Category: My Life With Jesus

September 6th, 2005 by Adhi Widjajanto

“Jenuh blogging tentang Dia?”
“Bukan…”
“Lalu?”
“Jenuh jalan bareng Dia”

Hii… ngeri. Tapi kenyataannya? Aku sedang dalam posisi menjaga jarak denganNya. Huu… parah. Kangen, membutuhkan, tapi enggan menghampiri. Itu aku saat ini.
Mungkin aku jenuh dalam melayani Dia karena motivasiku melenceng jauh, mungkin karena sebab lain lagi. Yang pasti aku lebih banyak di rumah sekarang. Banyak merenung dan menemani Yanty & Willi di rumah. Paling tidak aku nggak kehilangan pegangan. Yang aku tahu pasti Dia sekarang sedang memperhatikanku. Banyak ‘batu sandungan’ 2 bulan terakhir ini, tapi kehadiranNya tambah nyata di depanku.

Posted in My Life With Jesus

August 1st, 2005 by Adhi Widjajanto

Tepat 9 tahun yang lalu saya membuat janji untuk menemani Yanty selama sebulan, saat libur kuliah, agar dia tetap di Salatiga. Hem… itulah awal dari kedekatan kami. Saling membutuhkan, saya pikir. Yanty harus tetap di Salatiga untuk meneruskan bimbingan skripsinya, sedangkan saya perlu teman untuk melewatkan liburan panjang ini, he… he…
Awal komitmen seperti itu ternyata berat juga. Hari Rabu malam adalah hari saya nongkrong di depan SCTV nonton The X-Files, dan bulan Agustus itu saya terpaksa melewatkan sekitar 4 eposide. Bayangkan, tiap hari dari pagi sampai malam mesti menemani Yanty kemana saja. Pagi cari sarapan, lalu ke perpustakaan sampe siang, habis itu makan (akhirnya saya jadi hapal segala makanan di luar rumah), sore bimbingan skripsi, trus cari makan, dan antar Yanty pulang ke kost. Memang tidak setiap hari seperti itu. Sering kali malah bertengkar, diem-dieman & nggak ketemu beberapa hari (jadi bisa nge-game, kekekeke…), tapi trus kangen, telpon, beresin. Hie… hie… hie…
Selama sebulan itu kami “exclusively hang out”, begitu kata anak-anak GBIPDS3 bilang. Nggak sehat dan sangat tidak disarankan, tapi banyak hal yang kami dapat dari situ. Kami jadi saling tahu karakter masing-masing, jadi saling tahu kejelekan masing-masing.
Sampai 31 Agustus berakhirlah janji saya, tetapi tidak dengan kedekatan kami. 26 Oktober 2002 kami mengucapkan janji nikah, lalu 23 Juli 2003 kami dapat titipan dari Allah bayi yang lucu yang bertumbuh menjadi anak yang luar biasa, lalu akhir tahun ini pula kami menunggu adiknya Willi lahir. Tak terasa 9 tahun sudah berlalu. Sungguh suatu perjalanan hidup yang luar biasa bersama Allah, Tuhan kami.
Happy anniversary my lovely wife!

Posted in My Life With Jesus

July 19th, 2005 by Adhi Widjajanto

Di hadapan Tuhan dan jemaat, saya sebagai orang tua mengambil komitmen; membawa anak saya Daniel William Widjajanto mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus; mengambil tanggung jawab untuk mengasihi, melindungi, dan mendidik anak saya sesuai dengan kebenaran firman Tuhan; menjaga anak saya dari pengaruh jahat termasuk media, pergaulan, dan lain-lain yang dapat merusak hidupnya sehingga ia dapat membedakan hal yang baik dan jahat.
Komitmen di atas kami ucapkan saat momen penyerahan anak di Abbalove Greenville. Setelah itu para konselor mendoakan Willi dan kami sekeluarga. Terharu, Yanty sampai meneteskan air mata. Setelah itu foto bersama, dan sempat-sempatnya Willi menunjuk ke A Siong saat shutter ditekan. Tau’ deh jadinya kayak apa. Thanks juga buat Pampi yang udah rela ditodong pegang handycam buat shooting juga.

