Category: Job Loads

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Apa hubungannya? Gini. Kalau saya sering ke kantor, berarti network saya dekat dengan mail server yang berlokasi di kantor. Settingan Outlook saya pakai thin, yang berarti tidak ada cache mailbox di notebook. Harus selalu terhubung ke mail server untuk mengoperasikan Outlook. Nah posisi di rumah seperti sekarang ini memberikan efek yang berbeda buat saya: Outlooknya berasa lemot, update folder lama, fitur search jadi tidak reliable. Akhirnya saya harus melakukan beberapa perubahan:

Nyalakan Cached Exchange Mode. Dengan demikian, ada file .ost yang disimpan di harddisk notebook. Saya bisa baca email lama tanpa online, bisa search email secara lokal, lebih cepat tentunya.

Well, mailbox saya ternyata 6GB lebih, perlu waktu untuk mendownload seluruhnya. Saya pilih download semua, agar saya bisa leluasa melakukan Archive untuk email-email lama.

Nah, akan sangat tidak bijak untuk menyimpan data sepenting email di dalam satu file sebesar 6.6GB (gee I really miss Thunderbird). Hanya ada satu opsi: archive. Paling tidak filenya terbagi menjadi dua. Karena saat ini saya sedang mengurus proyek dengan timeline 5 tahun, ada baiknya jika archive saya pun bisa menyimpan selama itu. Mungkin perlu dipikirkan juga untuk backup ke cloud. Well another benefit melakukan archive, mailbox di server jadi lebih lega.

Posted in IT Freaks, Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

April 1st, 2020 by Adhi Widjajanto

Terhitung dari 16 Maret 2020, kantor saya menerapkan Work From Home (WFH), terkait covid-19. Cuman karena Yanty masih ngantor, saya masih antar jemput, biar dia ga berdesak-desakan di halte busway, dan tetap bisa menerapkan Social Distancing/ Physical Distancing yang sampai saat ini disarankan pemerintah. Teman kantor ada yang nyindir, saya (dan beberapa teman senasib) merupakan kumpulan SuamiTakutIstri, padahal kami ini kumpulan SuamiSayangIstri lho… ner ga?

Hari demi hari, jalanan tambah lengang, bahkan trip saya dari rumah ke kantor Yanty dan balik rumah lagi pernah hanya ditempuh 40 menit. Itu total 46km PP. Tiap hari berarti saya jadi supir 92km. Gapapa sih kalau jalanan lengang seperti itu. Bahkan saya sukses nyalain cruise control 60kpj di Jalan Daan Mogot. Hari biasa, boro-boro 60kpj…

Cuman, jalan sepi itu saja yang jadi hiburan saya tiap hari. Sesampainya di rumah, saya dihadapkan dengan anak-anak yang harus mengerjakan tugas harian dari sekolah. Yang pada besar sih ga perlu ditungguin, tapi yang kecil ini (kelas 1 SD) tetap harus di guide, so saya merangkap jadi guru, plus upload lembar pekerjaan ke portal eLearning yang digunakan sekolah.

Belum lagi pertemuan-pertemuan online tambah banyak. Entah kenapa, dulu saat belum WFH sepertinya rapat, diskusi, dan sebangsanya dilakukan seperlunya. Saat ini karena online, jadi diberi kemudahan mau kapan saja, ga peduli ganjil genap, ga peduli hampir jam pulang kantor, dsb. Plus pekerjaan offline biasa juga masih ada. Jadi sebenarnya pada masa WFH seperti ini, waktu saya malah lebih efisien daripada saat sebelum WFH.

Nah, karena saya kerja di rumah, mau ga mau pekerjaan rumah juga terpampang didepan mata. Tembok rembes saat hujan, AC bocor, pipa dapur mampet, apa lagi ya… Mesti dikerjakan, dan kalau saya bisa bagi waktu dengan tepat, saya bisa mengerjakannya di antara jeda meeting. Hoho… benar-benar efisien waktu saya. Cuman selesai WFH, saya jadi benar-benar exhausted. Belum lagi sorenya harus keluar rumah jemput Yanty.

Belum kebayang nanti saat sudah mulai ngantor lagi. Mungkin saya bakal rada susah melepas cara kerja gaya gini. Lihat saja nanti. Anda? Any comments will be appreciated…

#staysafe
#dirumahaja

Posted in Extraordinary, Job Loads, Kids, Shouts & Whispers

February 27th, 2020 by Adhi Widjajanto

Pernah di bully waktu kecil gara-gara nama? Istri saya namanya Yanty, selalu dijodoh-jodohkan dengan teman lainnya yang bernama Yanto. Saya? “Adi, ayo main bola lagi!” Yang tahu maksudnya berarti kita seumuran.

