Category: Extraordinary

October 4th, 2012 by Adhi Widjajanto

Rasanya hampir seperti itu, dejavu. Resikonya kerja di kantor kecil. Satu saja ada staf yang resign, persentase terhadap keseluruhan karyawan berdampak besar.
Kali ini dari 11 berkurang dua. Apalagi yang rsign dari departemen yang sama. Kek bedol desa aja. Soal bedol desa, teman saya juga sedang mengalami hal yang sama, di perusahaan besar malah. Departemennya hendak direlokasi ke negara antah berantah (i shouldn’t say that) dan satu per satu staf lokal sudah pada mrotoli, tinggal dia seorang yang di-keep sama atasannya dengan alasan system maintenance. Tapi pada akhirnya dia juga harus cabut sih, soalnya opsi ikut ke nowhere itu sesuatu yang tak mungkin (cmiiw). Dilemanya dia mungkin tak separah saya karena opportunity dia relatif lebih besar.
Kembali lagi ke nasib… kasus saya. beberapa bulan lalu saat sekantor galau (part 1) saya pernah nyeletuk soal oportuniti saya ke teman-teman. Buat saya, nyari kerjaan baru itu sudah susah. Dari segi usia sudah tidak mendukung, apalagi kalau suruh compete dengan yang muda-muda (baca: single) yang masih rela digaji kecil dengan workload segajah. So? Mungkin judul di atas benar, sambil mencoba mengayunkan kaki kanan ke perahu lain…

Posted in Extraordinary, Shouts & Whispers

September 27th, 2012 by Adhi Widjajanto

Sebenarnya bukan jadul sih, cuman tak populer. Movabletype 5 yang baru-baru ini dirilis tampilan dan workflow adminnya sangat mengingatkan pada WordPress. Jujur, saya sendiri belum pernah pakai WordPress, hanya ngiler saat melihat teman saya membuat web dengan itu. Hm… weblog engine dan CMS engine oleh WordPress serasa dilebur jadi satu. So, pilih pindah engine?
Ternyata tak segampang itu. Postingan saya sudah seribu lebih, komentar ada enam ratus lebih. Kalau dipindah ke WordPress (sepertinya cuman ke situ opsi portingnya) saya harus menangani URL hotlink yang segambreng pada postingan saya. Belum lagi workaround agar Google Search tetap menunjuk halaman yang sama kayaknya susah. Pilihan paling enak memang tetap pakai Movabletype.
Problemnya satu: hostingan saya di Ardhosting (saya putuskan) tidak support ImageMagick yang desperately saya perlukan untuk menjalankan Captcha pada fitur komentar. Sudah berhari-hari diskusi dengan CS nya dan tidak membuahkan hasil. jalan terakhir: pindahan!
Pindahan pun tak mudah. Saya perlu satu hari penuh untuk mempersiapkan hostingan baru. Maklum, di rumah baru (tapi lama) ini semuanya diurus sendiri. Problem lain muncul: dynamic publishingnya ga jalan! Haaa…!!! Errornya nongol di PHP:
mod_fcgid: stderr: PHP Warning: include(): Failed opening ‘/var/www/…/mt.php’ for inclusion (include_path=’.:/usr/share/php:/usr/share/pear’) in /var/www/…/mtview.php on line 3
mod_fcgid: stderr: PHP Fatal error: Class ‘MT’ not found in /var/www/…/mtview.php on line 4

Sudah cari-cari dimana-mana tak ada solusi. Yang jelas problem ada di server saya, bukan di Movabletype nya. Susahnya pakai engine yang tak populer: supportnya minim! Trus solusinya gimana? ya matiin deh dynamic publishingnya. Rebuild 1.141 articles perlu waktu 15 menit lebih dan 39MB space hanya buat file html saja. (P4 3GHz, DDR1 2GB, SATA1 80GB). Dan susahnya saya belum memantapkan diri soal desain. Haiyaaa…
Yah, pokoknya jalan dulu dah. Saya gregetan tiap kali melirik error.log yang mention Google Bot (dan bot lainnya) gagal crawling page-page saya.

