Category: IT Freaks

August 3rd, 2020 by Adhi Widjajanto

Beberapa hari lalu saya membeli kamera ini di toko online, karena diklaim suport ONVIF, direct access ke NVR. Build quality lumayan. Terkesan murah karena memang cukup murah, tapi ga murahan. Bahan plastiknya tidak begitu baik, walau moldingnya cukup rapi. Motor PTZ nya terdengar cukup halus walau tidak silent. Mountingnya sendiri cukup simpel, walau saya ragu bisa awet kalau ditaruh di luar. Apalagi oleh seller disarankan mounting di ceiling dengan posisi terbalik agar mendapat coverage yang banyak.

Untuk inisialisasi, perlu aplikasi YCC365 Plus. Saya download dari Google Playstore. Saat install, pastikan aplikasi mendapat permission untuk akses GPS. Jika tidak, deteksi kamera akan gagal. Setelah install, bikin akun di aplikasi. Pastikan hape terkoneksi dengan WiFi 2.4G, karena kamera tidak support WiFi 5G.

Cara install jangan ikuti manual yang ada di kemasan (scan QR code) ga akan bisa (mungkin yang saya beli versi kw). Ikuti manual yang diberikan oleh seller. Ada dua mode: WiFi Mode dan AP Mode. Sebelumnya, nyalakan kamera dan tunggu sampai motor PTZ selesai berputar dan kamera bersuara “Please configure camera by AP hotspot or scanning code”.

WiFi Mode:

  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Tekan tanda + di kanan atas layar
  • Pilih Smart Camera
  • Pilih Addition of AP hotspot
  • Pilih Next
  • Pilih Go to Setting
  • Pilih WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcam_xxx
  • Pilih Back, lalu pilih Next
  • Aplikasi akan mendeteksi WiFi yang available di sekitar, pilih WiFi yang diinginkan (yang terhubung ke NVR dan/ atau yang terhubung ke Internet), isi password WiFi, dan pilih Next
  • Tunggu hingga proses selesai, beri nama kameranya.

AP Mode:

  • Sambung hape WiFi yang dipancarkan kamera: cloudcsm_xxx
  • Nyalakan aplikasi YC365 Plus
  • Pilih Local Direct Connection di kiri bawah layar
  • Isi device account: YCC365
  • Isi device password: 0123456

Menu pengaturan akan muncul seluruhnya saat kamera terhubung pada WiFi Mode. Kualitas gambar bisa diatur SD atau HD, walau saya bilang kualitas HD nya pun sesuai harga lah. PTZ nya tidak begitu sensitif, semoga awet, karena kamera saya taruh di luar dan dalam posisi terbalik. PTZnya benar bisa berputar horisontal 360 derajat dan vertikal sekitar 100 derajat. Infrared bisa diatur on/ off atau automatic. Saya prefer off karena depan rumah cukup terang saat malam. Audio terdengar cukup jelas. Saya tidak memasang sdcard, tidak mengaktifkan cloud storage, tidak mengaktifkan mode rekam, dan tidak mengaktifkan Intelligent Tracking, karena kamera akan dihubungkan ke NVR.

Seperti yang dijanjikan, ONVIF kamera terdeteksi oleh Zoneminder. Alamat RTSP nya: rtsp://xxx.xxx.xxx.xxx:554, dengan username admin dan password blank. Nice! Saya hanya belum sukses mengatur PTZ kamera via Zoneminder. Tak apa lah, saya memang lebih memerlukan ONVIF nya daripada PTZ nya. Kalau dua bulan lagi masih hidup, saya akan tambah satu lagi, sudah janji ke Pak RT.

Posted in DIY, IT Freaks, Shouts & Whispers

June 5th, 2020 by Adhi Widjajanto

Nggak pernah memperhatikan firmware yang digunakan PC, sampai barusan. Saat saya mencoba install Windows 10 via USB ke dua notebook yang harusnya ga jadul-jadul amat. Si Lenovo Ideapad 500S terinstall dengan mulus sementara Dell Inspiron 5420 menggantung di boot loader tanpa pesan apapun.

Usut punya usut ternyata firmware kedua notebook sedikit berbeda, si Lenovo default boot ke UEFI sementara si Dell default boot ke Legacy BIOS, dan ternyata cara bikin USB bootable Windows 10 nya juga sedikit berbeda.

Saya pakai Rufus untuk membuat USB bootable. Untuk perangkat dengan Legacy BIOS, setting di Rufus harus seperti di bawah ini:

Konfigurasi Rufus untuk Legacy BIOS

Sementara untuk UEFI BIOS seperti ini:

Oh ya, jika notebook anda mendukung, install Windows 10 bisa menggunakan voice command, thanks to Cortana. Cukup entertaining, walau jadi annoyed saat menunggu proses instalasi karena Cortana menjadi sangat bawel, “Still setting things up”, “Thanks for your patience”, “We’re sill working”, “Please don’t turn off your device” and so on…

Posted in IT Freaks Tagged with: , , , , ,

May 12th, 2020 by Adhi Widjajanto

Hah!!!??? Apa pula ini? Setahu saya kantor ga ada urusan sama browsing habit saya. Lalu? Malware!!! Oh tidaaakkk!!! Emang Avast (gratisan sih) ngapain aja???