Dan itu ga cuman waktu kecil doang. Candaan itu juga nongol lagi pas kuliah, bahkan saat saya sudah bekerja. Beban? waktu kecil jelas bikin stress apalagi saya dulu introvert (ga percaya? percaya aja dah) jadi ga brani counterback.

Soal masa kerja, saya punya teman yang rela dipanggil Ecil, Edy Kecil. Penasaran apanya yang kecil, ternyata dulu di kantor ini ada yang namanya Edy juga, karena badannya besar, akhirnya mereka berdua dipanggil Ecil dan Edut. Bully? Nggak tuh, karena kami semua memang sudah sampai sedekat itu, MTP family, buktinya mereka berdua oke-oke aja. Malah sekarang Edut balik lagi ke MTP, duduk sebelahan pula.

Nah, 2018 giliran saya yang dapat rekan kerja sama nama. Dan ga mungkin saya jadi Acil sementara beliau jadi Adut, soalnya Pak Adi J. Rusli masuk sebagai Managing Director. Oke saatnya mengalah. Saya jadi AW, beliau dapat privilege tetap Adi, atau kadang jadi AR juga sih.

Selama di MTP, Pak Adi sudah sukses mengarahkan kami menjadi lebih organized, lebih fokus. Setiap meeting pasti ada goalnya, dan kelihatan hasilnya. Dari Platinum Partner jadi Titanium Partner. Dari proyek ratusan ribu dolar jadi proyek jutaan dolar. Yes itu kerja keras kami semua, tapi tak dapat dipungkiri itu terjadi di masa beliau jadi team player di sini.

Bulan depan beliau meneruskan journeynya ke tempat lain, memupuknya agar bisa seperti MTP dan tempat-tempat lainnya yang pernah beliau singgahi. Selamat Pak Adi, sudah lulus dari MTP yang menjadi tempat bagi orang-orang terbaik. Ayo main bola lagi!

Posted in Extraordinary, Job Loads, Shouts & Whispers

November 19th, 2019 by Adhi Widjajanto

Akhir tahun lalu isi ComPro berubah drastis. Yang tadinya secara gamblang menjelaskan “yang biasa kita lakukan“, ComPro baru menorehkan “yang bisa kita lakukan“. Well, sepertinya hanya saya saja yang belum pernah role playing present ComPro baru itu. Why? Karena saya belum dapet feel nya. That’s me, ga bisa present slide hanya dengan baca doang tanpa memahami isinya.

Sekarang sudah akhir tahun, dan sampai saat ini kami masih melakukan apa yang biasa kami lakukan, walau dengan percepatan logaritmik. Tapi tetap saja, “yang bisa kita lakukan” itu belum terlaksana. Sampai seminggu lalu, saya dapat kesempatan untuk mencobanya. Beresiko? Jelas. Bisa rugi? Bisa lah. New experiences? Definitely! So?

Ternyata ada yang tidak berani ambil risiko. Mungkin lupa dengan ComPro nya. Mungkin karena udah masuk Q4 buat closingan 2019, menghindari rapor merah. Entah. Yang jelas bikin mood saya terbanting keras ke bawah. Udah perlu libur akhir tahun sepertinya. #YukTouring

Tahun 2020 mungkin ada baiknya ngaca lagi, buat revisi ComPro. Siapa tahu kita bisa menjadi lebih baik jika melakukan apa yang biasa kita lakukan, dengan semangat dan ke-pede-an logaritmik.

Posted in Job Loads, My Thoughts

February 21st, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya dan Yanty (istri) lulus kuliah di tahun yang sama, dan mulai kerja di tahun yang sama juga (1997). Saya mulai di perusahaan TI berbasis software yang ritme kerjanya relatif lambat. Timeline proyek bisa bulanan bahkan tahunan. Saya jadi terbiasa untuk bekerja seperti itu. Sementara Yanty kerja di bank dengan nasabah retail, berhadapan dengan pekerjaan yang tak pernah habis, selalu menumpuk di atas meja walau dikerjakan 24 jam selama 7 hari sekalipun. Oh ya, lokasi kerja saya lebih prestisius: di kawasan Sudirman (baca: apa-apa mahal), sementara Yanty di kawasan Glodok (baca: semuanya murah).