Posted in Extraordinary, IT Freaks

September 3rd, 2012 by Adhi Widjajanto

Resignnya Yanty akan membuat total pendapatan bulanan kami turun sepertiganya. Hanya saja pengeluaran kami untuk biaya pengasuh anak dan les akan menghilang, dan porsinya cukup besar juga. Setelah kalkulator berbicara, dengan (benar-benar) berhemat, periode ini kami berempat bisa hidup hanya dengan pendapatan saya saat ini, bisa nabung juga malah walau porsinya tak memenuhi kriteria financial planner manapun.
Tapi yang di atas itu baru cashflow, belum medical reimbursement. Soal yang satu ini fasilitas dari kantor Yanty memang jauh di atas rata-rata. Kami pernah menggunakan manfaatnya saat saya terkena Hepatitis dan kudu opname seminggu di rumah sakit. Belasan juta melayang kalau saja tidak tercover oleh asuransi di kantor Yanty. Begitu pula saat operasi kecil yang dilakukan Yanty setelahnya, dan berkali-kali untuk anak-anak.
Dua paragraf di atas baru urusan finansial. Soal mental, siapkah? Yanty dengan entengnya menjawab, “enak kok di rumah” jiaaa…!!! Malah saya yang jiper. Sudah lebih dari seminggu saya berangkat dan pulang kantor sendirian. Rasanya ada yang hilang. Siapkah saya punya istri seorang ibu rumah tangga?
*baru wacana, kalau minggu depan ga dapat pembantu juga, wacana ini mungkin jadi kenyataan, doh…*

Posted in Extraordinary

June 27th, 2012 by Adhi Widjajanto

Saya pernah bawa 2 biji, semuanya GSM. Akhirnya menyerah dan hanya mempertahankan satu saja sampai saat ini. Istri saya sendiri (karena ada henpon nganggur dan kartu nganggur) masih rela repot membawa dua (2 GSM & 1 CDMA). Bukan soal banyak nomornya yang memberatkan saya. Wong banyak nomor dari beberapa provider seringkali malah memberikan keuntungan lebih. Misal istri saya tuh, masih bawa CDMA karena lebih mudah ditelpon dari PaBX yang masih menganut paham “blokir awalan 08”, padahan sekarang menelpon ke CDMA dan GSM sama harganya. Trus pakai 2 GSM karena yang satunya pra bayar yang menyediakan 10 ribu SMS gratis tiap bulan tanpa perlu melakukan isi ulang, dan satunya dependable paska bayar yang ga akan kehabisan pulsa untuk saat-saat penting. Saya sendiri cukup bawa satu GSM paska bayar untuk semua keperluan.
Nah, yang bikin saya posting, di depan saya (lagi “ngantor” di KFC Cideng) ada bapak-bapak yang dipanggil “Komandan” sama rekan makannya, membawa 6 (yep, enam biji) henpon! Dua Blackberry, satu smartphone Nokia, dan tiga lainnya henpon “biasa”. Semuanya aktif karena saya melihat dia mengecek layarnya satu-persatu saat mengeluarkannya dari tas. Buat apa yah? jangan-jangan KTPnya pun lebih dari satu. Hehehe…
So, berapa banyak telepon genggammu?

Posted in Extraordinary

June 11th, 2012 by Adhi Widjajanto

Baru lihat nih nama filenya di situs provider langganan…

Indonesia banget dah… Hehehe…

Posted in Extraordinary

March 19th, 2012 by Adhi Widjajanto

Si A bulan Januari 2011 mulai kerja di PT. H dengan gaji X. PT. H menghitung pajaknya dengan cara X dikalikan 12 lalu dikurangi PTKP dan dikalikan per bagian menurut range persentase pajaknya, misal dapat angka Q. Gaji yang diterima A tiap bulan berarti X – (Q / 12) = N.
Ternyata, si A resign di bulan Februari. Tahukah anda form 1721-A1 yang diberikan PT. H kepada si A isinya begini: X dikalikan 2 lalu dikurangi PTKP dan dikalikan per bagiannya menurut range presentase pajaknya. Kalau X kali dua lebih kecil dari PTKP berarti TIDAK ADA PAJAK YANG DIBAYAR oleh PT. H untuk si A, padahal jelas-jelas si A tiap bulan sudah dipotong sebesar N.
Setelah dari PT. H, si A kerja di PT. I dengan gaji Y. PT. I menghitung pajaknya dengan cara Y dikalikan 12 lalu dikurangi PTKP dan dikalikan per bagian menurut range persentase pajaknya, misal dapat angka R. Gaji yang diterima A tiap bulan berarti Y – (R / 12) = O.
Saat si A mau isi form 1770-S di bulan Maret 2012, pusinglah dia karena form 1721-A1 yang diberikan PT. I kepada si A isinya begini: Y dikalikan 10 lalu dikurangi PTKP dan dikalikan per bagiannya menurut range presentase pajaknya, dan hasilnya lebih kecil dari R! Ketambahan pula total gaji setahun si A dikurangi DUA KALI PTKP! Tahu akibatnya apa? Si A menurut form 1770-S jadi KURANG BAYAR!
Jadi, apa yang harus dilakukan si A? Cari-cari di Internet, ternyata waktu pindah dari PT. H ke PT. I, si A HARUS langsung meminta form 1721-A1 dari PT. H dan diberikan ke PT. I agar komponennya ikut dimasukkan ke form 1721-A1 yang baru sehingga tidak ada selisih pada pajak terhutang. Karena PT. H dan PT. I TIDAK MAU mengubah formnya, akhirnya hanya ada dua pilihan buat si A:

