Category: Kids

April 23rd, 2010 by Adhi Widjajanto

Pulang kantor kemarin sore, saya ternganga lagi melihat Willi memamerkan karya mininya:

“Heli mini”, katanya. Hebat! Mungkin karena tiap parts Lego yang dia punya sudah hapal di luar kepala membuat ide-idenya mengalir begitu saja.
“Papa pinjam ya…”
“Buat difoto?”, tanyanya.
“Iya” sambil saya bawa ke dalam kamar untuk difoto. Saat saya mau bersiap, tiba-tiba Willi menggedor pintu.
“Pa… tunggu, jangan difoto dulu!!!” Saya keluar, dan dia menunjukkan ini

“Remotenya…” katanya. Saya ngekek sehabisnya… Adaaa… aja.

Posted in Kids

March 29th, 2010 by Adhi Widjajanto

Kami juga ga ngeh kalau hari itu di Kega pas ada lomba-lomba. Tahu-tahu pas pulang jemput mereka, Sisi sudah dengan bangganya memamerkan pialanya. Hehehe… lomba fesyen? di Kega? juara dua lagi. Kalo keinget paginya pas mo berangkat ke gereja pake “berantem” dulu pas milih baju, jadi ketawa…

Posted in Kids

January 24th, 2010 by Adhi Widjajanto

Entah kenapa gigi susu Willi kok susah tanggalnya. Yanty bilang mungkin ini gara-gara kebanyakan kalsium. Euh… bisa ngaruh gitu? yanty memang mengkonsumsi lebih banyak kalsium saat hamil Willi. Well, anyway, gigi susu Willi memang jadinya terlambat tanggal meski gigi permanennya sudah mengintip. Lalu? ya ke dokter. Untung dekat. Biasanya datang dengan gagah, masuk ke ruang periksa sudah merinding, waktu ditempel busa pemati rasa sudah nangis teriak-teriak. Tarik pakai tang, beres. Bayar dan pulang.
Lha kali ini gigi yang tersodok ada tiga!!! Willi (dan mungkin dokternya) nggak akan mau dalam sekali periksa copot tiga gigi sekaligus. Ehm… ternyata Tuhan dengar keluhan kami (termasuk dokternya yang nggak tahan juga dengan teriakan Willi) semua.
Sore ini Willi main ke taman seperi sore-sore sebelumnya. Cuman entah gimana, rahang bawahnya bisa terantuk panjatan saat dia turun. Darah mengalir deras, anak-anak setaman pada berkerumun. Juan (well, anak yang satu ini saya suka karena sudah berpikir lebih dewasa) & Sisi lari ke rumah memberi tahu saya yang kebetulan nongkrong di teras sedang meng-coating Hazel.
Di taman saya cuman periksa sebentar, tanya sebentar sampai menyimulkan darah itu benar-benar dari gigi Willi yang copot. Haa…!!! Untung ketemu, jatuh di taman (Yanty sedang hepi mengumpulkan gigi susu anak-anak). tahu apa komentar Yanty? “Lha kok nggak tiga-tiganya sekalian yang copot?” Wkwkwkwkwkwkwk…!!!

