ke area, dan kaget. Tak siap dengan lingkungannya dan suasananya. Sangat berdebu, tanah lapang keras itu sudah menjadi bubuk tanah halus yang sangat mudah airborne. Sandal Willi terbenam di dalamnya, roda-roda stroller Sisi membuat bekas dalam. Hem satu lagi, antrian panjang di semua tenda, hah...! Mana belanja ala Food Court MTA: pakai kupon. Duh, di tempat penukaran pun sangat panjang antrinya. Eh, ternyata mereka tukar untuk mengembalikan kupon. Dengan mudah, Yanty & Franky mendapatkan kupon.

Lalu, mau antri yang mana? Semua panjang, terlebih lagi di sini bercokol nama-nama tenar, rekomendasi P' Bondan? Tau' deh... Saya ingin kerak telornya. Antriannya tak berperasaan. Yanty pun rela antri demi kerak telor. Franky & Yuyun sudah dapat Dodol Bu Nining, Nasi Goreng Aceh, & Sate Padang... (yg pedas, tapi dihabiskan Willi dengan lahapnya). Yanty perlu waktu satu setengah jam untuk mendapatkannya. Kejam, dibatasi hanya boleh beli dua! Saya dengan setia nongkrong di depan pikulannya, mendengarkan 'keluh kesahnya'. Bayangkan saja, bapak ini membuat kerak telor mulai jam dua siang, dengan dua wajan, lima menit per telor, hitungan kasarnya 144, kali tujuh ribu per porsi... hem. Pantas dia tersenyum terus, walau sempat kaki dan perutnya kram.

Akhirnya dapat juga. Kaki Yanty sudah kesemutan saking lamanya antri, akhirnya daripada hanya dapat kerak telor, beli dodol juga (uenak tenan euy!), trus ketan uli (?), sama satu nasi goreng Aceh dibeliin Franky (karinyaaa.... wow!). Jam delapan lebih, kami kembali ke mobil, berdebu, capek, tapi senang. At least, ada yang bisa diceritakan ke orang-orang.

1. Kerak telor perjuangan
2. Yang dibawa pulang
3. Willi kepedasan
4. Sisi kecapaian
5. Sandal berdebu

July 9, 2006

Citibank Weekend Sale

...atau entah apa namanya tadi, Carrefour hypermarket yang menjamur di belantara ibukota memberikan diskon 20% untuk seluruh barang...! Tentu saja ada batasan: handphone, susu untuk anak dibawah 1 tahun, sepeda motor, dan maksimum belanja 12 setengah juta. Selain itu benar-benar diskon 20%.

Kalau sudah begini, bisa dilihat prioritas belanja masing-masing orang, aneh dan unik. TV 29" dua biji, kertas A4 satu trolley penuh, minyak goreng plus sabun cuci cair satu trolley, diaper satu trolley, minuman kaleng dua trolley... Entah bagaimana nanti melunasinya. Tapi dari sekian yang unik, ratusan lainnya membeli barang belanja harian, seperti biasa, tapi dengan volume 'gila'.

Saya tidak termasuk mereka. Selain tak punya uang plastik dari Citibank, saya merasa sungkan berbelanja 'super'. Seperti tadi, Yanty memborong semua Bendera UHT Plain 190ml. Konsumsi Willi, perlu 60 kotak untuk 1 bulan. Tadi 'hanya' dapat 34. Total, dengan kartu 'pinjaman' kami hanya belanja 300 ribu. Saya tak mau berpusing ria memikirkan cara melunasinya, walaupun dengan cici' sendiri.

Well, selamat buat yang sudah bisa memuaskan hasrat berbelanja. Oh ya, selamat juga atas TV barunya. Yg lama dikemanain?

July 5, 2006

Sohib Lama

Sohib lama. Dulu kenalan ya di kantor ini, sebagai sesama 'pejuang' di proyek datawarehousing DX-GA. Akrab sambil lunch-out tiap Jumat ke "Kedai Hijau' di seputaran Karet bareng William & Antony. Sampai dia memutuskan untuk meluluskan diri dari 'Ganesha Institute', self upgrade jadi expat di negeri Jacky Chan sekitar tahun 2000. Sempat bertukar cendera mata sebelum dia 'menghilang' (eh, boneka Tigger gue masih di elu kagak?).

