Category: My Thoughts

October 2nd, 2012 by Adhi Widjajanto

Entah kalau di gereja lain. Tapi kalau di tempat saya beribadah, slide-slide yang muncul di belakang mimbar saat praise & worship terkesan malas-malasan, muncul beberapa detik terlambat dari lagunya, dan kadang malah tidak muncul sama sekali untuk satu atau dua slide. Why?
Saya memang terbiasa duduk di deretan belakang, jadi selalu bisa melirik ke belakang saat slide lagu terlambat atau tidak muncul. Sebagian besar saya tidak tahu, operatornya duduk menghadap ke layar komputer sedang melakukan sesuatu, tapi tak ada perubahan di slide. Atau saat operator “diganggu” dengan titipan pembicara untuk materi kotbah. Atau saat pengganggu lain mengajak berbicara. Aneh, operator projector harusnya seperti on stage performer, fokus 100%, karena apa yang dia lakukan langsung terefleksikan di atas panggung, dan sebagian besar mempengaruhi jemaat.
Sejak 2003 saya sendiri adalah operator projector, walau bukan di ibadah minggu. Beberapa hal (tips) yang saya dapat, mungkin bisa saya bagikan di sini:

Read more of this article »

Posted in My Thoughts

December 22nd, 2011 by Adhi Widjajanto


Set yang kiri memblokir ambience sounds lebih baik daripada set yang kanan, karena karetnya benar-benar masuk ke dalam lubang telinga. Disebutnya “ear canal”. Well, saya juga pakai yang jenis itu, dengan ada kelemahan: jangan pakai sambil makan or mengunyah or sedang pilek karena segala “inner sounds” dari tubuh pun akan terdengar lebih jelas.
MOS: Kalau lagi makan, pakai set yang kanan… 😀

Posted in My Thoughts

September 1st, 2010 by Adhi Widjajanto

Perlukah? Buat saya sih perlu. Coba bayangkan betapa enaknya kalau kita bisa hampir yakin nanti 5 tahun lagi kita bakal punya cukup uang untuk uang masuk kuliah anak. Atau bisa dengan pasti tahu berapa harus menabung khusus agar 3 tahun lagi bisa membeli mobil kedua dengan cash! Well, saya tadi malam melakukan annual budgeting. Caranya? Gampang.
Kalau anda sudah memiliki budget bulanan, silakan lanjut bacanya. Jika belum, mungkin lebih baik jika anda membaca tulisan saya tentang mengatur keuangan keluarga bagian 1 dan bagian 2. Nah, kalau sudah punya, buatlah tabel baru dan catat pengeluaran bulanan anda, kalikan dengan 12. Catat juga pemasukan bulanan anda dan kalikan dengan 12. Lalu masukkan juga pengeluaran tahunan yang biasanya tidak tercatat pada budget bulanan seperti bayar PBB, bayar uang alat sekolah, pajak kendaraan, annual fee kartu kredit, dan sebagainya. Masukkan juga pendapatan tahunan seperti THR dan gaji ke-13 kalau ada. Intinya, bawa semua pengeluaran dan pendapatan anda dalam satuan tahun. Dapat kan? Sekarang hitung apakah dalam setahun anda benar-benar menabung. Jika pendapatan tahunan lebih besar daripada pengeluaran tahunan silakan lanjut ke langkah berikutnya. Jika tidak, wah, anda harus mengubah living style anda dulu untuk mengurangi pengeluaran anda.
Nah, kalau sudah tahu besar annual saving anda, berarti secara kasar anda sudah dapat memperkirakan dana anda beberapa tahun ke depan. Oh, inflasi? Teorinya mudah untuk menghadapi inflasi, yaitu dengan memasukkan dana kita pada instrumen investasi yang sedikit dipengaruhi oleh inflasi, atau masukkan pada instrumen yang nilai return nya lebih tinggi daripada inflasi tahunan.
Soal investasi dan savings, saya dapat ilmu baru dari Oom Harris, teman di milis alumni FTJE. Menurut beliau, minimal 10% dari pendapatan kita harus dimasukkan ke dalam investasi dengan tujuan untuk menunjang hidup kita di hari tua nanti. Beliau juga menyarankan agar kita memiliki simpanan dana darurat yang besarnya 3 sampai 5 kali total pengeluaran bulanan. Tujuannya agar kita bisa tetap survive selama 3 sampai 5 bulan disaat kritis seperti joobless atau sebangsanya.
Nah, silakan dicoba hitung. Anda akan terkesan (atau terkaget?) dengan hitungan anda sendiri.

Posted in My Thoughts

July 22nd, 2010 by Adhi Widjajanto

Barusan baca controller XBox360 yang baru: Kinect. Fiturnya sih menjanjikan. Dengan kamera, depth sensor (pakai infra red), dan mic, Kinect menjanjikan deteksi gerak tubuh, raut muka, dan suara. Ga tanggung-tanggung, katanya bisa deteksi gerakan jari! Wow… Trus concurrent user, eh…, player bisa sampai 6 dengan work area maksimal 3,5 meter. Lho… 6 orang berderet di depan Kinect dengan jarak 3,5 meter kok jadi berasa sempit ya… 😀 Ah, tau’ ah. Saya ambil sumber dari Wiki. Dari sumber lain, Kinect mungkin akan masuk ke Indonesia dengan harga 1,4 juta.
Compared with Kinect, saya melihat produk yang sudah dilempar ke pasaran seperti WiiMote plus berbagai tambahan sensor-sensor lainnya seperti Nunchuk, Wii Speak, dan Balance Board. Mirip kan? Soal sensitivitas, entah lah. Soal harga, ambil hikmahnya saja: semoga sensor-sensor Wii lainnya bisa turun harga.

Posted in My Thoughts

July 9th, 2010 by Adhi Widjajanto

Saya pikir serial kartun ini hanya diputar di negara asalnya saja, ternyata salah satu stasiun di Indonesia menyiarkannya juga. Beberapa kali ikut melihat, yang saya rasa selain nuansa Islami yang cukup kental, adalah bahasa. Vocab dan grammar sih tak masalah buat saya, kecuali kata-kata kak Ros yang menurut saya terlalu kasar buat anak-anak. Plus, logat Melayunya… duh… saya benar-benar mulai tak menyukainya saat mendengar logat anak-anak mulai berbeda. Pada awalnya sih berasa lucu mereka ikut-ikutan logan Melayu. Lama-lama kuping Indonesia saya jadi risih juga. Hee… Stop dulu deh nontonnya…

