Category: Shouts & Whispers

April 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Terhitung dari 16 Maret 2020, kantor saya menerapkan Work From Home (WFH), terkait covid-19. Cuman karena Yanty masih ngantor, saya masih antar jemput, biar dia ga berdesak-desakan di halte busway, dan tetap bisa menerapkan Social Distancing/ Physical Distancing yang sampai saat ini disarankan pemerintah. Teman kantor ada yang nyindir, saya (dan beberapa teman senasib) merupakan kumpulan SuamiTakutIstri, padahal kami ini kumpulan SuamiSayangIstri lho… ner ga?

Hari demi hari, jalanan tambah lengang, bahkan trip saya dari rumah ke kantor Yanty dan balik rumah lagi pernah hanya ditempuh 40 menit. Itu total 46km PP. Tiap hari berarti saya jadi supir 92km. Gapapa sih kalau jalanan lengang seperti itu. Bahkan saya sukses nyalain cruise control 60kpj di Jalan Daan Mogot. Hari biasa, boro-boro 60kpj…

Cuman, jalan sepi itu saja yang jadi hiburan saya tiap hari. Sesampainya di rumah, saya dihadapkan dengan anak-anak yang harus mengerjakan tugas harian dari sekolah. Yang pada besar sih ga perlu ditungguin, tapi yang kecil ini (kelas 1 SD) tetap harus di guide, so saya merangkap jadi guru, plus upload lembar pekerjaan ke portal eLearning yang digunakan sekolah.

Belum lagi pertemuan-pertemuan online tambah banyak. Entah kenapa, dulu saat belum WFH sepertinya rapat, diskusi, dan sebangsanya dilakukan seperlunya. Saat ini karena online, jadi diberi kemudahan mau kapan saja, ga peduli ganjil genap, ga peduli hampir jam pulang kantor, dsb. Plus pekerjaan offline biasa juga masih ada. Jadi sebenarnya pada masa WFH seperti ini, waktu saya malah lebih efisien daripada saat sebelum WFH.

Nah, karena saya kerja di rumah, mau ga mau pekerjaan rumah juga terpampang didepan mata. Tembok rembes saat hujan, AC bocor, pipa dapur mampet, apa lagi ya… Mesti dikerjakan, dan kalau saya bisa bagi waktu dengan tepat, saya bisa mengerjakannya di antara jeda meeting. Hoho… benar-benar efisien waktu saya. Cuman selesai WFH, saya jadi benar-benar exhausted. Belum lagi sorenya harus keluar rumah jemput Yanty.

Belum kebayang nanti saat sudah mulai ngantor lagi. Mungkin saya bakal rada susah melepas cara kerja gaya gini. Lihat saja nanti. Anda? Any comments will be appreciated…

#staysafe
#dirumahaja

Posted in Extraordinary, Job Loads, Kids, Shouts & Whispers

March 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Honda BR-V yang bocor saat melalui genangan tinggi, ini beberapa foto tambahan untuk melapisi baut jok dengan sealtape agar air tidak rembes dari lubangnya.

Baut jok yang rembes air
Buka dengan kunci sok nomor 14
Pakai sealtape yang ga abal-abal
Lapis dengsn sealtape, kalau saya 12-15 putaran

Semoga sembuh rembesnya. Eh… Semoga Jakarta ga banjir lagi… Hehehe…

Posted in DIY, Shouts & Whispers

February 27th, 2020 by Adhi Widjajanto

Pernah di bully waktu kecil gara-gara nama? Istri saya namanya Yanty, selalu dijodoh-jodohkan dengan teman lainnya yang bernama Yanto. Saya? “Adi, ayo main bola lagi!” Yang tahu maksudnya berarti kita seumuran.

Dan itu ga cuman waktu kecil doang. Candaan itu juga nongol lagi pas kuliah, bahkan saat saya sudah bekerja. Beban? waktu kecil jelas bikin stress apalagi saya dulu introvert (ga percaya? percaya aja dah) jadi ga brani counterback.

