Category: My Thoughts

September 27th, 2020 by Adhi Widjajanto
Packaging yang eksklusif

Packaging
Pertama terima barangnya saya terpesona dengan packagingnya. Very classy! Hard box presisi sekelas kotak HP hi end, cetakan di box jelas dan rapi, sangat profesional. Setelah dibuka, pada bagian atas dilapis busa tipis lembut, DVR ditaruh rapih terbenam securely di bagian bawah dengan pelindung layar sementara parts lainnya dimasukkan ke dalam box terpisah yang juga cukup representatif.

Isi

Isi Kotak
DVR dengan build quality superb, plastik berkualitas, dan berasa berbobot. Di dalam kotak aksesoris berisi kamera belakang plus double tape dan dua baut tambahan, kabel kamera belakang dengan kabel khusus warna merah untuk reverse camera, antena GPS dengan kabel yang cukup panjang, car charger lagi-lagi dengan panjang kabel yang lebih dari cukup, dua karet pengikat DVR serta dua karet berperekat untuk mengganjal DVR agar tidak licin pada kaca center mirror. Ada selembar quick user guide yang benar-benar quick sampai ga ada informasi apapun yang bisa saya pakai.

Diganjal agar terpasang erat

Pemasangan DVR
Karena saya pasang di center mirror yang punya fitur anti glare, bentuknya cukup tebal dan lebar, jadi pengait DVR tidak bisa meraih sempurna, akibatnya sedikit menggantung tidak menyentuk cermin center mirror, mudah bergetar walau terpasang erat dengan karet pengikatnya. Saya ganjal setebal 1cm di kanan dan kiri agar dapat menempel penuh di cermin center mirror.

Pemasangan kamera belakang

Pemasangan Kamera Belakang
Kabel cukup panjang untuk dilewatkan melalui plafond ke arah belakang mobil. Seharusnya kamera belakang dipasang di atas plat nomor karena ada fitur reverse camera. Namun karena di mobil saya sudah ada kamera bawaan, yang ini saya tempel menggunakan double tape yang sudah tersedia di dalam mobil tepat di bawah hi mount stop lamp. Jika reverse camera hendak diaktifkan, sambung kabel merah ke positif lampu mundur.

Antena GPS

Pemasangan Antena GPS
Karena kabelnya cukup panjang, antena GPS saya letakkan di tengah dashboard dekat dengan windshield agar mendapat penerimaan paling baik. Kabel diselipkan dari plafon melalui pilar A dan melipir di antara dashboard dan windshield.

Posisi kamera depan

Pengaturan Posisi Kamera Depan
Setelah dinyalakan, untuk pengaturan posisi kamera depan tidak begitu fleksibel. Posisi kamera di sisi kiri DVR, dan karena pengemudi ada di sisi kanan (obviously) maka DVR juga saya miringkan ke kanan agar dapat dilihat dengan jelas dan leluasa. Namun akibatnya kamera depan jadi tertarik ke belakang dan menyorot ke kiri. Saya sudah berusaha adjust posisinya untuk menyorot lurus ke depan namun sudah mentok. Mungkin karena badan saya yang pendek jadi DVR terlalu miring ke kanan. Akhirnya harus berkompromi dengan sorotan kamera depan yang agak ke kiri. Saya jadi berpikir, seandainya DVR ini dipasang pada mobil LHD mungkin bisa lebih pas (di Cina LHD kan?).

Dashboard
Google Map

Android Based
DVR ini berbasis Android, dan hampir seluruh fitur Android berfungsi di sini. Google Play Store sudah terinstall sehingga bisa mengupdate aplikasi bawaan (Gmap dan Gboard) serta menginstall aplikasi tambahan lainnya. Mungkin saya akan coba download offline area Gmap dan/ atau install Waze.

Internal Storage & SD card

Storage
Untuk media penyimpanan tersedia ROM 16GB untuk aplikasi dan slot MicroSD untuk menyimpan rekaman DVR. Tidak disebutkan ukuran maksimum MicroSD, namus saya coba dengan 32GB masih bisa berfungsi.