22 tahun terlewati, kami dihadapkan dengan kondisi yang berbeda. Saya sekarang bekerja di perusahaan TI berbasis hardware yang ritme kerjanya super cepat. Proyek mungkin bisa selesai dalam hitungan minggu, bahkan hari. Waktu kerja juga sudah persis dengan SLA yang ditawarkan ke customer, 24×7 4 hours response time… wkwkwk… Sementara Yanty yang pindah kerja di bank dengan nasabah korporasi dan ekspat, menghadapi ritme kerja yang sangat berbeda juga. Masuk jam 8 pagi untuk senam, trus ada sesi penggugah semangat (menyorakkan slogan perusahaan, sharing session, main game, dan entah apa lagi), baru mulai kerja yang ritmenya sooo slow (menurut dia sih). Tiap akhir bulan satu departemen hang-out dinner dan diakhiri dengan karaoke. Intinya: nyante. Plus, kantor Yanty sekarang di Sudirman, sementara saya yang geser ke tempat yang sedikit lebih murah, gee…

Nah, trus apa hubungannya dengan work hard dan work smart? Sepertinya dua istilah itu relasinya dengan THP ya. Work hard: kerja mati-matian demi upah sekian, sementara work smart: kerja seperlunya demi upah yang sekian juga. Kasus saya dan Yanty 22 tahun yang lalu, sepertinya Yanty work hard, sementara saya tidak melakukan keduanya. Hahaha… kerja saya nyante, dan hasilnya ya ga gede juga (kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah meroket kemana-mana). Nah, sekarang? Semoga kami berdua mulai masuk ke ranah work smart: enjoying life. Walau definisi itu sangaaattt subyektif.

Posted in Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers

August 2nd, 2017 by Adhi Widjajanto

Setelah kenal dengan ISP Config beberapa tahun lalu, saya “punya” server imut, ditaruh di gedung Cyber, lalu disewakan ke beberapa kenalan sebagai shared hosting. Mayan lah, nutup biaya operasional, tiny margin, lots of fun. Sebenarnya saya mencari fun nya saja sih. Lama-lama banyak layanan sejenis yang (menurut saya) harganya murah ga masuk diakal. Saya putuskan memindahkan customer-customer saya ke layanan tersebut, dan menjual server imut saya itu.

Sekarang, karena kantor mulai menyediakan layanan cloud, saya juga jadi punya playground baru, install ISP Config lagi, jajal ini itu, the fun part is back! Hehehe… Ada yang mau host web nya di tempat saya? Ada di data center tier 3 lho, pakai DRUPS dan vMotion.

Posted in IT Freaks, Job Loads, Shouts & Whispers

August 28th, 2009 by Adhi Widjajanto

Bos dari belakang punggung ngomong, “Bla… bla… bla… bla…”, lalu stafnya langsung menjawab, “Bli… bli… bli… bli…”. Waktu dia menoleh ke belakang, eh… bosnya sudah tidak ada. Wkwkwkwkwkwk… Saya yang disebelahnya ngekek habis. Ternyata sang bos tak menunggu jawaban stafnya, langsung ngeloyor masuk ruangannya lagi. Gee… Keknya perlu pasang cermin di atas monitor neh…

Posted in Job Loads

May 14th, 2009 by Adhi Widjajanto

Dua minggu terakhir saya berkutat dengan pekerjaan yang tak jelas: bikin proposal. Hehehehe… seringnya, proposal didahului dengan RFP yang memuat keinginan calon client secara kualitatif. “Saya ingin ada laporan tentang blablabla…”, “Saya ingin ada fitur blablabla…”. Get the point? Nah, proposal yang saya kerjakan kemarin itu didasarkan atas ini: “Saya ingin laporannya ada lima”, “Saya ingin fiturnya ada sepuluh”. Nah lho… emang belanja di pasar? Ehm… masih lebih gampang belanja di pasar kalee…
Yah, pokoknya pusingnya sudah selesai kemarin malam jam 8. Kalo dapet ya lumayan lah… 4,7M… Gee…

Posted in Job Loads

November 4th, 2008 by Adhi Widjajanto

Nah, setelah pakai Ubuntu kompie saya jadi lebih enteng, euh, terorganisir lah. Perlu Windows? Install & jalanin di VBox. Perlu RHEL? Install & jalanin di VBox. Nyam… nyam…
Ngikut cara Sun An, satu client satu VBox… hehehehe…

Posted in Job Loads

August 27th, 2008 by Adhi Widjajanto

Dulu saya pikir ini diabetes, ternyata kusta. Yah, kalau gitu tinggal diobati aja, wong sudah lepas sendiri
Analogi yang rada keterlaluan untuk sebuah institusi, tapi memang ada benarnya juga kok… Saya sempat kaget juga karena perkembangannya sampai ke situ. Hm… kalo dipikir lagi, tak ada salahnya menjalani seperti ini, back to basic, back to the oldies. Siapa suruh lama-lama di sini?
Kalau yang kena kusta lehernya, nggak bisa “hanya diobati” kan?

Posted in Job Loads