Read more of this article »

Posted in My Life With Jesus

June 28th, 2005 by Adhi Widjajanto

Sabtu kemarin, setelah doa penutup acara Wisuda Pembinaan Pria Sejati periode 2005, Arman menghampiri saya dan berkata, “Kok rasanya hati kita nggak di sini ya, ada yang kurang, tapi gue ngak tahu apa”. Saya duduk terpekur, mencerna perkataannya dan tiba-tiba saja saya berkata, “Kita sudah dalam comfort zone Man. Soal wisuda ginian aja, kita siapin dalam seminggu juga bisa. Semua udah tahu kerjaan masing-masing, udah bisa jalan sendiri-sendiri”. Bukan sombong, cuma pekerjaan kami di pelayanan Pria Sejati ini sudah terpatri di benak masing-masing. Jadi seperti robot saja, bekerja setelah diperintahkan, dan melakukan sesuai kebiasaan. Tidak lagi dengan sepenuh hati melayani jiwa-jiwa dan Dia.
Saya pribadi sudah tujuh periode dalam pelayanan ini. Jujur, semakin hari saya mengingat bahwa ini adalah pekerjaan Allah hanya dikala kuota peserta kurang, saat pembagian kelompok, dan saat-saat altar call. Selebihnya saya bekerja demi kepuasan pribadi. Bisa dekat dengan pemimpin, bisa punya data demografi dengan berbagai variabel sebaran, bisa coba-coba gadget baru (kemarin di wisuda sempat main-main dengan video mixer 4 channel). Salah… tujuan pelayanan saya sudah melenceng jauh.

Read more of this article »

Posted in My Life With Jesus

May 13th, 2005 by Adhi Widjajanto

By Maya Angelou
When I say… “I am a Christian”
I’m not shouting “I’m clean living.”
I’m whispering “I was lost,”
Now I’m found and forgiven.
When I say…”I am a Christian”
I don’t speak of this with pride.
I’m confessing that I stumble
and need CHRIST to be my guide.
When I say… “I am a Christian”
I’m not trying to be strong.
I’m professing that I’m weak
and need HIS strength to carry on.
When I say… “I am a Christian”
I’m not bragging of success.
I’m admitting I have failed
and need God to clean my mess.
When I say… “I am a Christian”
I’m not claiming to be perfect,
my flaws are far too visible
but, God believes I am worth it.
When I say… “I am a Christian”
I still feel the sting of pain,
I have my share of heartaches
So I call upon His name.
When I say… “I am a Christian”
I’m not holier than thou,
I’m just a simple sinner
who received God’s good grace, somehow.

Read more of this article »

