Category: Shouts & Whispers

August 25th, 2020 by Adhi Widjajanto

Saya sendiri belum pernah mengalaminya (semoga nggak pernah), tapi beberapa teman di komunitas sudah. Gejalanya mesin tidak bisa/ susah distarter, mirip seperti aki lemah, tapi kalau aki di test masih bagus. Kalau dibawa ke bengkel resmi, pasti disarankan ganti motor starternya, perkiraan 3,5 jutaan sudah termasuk jasa. Cara murah: bawa ke bengkel dinamo/ motor starter mobil.

Motor yang sudah dibetulkan

Sebagai referensi, ini harga spare part motor starter yang saya percaya ori, Rp. 2.735.000. Semoga bermanfaat.

Posted in Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , ,

August 3rd, 2020 by Adhi Widjajanto

Beberapa hari lalu saya membeli kamera ini di toko online, karena diklaim suport ONVIF, direct access ke NVR. Build quality lumayan. Terkesan murah karena memang cukup murah, tapi ga murahan. Bahan plastiknya tidak begitu baik, walau moldingnya cukup rapi. Motor PTZ nya terdengar cukup halus walau tidak silent. Mountingnya sendiri cukup simpel, walau saya ragu bisa awet kalau ditaruh di luar. Apalagi oleh seller disarankan mounting di ceiling dengan posisi terbalik agar mendapat coverage yang banyak.

Untuk inisialisasi, perlu aplikasi YCC365 Plus. Saya download dari Google Playstore. Saat install, pastikan aplikasi mendapat permission untuk akses GPS. Jika tidak, deteksi kamera akan gagal. Setelah install, bikin akun di aplikasi. Pastikan hape terkoneksi dengan WiFi 2.4G, karena kamera tidak support WiFi 5G.

Cara install jangan ikuti manual yang ada di kemasan (scan QR code) ga akan bisa (mungkin yang saya beli versi kw). Ikuti manual yang diberikan oleh seller. Ada dua mode: WiFi Mode dan AP Mode. Sebelumnya, nyalakan kamera dan tunggu sampai motor PTZ selesai berputar dan kamera bersuara “Please configure camera by AP hotspot or scanning code”.

WiFi Mode:

  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Tekan tanda + di kanan atas layar
  • Pilih Smart Camera
  • Pilih Addition of AP hotspot
  • Pilih Next
  • Pilih Go to Setting
  • Pilih WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcam_xxx
  • Pilih Back, lalu pilih Next
  • Aplikasi akan mendeteksi WiFi yang available di sekitar, pilih WiFi yang diinginkan (yang terhubung ke NVR dan/ atau yang terhubung ke Internet), isi password WiFi, dan pilih Next
  • Tunggu hingga proses selesai, beri nama kameranya.

AP Mode:

  • Sambung hape WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcsm_xxx
  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Pilih Local Direct Connection di kiri bawah layar
  • Isi device account: YCC365
  • Isi device password: 0123456

Menu pengaturan akan muncul seluruhnya saat kamera terhubung pada WiFi Mode. Kualitas gambar bisa diatur SD atau HD, walau saya bilang kualitas HD nya pun sesuai harga lah. PTZ nya tidak begitu sensitif, semoga awet, karena kamera saya taruh di luar dan dalam posisi terbalik. PTZnya benar bisa berputar horisontal 360 derajat dan vertikal sekitar 100 derajat. Infrared bisa diatur on/ off atau automatic. Saya prefer off karena depan rumah cukup terang saat malam. Audio terdengar cukup jelas. Saya tidak memasang sdcard, tidak mengaktifkan cloud storage, tidak mengaktifkan mode rekam, dan tidak mengaktifkan Intelligent Tracking, karena kamera akan dihubungkan ke NVR.

