April 2nd, 2021 by Adhi Widjajanto

Saya memang lagi nyari TWS yang nyaman dan aman buat gowes karena Xiaomi True Wireless Earphone 2 yang dibeli beberapa bulan lalu terlalu kecil untuk di telinga. Setelah beberapa pertimbangan, antara beli IEM, atau earbuds yang ada fitur transparencynya, atau beli bone conduction ala-ala (open air?), antara yang terbaik termahal atau secukupnya murah, akhirnya ssya putuskan untuk mengakuisisi barang ini: Jete Openearpro. Bikinan Surabaya keknya.

Isi packaging

So, barang kemarin sampai di rumah, datang dalam keadaan fully charge, setelah coba sana sini malamnya saya charge lagi semalaman dan pagi ini menemani saya gowes 101km di Alsut selama 3 jam. Baterai bisa bertahan sampai saya selesai gowes, walau low battery warning sudah terdengar saat menit ke 150, padahal di hape masih tercatat 40%.

Volume saya pasang di max karena relatif kecil, bahkan untuk digunakan tanpa gowes pun, saya baru nyaman di volume max minus satu. Well, saat gowes, audio harus bersaing dengan gemuruh angin, jadi ya, set to max.

Soal keamanan, karena ini tipe bone conduction, jadi lubang telinga terbuka lebar, suara sekitar terdengar jelas, pun ketika pelotonan dengan Capedalist di belakang saya mengingatkan, “om jangan kriwil ya” terdengar jelas, saya yakin dia tidak berteriak… Hehehe…

Nyaman, jelas. Yakin ga akan jatuh karena posisinya nyantol di telinga. Lubang telinga pun ga ketutup kek pake earbud atau earphone. Dan cantolan di telinga somehow sangat nyaman, padahal ada tali masker dan gagang kacamata. Bone conductionnya sangat nyaman nempel di depan telinga. Kalau volume max sedikit terasa geli karena getarannya (mungkin saya belum terbiasa).

Terakhir, built quality, superb! Sesuai lah dengan harganya. Gitu dulu deh reviewnya, semoga bermanfaat.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

March 28th, 2021 by Adhi Widjajanto

Sebenarnya review ini ga sengaja. Saya pakai sepeda Polygon Strattos S3. Bawaan dari toko pakai ban Kenda ukuran 700×28. Praktis waktu ganti saya cari ukuran yang sama. Kenda lagi? Upgrade lah, saya melirik Continental Grand Sport Race (GSR) ukuran 700×28, harga miring karena teman salah beli ga bisa masuk ke sepeda aeronya.

Komparasi GSR 700×28 dengan US3 700×25

Ternyata setelah saya pasang, di S3 pun terlalu sempit untuk fork depan. Teman-teman STC menyarankan untuk ganti ke ukuran yang lebih kecil. Baiklah, biar mirip, saya beli Continental Ultra Sport III (US3) ukuran 700×25. Kalau dilihat ukurannya, GSR 700×28 itu jika dipompa sampai 100psi bakal mengembang sampai 30mm. Sementara US3 700×25 dengan tekanan yang sama akan mekar sampai 26mm. Terlihat jika pakai 700×28 nya Conti tinggal selebar kertas jarak ban dengan fork. Kalau pakai 700×25 lumayan lah, pasir ga akan nyangkut di fork. Oh ya, buat belakang saya tetap pakai GSR 700×28, kasian teman saya… Wkwkwk… Penampakannya tetap mepet dengan rem, cuman pasir masih lewat lah.

GSR 700×28 di seatstay S3, masih ada 2mm gap

Oh ya, sekalian review kedua ban. GSR warnanya hitam rada putih (tapi bukan abu-abu). Sementara US3 hitam full. GSR teksturnya lebih keras dari US3 yang beneran berasa “karet” di tangan. US3 bisa ditekan dengan kuku sementara GSR lebih keras. GSR tidak ada alur di telapaknya, hanya di pinggir saja. US3 ada alur sejajar dan melintang. Namun keduanya sama-sama ngegrip mampus kalau di atas lantai keramik. Keduanya juga sudah proven saya bawa 150km Cengkareng – Bogor pp (via Daan Mogot, Jl. Panjang, TBS, Raya Bogor) dan another 100km Alsut – Bogor pp (via Ciseeng yang ambyar penuh speed trap) seminggu kemudian. Semua trip saya pompa 100psi depan belakang walau US3 max pressure 123psi dan GSR max pressure 115psi.

Semoga bermanfaat.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , ,

January 12th, 2021 by Adhi Widjajanto

Review TWS saya yang baru, Mi TW Earphones 2 Basic. Beli gegara perlu pakai TWS yang baterainya kuat buat meeting berjam-jam dan kualitas voice nya oke.

Langsung dipakai buat meeting

Beli dari Xiaomi Official Store, jaminan ori, jaminan kualitas. Dateng fully charged, sambung ke notebook, langsung geber Zoom meeting dari jam 9.30. Baterai habis sekitar jam 15.40. Pas lah sesuai brosur 5 jam (kepotong istirahat siang). Semoga awet baterainya.

Kualitas suara dan mic nya cakep. No complaints dari saya dan rekan-rekan meeting lainnya. Kalau buat lagu, nggak lah ya. Saya lebih suka jedug-jedug dan sudah dipastikan ga bisa didapat dari tipe open ear TWS.

Soal kuping, subyektif ya, buat saya round shapenya terlalu kecil. Kalau dipakai lama di telinga yang sudah keringetan jadi gampang lepas. Padahal rencananya bakal dipakai menemani gowes juga (sebelum dikomplen, TWS model open ear aman buat gowes karena ambience sounds masih kedengeran jelas).

So far, buat tujuan utama tercapai sih. Kalau mau irit, pakai TWS nya gantian kanan dan kiri jadi harusnya bisa dapat total 10 jam buat meeting (semoga ga pernah kejadian… 🤣)

Habis dalam 5 jam, sesuai brosur

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , ,