Category: Extraordinary

February 2nd, 2014 by Adhi Widjajanto

Sore tadi saat cuci motor di depan rumah, ada beberapa anak kecil main bola dan tak sengaja bolanya meluncur ke arah saya. Setelah membentur motor salah satu anak mengambilnya, dan hanya memandang ke saya ragu. Saya pun meneruskan mencuci motor. Namun ada satu anak perempuan yang berinisiatif datang mendekati saya dan minta maaf. Hm… cukup tercengang karena hampir yakin anak saya belum sampai ke taraf itu.
How to teach such manner? Contoh berulang-ulang pastinya. Ada cara lain?

Posted in Extraordinary

December 3rd, 2013 by Adhi Widjajanto

Rekor baru buat PLN di rumah saya: mati listrik dari kemarin sore jam 16.00, sampai pagi ini saya tinggal berangkat kantor pun belum menampakkan batang hidungnya (seandainya mereka punya). Kendalanya, rumah saya (dan pastinya kebanyakan rumah juga serupa) sangat bergantung pada listrik. Cuci baju (untung ga/ blom punya dishwasher), gosok baju, pompa air (semua plumbing nyambung ke toren atas), dan pastinya air conditioning (AC dan kipas) plus lampu.
Kendala utama sebenarnya anak-anak. Mereka sedang UAS. Bukan soal belum belajarnya (istri rela cuti untuk mengajar anak-anak) karena sudah dilakukan sepulang sekolah, tapi soal tak bisa tidurnya. Karena kamar panas, mereka tidur di depan pintu rumah, yang walaupun baru bulan lalu saya ganti kawat nyamuknya, tetap saja mereka (nyamuknya) berpesta pora. Istri saya yang jagain mereka menabok muncrat puluhan nyamuk (proof paginya lantai banyak bercak merah). Saya yang kebagian jagain Rara di dalam kamar tak mendapat kunjungan penghisap darah, tapi tangan saya pegal karena harus mengipasi Rara sepanjang malam. Ga tidur dong? Tepat sekali!
SLA PLN berapa sih? Eeehhh… emang ada? Hahaha… Secara garis besar, tugas PLN hanyalah mengamalkan UUD 45 Pasal 33 ayat 3: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kalau ada kendala, ya harap maklum, sabar, jangan teriak-teriak mentang-mentang sudah bayar terus mau nyala terus-terusan. Heh… begitu ya? Entah, saya cuma rakyat biasa yang tak begitu (dan sering tak ambil pusing) tentang peraturan dan komitmen entiti pemerintahan. Ego saya cuman bilang: Woooiii…!!! Nyalain dooonnnggg…!!!
Jadi mampus gara-gara ini?

Posted in Extraordinary

August 20th, 2013 by Adhi Widjajanto

“Papa, kalo misal hari ini Papa bisa root henpon Kakak, trus besok bisa nge-cheat gamenya dan…”
“Kakak tahu nge-root Android itu diapain?”
“Nggak”
“Nge-root henpon Android itu buat ganti OS di henpon android jadi bisa diapa-apain. Tahu yang namanya OS?”
“Nggak”

Whoops… gonna be long night explaining… Jadi tadi malam saya menjelaskan soal hardware henpon, menjelaskan apa itu sistim operasi, menjelaskan secara singkat apa itu nge-root Android, menjelaskan untung ruginya henpon yang sudah di rooted,…
“Garansi itu apa Pa?”, pertanyaan yang muncul setelah saya menjelaskan ruginya henpon di rooted.
…menjelaskan soal garansi, etc… etc…
Pembicaraan di atas muncul saat dia ingin henpon Andriodnya sama seperti punya saya (yang sudah unlocked & rooted). Dia ingin menghilangkan “stock apps” dari provider (Andromax U 4.5 LE) yang bejibun dan mengirimkan push messages yang sudah dirasa mengganggu, dia ingin bisa menginstall Game Killer, aplikasi (yang memerlukan rooted devices) untuk “mengakali” isi memori aplikasi lain, seperti “trainer app” di sebuah game untuk meng-enable “god mode”. Intinya sih itu saja, cuma Willi belum aware dengan risk yang (akan dan sedang) dihadapi oleh rooted device: belum tentu berhasil, bisa bricked, garansi hilang, ga dapat OTA update, etc… etc…
Pembicaraan kami diakhiri dengan, “Nanti kalau garansi henpon Kakak sudah habis atau Kakak sudah bisa beli henpon sendiri Papa ajarin caranya…” Ha…