Seperti yang dijanjikan, ONVIF kamera terdeteksi oleh Zoneminder. Alamat RTSP nya: rtsp://xxx.xxx.xxx.xxx:554, dengan username admin dan password blank. Nice! Saya hanya belum sukses mengatur PTZ kamera via Zoneminder. Tak apa lah, saya memang lebih memerlukan ONVIF nya daripada PTZ nya. Kalau dua bulan lagi masih hidup, saya akan tambah satu lagi, sudah janji ke Pak RT.

Posted in DIY, IT Freaks, Shouts & Whispers

July 12th, 2020 by Adhi Widjajanto

Waktu PSBB saya ga bisa panggil tukang buat bersihin AC, eehh di masa transisi ini malah tukangnya yang ga ada. Di toko langganan saya terpampang tulisan “Dicari: tukang/ kenek Servis AC“.

So, kenapa ga bersihin sendiri aja? Perkara ngerjain sendiri, apapun itu kerjaannya, yang susah itu bukan cari alat atau waktu, tapi cari niat itu yang paling susah… 🤣 Tapi kali ini tinggal cari alatnya sih. Pompa air, saya punya Nilfisk, 100bar (1.450psi). Cuman dari hasil cari-cari sepertinya terlalu kuat, sirip-sirip evaporator bisa lepas. Mesti cari yang lebih kecil tekanannya. Pompa 160psi sepertinya cukup. Saya beli di olshop, sekalian dengan plastik cuci AC.

Rakit pompanya sih gampang, UYCS kalau kata para sohib di Perikertas. Cuman cara pasang plastik cuci AC nya hang rada tricky. Bentuknya seperti rumah terbalik, tapi satu sisi plastiknya lebih panjang. Setelah Googling, baru tahu ternyata sisi yang panjang diselipkan ke belakang AC, agar air yang jatuh tak mengenai dinding. Walau kelihatannya mudah, pasang plastik jahanam itu lebih lama dari bersihin ACnya…

Bersihinnya dengan hati-hati karena di bawahnya ada tumpukan koleksi milik BTS Army… 😁

Bersihinnya simpel. Lepas cover AC, copot stop kontaknya, pasang plastik cuci AC (jangan lupa kasih ember di ujung selang), dan semprot mulai dari blowernya dulu (yang paling menyenangkan), baru sirip-sirip evaporator. Dan yakinlah jangan sampai membasahi bagian kelistrikannya, saya kasih huruf tebal, karena ini yang paling penting. Setelah yakin bersih, lap kering sisa-sisa tetesan air, lalu colok stop kontak, dan nyalakan AC. Sisa air di blower akan terlempar keluar, angkat sedikit plastik cuci AC agar cipratannya tak kemana-mana. Setelah filter AC juga dicuci, kembalikan semuanya.

Biaya. Pompa cuci motor lengkap 189rb. Plastik cuci AC 26rb, ongkir gratis. Total cuman 215rb. Jasa cuci AC di tempat langganan dulu 50rb, cuci 5 AC udah balik modal, plus nambah konten di blog 🤣🤣🤣

PS. Buat outdoor unit, saya bersihin pakai Nilfisk. Posisinya cukup mudah karena sejajar dengan lantai 2 jadi bisa disemprot agak jauh biar tekanannya tak terlalu kencang.

Posted in DIY, Shouts & Whispers

May 12th, 2020 by Adhi Widjajanto

Hah!!!??? Apa pula ini? Setahu saya kantor ga ada urusan sama browsing habit saya. Lalu? Malware!!! Oh tidaaakkk!!! Emang Avast (gratisan sih) ngapain aja???

Usut punya usut, ternyata banyak juga yang berteriak sama. Ada yang menyarankan scan malware (saya pakai MalwareBytes, lagi-lagi yang versi gratisan), ga nemu apa-apa. Trus dari Google support forum juga ada yang menyarankan Clean Chrome Policy, but the notification stays.