WiFi
Bluetooth

Konektivitas
DVR ini dilengkapi dengan WiFi 802.11 AC, cukup modern mengingat WiFi 6 baru populer setahun belakangan. Tak lupa bisa diaktifkan sebagai Hotspot/ Access Point (SoftAP). Lalu ada slot SIM card, yang sayangnya IMEI tidak terdaftar di KomInfo jadi walau SIM card Indosat saya terdeteksi dan dapat sinyal namun statusnya No Service. Lalu ada juga konektivitas Bluetooth sehingga bisa disambungkan dengan HP. Plus, untuk audio ditambahkan FM transmitter, jadi audionya bisa didengarkan via head unit.

Video Quality
Video Length

Resolusi Video
Baik kamera depan dan belakang hanya memiliki dua pilihan kualitas: HD dan FullHD. Terdapat opsi untuk merekam suara/ tidak. Untuk durasi video ada beberapa pilihan: 30 detik, 1, 2, atau 3 menit. Sudah ada G sensornya juga sehingga bisa secara otomatis lock recording saat misal terjadi tabrakan ataupun pengereman mendadak.

Sebagai pengganti center mirror
Center mirror plus penunjuk arah dan waktu (screen saving mode)
Center mirror menggunakan kamera belakang
Center mirror menggunakan kamera belakang, full screen

Fungsi Center Mirror
Karena DVR dipasang pada center mirror, mau tak mau kita harus menyalakan layar saat berkendara malam. Bagi mata saya yang sudah plus, hal ini jadi mengganggu karena tidak bisa melihat layar dengan jelas. Untuk siang hari atau lingkungan terang, layar DVR bisa dimatikan penuh (dengan menekan tombol di bagian bawah DVR) dan dijadikan sebagai cermin walau lebih gelap dari cermin biasa. Agar layar dapat menampilkan sorotan kamera secara terus menerus, harus diatur sebagai berikut:

Step 1: Auto Exit Preview dimatikan/ disable/ never
2. Auto Screen Saving: Forbid

View
Rasio kamera normal 4:3 sementara layar lebar 10 inch dengan tinggi hanya 2,5 inch. View kamera dapat dipilih cropped atau scaled. Jika cropped, layar hanya menampilkan sebagian sorotan kamera dan bisa di scroll atas bawah. Sementara untuk tampilan scaled sorotan kamera akan tertampil penuh namun terdistorsi jadi gepeng.

Aplikasi
Untuk pairing ke HP menggunakan CarAssist Go! Ada 3 cara koneksi, pertama DVR menjadi AP dan HP terhubung ke DVR melalui WiFi. Cara kedua adalah DVR terhubung ke Internet dan HP mengakses DVR melalui Internet juga. Cara ini sebenarnya kurang saya rekomendasikan karena terkait privasi. Ini produk Cina, dan pasti servernya di Cina juga, dan Pemerintah Cina menerapkan kebijakan untuk melakukan screening terhadap seluruh traffic Internet. Anyway, cara ketiga adalah melalui Bluetooth. Sementara pada aplikasi Car Assist Go! Terdapat beberapa fitur untuk melakukan pengaturan terhadap DVR seperti melihat rekaman, melihat realtime view, dan melihat posisi realtime. Wow, bisa buat tracker nih saat mobil kita dipinjam orang (dengan syarat DVR tersambung ke Internet).

Kualitas Rekaman
Well, kebetulan saya juga pakai DVR bikinan Cina, Yi Smart Dashcam. Untuk komparasi hasil rekaman bisa dilihat di bawah ini untuk siang dan malam. Resolusi Yi SmartDashcam sudah saya sesuaikan agar serupa. FullHD masing-masing DVR bisa dilihat di sini untuk Lenovo V7 Pro 4G WiFi dan Yi Smart Dashcam.

Siang hari
Malam hari
  • File extension: ts
  • Format: mp4
  • Ukuran file: 156MB untuk durasi2 menit
  • Resolusi: FullHD (1920 x 1080)
  • Bitrate: 10952
  • Audio: 96kbps, mono, 16MHz

Kesimpulan
Mobil di Indonesia RHD, sementara DVR terletak di tengah, jadi untuk pencet-pencet apalagi kalau mau mengoperasikan Google Map jadi rada susah, kecuali mungkin bagi yang kidal. Untuk hasil rekaman video, mirip-mirip lah dengan Yi Smart. Cuman untuk kualitas yang mirip, Lenovo menyimpan file lebih kecil dari Yi Smart, jadi untuk SD card ukuran sama, Lenovo menyimpan lebih banyak rekaman. DVR ini berbasis Android, dengan ROM 16GB sih bisa install macam-macam. Jika dipasang pada mobil yang belum punya smart head unit sih bisa dibilang ini upgrade banyak.