Tiga tahun yang lalu sebelum saya menikah, dia sempat nongol semalam di tempat kost saya membawakan puzzle 1000 keping dua biji! Lalu menghilang lagi. Sampai 20 Juni kemarin, Nyoman Koen Krisnawan, tiba-tiba nongol di kantor saya lagi. Yah, urusan sama Babe, tapi cukup membuat saya terkejut. Hehehe... Sayang tidak sempat ngobrol lebih lama lagi, dia keburu harus menghilang lagi. Yah, there'll be another time, pal... it will be.

July 3, 2006

Mbak 'Iti...

Siti, pengasuh Willi, memang berbeda dengan prt pada umumnya. Dia bisa ngeblend dengan anak-anak. Fast learner & inisiatifnya patut diacungi jempol. Satu lagi, tiap pulang pasti membawa oleh-oleh. Tahun lalu kami dapat salak satu tas penuh plus jam ikan buat Willi. Bulan ini, dia membawa salak lagi, plus mobil-mobilan untuk Willi & baju untuk Si Kecil Sisi. He...he... jarang lho yang begini. Teman-teman Yanty saja pada tak percaya.

Yah percaya atau tidak, itulah profil salah satu karyawan kami. Hari ini saya dapat giliran cuti jaga anak-anak. Tanpa Siti saya cuma bisa bengong. Ngurus dua anak pun saya yakin dia bisa. Cuma nggak sampai hati. Besok giliran Yanty yg cuti.

June 13, 2006

Diinterogasi

Saat meliput acara Kelas Pembinaan Pria Sejati ke-6 kemarin, sambil menulis saya juga mengambil beberapa foto. Seperti biasa, selain memotret yang di atas panggung, saya juga mengambil foto di bagian peserta, yang kali ini datang beserta istri (dan ada pula yang datang bersama anak-anaknya). Nah, saat memotret peserta itulah saya sempat diinterogasi.

beberapa detik setelah memotret ke arah peserta, saya didatangi seorang ibu, sambil menutup mulutnya dengan tissue, kemudian terjadilah interogasi ini,

"Itu... kamera buat apa?"
"Buat memotret Bu" jawab saya bego.
"Lalu buat apa?"
"Buat dokumentasi"
Sambil mengangguk-angguk ibu itu kembali ke deretan kursinya.

Tak tahu, yang saya rasakan muka saya sedikit memerah. Sesekali saya masih memotret ke panggung, saat ibu itu datang lagi...!!!

"Ini kamu motret buat dokumentasi apa?" Hah... tak puas dia rupanya.
"Buat laporan kegiatan Bu"
"Laporan ke gereja mana?"
"Bukan ke gereja, tapi ke CMN"
"CMN apa?" Lah... saat itu saya berpikir ini pertanyaan yang paling janggal seumur pelayanan saya di CMN.
"Ini Bu, Christian Men's Network" sambil saya menunjuk logo CMN yang terbordir di jas saya serta menunjuk beberapa spanduk yang terpasang di aula.
"Ooo..." Ibu itu kembali lagi ke kursinya.

Saya sudah panas. Ambil foto terakhir ke panggung, lalu saya berpindah ke deretan kursi lainnya. Saya menangkap nada tidak suka pada ibu itu. Alasannya? Tak tahu lah. Mungkin dia tidak suka difoto, ehem, saya berani jamin di hasil jepretan saya juga tidak ada gambar ibu tadi. Tapi, sesuai nalar dan kebiasaan, bukankah seseorang mestinya siap untuk difoto jika menghadiri acara bersama? Apakah wajar jika seseorang datang pada pesta kawinan lalu menolak untuk difoto? Apakah wajar seseorang datang ke pesta ulang tahun anak anda lalu dia mengkritik anda saat secara tidak sengaja gambarnya terambil? IMAO: kalau tidak mau terfoto, ya jangan datang! Sama seperti contoh ini: kalau tidak mau pahanya jadi tontonan orang ya jangan pakai celana pendek!