Soal masa kerja, saya punya teman yang rela dipanggil Ecil, Edy Kecil. Penasaran apanya yang kecil, ternyata dulu di kantor ini ada yang namanya Edy juga, karena badannya besar, akhirnya mereka berdua dipanggil Ecil dan Edut. Bully? Nggak tuh, karena kami semua memang sudah sampai sedekat itu, MTP family, buktinya mereka berdua oke-oke aja. Malah sekarang Edut balik lagi ke MTP, duduk sebelahan pula.

Nah, 2018 giliran saya yang dapat rekan kerja sama nama. Dan ga mungkin saya jadi Acil sementara beliau jadi Adut, soalnya Pak Adi J. Rusli masuk sebagai Managing Director. Oke saatnya mengalah. Saya jadi AW, beliau dapat privilege tetap Adi, atau kadang jadi AR juga sih.

Selama di MTP, Pak Adi sudah sukses mengarahkan kami menjadi lebih organized, lebih fokus. Setiap meeting pasti ada goalnya, dan kelihatan hasilnya. Dari Platinum Partner jadi Titanium Partner. Dari proyek ratusan ribu dolar jadi proyek jutaan dolar. Yes itu kerja keras kami semua, tapi tak dapat dipungkiri itu terjadi di masa beliau jadi team player di sini.

Bulan depan beliau meneruskan journeynya ke tempat lain, memupuknya agar bisa seperti MTP dan tempat-tempat lainnya yang pernah beliau singgahi. Selamat Pak Adi, sudah lulus dari MTP yang menjadi tempat bagi orang-orang terbaik. Ayo main bola lagi!

Posted in Extraordinary, Job Loads, Shouts & Whispers

February 26th, 2020 by Adhi Widjajanto

Hari ini saya menerjang banjir cukup tinggi si jalan Daan Mogot, Jakarta. Kalau lihat dari rekaman dashcam, kira-kira 30-40 cm tinggi airnya.

Setelah sampai rumah, ternyata nasib BR-V saya ga jauh beda dengan rekan-rekan BRaVer lainnya: air masuk ke kabin! Usut punya usut ternyata air masuk dari baut jok depan yang bagian belakang.

Read more of this article »

Posted in DIY, Shouts & Whispers

February 10th, 2020 by Adhi Widjajanto

Just found easier way to start a WhatsApp chat without adding the phone number to phonebook. Apparently WhatsApp officially provide a site to do that. Open http://wa.me/<phone number in international format>. Example, http://wa.me/628160000000 to start chat with +628160000000.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers

January 25th, 2020 by Adhi Widjajanto

Para BRaVer, sebutan bagi member INVERNITY, sering mengeluhkan oli rembes di blok mesin. Karena di BR-V saya yang sudah 60 ribu KM tidak terjadi kebocoran, saya pikir yang kena bocor itu karena defect, cacat pabrik. Ternyata saya keliru.

Salah satu sebab oli rembes adalah seal bocor. Baca-baca di Internet, seal mesin memang tidak akan bertahan selamanya, pasti akan bocor. Seal mesin terkena panas mesin, plus cuaca, akan mengering dan tidak elastis lagi. Akibatnya oli bisa masuk ke seal dan keluar dari blok mesin. Umur seal tiap kendaraan jadi berbeda-beda, tergantung penggunaanya, oli mesin yang digunakan, lokasi mobil, dan sebagainya. Makanya ada yang di KM rendah sudah rembes, ada yang sudah ratusan ribu KM masih aman-aman saja.

Dari Facebook Group INVERNITY salah satu member yang kebetulan memang punya toko oli online share tentang produk oil stop leak additive, sebagai salah satu cara menghentikan / mengurangi rembes oli. Cara penggunaan additive ini juga cukup mudah, tinggal tuang ke dalam blok mesin dengan takaran sesuai dengan oli yang digunakan. Perlu diperhatikan juga tak semua additive sesuai dengan tipe kendaraan dan oli mesin yang dipakai, jadi sebelum beli harap perhatikan petunjuknya terlebih dahulu.