So, bagi anda yang pengen punya device all in one, Lenovo V7 Pro 4G WiFi ini bisa menjadi pertimbangan. Jika SIM card 4G nya bisa diaktifkan, DVR ini benar-benar worth to buy. Terima kasih untuk LineUp AutoShop diberi kesempatan untuk mereview DVR nya.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Apa hubungannya? Gini. Kalau saya sering ke kantor, berarti network saya dekat dengan mail server yang berlokasi di kantor. Settingan Outlook saya pakai thin, yang berarti tidak ada cache mailbox di notebook. Harus selalu terhubung ke mail server untuk mengoperasikan Outlook. Nah posisi di rumah seperti sekarang ini memberikan efek yang berbeda buat saya: Outlooknya berasa lemot, update folder lama, fitur search jadi tidak reliable. Akhirnya saya harus melakukan beberapa perubahan:

Nyalakan Cached Exchange Mode. Dengan demikian, ada file .ost yang disimpan di harddisk notebook. Saya bisa baca email lama tanpa online, bisa search email secara lokal, lebih cepat tentunya.

Well, mailbox saya ternyata 6GB lebih, perlu waktu untuk mendownload seluruhnya. Saya pilih download semua, agar saya bisa leluasa melakukan Archive untuk email-email lama.

Nah, akan sangat tidak bijak untuk menyimpan data sepenting email di dalam satu file sebesar 6.6GB (gee I really miss Thunderbird). Hanya ada satu opsi: archive. Paling tidak filenya terbagi menjadi dua. Karena saat ini saya sedang mengurus proyek dengan timeline 5 tahun, ada baiknya jika archive saya pun bisa menyimpan selama itu. Mungkin perlu dipikirkan juga untuk backup ke cloud. Well another benefit melakukan archive, mailbox di server jadi lebih lega.

Posted in IT Freaks, Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

May 9th, 2020 by Adhi Widjajanto

Oke, kondisi sebelumnya saya pakai router ZTE F609 bawaan ISP. Karena di rumah ada sekitar belasan wireless clients (dari IP camera, hape, notebook, pc, dan android tv box), saya berpikir untuk membagi beban dengan D-Link DIR-612 sebagai access point, plus sinyalnya lebih kuat dari F609. Cuman ada kendala, client yang terhubung ke SSID nya tak pernah bisa dapat IP (DHCP server ada di F609). Engineer di kantor bilang, ada beberapa router memblokir traffic DHCP, wow… Perlu di find out later.

So, karena ada kendala di atas, saya berpikir solusi alternatif: naik ke Wireless AC, dan configure dengan dua subnet jika problem DHCP masih muncul. Paling tidak, tujuan utama saya untuk membagi beban tercapai. Ada kandidat router AC yang murah: Tenda AC6 AC1200.

Review Minus:

Read more of this article »

Posted in IT Freaks, My Thoughts, Shouts & Whispers

November 19th, 2019 by Adhi Widjajanto

Akhir tahun lalu isi ComPro berubah drastis. Yang tadinya secara gamblang menjelaskan “yang biasa kita lakukan“, ComPro baru menorehkan “yang bisa kita lakukan“. Well, sepertinya hanya saya saja yang belum pernah role playing present ComPro baru itu. Why? Karena saya belum dapet feel nya. That’s me, ga bisa present slide hanya dengan baca doang tanpa memahami isinya.

Sekarang sudah akhir tahun, dan sampai saat ini kami masih melakukan apa yang biasa kami lakukan, walau dengan percepatan logaritmik. Tapi tetap saja, “yang bisa kita lakukan” itu belum terlaksana. Sampai seminggu lalu, saya dapat kesempatan untuk mencobanya. Beresiko? Jelas. Bisa rugi? Bisa lah. New experiences? Definitely! So?