Posted in My Thoughts

June 30th, 2010 by Adhi Widjajanto

Barusan dapat link INI, dan tahu sumbernya dari SINI. Setelah baca, saya jadi mikir juga, saya punya kamera buat apa ya?
Sejak SMP saya berkutat dengan Canonet QL17 G-III (Googling aja deh), menghabiskan ratusan rol film. Buat apa? Buat motret puluhan acara di sekolah. Karena biaya beli film dan cetaknya dibayarin sama sekolah, ya hayuh aja deh. Entah awalnya dulu gimana, saya bisa kebagian di seksi dokumentasi. Canonet G-III itu benar-benar manual. Jadul abis deh, tapi saya belajar banyak dari situ. Sementara bokap sudah beli kamera elektronik (tetep film sih), jadi saya lebih leluasa main-main dengan kamera ini. Oh ya, baterai ga pernah diisi, jadi metering sensornya mati… 😀 Oh ya, kebayang nggak, saya pakai kamera yang sama sampai lahiran anak saya yang pertama! puluhan tahun kemudian. Hebat dah tuh kamera. Sekarangpun kalo diisi film masih bisa dipakai juga. Hem… ada di lemari… coba nanti malam saya lihat kondisinya.
Well, balik ke topik. Setelah dirasa beli film dan cetak mahal, akhirnya beli poket, (lagi-lagi) Canon PowerShot A80. Buat apa? Motret anak lah! Namanya juga bapak baru. Hehehe… Tapi akhirnya kegunaan kamera beralih buat blogging. Kemana-mana saya bawa. Efektif dah. Apalagi fiturnya tidak meninggalkan akar saya yang mulai dari manual. A80 punya menu M yang memuaskan kreativitas saya. Dipakai sampai hancur sensornya… sedih…
Diganti sama Canon EOS 350D. Lho? Sok-sok’an upgrade? Bukan! Karena selama pakai A80 saya juga “ngicipi” prosumer punya bokap macam Canon PowerShot G3 dan PowerShot Pro-1. Namanya juga ngicipi, trus berasa, “lha kok enak ya?” Hehehehe… Cuman drawbacknya di sisi ukuran & berat. Beberapa bulan pertama saya masih bawa tuh EOS kemana2. Akhirnya menyerah. Photo blogging turun drastis. EOS dipakai hanya kalo ada acara doang, atau kalo lagi mo narsis dengan papercraft.
Trus? Pilihan jatuh ke kamera henpon. Hehehe… downgrade? Terserah situ mo ngomong apa. Yang penting, kebutuhan buat photo blogging tercapai lagi.
So, anda punya kamera buat apa?

Posted in My Thoughts

May 19th, 2010 by Adhi Widjajanto

Tadi pagi pas mo berangkat kantor tiba2 kepikiran cerita beginian:
Q lagi jalan-jalan di Mal bareng cowoknya, ketemu A yang lagi jalan-jalan juga bareng anak istrinya, pas pake kaos PERI…
Q: Halo, kaosnya keknya pernah liat. PERI itu apa yak?
A: Itu singkatan nama komunitas papercraft di Indonesia
Q: Kepanjangannya PERI apa?
A: PEkeRja senI Kertas, singkatan pendeknya PERIKERTAS, pendek lagi cuman PERI aja.
Q: Ooo… gitu yak. Websitenya yang mana sih? kok banyak bener? Di kaos tu ada papermodel.tk, di kartu nama ada perikertas, trus gue denger di kaskus juga ada, trus ada juga p****-r******.com…
A: Official ada di perikertas.com. Yang papermodel.tk itu URL singkat ke forum di kaskus. Lainnya itu punya pribadi masing-masing anggota PERI.
Q: Oh, ada keanggotaannya juga yak? Gimana daftarnya?
A: Huahahahaha… PERI adalah salah satu komunitas yang ga mau terlalu ribet ngurusin organisasi. Kalo mau jadi anggota, tinggal bikin aja salah satu papermodel trus perkenalkan diri di forum. Mau keluar? ga bisa, soalnya ga ada pintu masuknya…. xixixixixi…
Q: Wah, asik dong, bisa suka-suka.
A: Hm… emang buat fun kok. Cuman ada satu tugas buat setiap anggota, yaitu memperkenalkan papercraft/ papermodel ke temen-temen elo.
Q: Ooo gitu yah. lalu, kalo mo dapet pola-polanya gimana?
A: Gabung aja di forum, linknya bejibun di situ. Atau sebagai langkah awal, liat di perikertas.com aja, ada direktori mininya.
Q: kalo alat-alatnya? Khusus ga?
A: Gunting ma lem juga dah bisa. Kalo mo lengkap bisa beli di toko buku. Kalo ga mo repot tinggal pesen di salah satu anggota juga bisa.
Q: Wah… asik juga yah… omong-omong di forum banyak cowok pa ceweknya?
A: Terus terang banyak cowoknya, dari yang tua kayak gue sampe yang masih SD juga ada. Yang cewek relatif dikit.
Q: Wow… gitu ya (cowoknya dah melotot) Asik juga yak… ya udah Oom, makasih ya.
A: Sama-sama. Sampai ketemu di forum
Q: (Melepas senyum terindah)…