Sampai di satu website merefer ke Avast support forum, menyebutkan bahwa notifikasi itu muncul karena kontrol dari si Avast itu sendiri! Bah! Lalu saya coba mematikan fitur QUIC/HTTP3 scanning di Avast, dan notifikasi itu hilang, fiuh. Bukan virus, bukan malware, bukan trojan, ini kasus saya. Apakah ada yang mengalami serupa? Katanya yang pakai AVG juga muncul notifikasi yang sama, cara disable nya silakan lihat di sini.

Jadi, kedua anti virus itu expand layanan mereka dengan memproteksi kita saat browsing, otomatis scan apa yang ditarik dan akan ditampilkan oleh browser, dan yang dianggap berbahaya akan langsung di stop, silakan cek definisi QUIC dan HTTP/3. Makanya kedua anti virus tersebut harus bisa me-manage browser yang kita gunakan.

Posted in Extraordinary, IT Freaks, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , ,

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Apa hubungannya? Gini. Kalau saya sering ke kantor, berarti network saya dekat dengan mail server yang berlokasi di kantor. Settingan Outlook saya pakai thin, yang berarti tidak ada cache mailbox di notebook. Harus selalu terhubung ke mail server untuk mengoperasikan Outlook. Nah posisi di rumah seperti sekarang ini memberikan efek yang berbeda buat saya: Outlooknya berasa lemot, update folder lama, fitur search jadi tidak reliable. Akhirnya saya harus melakukan beberapa perubahan:

Nyalakan Cached Exchange Mode. Dengan demikian, ada file .ost yang disimpan di harddisk notebook. Saya bisa baca email lama tanpa online, bisa search email secara lokal, lebih cepat tentunya.

Well, mailbox saya ternyata 6GB lebih, perlu waktu untuk mendownload seluruhnya. Saya pilih download semua, agar saya bisa leluasa melakukan Archive untuk email-email lama.

Nah, akan sangat tidak bijak untuk menyimpan data sepenting email di dalam satu file sebesar 6.6GB (gee I really miss Thunderbird). Hanya ada satu opsi: archive. Paling tidak filenya terbagi menjadi dua. Karena saat ini saya sedang mengurus proyek dengan timeline 5 tahun, ada baiknya jika archive saya pun bisa menyimpan selama itu. Mungkin perlu dipikirkan juga untuk backup ke cloud. Well another benefit melakukan archive, mailbox di server jadi lebih lega.

Posted in IT Freaks, Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Karena di rumah sudah ada Wireless router 5G/ AC, jadi saya mencoba untuk utilize semaksimal mungkin. Waktu pertama setting, yang bisa nyambung ke SSID 5G hanya notebook (Lenovo Yoga 720) dan hape saya (Redmi Note 8 Pro). Sementara gadget lain (Redmi Note 7, Vivo V9, dan Redmi A2) yang di spesifikasi sudah support 5G tetap saja tidak bisa mendeteksi SSID 5G dari router.

Ngandalin Mbah Gugel, untuk Redmi Note 7 solusi sementara adalah mengubah pengaturan region ke IN atau UK atau US. Hmm… Apakah ada kaitannya dengan channel WiFi? Lalu saya iseng mencoba set manual channel si router, dan voila! semua gadget bisa nyambung! Ternyata dari 9 channel di WiFi 5G, yang bisa digunakan oleh Redmi Note 7 dan Vivo V9 hanya channel 149, 153, 157, 161, dan 165. Sementara jika menggunakan channel 36, 40, 44, dan 48 gadget di atas tidak bisa nyambung. Tentu saja saya juga tidak bisa menggunakan pengaturan Auto. Well, aman untuk saat ini karena dari hasil scan, hanya saya yang pakai WiFi 5G di neighborhood sini. Oh ya, untuk Redmi A2 ternyata bisa nyambung ke semua channel di 5G, hanya saja preferensi dia nyambung ke 2.4G dulu, wierd.

