Category: My Thoughts

August 10th, 2013 by Adhi Widjajanto

Keduanya dipasang di projector FXR1 dengan ballast Hylux 35W. Yang kiri Cnlight 4300K 35W yang kanan Osram CBI 5500K 35W, keduanya bukan bulb baru. Difoto menggunakan Canon EOS 350D w/ EF 50mm, f/1.8, WB Auto (maaf, lupa diset)
Speed 1/20 seconds:

Speed 1/30 seconds:

Speed 1/50 seconds:

Mirip yah…

Posted in My Thoughts

August 10th, 2013 by Adhi Widjajanto

Pagi-pagi sudah ada telepon dari unknown number. Ada beberapa kemungkinan, tawaran KTA (dan sejenisnya) atau tanya kost. Reflek saya geser jari ke SMS Quick Response, “Maaf sedang tidak bisa bicara di telepon. SMS saja ya.” Kalau tawaran KTA biasanya tak ada balasan, kalau tanya kost biasanya langsung bertanya availability kamar atau lainnya, tapi yang kali ini jawabnya cukup menggelitik, “Maaf saya hanya mau bicara tdk dgn sms. Sorry.” Hahaha…!!! EGP! Tapi cukup kuat buat bahan blogging saya pagi ini… 😀 Thx anyway… whoever you are…

Posted in Extraordinary, My Thoughts, Shouts & Whispers

August 2nd, 2013 by Adhi Widjajanto

Kalau seseorang menyebut dirinya SNers, akan teramat aneh kalau dia tidak punya akun Kaskus. Bagaimana tidak, Kaskus masih mengklaim menjadi situs komunitas terbesar di Indonesia.
Saya sendiri? Jelas punya.
Berapa? Yang saya pakai sekarang ada dua.
Kenapa harus dua? Seperti alasan Kaskuser yang lain: biar punya stok cendol dan bata lebih dari satu… Hahaha…!!!

Sudah jamak kalau seorang Kaskuser pasti punya klonengan (alternate ID). Alasannya sih bermacam-macam, kalau saya, ya itu tadi. ID saya yang lama sudah cukup mature dengan 7.283 posts, lagipula saya sedang ingin mensosialisasikan kegiatan kami yang baru: oprek sendiri alias do it yourself.
Well, that’s all me below… 😀

Posted in My Thoughts

March 27th, 2013 by Adhi Widjajanto

Menyebalkan! Memang salah saya sendiri kenapa tidak tanya sini situ dulu sebelum membeli. Akhirnya gini deh, dapat barang discontinue dengan harga baru.
Ceritanya saya beli Honda Vario 125 CBS Helm-in tanggal 13 Maret dengan harga normal. Belum saja STNK nya jadi, Astra Honda Motor (AHM) mengeluarkan Honda Vario 125 CBS Helm-in ISS tanggal 20 Maret dengan harga terpaut Rp. 350.000 dengan CBS Helm-in Non-ISS plus men-diskontinu-kan varian yang barusan saya beli. Ha!!! Jelas ngomel-ngomel saya. Saya menyalahkan sales di AHASS tempat saya beli motor karena tidak memberikan informasi mengenai rencana peluncuran produk baru. Saya juga mengirimkan keluhan saya ke CS AHM, siapa tahu Vario saya bisa diupgrade ke CBS ISS. AHASS tak menjawab email saya, sedangkan CS AHM menjawabnya seperti ini, kurang lebih, “mengubah motor berarti menggugurkan garansi”. Yang ditanya apa jawabnya apa. Lucunya, kemarin tanggal 26 Maret ada artikel di majalah online yang mewawancarai Bapak Sarwono Edhi, Technical Training Development AHM. Beliau bilang bisa saja mengupgrade Vario 125 dengan fitur ISS walau estimasi harga sekitar 2,5 juta. Nah lho… Jadi secara teknis bisa, tapi tidak boleh?
Apapun, saya sudah punya motornya, kemarin juga sudah jadi STNKnya walau saya kembalikan lagi karena salah nama. Dengan kepala dingin, saya jadi bisa berpikir banyak. Apa sih fungsi ISS? Keuntungannya apa dengan motor ber-ISS?

Read more of this article »

Posted in Extraordinary, My Thoughts

March 5th, 2013 by Adhi Widjajanto

Sejak mbak kami cabut dan belum ada gantinya, Saya kedapatan tugas antar jemput anak-anak dari sekolah dan les. Saya pun masih berangkat kerja pagi dan sore harinya balik lagi ke kota untuk menjemput Yanty.
Cape? Ampun-ampunan! Kalau biasanya dalam sehari saya menempuh jarak 50km, sekarang jadi melonjak hampir 100km dalam sehari. Masih teringat saya servis ganti oli dua minggu lalu di kilometer 20 ribu. Sore tadi sudah 20.965… Sebenarnya sih yang beneran bikin cape itu bolak balik antar jemput anak-anak. Jadwal sekolah dan les mereka hampir tak ada yang bersamaan. Paling tidak harus berada di jalan tak kurang dari 7 kali. Nggak jauh sih, paling sekali jalan jemput anak-anak hanya 1 km sampai 5 km. Mondar mandirnya itu yang benar-benar berasa jadi tukang ojek.
Yah paling tidak tahun ajaran 2013-2014 mendatang mondar mandirnya cukup berkurang drastis. Anak-anak harusnya jadwal sekolah dan les sudah lebih banyak yang bersamaan. Tapi antara mencari mbak atau mencari tukang ojek beneran, masih dilema. Ada masukan?

Posted in My Thoughts

February 23rd, 2013 by Adhi Widjajanto

Lagi-lagi kami krisis pembantu rumah tangga. Yang terakhir ini sungguh mengesalkan. Bagaimana tidak, kami membayar sejumlah uang ke broker PRT saat mendapatkan mbak yang terakhir ini, dengan garansi 2 bulan tidak akan resign. Kebetulan dia juga memasukkan PRT ke tetangga sebelah.
Tak tahunya setelah jalan satu setengah bulan, tiba-tiba saja minta pulang. Alasan klasik, mau dijodohkan, sudah dijemput orang tuanya. Mau gimana lagi, selain memulangkan mereka, dengan janji (yang ternyata gombal) akan balik lagi setelah satu minggu. Anehnya, mbak di tetangga sebelah pun juga ikutan pulang. Lho… jadi curiga. Benar saja, setelah satu minggu Yanty kejar terus dengan SMS, “kapan balik?” akhirnya dia ngaku kalau dia nggak pulang tapi dipindahkan ke rumah lain oleh sang broker! Wow!
Kami tahu, sejak pemerintah menetapkan UMR yang cukup tinggi, calon mbak-mbak PRT ini lebih memilih menjadi buruh pabrik. Para broker PRT jadi kekurangan stok, padahal permintaan tetap tinggi. Cara cepat untuk tetap berbisnis ya dengan memutar perpindahan PRT. Paling tidak dia mendapat easy money dua bulan sekali.
Sang broker ini adalah istri penjual mi ayam langganan kami sejak 2001. Benar-benar sudah kenal baik, hampir tiap Sabtu kami sarapan di tempat dia. Cuman rasanya di beberapa tempat memang uang masih nomor satu.

Posted in My Thoughts

January 3rd, 2013 by Adhi Widjajanto

Kenaikan tarif parkir mobil dari Rp. 2.000 menjadi Rp. 3.000 per jam sudah saya rasakan sejak akhir desember lalu. Nggak gitu ngaruh sih soalnya mobil juga dipakai saat kami ber-4… eh… ber-5 pergi barengan. Selain itu selalu naik motor. Ngirit BBM = ngirit belanja negara (please… see the big picture). Nah ngantor kemarin saat masuk parkiran tertera pengumuman kalau tarif parkir motor pun sudah ikutan naik dari Rp. 1.000 menjadi Rp. 2.000 per jam! Hui… Hari pertama ngantor pas pulang harus mengeluarkan biaya 2x lipat hanya untuk parkir saja.
Ide menaikkan tarif parkir agar warga Jakarta beralih ke angkutan umum rasanya belum cocok buat saya. Ehm… soalnya masih jauh lebih murah kalau naik motor (diisi pertamax dengan harga floating plus parkir 2x lebih mahal dari tahun lalu) dibandingkan dengan naik angkutan umum (baca: ojek + Busway). Buswaynya sih murah, cuman transport untuk mencapai halte busway terdekat itu yang sangat tidak murah. Bawa motor dan parkir di dekat halte Busway? Malah tambah mahal lagi karena tetap harus membayar parkir motor yang mahal. Naik sepeda? Usul yang bagus, sayang tak ada parkiran/ penitipan sepeda seperti di dusun Ibu saya (Grabag, Kutoarjo)

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers

November 18th, 2012 by Adhi Widjajanto


Saya baru memperhatikan Mas Bakso Malang ini pun membedakan antara akun operasional dan akun personal.Saat saya memberikan uang 50 ribu untuk semangkuk 7 ribu rupiah dia tidak langsung mengambil kembalian dari dompetnya tapi menukarkannya dulu receh ke laci kasirnya. Belajar dari pengalaman? Bisa jadi. Anda sendiri?
Buat apa sih punya “dua dompet”? Kasus Mas Bakso Malang tadi memang bisa dikatakan membedakan uang bisnis dengan uang personal. Tapi buat karyawan seperti saya dua dompet juga berguna untuk memisahkan dana operasional yang digunakan setiap hari dan dana yang harus disimpan/ ditabung. Well, intinya sih cuman satu kata: tertib! Ha…

Posted in My Thoughts

October 2nd, 2012 by Adhi Widjajanto

Entah kalau di gereja lain. Tapi kalau di tempat saya beribadah, slide-slide yang muncul di belakang mimbar saat praise & worship terkesan malas-malasan, muncul beberapa detik terlambat dari lagunya, dan kadang malah tidak muncul sama sekali untuk satu atau dua slide. Why?
Saya memang terbiasa duduk di deretan belakang, jadi selalu bisa melirik ke belakang saat slide lagu terlambat atau tidak muncul. Sebagian besar saya tidak tahu, operatornya duduk menghadap ke layar komputer sedang melakukan sesuatu, tapi tak ada perubahan di slide. Atau saat operator “diganggu” dengan titipan pembicara untuk materi kotbah. Atau saat pengganggu lain mengajak berbicara. Aneh, operator projector harusnya seperti on stage performer, fokus 100%, karena apa yang dia lakukan langsung terefleksikan di atas panggung, dan sebagian besar mempengaruhi jemaat.
Sejak 2003 saya sendiri adalah operator projector, walau bukan di ibadah minggu. Beberapa hal (tips) yang saya dapat, mungkin bisa saya bagikan di sini:

Read more of this article »

Posted in My Thoughts

December 22nd, 2011 by Adhi Widjajanto


Set yang kiri memblokir ambience sounds lebih baik daripada set yang kanan, karena karetnya benar-benar masuk ke dalam lubang telinga. Disebutnya “ear canal”. Well, saya juga pakai yang jenis itu, dengan ada kelemahan: jangan pakai sambil makan or mengunyah or sedang pilek karena segala “inner sounds” dari tubuh pun akan terdengar lebih jelas.
MOS: Kalau lagi makan, pakai set yang kanan… 😀

Posted in My Thoughts