Posted in Extraordinary, Kids

August 10th, 2013 by Adhi Widjajanto

Pagi-pagi sudah ada telepon dari unknown number. Ada beberapa kemungkinan, tawaran KTA (dan sejenisnya) atau tanya kost. Reflek saya geser jari ke SMS Quick Response, “Maaf sedang tidak bisa bicara di telepon. SMS saja ya.” Kalau tawaran KTA biasanya tak ada balasan, kalau tanya kost biasanya langsung bertanya availability kamar atau lainnya, tapi yang kali ini jawabnya cukup menggelitik, “Maaf saya hanya mau bicara tdk dgn sms. Sorry.” Hahaha…!!! EGP! Tapi cukup kuat buat bahan blogging saya pagi ini… πŸ˜€ Thx anyway… whoever you are…

Posted in Extraordinary, My Thoughts, Shouts & Whispers

August 7th, 2013 by Adhi Widjajanto

Jujur saya belum pernah bikin ketupat dari nol… euh… maksudnya dari memasukkan beras ke selongsongnya, bukan dari membuat selongsongnya… πŸ˜€ Kali ini, karena ga mudik, kami sepakat bikin sendiri ketupatnya, demi mengobati rasa kangen…

24 selongsong… pakai Rojolele diisi separuh kurang (thx Dad for last minute assistant… gee…)

Siap dimasak, pinjem dandang Mama… keknya sih muat kalau masak 35 buah…

Setelah 4 jam dimasak dengan api besar, diaduk (yang bawah di keatasin) setiap 30 menit (again, thx Dad for the tips).

Makaaannn…!!! Mom komentar, “Kok jadi ketupat sayur…?” Hahaha…!!! hati ayam sama cabe mahal Mom!!!
Selamat Idul Fitri rekan-rekan Muslim semuanya…!!!

Posted in DIY, Extraordinary

May 1st, 2013 by Adhi Widjajanto


Foto bareng “adik-adiknya” sesaat sebelum saya pakai terakhir kalinya di Jakarta.
Setelah 1997 dikirim ke Jakarta untuk menemani saya, akhirnya hari ini benar benar saya “pensiunkan” dengan mengirimnya balik ke kota asalnya. Bilang saya sentimentil, tapi memang motor satu itu penuh kenangan.
Walau pada dasarnya saat orang tua beli bukan untuk saya (buat adek, saya “cukup” pakai Vespa atau sepeda), tapi kebanyakan saya yang pakai. Pertama jatuh naik motor, pertama nabrak pantat truk gara-gara naik motor sambil payungan, pertama (dan satu-satunya) ngajarin mantan pacar mengendarai motor, pertama touring keluar kota, dan akhirnya motor ini juga yang menemani saya ke Jakarta tahun 1997 buat mencari nafkah… setia sampai 2001 saat saya dapat mobil dinas. Aktif lagi saat Willi perlu antar jemput sekolah dan les walau hanya dipakai di dalam area perumahan. Dan akhirnya beberapa bulan lalu benar-benar “ikut” saya lagi ngantor walau performanya sudah tidak bisa lagi mengikuti perkembangan berat badan kami… hehehe…
Di kota asal, Astrea Prima ini masih akan beroperasi walau kadang-kadang saja, bersamaan dengan Astrea Grand adek yang sudah terlebih dahulu dia “pensiunkan”. Kapan-kapan yah kalau saya pulang, dielus-elus lagi… ***elaaaa…!!!***