  • Bayar pajak terhutangnya, walau sebenarnya gaji si A SUDAH dipotong pajak sesuai peraturan.
  • Laporkan form 1721-A1 dari PT. I saja, dan simpan terus form 1721-A1 dari PT. H berikut slip gaji yang diterimanya setiap bulan (ada nilai potong pajaknya per bulan).

Posted in Extraordinary

March 14th, 2012 by Adhi Widjajanto

Ass.Maaf,sy ibu sulastri yg kemarin liat kost nya, mrasa cocok dan berminat, jd untk masalah harga silahkan hubungi suami sy.H ridwan di 081281679247.Tks
Ass.wr.wb
Mohon maaf,sya ibu Siti yg berminat dngan Kost anda,untk nego masalah garga silahkan hub suami sya di no:081310005429,dngan pak LUKMAN HADI,trima kasih

Kedua SMS itu diterima Mom yang kebetulan memang menyewakan beberapa kamar kosong di rumah. Penipuan lagi kah? Yang pasti, insting Mom sudah menyala duluan. lagipula, kalaupun mereka serius, ya telpon lagi aja, usah akita ga akan sampe “jemput bola”. Iya kalo bola, kalo bola besi berduri gimana? Wek…
Yah, mesti tambah waspada. Sepertinya mereka nggak cuman spam nyebar SMS, tapi sudah mulai terarah.