Oil stop leak additive ini bekerja dengan cara masuk dan menutup celah-celah seal yang kering. Prosesnya tidak instan dan bisa dari penggunaan beberapa KM sampai ratusan KM baru tertutup. Itupun tak menjamin seluruh rembes tertutup tergantung tingkat kerusakan seal itu sendiri. Namun ini salah satu alternatif mudah dan murah jika dibandingkan dengan bongkar mesin dan ganti seal.

Oh ya, cara lain agar oli tak rembes, pakai yang viskositasnya lebih tinggi. Misal sekarang rembes kalau pakai 0w20, coba pakai 5w30 atau 10w40. Semua oli tersebut masih dalam rentang pakai Honda BR-V.

Source: The Drive

P.S. biaya perbaikan di bengkel resmi sekitar 1,3jt, partsnya sendiri “hanya” 300rb an. Di bengkel non resmi bisa lebih murah sampai separuhnya.

Posted in Shouts & Whispers

January 18th, 2020 by Adhi Widjajanto

Semua orang pasti sudah pernah merasakan kejenuhan, bosen, kesal, marah, sedih, dan suasana lain yang tidak mengenakkan. Dan semua orang pun pasti punya cara masing-masing untuk overcome the pain. Ada yang lari ke pelukan sang kekasih, ada yang memusingkan diri dengan alkohol, ada yang membakar lemak dengan olahraga, ada yang memenuhi perut dengan makanan, etc.

Tadi pagi di rumah ada yang tiba-tiba emosi, ambil motor, trus kabur ke sbucks untuk menenangkan diri. Persis seperti saya. Peaceful place buat saya bukannya di tempat yang sepi dan tenang, tapi malah di tempat ber ambience ramai. Mall, cafe, food court, pokoknya tempat yang banyak orang lalu lalang. Pasar? saya belum pernah coba sih… Kalau pas lagi suntuk, atau beban kerjaan tinggi dan perlu fokus, saya biasanya juga kabur. Kalau pas ga bisa kemana-mana, pasang headset lalu setel lagu. Biasanya kerjaan jadi lebih cepat selesai, stress lebih cepat hilang.

Anda gimana? Btw yang kabur ke sbucks itu akhirnya balik ke rumah setelah berbaikan sama yang bikin emosi.

Posted in Shouts & Whispers

February 22nd, 2019 by Adhi Widjajanto

Menikmati hidup, istilah itu dimunculkan lagi di postingan saya kemarin tentang workload. Artinya? lagi-lagi subyektif tergantung orang yang mengamininya. Buat saya, menangis jengkel saat lihat atap rumah bocor padahal baru beberapa bulan lalu diperbaiki itu termasuk enjoying life. Kerja lembur dengan rekan kerja sampai pagi hari di kantor demi proyek yang worth to fight for itu termasuk enjoying life. Menyadari kalau longterm plan tidak berjalan dengan semestinya itu termasuk enjoying life. Demikian pula duduk santai di sofa rumah dengan perut kenyang habis menghajar dua bungkus mi instan ditemani segelas kopi di hari Jumat siang setelah paginya mengurus perpanjangan SIM itu termasuk enjoying life. MoS: jotting up and down, dynamic in life, is enjoying.

Komentar bos saya di FB kemarin (yep, ga nyadar kalau FB saya nge-friend dengan Bapak) tepat sekali, saya quote,

Sangat bergantung pada apa definisi work smart nya… bukan sekedar less work dan ga work hard to be smart… apakah orang smart ga work hard?

Sebaiknya kita tetap memberikan yg terbaik dalam bekerja, terus berkeinginan kuat dan bekerja keras utk merealisasikan apa yg sudah kita canangkan utk kita capai dalam hidup dan bekerja. Di mana sebelumnya kita harus smart utk membuat goal atau target kita dalam hidup atau bekerja serta smart dalam perencanaan akan step2 yg akan kita ambil utk mengarah ke target yg ingin kita tuju.