Posted in Extraordinary, Shouts & Whispers

April 10th, 2013 by Adhi Widjajanto

Kami memang tidak berencana punya tiga anak. Hanya saja kami beriman, Tuhan yang memutuskan jalan hidup kami. Jadi, lahirlah putri kami, Katara Josephine Widjajanto, 8.30 pagi dengan berat 3.560g, tinggi 50cm. Sempat membuat para dokter kaget karena tangisnya sempat berhenti sesaat setelah ‘dilahirkan’. Nilai apgar-nya diberi rendah oleh dr Tiwi, semoga akan baik-baik saja.
Beda umur dengan Willi sekitar 9 tahun 9 bulan, dengan Sisi sekitar 7 tahun 6 bulan. Berasa dejavu, seakan hidup kami di-rewind 10 tahun. Unik kan? Tapi semuanya kembali dengan sendirinya. Tadinya saya ragu apakah masih tahu cara menggendong bayi dengan benar. Nyatanya lancar saja tuh, tidak seperti dulu saat menggendong Willi pertama kalinya. Yanty pun begitu juga, ilmu yang sudah terbenam lama muncul dengan sendirinya. Terheran-heran? Sama seperti melihat Rara dengan otomatis menyusu dengan semangatnya saat pertama kalinya.
“Bertambah anak bertambah berkat, karena Tuhan akan mencukupkan”, saya kutip dari ucapan selamat dari Pak Suhandi. Amin!

Posted in Extraordinary, My Life With Jesus

April 7th, 2013 by Adhi Widjajanto

Wow!!! Siang ini kami sekeluarga dapat pengalaman pahit.
Tadi kami tinggalkan rumah bersama pembantu (baru 1 bulan) untuk pergi ke gereja jam 7.20 pagi. Kami pulang sekitar jam 1.30 siang dan mendapatkan rumah sunyi senyap. Ternyata pembantu kami kabur! Plus menggondol telepon genggam istri yang sedang dicharge di rumah. Saya lalu mencoba melihat rekaman CCTV dan… ding!!! Hanya sedikit sekali! Saya hanya sempat melihat beberapa rekaman gerakan saja saat pembantu mondar mandir di dalam rumah. Sisanya tak ada. Dua dari sedikit rekaman itu menunjukkan gejala power failure. Langsung lihat ke syslog server dan menemukan kalau server hard shutdown pada jam 8.30 dan 9.02…
Asumsi saya, dia tahu kalau rumah kami diawasi oleh CCTV, jadi saat mau kabur, dia mematikan CCTV dengan memutuskan listrik serumah. Hah! Saya juga mendapati barang-barang di kamar tidur kami berubah letaknya walau tidak (atau belum) ada yang hilang. Plus jam digital listrik yang ter-reset mendukung asumsi saya. Pintar! Pengalaman? Atau ada yang membimbing dia? (soalnya pada seluruh gerakan dia yang sempat terekam sedang menelpon). Sepertinya kami tak akan pernah tahu.
Back to the main topic: gimana caranya biar tidak terulang lagi? Maksudnya bukan pembantu kaburnya (total selama 13 tahun punya rumah dan puluhan pembantu ada dua yang kabur termasuk yang ini), tapi CCTV yang mati karena MCB dimatikan. Ada dua cara yang saat ini saya pikirkan: beli UPS. Tapi mau yang seberapa besar? Lagipula power source kamera juga tersebar. Cara kedua lebih mudah: gembok kotak MCBnya… πŸ˜€ kenapa tidak terpikir dari dulu yah…

Posted in Extraordinary, IT Freaks

March 27th, 2013 by Adhi Widjajanto

Menyebalkan! Memang salah saya sendiri kenapa tidak tanya sini situ dulu sebelum membeli. Akhirnya gini deh, dapat barang discontinue dengan harga baru.
Ceritanya saya beli Honda Vario 125 CBS Helm-in tanggal 13 Maret dengan harga normal. Belum saja STNK nya jadi, Astra Honda Motor (AHM) mengeluarkan Honda Vario 125 CBS Helm-in ISS tanggal 20 Maret dengan harga terpaut Rp. 350.000 dengan CBS Helm-in Non-ISS plus men-diskontinu-kan varian yang barusan saya beli. Ha!!! Jelas ngomel-ngomel saya. Saya menyalahkan sales di AHASS tempat saya beli motor karena tidak memberikan informasi mengenai rencana peluncuran produk baru. Saya juga mengirimkan keluhan saya ke CS AHM, siapa tahu Vario saya bisa diupgrade ke CBS ISS. AHASS tak menjawab email saya, sedangkan CS AHM menjawabnya seperti ini, kurang lebih, “mengubah motor berarti menggugurkan garansi”. Yang ditanya apa jawabnya apa. Lucunya, kemarin tanggal 26 Maret ada artikel di majalah online yang mewawancarai Bapak Sarwono Edhi, Technical Training Development AHM. Beliau bilang bisa saja mengupgrade Vario 125 dengan fitur ISS walau estimasi harga sekitar 2,5 juta. Nah lho… Jadi secara teknis bisa, tapi tidak boleh?
Apapun, saya sudah punya motornya, kemarin juga sudah jadi STNKnya walau saya kembalikan lagi karena salah nama. Dengan kepala dingin, saya jadi bisa berpikir banyak. Apa sih fungsi ISS? Keuntungannya apa dengan motor ber-ISS?