Posted in Extraordinary

March 5th, 2012 by Adhi Widjajanto


Gara-gara nge-quote postingan seller yang banyak link URLnya…
…edit…

Beres sore harinya… 😀

Posted in Extraordinary

January 15th, 2012 by Adhi Widjajanto

Sabtu sampai Minggu New Year Eve seperti biasa kami bakar-bakar di depan rumah. Ya bakar kembang api (walau nggak seheboh tetangga-tetangga) dan beberapa sosis, jagung, dan ayam. Paginya (yup, tanggal 1 Januari) saya membantu ipar-ipar pindahan rumah. Lalu Senin malam sampai jam 11 malam memasang meja sembahyang buat alm. Papa mertua. Selasa pagi antar TV rusak ke tempat servis, lalu perpanjang STNK motor, lalu ketemu Arman di Pacific Place. Niatnya mo ngantor juga, tapi siang itu saya mulai demam. Rabu sampai Jumat badan demam tinggi. naik turun dah. Obat turun panas seperti dilempar ke laut saja.
Menyerah, malam-malam ke klinik di depan rumah. Diagnosa awal: DBD atau Tifoid. Deu… dapat obat dan kalau demam masih menyerang hari Sabtu harus tes darah. Nah hari Sabtu kok ya dah ga demam. Cuman sendawa asam lambung ini semakin menjadi-jadi. Biarlah, Senin istirahat ga ngantor, Selasa sampai Jumat saya ada training yang “rugi abis” kalau ditinggalkan. Selasa ngantor, training ding, di salah satu hotel. Tapi lama-lama tambah ampun-ampunan. Perut nggak mau terima apapun, minum tiga teguk air putih pun langsung muntah. Malamnya ke internis di Hermina.
“…Sus, coba deh apa saya yang salah, sepertinya matanya kuning ya…” kata dr Sayid. Deng! Kudu cek lab! Kemungkinan livernya yang kena. Sembari nunggu 2 jam hasil lab, saya balik ke rumah. Nyetir cuman beberapa kilo saya tempuh dalam waktu setengah jam! Mandi, trus istirahat bentar. Perasaan saya sudah nggak enak. Berangkat ke Hermina, saya dapat insting buat cari tempat parkir yang paling aman. Sampai UGD dokter jaganya, mendiktekan hasil lab ke dr Sayid, vonis: kudu opname! Kadar lemak di dalam hati saya super tinggi. Yang harusnya cuman puluhan ini sampai ribuan. Dokter jaganya sempat nyeletuk, “…masih bisa nyetir ya, biasanya sudah hilang kesadaran…” wedew. Opname dah, kudu masuk ruang isolasi (muahualnya rek). Ada kendala di asuransi lagi (pas ganti provider), jadi kami belum tahu apakah bisa fully covered atau tidak. Apesnya lagi, ruang isolasi pas penuh, cuman ada VIP yang semalamnya 900 ribu lebih. Ya mau gimana lagi, masuk ya masuk lah, dengan harapan tercover asuransi.
Jam 11 malam saya baru bisa masuk kamar. Diinfus, dapat injeksi sehari 2x dengan dosis banyak, obat 3 jenis, dan sehari sekali infusnya diganti pakai obat 100ml. Huaduh! Tapi benar-benar bed rest. Hari ketiga saya cek darah lagi, kadar lemak turun ke 800. Lumayan, tapi dr Sayid belum mau memulangkan saya. Deu… untung sudah pindah ke ruang isolasi. VIP memang nyaman, tapi kalau tiap hari khawatir dengan tagihan yang membengkak ya sama saja kan. Oh ya, tes darah hanya positif di Hepatitis A, B dan C negatif. Wow, melegakan. Yang A katanya bisa sembut total sih.
Tadi pagi saya cek darah lagi dan sudah turun ke 400, dan boleh pulang! Yippie! Eh… dikasih surat juga ga boleh kemana2 dulu sampai Kamis nanti tanggal 19 Huaa…!!! Good news is, sepertinya semua biaya tercover asuransi. Phiuh… yanty sempat mengintip, tembus 12 juta lebih. Sakit itu memang mahal.
So, sekarang saya harus bed rest dulu. Jaga badan, jaga makan, jaga etc. Kalau Kamis besok kadar lemak di hati bisa drop ke normal, nggak ada lagi surat dokter tambahan.

Posted in Extraordinary

December 13th, 2011 by Adhi Widjajanto

Woro-woro bentuk Kartu Keluarga yang baru itu kapan ya? Sudah lama sepertinya. Saat tetangga-tetangga sudah mendapatkan undangan untuk memperbarui KK, kami satu-satunya yang belum dapat. Akhirnya berinisiatif ke Kantor Kelurahan sendiri disertai “restu” dari RT. Masukin berkas dan meninggalkan “uang administratif”, kami kembali lagi dua minggu kemudian. “Belum jadi”, katanya. OK deh, satu bulan kemudian saya datang lagi, dan mendapat jawaban yang sama. Hebat…! lalu saya datang dua bulan kemudian dan mendapat jawaban yang bikin saya hampir meledak, “Ada kendala, datanya di sini terhapus”. Nuts!!!
Saya diminta mengisi kembali formulir permintaan pembaruan KK dan disuruh mengurusnya sendiri ke Kantor SuDin Kependudukan & Catatan Sipil Jakarta Barat. Orang Kelurahan cuman bilang, “Kantor mereka offline Pak”. Hebat nggak, seluruh distribusi nomor KK yang baru dan nomor NIK itu dari kantor itu, dan belum online ke Kelurahan? Lha kok downgrade? Tapi saya lakoni saja lah. Mumpung sedang in the mood sama pegawai pemda.
Setelah dapat tanda tangan RT dan Lurah, saya ngeluyur ke kantor itu di kawasan Meruya. Menghadap ke designated officer, menunjukkan permasalahannya, isi form, dan hanya menunggu sekitar 30 menit plus “uang administratif” saya dapat nomor KK yang baru, ditulis di formulir yang saya masukkan tadi dengan pinsil plus paraf dia (saya pikir). How funny is that! Berbekal angka itu saya balik ke Kelurahan untuk “mengulang” prosesi permintaan pembaruan KK. Dijanjikan 2 minggu lagi. Doh… semoga tidak benar-benar iteratif kejadiannya…
Nasib eKTP saya? Mbuh lah…

Posted in Extraordinary