Ternyata ada yang tidak berani ambil risiko. Mungkin lupa dengan ComPro nya. Mungkin karena udah masuk Q4 buat closingan 2019, menghindari rapor merah. Entah. Yang jelas bikin mood saya terbanting keras ke bawah. Udah perlu libur akhir tahun sepertinya. #YukTouring

Tahun 2020 mungkin ada baiknya ngaca lagi, buat revisi ComPro. Siapa tahu kita bisa menjadi lebih baik jika melakukan apa yang biasa kita lakukan, dengan semangat dan ke-pede-an logaritmik.

Posted in Job Loads, My Thoughts

February 22nd, 2019 by Adhi Widjajanto

Menikmati hidup, istilah itu dimunculkan lagi di postingan saya kemarin tentang workload. Artinya? lagi-lagi subyektif tergantung orang yang mengamininya. Buat saya, menangis jengkel saat lihat atap rumah bocor padahal baru beberapa bulan lalu diperbaiki itu termasuk enjoying life. Kerja lembur dengan rekan kerja sampai pagi hari di kantor demi proyek yang worth to fight for itu termasuk enjoying life. Menyadari kalau longterm plan tidak berjalan dengan semestinya itu termasuk enjoying life. Demikian pula duduk santai di sofa rumah dengan perut kenyang habis menghajar dua bungkus mi instan ditemani segelas kopi di hari Jumat siang setelah paginya mengurus perpanjangan SIM itu termasuk enjoying life. MoS: jotting up and down, dynamic in life, is enjoying.

Komentar bos saya di FB kemarin (yep, ga nyadar kalau FB saya nge-friend dengan Bapak) tepat sekali, saya quote,

Sangat bergantung pada apa definisi work smart nya… bukan sekedar less work dan ga work hard to be smart… apakah orang smart ga work hard?

Sebaiknya kita tetap memberikan yg terbaik dalam bekerja, terus berkeinginan kuat dan bekerja keras utk merealisasikan apa yg sudah kita canangkan utk kita capai dalam hidup dan bekerja. Di mana sebelumnya kita harus smart utk membuat goal atau target kita dalam hidup atau bekerja serta smart dalam perencanaan akan step2 yg akan kita ambil utk mengarah ke target yg ingin kita tuju.

Adi Rusli, Feb 2019

Kalau dipikir, ada dua milestone unik dalam hidup saya yang hampir setengah abad ini: saat membentuk keluarga baru dan saat punya anak ketiga. Yang pertama kami siapkan dengan super matang. Tuhan membimbing kami dalam setiap rencana. Nabung, punya rumah dulu, baru merit, baru punya anak, de es te de es te. Yang kedua kami diberi glitch olehNya dengan satu gadis menggemaskan, Rara, yang sama sekali di luar rencana, tapi olehNya dibuat jadi sumber berkat dan bahagia berkelimpahan. Unik, dan itu membuat saya lebih bisa menikmati hidup.

Selamat ulang tahun buat saya sendiri. Congrats for reaching 45.

Posted in My Life With Jesus, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 21st, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya dan Yanty (istri) lulus kuliah di tahun yang sama, dan mulai kerja di tahun yang sama juga (1997). Saya mulai di perusahaan TI berbasis software yang ritme kerjanya relatif lambat. Timeline proyek bisa bulanan bahkan tahunan. Saya jadi terbiasa untuk bekerja seperti itu. Sementara Yanty kerja di bank dengan nasabah retail, berhadapan dengan pekerjaan yang tak pernah habis, selalu menumpuk di atas meja walau dikerjakan 24 jam selama 7 hari sekalipun. Oh ya, lokasi kerja saya lebih prestisius: di kawasan Sudirman (baca: apa-apa mahal), sementara Yanty di kawasan Glodok (baca: semuanya murah).

