Pilkada, Tinta Cap, dan Perempuan

Pagi ini saya bangun disambut pagi yang cerah. Setelah mandi, pukul 8 bersama istri ke TPS yang hanya berjarak 8 rumah dari tempat tinggal kami.

Masih sepi. Ko Aan, ketua RT kami masih segar mengawasi kotak pencoblosan. Saya dan istri pun masuk, mendapat nomor antri, mengambil kertas pemilih, dan mencoblos tanpa antri. Lucunya, saat saya mencelupkan satu buku jari kelingking saya di tinta, mereka bersorak, “Naa… ini baru betul…!!”. Kami menyempatkan diri melihat-lihat sebelum pulang. Memang, kebanyakan pemilih agak takut-takut menandai jari mereka.
Secara keseluruhan saya menikmati prosesnya, meskipun ada sedikit masalah dan mengganjal beberapa detik antrian:

…padahal saya 100% laki-laki. Nggak percaya? Tanya istri saya.