Usut punya usut, ternyata banyak juga yang berteriak sama. Ada yang menyarankan scan malware (saya pakai MalwareBytes, lagi-lagi yang versi gratisan), ga nemu apa-apa. Trus dari Google support forum juga ada yang menyarankan Clean Chrome Policy, but the notification stays.

Sampai di satu website merefer ke Avast support forum, menyebutkan bahwa notifikasi itu muncul karena kontrol dari si Avast itu sendiri! Bah! Lalu saya coba mematikan fitur QUIC/HTTP3 scanning di Avast, dan notifikasi itu hilang, fiuh. Bukan virus, bukan malware, bukan trojan, ini kasus saya. Apakah ada yang mengalami serupa? Katanya yang pakai AVG juga muncul notifikasi yang sama, cara disable nya silakan lihat di sini.

Jadi, kedua anti virus itu expand layanan mereka dengan memproteksi kita saat browsing, otomatis scan apa yang ditarik dan akan ditampilkan oleh browser, dan yang dianggap berbahaya akan langsung di stop, silakan cek definisi QUIC dan HTTP/3. Makanya kedua anti virus tersebut harus bisa me-manage browser yang kita gunakan.

Posted in Extraordinary, IT Freaks, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , ,

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Apa hubungannya? Gini. Kalau saya sering ke kantor, berarti network saya dekat dengan mail server yang berlokasi di kantor. Settingan Outlook saya pakai thin, yang berarti tidak ada cache mailbox di notebook. Harus selalu terhubung ke mail server untuk mengoperasikan Outlook. Nah posisi di rumah seperti sekarang ini memberikan efek yang berbeda buat saya: Outlooknya berasa lemot, update folder lama, fitur search jadi tidak reliable. Akhirnya saya harus melakukan beberapa perubahan:

Nyalakan Cached Exchange Mode. Dengan demikian, ada file .ost yang disimpan di harddisk notebook. Saya bisa baca email lama tanpa online, bisa search email secara lokal, lebih cepat tentunya.

Well, mailbox saya ternyata 6GB lebih, perlu waktu untuk mendownload seluruhnya. Saya pilih download semua, agar saya bisa leluasa melakukan Archive untuk email-email lama.

Nah, akan sangat tidak bijak untuk menyimpan data sepenting email di dalam satu file sebesar 6.6GB (gee I really miss Thunderbird). Hanya ada satu opsi: archive. Paling tidak filenya terbagi menjadi dua. Karena saat ini saya sedang mengurus proyek dengan timeline 5 tahun, ada baiknya jika archive saya pun bisa menyimpan selama itu. Mungkin perlu dipikirkan juga untuk backup ke cloud. Well another benefit melakukan archive, mailbox di server jadi lebih lega.

Posted in IT Freaks, Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

May 11th, 2020 by Adhi Widjajanto

Karena di rumah sudah ada Wireless router 5G/ AC, jadi saya mencoba untuk utilize semaksimal mungkin. Waktu pertama setting, yang bisa nyambung ke SSID 5G hanya notebook (Lenovo Yoga 720) dan hape saya (Redmi Note 8 Pro). Sementara gadget lain (Redmi Note 7, Vivo V9, dan Redmi A2) yang di spesifikasi sudah support 5G tetap saja tidak bisa mendeteksi SSID 5G dari router.

Ngandalin Mbah Gugel, untuk Redmi Note 7 solusi sementara adalah mengubah pengaturan region ke IN atau UK atau US. Hmm… Apakah ada kaitannya dengan channel WiFi? Lalu saya iseng mencoba set manual channel si router, dan voila! semua gadget bisa nyambung! Ternyata dari 9 channel di WiFi 5G, yang bisa digunakan oleh Redmi Note 7 dan Vivo V9 hanya channel 149, 153, 157, 161, dan 165. Sementara jika menggunakan channel 36, 40, 44, dan 48 gadget di atas tidak bisa nyambung. Tentu saja saya juga tidak bisa menggunakan pengaturan Auto. Well, aman untuk saat ini karena dari hasil scan, hanya saya yang pakai WiFi 5G di neighborhood sini. Oh ya, untuk Redmi A2 ternyata bisa nyambung ke semua channel di 5G, hanya saja preferensi dia nyambung ke 2.4G dulu, wierd.