Posted in My Thoughts

December 7th, 2009 by Adhi Widjajanto

Sudah lama saya tak mengisi ulang kuesioner soal personality. Kali ini saya menyempatkan diri mengisinya kembali. Hasilnya? Bisa dilihat di kolom kanan blog ini. Bandingkan dengan hasil tes beberapa tahun yang lalu:
Dulu:
– Introverted 95%
– Sensing 68%
– Thinking 84%
– Judging 74%

Sekarang:

– Introverted 74%
– Intuition 58%
– Thinking 74%
– Judging 89%
Hm… Saya sudah tidak lebih introvert. Bagus lah. Lebih mengandalkan intuisi dari perasaan? Hm… keknya dari dulu memang seperti itu… Whahahahaha…!!! Judging naik, Thinking turun? Tambah galak? He… Emosi tinggi nih…

Posted in My Thoughts

December 7th, 2009 by Adhi Widjajanto

Minggu lalu thread papermodel di Kaskus ramai membicarakan soal HaKI setelah built models beberapa papertoy dan satu papercraft bis sekolah muncul di salah satu acara penghargaan musik di MTV. Untuk acara yang bersifat komersial, menggunakan properti gratisan tanpa ijin dari pemiliknya adalah KELIRU! Alapagi kalau sampai properti gratisan itu secara langsung dikomersialkan, apapun alasannya. Need proof? Lihat DI SINI dan DI SINI.
Mestinya ada banyak cara untuk melegalkan penggunaan freeware. Yang pertama, minta ijin yang punya. Akan sangat sangat mudah bagi pemohon (dalam hal ini MTV Indonesia) kontak ke kreator papertoy untuk minta ijin. Tapi mereka ga lakuin. Yang kedua, pasang credit title saat penayangannya. Para kreator memang sudah mempublikasikan karyanya dengan gratis, kalau ditambahi channel dari MTV kan tambah seneng. Well, itupun ga dilakuin. Di setiap pola yang dibagi gratis itu pasti ada “signature” kreatornya. Menghilangkan “signature” adalah sama saja melanggar legalitas freeware. Freeware is not like a free beer. Ada aturan-aturan main yang mengikatnya.
Buat hal di atas, klarifikasi dari pihak terkait sudah dilontarkan. Yah, ada yang sudah puas, ada yang belum. Well, wong barang komersil aja dibajak, apalagi yang freeware.

Posted in My Thoughts

November 4th, 2009 by Adhi Widjajanto

No HP saya 081x-xxxx437. Tadi malam dapat miss call dari 081x-xxxx473. He… Sayang ga kenal…
Ortu saya malah lebih keren. Beli perdana prabayar dari karyawan operator, dapat no yang berurutan, 081x-xxxx851 & 081x-xxxx852.
Oh, soal operator, ada juga tuh modus marketing baru dengan menawarkan no yang sama. Misal si-A punya no 0816-1234567, lalu si-B yang entah karyawan operator atau user biasa menawarkan no 0817-1234567 atau 0811-1234567 atau no sejenis lainnya dengan harga ‘lumayan’. Jaman sekarang punya lebih dari satu nomor GSM sudah biasa, bagus juga kan kalau semua nomor sama.
Tahu ‘No Cantik’? Benar-benar marketing gimmick. Saya punya rekanan dengan no HP 0818-88888888. Kalau akan menelpon dia dari HP tak pernah terlihat angkanya. Kalau akan menelpon dari landline malah sering kali bingung sudah cukupkah angka 8-nya? He… soal kecantikan memang super subyektif.
He… Saya pernah baca entah di mana, kalau di beberapa negara no HP melekat pada pemakainya, bukan pada operator. Ada untung ruginya sih… So, spesialkah no HP mu?

Posted in My Thoughts