Terkait channel WiFi, baca-baca dari Wikipedia, ternyata cukup banyak juga ya, dan setiap merk router belum tentu sama. Wireless router Tenda AC6 (rilis 2016) menggunakan U-NII-1 dan U-NII-3, dan bisa dipastikan untuk Vivo V9 (rilis Maret 2018) dan Redmi Note 7 (rilis Januari 2019) tidak bisa nyambung ke band U-NII-1. Semua brand adalah produk Cina, dan MIIT (seperti KomInfo nya indonesia) baru allow penggunaan band U-NII-1 di tahun 2013, sepertinya Vivo dan Redmi terlambat adopt band baru ini.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , ,

May 9th, 2020 by Adhi Widjajanto

Oke, kondisi sebelumnya saya pakai router ZTE F609 bawaan ISP. Karena di rumah ada sekitar belasan wireless clients (dari IP camera, hape, notebook, pc, dan android tv box), saya berpikir untuk membagi beban dengan D-Link DIR-612 sebagai access point, plus sinyalnya lebih kuat dari F609. Cuman ada kendala, client yang terhubung ke SSID nya tak pernah bisa dapat IP (DHCP server ada di F609). Engineer di kantor bilang, ada beberapa router memblokir traffic DHCP, wow… Perlu di find out later.

So, karena ada kendala di atas, saya berpikir solusi alternatif: naik ke Wireless AC, dan configure dengan dua subnet jika problem DHCP masih muncul. Paling tidak, tujuan utama saya untuk membagi beban tercapai. Ada kandidat router AC yang murah: Tenda AC6 AC1200.

Review Minus:

Read more of this article »

Posted in IT Freaks, My Thoughts, Shouts & Whispers

May 7th, 2020 by Adhi Widjajanto

Semoga pada masih ingat, pemerintah dulu berencana melakukan pemblokiran pada gadget illegal, a.k.a BM. Jadi gadget yang tak terdaftar di KemenPerin ga akan bisa nyambung ke operator di Indonesia. Deadline: 18 April 2020. Hmm… Rasanya bakal banyak banget yang akan terblokir. Muncul istilah GaRes (garansi resmi), GaDis (garansi distributor), dan singkatan-singkatan lainnya di forum maya dan olshop karena versi BM sudah banyak beredar di Indonesia. Biasanya karena harganya lebih murah, dan kebiasaan untuk berganti gadget sebelum garansi habis.

KemenPerin menyediakan portal untuk cek IMEI, karena semua gadget yang terdaftar di KemenPerin pasti tercatat IMEInya. So, gimana dengan punya saya? Redmi Note 8 Pro, GaDis:

imei.kemenperin.go.id, cek tanggal 7 Mei 2020

Nah, saat ini pun hape saya masih bisa terhubung dan berfungsi penuh menggunakan fasilitas operator. Jadi ternyata pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, bisa dibaca di portal KomInfo. Intinya saya kutip di sini:

Perangkat yang sudah aktif sebelum masa berlaku 18 April 2020 akan tetap dapat tersambung ke jaringan bergerak seluler sampai perangkat tersebut tidak ingin digunakan lagi atau telah rusak.

Siaran Pers No. 58/HM/KOMINFO/04/2020, point 4

Ah, ini dia alasannya. So hape saya masih berfungsi penuh. So, kenapa pemerintah jadi melonggarkan kebijakannya? Ternyata covid-19 memberi dampak juga:

Pengguna HKT yang saat ini sedang aktif digunakan tidak perlu melakukan registrasi individual. Setiap pengguna HKT dapat tetap mengikuti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau menjalankan physical distancing tanpa perlu khawatir atas pemberlakuan pembatasan IMEI. 