Terkait channel WiFi, baca-baca dari Wikipedia, ternyata cukup banyak juga ya, dan setiap merk router belum tentu sama. Wireless router Tenda AC6 (rilis 2016) menggunakan U-NII-1 dan U-NII-3, dan bisa dipastikan untuk Vivo V9 (rilis Maret 2018) dan Redmi Note 7 (rilis Januari 2019) tidak bisa nyambung ke band U-NII-1. Semua brand adalah produk Cina, dan MIIT (seperti KomInfo nya indonesia) baru allow penggunaan band U-NII-1 di tahun 2013, sepertinya Vivo dan Redmi terlambat adopt band baru ini.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , ,

May 9th, 2020 by Adhi Widjajanto

Oke, kondisi sebelumnya saya pakai router ZTE F609 bawaan ISP. Karena di rumah ada sekitar belasan wireless clients (dari IP camera, hape, notebook, pc, dan android tv box), saya berpikir untuk membagi beban dengan D-Link DIR-612 sebagai access point, plus sinyalnya lebih kuat dari F609. Cuman ada kendala, client yang terhubung ke SSID nya tak pernah bisa dapat IP (DHCP server ada di F609). Engineer di kantor bilang, ada beberapa router memblokir traffic DHCP, wow… Perlu di find out later.

So, karena ada kendala di atas, saya berpikir solusi alternatif: naik ke Wireless AC, dan configure dengan dua subnet jika problem DHCP masih muncul. Paling tidak, tujuan utama saya untuk membagi beban tercapai. Ada kandidat router AC yang murah: Tenda AC6 AC1200.

Review Minus:

Read more of this article »

Posted in IT Freaks, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 10th, 2020 by Adhi Widjajanto

Just found easier way to start a WhatsApp chat without adding the phone number to phonebook. Apparently WhatsApp officially provide a site to do that. Open http://wa.me/<phone number in international format>. Example, http://wa.me/628160000000 to start chat with +628160000000.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers

February 7th, 2020 by Adhi Widjajanto

Karena saya hanya pakai mesin kecil untuk NVR, jadi saya kena banyak masalah, banyak error, banyak warning. System saya hanya pakai Intel Atom dan RAM 2GB.

Kemungkinan Crash Saat Mati Listrik

Sudah beberapa kali, kalau mati listrik server tidak bisa boot karena boot loader hilang tak bisa dibaca. Kenapa? dunno, di fsck selalu tidak terdeteksi adanya bad sector. Tapi kalau langsung reformat dan install Ubuntu selalu gagal karena disk tak terdeteksi. Perbaikannya gampang: copot harddisk, colok ke docking station, format ulang pakai Windows. Baru balikin dan install Ubuntu dari awal.

Muncul Warning Buffer Overrun

Tepatnya: Buffer overrun … slow down capture, speed up analysis or increase ring buffer size. Nah kalau ini karena RAM saya yang imut. Kalau ngikut hitungan di link ini, saya harus nge tweak beberapa konfigurasi dengan cara coba-coba yang sangat memakan waktu: gedein mapped memori jadi 70%, gedein image buffer size jadi 100, dan turunin target color space jadi 24.

Posted in DIY, IT Freaks

May 10th, 2018 by Adhi Widjajanto

It’s very annoying for years, having notebooks (yes, two!) with Intel Dual Band AC while your router still in b/g/n technology. The connection is almost unusable since it will almost drop all the time and sudden disconnect. Surf around dozens of sites and suggestions, nothing works. Buying dual band wireless AC router is not an option, still expensive for my tight wallet, but it really will solve the problem since my office use it.

Till yesterday I found something interesting, worth to try. I downgrade the router’s speed to b/g only and yes! The AC Wi-Fi works flawlessly. Don’t know why, but it really works.

For your reference, my two notebooks are Acer Aspire V3-371 and Lenovo Yoga 720-13IKB while the home router is Dlink DIR 612 and office routers are Aruba AP-205.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers

October 16th, 2017 by Adhi Widjajanto

Endorse? Boleh saja beranggapan demikian. Wong nyatanya saya pakai hosting di MTPCloud ga bayar. Selain jadi admin, saya juga percaya dengan barang dagangan saya sendiri. Okay, mari kita mulai endorsementnya.

Saya sudah bertahun-tahun nyaman di salah satu hosting provider terbesar di Indonesia. Seluruh domain dan hosting yang saya kelola, baik itu milik sendiri atau milik teman, hostingnya di situ juga. Intinya, no complaints: cheap & reliable. Well, at least sampai sebulan yang lalu, bikin saya pusing. Hosting sering mati. Karena tidak ada garansi uptime, saya tidak bisa komplain keras. Support tickets sampai menumpuk panjang. Komplain pagi, siang beres, malam mati lagi. Ujung-ujungnya mereka sarankan pindah server. Wew, kalau server mereka sudah di cloudkan semua, bukannya lebih baik mesin-mesinnya dicluster jadi satu agar dapat high availabilitynya ya? Entah lah, saya sudah capek, dan memutuskan pindah ke provider lain.

So, kenapa saya pilih MTP Cloud. Read more of this article »

Posted in Extraordinary, IT Freaks, Shouts & Whispers