Posted in My Life With Jesus

February 7th, 2005 by Adhi Widjajanto

Pagi itu, Papi Indrawan bangun duluan, mandi, trus bersiap untuk mengkoordinir doa pembina, jam 6.30. Aku bilang, “Pak, saya siangan ya bangunnya”. Papi cuma bilang, “Ya…” sambil ke luar, karena sepertinya sudah terlambat. Matahari memang selalu engan muncul di Puncak yang selalu berkabut di musim hujan ini. Aku tidur lagi. Rasanya pulas banget tidurnya, sampe jam 06.57 N6100 ku nge-beep. SMS dari Arman, “Sanka, are you dead?”. Gee… reply, “I’m cool. Be there in 20 mins”.
Bangun, nyalain air panas (yap, PLB punya air panas 24 jam), mandi, rapiin badan, panasin mobil sambil doa pagi plus menikmati keheningan PLB (lainnya dah masuk aula, yang lumayan jauh dari kamar panitia, salah bagi kamar aku). Jam 7.30an dah nongkrong di depan notebook lagi. Sun An lagi berkutat dengan handycam. Dan Johny sedang berkutat dengan EasyWorship. Oh, gantian nih ceritanya. Gee… Kapan ya ada yang bisa gantiin aku untuk arrange bagi kelompok, bagi kamar…
Oh, Arman nggak ada di aula. Yg in charge Agus, dan setelah lihat aku di belakang, dia seakan memindahkannya ke aku. Buset dah. Sibuk lagi. Padahal otakku dah mulai mikir teknikal beres-beres dan kepulangan. Motoku, “peserta pulang, tim juga pulang, barengan”. Ya udah, ditunda dulu.
Acara rada molor. Gee… emang ada yang pengin membatasi lawatan Allah? Let it be… Akhirnya acara foto bersama dilewatkan. Mungkin nanti saja pas kelas terakhir, per supervisor bisa kali ya di Maizt lantai 3. Sesi terakhir di luar hujan deras. Ko Rubin sempet lihat mataku yang kecapekan, “Nopo Dhi, kok lemes“. “Pilek Ko, ket teko mrene. Awas ketularan lho…“. Sempat pinjem payung mo ke mobil ambil baju ganti. Buset deh, tiap kelar kotbah, Ko Rubin pasti ganti baju, berkeringat. Gee… padahal di Puncak lagi dingin-dinginnya, hujan lagi.
Sesi terakhir ditutup dengan wipe out altar call (semua maju ke depan) sekitar jam 4. Aku dan tim sudah packing, berberes apa yang bisa diberesin duluan. Plung-plung… semuanya masuk container box plastik. Hee… jadi inget Taswin yang beliin box pertama kalinya. Dia sekarang 100% di KEGA. Upload ke espass, dan viola! Jam 4.30 sore Aku, Erwin, dan Junanta dah meluncur ke bawah. Di depan bis pertama. Hebat! Ini rekor, baru pertama kalinya aku pulang di depan bis.
Turun pelan-pelan karena hujan dan jalan super mini. Sampe jalan raya Puncak, agak merembet. Jalan bisa dibilang super sepi kalau dibandingkan dengan hari-hari biasa. Nggak tahu kenapa. Mungkin karena minggu depan ada libur panjang, jadi banyak yang masih berlibur di Puncak. Arus turun lumayan sedikit. Cuman macet di daerah pasar… apa tuh. Nggak tahu namanya. Menyentuh tol Ciawi, langsung 120. Berhenti sejenak ambil kartu tol, lalu 120 lagi. Kadang 135 kalo rada sepi. Nggak hujan. Keluar tol Slipi, anterin Junanta di Kavling Polri (baru tahu itu daerah di sekitar Jelambar), lalu masuk tol Kapuk. Sampe di rumah jam 7.
Disambut Yanty, cup di bibir (jangan ada yang iri yaa… :D), dan A Eng nyeletuk, “Kok lebih cepet dari yang dulu…” He… he… he… Sukses Man, kita potong waktu nih! Lalu say bye to Erwin, dan masuk rumah. Bercanda sama Willi, mandi, bercanda lagi, makan sup panas, trus bobo.
Whoaa…!!! What a wonderful weekend!!!