Adi Rusli, Feb 2019

Kalau dipikir, ada dua milestone unik dalam hidup saya yang hampir setengah abad ini: saat membentuk keluarga baru dan saat punya anak ketiga. Yang pertama kami siapkan dengan super matang. Tuhan membimbing kami dalam setiap rencana. Nabung, punya rumah dulu, baru merit, baru punya anak, de es te de es te. Yang kedua kami diberi glitch olehNya dengan satu gadis menggemaskan, Rara, yang sama sekali di luar rencana, tapi olehNya dibuat jadi sumber berkat dan bahagia berkelimpahan. Unik, dan itu membuat saya lebih bisa menikmati hidup.

Selamat ulang tahun buat saya sendiri. Congrats for reaching 45.

Posted in My Life With Jesus, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 21st, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya dan Yanty (istri) lulus kuliah di tahun yang sama, dan mulai kerja di tahun yang sama juga (1997). Saya mulai di perusahaan TI berbasis software yang ritme kerjanya relatif lambat. Timeline proyek bisa bulanan bahkan tahunan. Saya jadi terbiasa untuk bekerja seperti itu. Sementara Yanty kerja di bank dengan nasabah retail, berhadapan dengan pekerjaan yang tak pernah habis, selalu menumpuk di atas meja walau dikerjakan 24 jam selama 7 hari sekalipun. Oh ya, lokasi kerja saya lebih prestisius: di kawasan Sudirman (baca: apa-apa mahal), sementara Yanty di kawasan Glodok (baca: semuanya murah).

22 tahun terlewati, kami dihadapkan dengan kondisi yang berbeda. Saya sekarang bekerja di perusahaan TI berbasis hardware yang ritme kerjanya super cepat. Proyek mungkin bisa selesai dalam hitungan minggu, bahkan hari. Waktu kerja juga sudah persis dengan SLA yang ditawarkan ke customer, 24×7 4 hours response time… wkwkwk… Sementara Yanty yang pindah kerja di bank dengan nasabah korporasi dan ekspat, menghadapi ritme kerja yang sangat berbeda juga. Masuk jam 8 pagi untuk senam, trus ada sesi penggugah semangat (menyorakkan slogan perusahaan, sharing session, main game, dan entah apa lagi), baru mulai kerja yang ritmenya sooo slow (menurut dia sih). Tiap akhir bulan satu departemen hang-out dinner dan diakhiri dengan karaoke. Intinya: nyante. Plus, kantor Yanty sekarang di Sudirman, sementara saya yang geser ke tempat yang sedikit lebih murah, gee…

Nah, trus apa hubungannya dengan work hard dan work smart? Sepertinya dua istilah itu relasinya dengan THP ya. Work hard: kerja mati-matian demi upah sekian, sementara work smart: kerja seperlunya demi upah yang sekian juga. Kasus saya dan Yanty 22 tahun yang lalu, sepertinya Yanty work hard, sementara saya tidak melakukan keduanya. Hahaha… kerja saya nyante, dan hasilnya ya ga gede juga (kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah meroket kemana-mana). Nah, sekarang? Semoga kami berdua mulai masuk ke ranah work smart: enjoying life. Walau definisi itu sangaaattt subyektif.

Posted in Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 13th, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya pakai kabel ini sejak awal 2017 untuk speaker di pintu baris kedua. Pertengahan 2018 speakernya mulai rewel, storing, ngikut rpm mesin. Saya sudah cek kabel dari HU ke ampli, tuker sana sini, dan sampai pada kesimpulan yang bikin storing itu dari ampli ke speaker. Entah amplinya, entah speakernya (masih pakai speaker OEM dihajar ampli 75watt), entah kabelnya.

Beberapa minggu lalu saya bongkar untuk cek soket kabel ke speaker. Ternyata ada keraknya, oksidasi! Saya coba potong dikit-dikit buat dapat bagian yang masih bagus, ternyata hanya angan-angan. Sudah habis 20cm masih belum dapat yang bagus. Vonis: ganti kabel speaker.

Read more of this article »

Posted in Shouts & Whispers