Read more of this article »

Posted in Extraordinary, My Thoughts

March 13th, 2013 by Adhi Widjajanto

Lagi-lagi gara-gara PRT saya yang baru nggak bisa naik motor bebek (waktu pertama antar ke sekolah jatuh sampai kaki anak-anak lecet) akhirnya saya yang mengalah pakai Astrea Prima dan dia yang pakai Beat. Bukan soal berani atau tidak, tapi bisa sampai ke kantor ga yah?
Motor itu memang sudah berumur walau beberapa bulan lalu habis cukup banyak saat overhaul. Jadi bisa dibilang kondisi mesin sedang di puncaknya lah, untuk kategori motor tahun 1990. Sedangkan untuk body dan kelistrikan belum tersentuh sama sekali, lha memang proses restorasinya belum kelar. So, sampai sih ke kantor dan balik rumah lagi. Tapi ada beberapa catatan:

  • Buat start stop di kemacetan Jakarta sih OK, cuma saat mau melaju dari 0 kph pasti tertinggal dengan motor-motor lainnya. Akselerasinya buruk sekali. Mungkin karena bebannya saat ini 150 kg! Hahahaha… Kalau Yanty sudah turun dan saya melaju sendiri, jadi ingat masa SMA dulu pas kebut-kebutan.
  • Kalo urusan kebut-kebutan, parameter selanjutnya adalah rem. Kanvas baru diganti semua, tapi jelas tak sepakem rem cakram yang biasa saya pakai di Beat. Ini benar-benar menyita konsentrasi karena saya harus menambahkan 2 sampai 3 kali jarak pengereman. Ujung-ujungnya saya jadi lebih capai pas sampai tujuan.
  • Lampu dan klakson yang kadang byar pet. Mungkin karena kualitas tembaganya yang sudah menurun drastis. Kalau kabel busi sih pernah diganti kok, jadi saya rasa nggak pengaruh banyak ke tenaga mesin. Cuman jadi ga bisa pulang malam-malam.
  • Sama soal bagasi. Saya memang tak pernah suka pakai backpack saat naik motor. Saat pakai Beat, backpack dan jas hujan bisa diletakkan stabil di footstep depan. Pakai Prima, jadi harus diletakkan di atas leher bebeknya, yang seringkali bergeser saat saya harus bermanuver.
  • Ban dan shock pun berpengaruh banyak. Walau shock sudah saya ganti denga YSS Top Up, cuma rasa geol-geol itu tetap ada. Kurang keras kali ya shocknya. Dan ban yang 80/90 ring 17 jelas berasa lebih ramping dari ban Beat saya yang 80/80 ring 14. Problem di Prima ini, tapak ban sudah maksimum. Sedikit lagi sudah gesrot fender.
  • Kembali lagi ke mesin. Memang ada masalah dengan karburatornya. Saya ini sedang pakai karburator pinjaman, kiriman dari Astrea Grand yang di rumah orang tua. Jadi seumpama dapat karbu KW (yang ori sudah 2 bulan pesan di AHASS tak kunjung dapat) belum tentu bisa seperti sekarang ini.
  • Plus, kalau mesin (rasanya) kepanasan, ada bunyi klotok-klotok di sisi kiri mesin. Entah apa itu.
  • Yang hebat, bensinnya! Walau mesti dibuktikan sekali lagi, tapi minggu lalu saya menghabiskan 12 ribu rupiah premium untuk 3 hari! Berarti fuel consumptionnya sekitar 1:56, bandingkan dengan punya Beat yang hanya 1:35 (saya hitungnya pas masih baru, sekarang keknya dah tambah boros lagi)

So kesimpulannya, restorasi tetap diteruskan, sampai punya modal buat beli satu lagi yang baru. Dan harus plat genap karena baik mobil dan Beat platnya ganjil… hehehe…

Teman saya komentar, “itu kunci lemari yah?”

Posted in Extraordinary