Posted in Kids

December 24th, 2009 by Adhi Widjajanto

Sabtu lalu saya dan Yanty ambil rapor anak-anak. Pas ngantri, sempat dengar pembicaraan wali kelas ke salah satu ortu yang sedeng ambil rapor. Ngomong kalau anaknya di ranking 17 dari 29 meski semua nilai di atas standar nilai minimum a.k.a KKM. Haiks!!! lha Willi dapat berapa kalo gitu? Yang saya tahu Bahasa Inggris dia jeblok. Sambil menunggu mata saya terpaku di papan tulis yang melisting 10 ranking teratas. Kathy, teman Willi sekompleks sekelas sepermainan jadi juru kunci di nomor 10. Anaknya muales pol, tapi sering dapat nilai bagus kalo ulangan; mujur? berkat? kebetulan? Entah. Yang saya tahu Willi mesti belajar keras buat dapat nilai bagus.
Akhirnya giliran kami. Ehm… di belakang cuman satu orang, kalaupun nilai Willi ancur pun cuman malu sama dua orang saja. Eehh… ternyata ngunci di posisi 13! Hihihihi… Not bad! Ga ada nilai di bawah KKM. Bahasa Inggrisnya kebantu sama nilai PS dan PR. Well, kebangetan kalau PR masih ada yang salah. Proporsi kumulatif PR, kumulatif PS, UTS, dan UAS sama semua. Phew… 😀
Next semester, Willi les Inggris. Saya nggak bisa ngajarin dia soalnya Inggris saya hancur juga. Lha wong kepekan saya di Google Translate je. Buat pelajaran lain yang bernilai pas-pasan seperti Matematika cuman karena kurang teliti. Ampun dah. Keliatan, kalo ngerjain 20 soal aritmatika pasti yang salah di soal-soal terakhir. Ga konsen? Mungkin. Bosenan? Ehm… kayak bapaknya lah… wekekekeke… Kalau buat olah raga, saya bingung mau diapain lagi. Well, 3 pelajaran itu saja sih yang mesti diupgrade lagi. Lainnya tinggal dipertahankan. Hiii… lebih susah mempertahankan ya?
Saya pernah janjiin Willi: nilai 100 = Rp. 100.000 buat beli Lego. Well, saya ngirit kali ini.

Posted in Kids

November 19th, 2009 by Adhi Widjajanto

“Mama besok Kakak remedial Bahasa Inggris. Maap yach Ma… Kagak apa-apa ya Ma…”
Trenyuh gw denger Willi ngomong gitu ke Mamanya. Well, sedih sih pas tahu Willi mesti ikut remidial, nilai UTS Bahasa Inggrisnya di bawah rata-rata standard nilai (apa sih namanya). Heh…
Ada satu nilai lebih dari anak ini yg bikin gw bangga: jujur, dan sadar kalo nilai jelek = bikin sedih ortu. 100 poin lagi deh buat Willi… Semoga besok bisa lolos remedialnya…

Posted in Kids

October 6th, 2009 by Adhi Widjajanto

Sesuai judul, jaman saya sekolah, nilai merah (dengan bolpen merah) adalah 50 ke bawah. Sekarang? Lain jaman, lain standar. Meski beberapa mata pelajaran punya standar nilai minimum yang berbeda, rata-rata nilai minimum bertengger di kisaran 65.
Senin kemarin Willi membawa pulang semua hasil ulangan hariannya. Nilai antara 71,1 sampai 95,5. Buat saya pribadi nilai itu cukup memuaskan mengingat saya sendiri mungkin agak susah mendapat nilai yang setara. Tapi kalau melirik standar di atas, ehm… hanya “sedikit di atas rata-rata” Sekolah sekarang emang serem…
Oh ya, waktu POMG yang lalu, katanya standar nilai minimum (apa ya nama kerennya, lupa) di beberapa daerah berbeda-beda. Hm… tanya kenapa?

Posted in Kids

September 16th, 2009 by Adhi Widjajanto

Ehm… di rumah kami semua kertas bekas berguna. Willi doyan banget nggambar. Sehari bisa menghabiskan 2 – 3 lembar kertas, dengan hasil full color. Terlebih lagi saat dia sudah punya meja belajar sendiri. Ini beberapa yang sempat saya digitize:

Posted in Kids

September 10th, 2009 by Adhi Widjajanto

Belum sebanyak kakaknya, tapi hasil corat-coret Sisi mulai ada hasilnya.

Posted in Kids

August 20th, 2009 by Adhi Widjajanto


Dinosaur age, di tepi laut. Tambah ada pesawat penjelajah waktu kejar-kejaran sama prehistoric bird. Di atas tertulis “dari kaka untuk mama dan papa”.

Posted in Kids

August 3rd, 2009 by Adhi Widjajanto

Kalau lihat yang satu ini, saya nyerah deh. Kreativitas saya kayaknya berbanding terbalik dengan usia. Willi membangunnya gampang saja kelihatannya. Pasang sini situ, kadang minta tolong untuk melepas parts yang susah. Hem… tapi Lego itu spesifik. Coba kalau dihadapkan dengan Bricks mungkin dia akan bengong seperti waktu dulu menghadapi Duplo. Kalau dengan Technic or City rasanya masih sama dengan Lego Willi lainnya. Bionicle? Entah. Saya sendiri lebih familiar dengan Bricks, soalnya jaman dulu adanya cuman itu sih… 😀

Posted in Kids