Posted in My Life With Jesus

February 6th, 2005 by Adhi Widjajanto

Malam, pilekku tambah mengganggu. Sesi ketiga Kak Budi Jo aku dah nggak bisa konsentrasi. Untung masalah admnistrasi seperti ganti nama, ganti kelompok, pindah kamar, de es be, udah kelar sebelum sesi dua.
Malam itu, pas altar call, biasanya aku ambil alih kamera untuk shoot di panggung. Tapi saat itu aku biarkan Johny yang berkreasi. Aku duduk terkapar di belakang. Sambil sentlap-sentlop, bersin nggak ada habisnya. Dan aku percaya Allah tahu batas kekuatan badanku, Allah tahu kapasitasku di camp ini. Tiba-tiba Kak Budi Jo bilang, “…yang sakit, maju ke depan! Kita akan mendoakan saudara…” gee… selagi Kak Budi berdoa, dan para pembina menumpangkan tangannya ke peserta di depan panggung, rasanya badanku lebih enak. Bersin tiba-tiba berhenti, dan hidungku bisa menghirup udara dingin Puncak lagi… Nggak mungkin pengaruh Panadol Cold & Flu yang baru aku minum dua menit yang lalu. It’s super extraordinary!!! Padahal aku masih duduk di kursi yang sama, di belakang, bareng Sun An…
Jam 1 pagi semua tim kembali ke kamar. Arman, Andre, dan Sun An masih lembur, kerjaan kantor. He… he…

Posted in My Life With Jesus

February 5th, 2005 by Adhi Widjajanto

Pagi terbangun jam 5, alarm hape bunyi. Ouaahhh… mata masih berat. Tapi terbayang peserta camp bakal berangkat jam 8 dari Jakarta. Ui… mesti prepare cepet-cepet. Lihat hape, sms dari Agus yang lagi ngorok di kamar sebelah, minta ijin bagun siang. Nggak apa-apa lah. Dia nanti kan on stage, nggak mungkin menguap di depan.
Mandi, doa bentar sambil menatap karya Allah di Puncak, trus gedorin pintu satu satu, lupa kalo Agus minta bangun siang. Gee… Sorry Gus. Silakan bobo lagi.
Akhirnya baru jam 6.30 kita semua ready, kerja 150% di aula. Bongkar semua perlengkapan dari Espass (bangku belakang aku copot, saking penuhnya). Angkat ke Aula. Set up meja panitia sepanjang 6 meter!). Bersihin aula, tempel daftar tempat tidur di 56 kamar, pasang 12 spanduk, bikin 170 name tag, atur 180 bangku, pasang 2 lampu spot 500 watt, pasang proyektor dan 30 meter kabel VGA (so Sun An bisa operate dari belakang mentok, kalo mau sambil tidur juga bisa), set up 2 notebook linked dan satu printer, set up handycam dan tripodnya nangkring di atas meja, tempel absensi di teras aula, tempel daftar kamar dan daftar kelompok di teras aula, dan terakhir isi perut alias sarapan.
Arman datang jam 9, tanya, “ada yang perlu dikhawatirkan nggak?” Aku bilang, “nope, kecuali ini” sambil jempolku menunjuk ke 1/4 bagian aula yang masih tertutup. Jam 10 bis pertama sampai, aula mulai ramai. Kita sampe harus memberi penjelasan ke Acer kalau kita akan berusaha meredam sebisa mungkin kegaduhan di aula…
Akhirnya jam 11 sekat pembatas itu dah dibuka… Kita lalu memanjangkan meja panitia jadi 12 meter! Set up meja pembayaran, meja penjualan buku, meja kunci kamar, dan terakhir meja complaint center (yap, sudah ada sejak camp tahun lalu).
Jam 12 makan siang dihidangkan, aku ikut ngantri, makan, kenyang, dan lalu duduk terhenyak di depan notebook, sebelahan sama Sun An. Siap-siap dengerin Kak Eddy menyampaikan pesan Tuhan buat seluruh pria…