Introspeksi:

  • Apa saya harus pakai name tag "PERS"?

  • Apa kamera saya terlalu besar untuk acara-acara semacam itu?

  • Apa gesture saya setelah memotret tidak disukai?

June 8, 2006

Tak lulus ujian kesabaran

Sepertinya Allah sedang melatih kesabaranku...

Kemarin sore nge-run aplikasi berat (Credit Risk - Zero Forward Rate Calculation). Di lab, 40 records memerlukan looping 20 menit. Lha, ini data asli 40 ribu records!!! Kalau dihitung linier proses ini selesai... 13,8 hari...!!! Hwarakadah... Saya sudah pakai Pentium 4 2.6GHz dengan memory Corsair 1GB. Tadinya saya mau lembur menunggu prosesnya. Tapi setelah tim developer memberikan perkiraan selesainya, akhirnya saya pulang saja sambil membiarkan mesin ini tetap menghitung.

Pagi ini saya berangkat kantor dengan hati berdebar. Kalau ternyata belum kelar juga, mungkin memang kalkulasi dari lab benar. Saya mesti memutar arah mencari cara baru lagi untuk enhancement. Tahu apa yang saya dapat? Mesinnya MATI...!!! Huaduh... lemas saya. Ternyata server lainnya juga mati, berarti yang nggak beres ada di power gedung. Rada emosi saya minta tolong opis boi menelpon teknisi. Informasinya, PLN fluke lima kali tadi malam sehingga memaksa gedung memutuskan aliran listrik. Deu... deu... tiba tiba saya jadi kangen UPS APC 2KWh di lantai 25.

Selagi saya menghidupkan kembali server-server saya, cek ulang services dan normal reboot, teknisi gedung datang, mau cek kelistrikan katanya. Dia ditemani opis boi menuju ke tempat MCB berjejer. Tiba-tiba brett... mati lagi. Lho... kok dimatikan??? Huaaa...!!! Emosi saya naik sampai ubun-ubun. Mengomel sedikit keras ke teknisi itu, lalu saya keluar ruangan sambil membanting pintu. Perlu lima menit untuk menurunkan emosi saya. Cuci muka, menarik nafas berulang-ulang... Saya lalu kembali ke dalam dengan muka masam, mengulang ritual server-server saya.

Teknisi itu ternyata masih menunggu saya. Maaf pertama saya cuekin (ih, gak sopan ya). Dia lalu mendekat dan mengulang maafnya dengan sedikit tambahan penjelasan. Hem, saya iyakan saja. Tak habis pikir, di mana logika teknisi itu menurunkan MCB. Untuk mengetes kelaikannya kah? Mestinya dia melihat disampingnya banyak mesin yang sedang menyala. Ah tak tahu. Sekarang saya harus mengurus tingakt emosi saya. Yang tadi parah...

June 6, 2006

Father's Business

Read my friend's post here. I'm touched.

June 5, 2006

24 Hours The Peak Construction

24 Hours? probably. I've never notice it. I take 24 for my blog title only, to enhance the picture's essence. Nothin' more.

Stats:
Camera: Canon EOS 350 DIGITAL
Date/time: 05/06/2006 18:37:31
ISO: 800
Aperture: 5.6
Speed: 2 seconds
PS: rotate, crop, resized, brightness 20% sharpness 15% , unsharp mask 50% 4 pixels

May 26, 2006

Dari 250 sampai 165

Saya masih heran, bagaimana satu jenis barang bisa berbeda harga sampai hampir 50%. Saya kemarin mencari tas untuk 350D saya. Dari lantai 4 Mal Ambasador sampai lantai dasar, saya tanya dan menawar. Eh, sebenarnya istri saya yang menawar. Akhirnya dapat hanya 165 ribu. Istri saya sampai tidak percaya dia berhasil menawar sampai segitu. Dia sampai mengkonfirmasikan kualitas barangnya lagi ke saya. Saya bilang, 'sama kok'. Lha ya memang sama. Lowepro Rezo 120 EW di lantai atas sama dengan Lowepro Rezo 120 EW di lantai bawah.