Siaran Pers No. 58/HM/KOMINFO/04/2020, point 2

Dan ternyata saya pun sudah dikirim SMS dari KomInfo:

Okeh… Jadi yang beli dan mengaktifkan gadget sebelum 18 April 2020 bakal aman, gadget akan bisa berfungsi penuh. Setelah 18 April 2020, harap saat beli gadget pastikan IMEI sudah terdaftar di KemenPerin, atau gadget terbukti bisa beroperasi dengan kartu SIM operator. Gimana kalau beli di olshop? Ya pastikan kalau itu GaRes, atau atur perjanjian dengan sellernya untuk bisa retur kalau ga bisa sambung ke operator. Okeh? Gimana dengan anda, punya gadget yang terblokir kah?

Posted in Shouts & Whispers

April 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Terhitung dari 16 Maret 2020, kantor saya menerapkan Work From Home (WFH), terkait covid-19. Cuman karena Yanty masih ngantor, saya masih antar jemput, biar dia ga berdesak-desakan di halte busway, dan tetap bisa menerapkan Social Distancing/ Physical Distancing yang sampai saat ini disarankan pemerintah. Teman kantor ada yang nyindir, saya (dan beberapa teman senasib) merupakan kumpulan SuamiTakutIstri, padahal kami ini kumpulan SuamiSayangIstri lho… ner ga?

Hari demi hari, jalanan tambah lengang, bahkan trip saya dari rumah ke kantor Yanty dan balik rumah lagi pernah hanya ditempuh 40 menit. Itu total 46km PP. Tiap hari berarti saya jadi supir 92km. Gapapa sih kalau jalanan lengang seperti itu. Bahkan saya sukses nyalain cruise control 60kpj di Jalan Daan Mogot. Hari biasa, boro-boro 60kpj…

Cuman, jalan sepi itu saja yang jadi hiburan saya tiap hari. Sesampainya di rumah, saya dihadapkan dengan anak-anak yang harus mengerjakan tugas harian dari sekolah. Yang pada besar sih ga perlu ditungguin, tapi yang kecil ini (kelas 1 SD) tetap harus di guide, so saya merangkap jadi guru, plus upload lembar pekerjaan ke portal eLearning yang digunakan sekolah.

Belum lagi pertemuan-pertemuan online tambah banyak. Entah kenapa, dulu saat belum WFH sepertinya rapat, diskusi, dan sebangsanya dilakukan seperlunya. Saat ini karena online, jadi diberi kemudahan mau kapan saja, ga peduli ganjil genap, ga peduli hampir jam pulang kantor, dsb. Plus pekerjaan offline biasa juga masih ada. Jadi sebenarnya pada masa WFH seperti ini, waktu saya malah lebih efisien daripada saat sebelum WFH.

Nah, karena saya kerja di rumah, mau ga mau pekerjaan rumah juga terpampang didepan mata. Tembok rembes saat hujan, AC bocor, pipa dapur mampet, apa lagi ya… Mesti dikerjakan, dan kalau saya bisa bagi waktu dengan tepat, saya bisa mengerjakannya di antara jeda meeting. Hoho… benar-benar efisien waktu saya. Cuman selesai WFH, saya jadi benar-benar exhausted. Belum lagi sorenya harus keluar rumah jemput Yanty.

Belum kebayang nanti saat sudah mulai ngantor lagi. Mungkin saya bakal rada susah melepas cara kerja gaya gini. Lihat saja nanti. Anda? Any comments will be appreciated…

#staysafe
#dirumahaja

Posted in Extraordinary, Job Loads, Kids, Shouts & Whispers

March 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Honda BR-V yang bocor saat melalui genangan tinggi, ini beberapa foto tambahan untuk melapisi baut jok dengan sealtape agar air tidak rembes dari lubangnya.

Baut jok yang rembes air
Buka dengan kunci sok nomor 14
Pakai sealtape yang ga abal-abal
Lapis dengsn sealtape, kalau saya 12-15 putaran

Semoga sembuh rembesnya. Eh… Semoga Jakarta ga banjir lagi… Hehehe…

Posted in DIY, Shouts & Whispers