Posted in My Life With Jesus

February 5th, 2005 by Adhi Widjajanto

Janjian kumpul di Maizt jam 8, akhirnya molor sampe jam 9 malam. Willi sakit, jadi pulang kantor mesti anterin yanty beli obat dulu. Gee… untung Erwin nitipin motornya di rumah, jadi kalo ada perlu mendesak ke luar bisa pinjem motor dia. Pas berangkat, kena macet lagi. Akhirnya datang paling telat di Maizt, lainnya dah pada nongkrong di sana. Istirahat sebentar, lalu berangkat.
Pas itu aku dah rada pilek, iseng minta tolong Joshua buat nyetirin Espass. Eh, lha kok mau! He… he… Hebatnya lagi, Joshua saat itu bawa supir karena males nyetir ke puncak. Hebat ya… Thanks Josh…!!!
Di jalan ngobrol bareng Sun An, dari A sampe Z soal IT. Erwin ma Joshua cuman nyindir, nggak mudeng kita ngomong apa. Naik ke puncak, batereku dah bener-bener abis. Apalagi hidung ma tenggorokan dah seret flu. Ketiduran…
Bangun pas udah sampe belokan Pusdiklat Lautan Berlian. Selagi mikir point-point briefing malam, ngeliat lampu-lampu Cipanas dari ketinggian. Gee… keren… sayang udah jam 12 malam, nggak sempet berhenti buat foto-foto. Penginnya tidur.
Sampe PLB, beberapa problem kecil bermunculan. 1/4 aula masih dipake untuk Acer Sales Camp, dan mereka kelar jam 12 siang. Wah, overlap 1 jam nih dengan kita. Akhirnya aku putusin pake seluas yang kita bisa. Hee… sampe pasang kursi persis di dinding pemisah tempat mereka mengadakan acara. Setelah nge-brief staf PLB yang 100% kooperatif, lalu diterusin briefing malam. Bagi tugas (yang baru disusun di jalan barusan) untuk besok pagi jam 5… er… benernya nanti pagi. Soalnya briefing malam itu jam 00.30. Bagi tugas kelar, kita masuk kamar. Bobo… Aku sempetin SMS Arman soal kondisi aula dan kamar yang masih kepake… no response off course. Pasti dah bobo… Uh, kangen Yanty…

Posted in My Life With Jesus

February 2nd, 2005 by Adhi Widjajanto

Beberapa hari ini saya dikejar deadline untuk registrasi Men’s Camp. Atur peserta sesuai kuota, bagi kelompok, bagi kamar, bikin name tag, atur pembina, cetak materi, cetak hand out, cetak perlengkapan camp, dan seabreg printil-printil kecil lainnya. Tapi semuanya itu harus melewati satu tahap: pendaftaran peserta, dan sampai sekarang belum beres-beres juga. Masih ada yang batal tambah. Hem, seperti daftar mata kuliah saja.
Setelah itu harus telponin setiap calon peserta yang tidak memberikan konfirmasi keikutsertaan. Kemarin Senin semua supervisor (total 5 orang) berjibaku kontak ke 41 calon peserta yang tidak datang di Kelas Awal. Nggak tahu deh habis pulsa berapa. Salah satu bentuk what we pay untuk pelayanan ini selain super capek.
Tapi worth it kok dengan what we get. Seperti kemarin, ada ibu-ibu yang daftarin suaminya ikut camp. Di akhir pembicaraan teknis keberangkatan, si istri tanya ke saya, “Pak, camp ini bisa bikin suami saya berubah nggak, dia nggak bisa memaafkan saya…”. Sedetik saya ‘speechless’. Tapi Allah mengingatkan saya apa yang Dia ucapkan hari Minggu kemarin di ibadah, “Bu, memang materi seluruh sesi di Men’s Camp berkaitan dengan pemulihan. Tapi biarlah Allah yang bekerja. Kita serahkan semuanya ke Allah…” dan saya jadi sedikit lupa kata-kata apa saja yang sudah saya ucapkan selanjutnya untuk sedikit menenangkan seorang istri yang penuh harap di acara ini.
Saya single fighter mengurusi seluruh pendaftaran via SMS, email, fax, dan telepon. Dan memang tidak sedikit pendaftar adalah perempuan! Jadi inget Pak Cole pernah bilang, “mereka merindukan kita (para pria) berubah”.

Posted in My Life With Jesus