Ehem, 1 jam muterin mal nggak rugi. Btw, Compact Flash Sandisk Ultra II 512MB dijual 320 ribu murah kagak? Kalo iya, berarti toko itu memang benar-benar murah... :D

May 23, 2006

Canon EOS 350D

Setelah berbulan-bulan dealing dengan problem di A80 saya, dan beberapa hari dengan Datascrip, akhirnya muncul solusi yang sangat menyenangkan. Terima kasih untuk Pak Budianto Iskandar dari Datascrip yang melancarkan jalan saya.

Setelah kemarin rada curiga karena A80 rusak saya ditawari trade in dengan A630 yang notabene top seller compact camera di PC Magazine, akhirnya Pak Budi men-japri saya. Menjelaskan roles di Datascrip sampai saya ngeh. Hehehe... Dengan program trade in diharapkan konsumen Canon tidak lari ke produk lain. Padahal saya sudah naksir D50. Akhirnya Pak Budi memberikan penawaran yang tak bisa ditolak. A80 rusak + 6.5 juta = EOS 350D + lensa EFS 18-55mm. Ehem... ehem... Cuma perlu beberapa detik untuk mengiyakan. Untung saya lalu teringat dengan tagihan-tagihan kartu kredit saya dan "bendahara" di rumah. Jumat sampai Senin cukup bagi kami untuk berdiskusi dan memutuskan untuk... TRADE IN!

Jadilah hari ini, nongkrong di atas meja saya...



May 18, 2006

First in last three years

Terakhir kami nonton di bioskop kira-kira tiga tahun yang lalu, sebelum menikah. Stuart Little, kayaknya. Setelah menikah, rasanya susah menyediakan waktu untuk mengantri beli tiket, nunggu di bioskop, nonton tanpa jeda, dan mesti pulang larut malam. Nah, moga-moga malam kemarin akan menjadi pembuka lagi. Ada uniknya juga nonton di bioskop. Teriak bareng-bareng, nangis bareng-bareng, peluk-pelukan (deu...), kedinginan, pandangan terhalang, terganggu orang bertelpon, dan sebagainya.

Kemarin, nonton Mission: Impossible III di Studio 21 Citraland. Filmnya keren, nggak berat (nggak perlu berpikir keras untuk mengerti jalan cerita dan logikanya), full action dari depan sampai belakang. Untuk studionya sendiri, deu... surround kadang nyala kadang mati. Masih lebih baik Aiwa 5.1 saya di rumah kalo digeber sampe 3/4 power.

Yang paling saya tidak suka nonton di bioskop: tidak bisa PAUSE & REWIND...

May 17, 2006

Electronics Bad Influence?

Gosh!! Belum juga kamera rusak itu diambil, masa' monitor di rumah rusak juga. @#!$%?...!!!

Malam ini mau cek mailbox, nunggu email dari Bastian. Nyalain CPU, tiba-tiba terdengar suara percikan listrik dari dalam tabung monitor. Dan tewas sudah satu lagi peralatan elektronikku. Hem...

kemudian pikiranku tak bisa lepas dari pertanyaan ini: kenapa...??? ada yang salah dengan aku...???

May 12, 2006

Nutrilon Royal in a pack?

Ternyata ada juga lho Nutrilon Royal 3 Madu dan Vanilla yang dikemas seperti ini. Tulisannya diproses secara UHT lagi. Deu... deu... baru saja saya dan Yanty berpikir untuk mengganti susu Willi dengan produk UHT seperti Ultra atau yang lainnya. Hem, tapi tak apalah. Harga susu tambah menggila, perlu langkah cerdik untuk menyediakan yang terbaik buat Si Kecil.

Gempaaa....

Dah lama gak ngerasain lagi. Terakhir pas di Salatiga, Merapi meletus. Ini karena apa ya? Saya di lantai 24 (tepatnya 23 karena lantai 13 tidak ada) berasa sekali goyangannya....

Selesai Bersamaan?

Hem, baru hari ini. Biasanya sih gantian yah. Rasanya emang lain.

May 10, 2006

Another Good News From Datascrip