22 tahun terlewati, kami dihadapkan dengan kondisi yang berbeda. Saya sekarang bekerja di perusahaan TI berbasis hardware yang ritme kerjanya super cepat. Proyek mungkin bisa selesai dalam hitungan minggu, bahkan hari. Waktu kerja juga sudah persis dengan SLA yang ditawarkan ke customer, 24×7 4 hours response time… wkwkwk… Sementara Yanty yang pindah kerja di bank dengan nasabah korporasi dan ekspat, menghadapi ritme kerja yang sangat berbeda juga. Masuk jam 8 pagi untuk senam, trus ada sesi penggugah semangat (menyorakkan slogan perusahaan, sharing session, main game, dan entah apa lagi), baru mulai kerja yang ritmenya sooo slow (menurut dia sih). Tiap akhir bulan satu departemen hang-out dinner dan diakhiri dengan karaoke. Intinya: nyante. Plus, kantor Yanty sekarang di Sudirman, sementara saya yang geser ke tempat yang sedikit lebih murah, gee…

Nah, trus apa hubungannya dengan work hard dan work smart? Sepertinya dua istilah itu relasinya dengan THP ya. Work hard: kerja mati-matian demi upah sekian, sementara work smart: kerja seperlunya demi upah yang sekian juga. Kasus saya dan Yanty 22 tahun yang lalu, sepertinya Yanty work hard, sementara saya tidak melakukan keduanya. Hahaha… kerja saya nyante, dan hasilnya ya ga gede juga (kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah meroket kemana-mana). Nah, sekarang? Semoga kami berdua mulai masuk ke ranah work smart: enjoying life. Walau definisi itu sangaaattt subyektif.

Posted in Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers

April 6th, 2018 by Adhi Widjajanto

Soal cerita:
Si A dan si B satu kelas. Si A pinjam motor si B untuk kebut-kebutan. Ujung-ujungnya si A kecelakaan, motor si B hancur. Nyokap si B minta ganti rugi ke nyokap si A, dibayar, done. Nyokap si A lalu broadcast ke WAG* ortu, bilang kl ada yg minjemin lagi motor ke si A, harap tanggung akibatnya sendiri.

Ditanyakan:
Ortu yang lain harus komen apa? Apakah tanggung jawab mendidik anak sudah dilimpahkan ke orang lain? Ke sekolah? Ke ortu lain?

Kalau merasa tertarik, silakan post di komentar ya…

Note:
* WAG = WhatsApp Group

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers

October 11th, 2017 by Adhi Widjajanto

Begitu kata teman-teman dari industri enterprise storage sejak kemunculan terobosan baru di bidang flash drive a.k.a solid state drive/ SSD yang memungkinkan pembuatan harddisk SSD menjadi lebih mudah, lebih besar kapasitasnya, dengan harga lebih murah.
Read more of this article »

Posted in IT Freaks, My Thoughts

August 5th, 2017 by Adhi Widjajanto

Sudah lebih dari lima tahun saya ga ngibarin bendera saat 17an, semata karena bendera tua saya hilang entah ke mana. Well, ga akan bahas soal nasionalisme, bahas yang entengan aja.

Tadi malam saya sudah diwarning sama Pak RT, “harus pasang bendera ya, akan ada sidak!” Beuh… Pagi ini kebetulan di depan sekolah anak-anak ada penjual bendera. Mampir, nanya, nawar, dan ga beli. Bapak tua pejual bendera memberi harga Rp. 50.000 untuk ukuran 90×60. Saya yang olshoper sudah cari referensi kalau bendera ukuran segitu cuman 15 ribu. Pulang deh.

Cuman sampe rumah Yanty berasa galau, empatinya mendadak naik, “rejeki setahun sekali Say” katanya. Akhirnya kami balik lagi ke tempat yang sama, beli, pulang pasang. Yanty sempet ngobrol dikit, ternyata kulakan bendera dari Indramayu! Ga kurang jauh ya? Kalau ga jualan bendera ya jualan sepatu, entah, Indramayu produsen sepatu?

Posted in My Thoughts

April 12th, 2017 by Adhi Widjajanto

Please note, this is still an idea.

Why?

Ever saw some car with blindspot signal placed in their side mirrors? I did and I want it installed in my car. It really help us driving especially on busy traffic with motorcycles around.

How?

Use reverse/ parking signal with LED display like I use it in my previous car as proximity sensor. Then detach one of the LED display and glue it behind the side mirrors. Easy, eh?

Posted in DIY, My Thoughts