Category: Shouts & Whispers

February 22nd, 2019 by Adhi Widjajanto

Menikmati hidup, istilah itu dimunculkan lagi di postingan saya kemarin tentang workload. Artinya? lagi-lagi subyektif tergantung orang yang mengamininya. Buat saya, menangis jengkel saat lihat atap rumah bocor padahal baru beberapa bulan lalu diperbaiki itu termasuk enjoying life. Kerja lembur dengan rekan kerja sampai pagi hari di kantor demi proyek yang worth to fight for itu termasuk enjoying life. Menyadari kalau longterm plan tidak berjalan dengan semestinya itu termasuk enjoying life. Demikian pula duduk santai di sofa rumah dengan perut kenyang habis menghajar dua bungkus mi instan ditemani segelas kopi di hari Jumat siang setelah paginya mengurus perpanjangan SIM itu termasuk enjoying life. MoS: jotting up and down, dynamic in life, is enjoying.

Komentar bos saya di FB kemarin (yep, ga nyadar kalau FB saya nge-friend dengan Bapak) tepat sekali, saya quote,

Sangat bergantung pada apa definisi work smart nya… bukan sekedar less work dan ga work hard to be smart… apakah orang smart ga work hard?

Sebaiknya kita tetap memberikan yg terbaik dalam bekerja, terus berkeinginan kuat dan bekerja keras utk merealisasikan apa yg sudah kita canangkan utk kita capai dalam hidup dan bekerja. Di mana sebelumnya kita harus smart utk membuat goal atau target kita dalam hidup atau bekerja serta smart dalam perencanaan akan step2 yg akan kita ambil utk mengarah ke target yg ingin kita tuju.

Adi Rusli, Feb 2019

Kalau dipikir, ada dua milestone unik dalam hidup saya yang hampir setengah abad ini: saat membentuk keluarga baru dan saat punya anak ketiga. Yang pertama kami siapkan dengan super matang. Tuhan membimbing kami dalam setiap rencana. Nabung, punya rumah dulu, baru merit, baru punya anak, de es te de es te. Yang kedua kami diberi glitch olehNya dengan satu gadis menggemaskan, Rara, yang sama sekali di luar rencana, tapi olehNya dibuat jadi sumber berkat dan bahagia berkelimpahan. Unik, dan itu membuat saya lebih bisa menikmati hidup.

Selamat ulang tahun buat saya sendiri. Congrats for reaching 45.

Posted in My Life With Jesus, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 21st, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya dan Yanty (istri) lulus kuliah di tahun yang sama, dan mulai kerja di tahun yang sama juga (1997). Saya mulai di perusahaan TI berbasis software yang ritme kerjanya relatif lambat. Timeline proyek bisa bulanan bahkan tahunan. Saya jadi terbiasa untuk bekerja seperti itu. Sementara Yanty kerja di bank dengan nasabah retail, berhadapan dengan pekerjaan yang tak pernah habis, selalu menumpuk di atas meja walau dikerjakan 24 jam selama 7 hari sekalipun. Oh ya, lokasi kerja saya lebih prestisius: di kawasan Sudirman (baca: apa-apa mahal), sementara Yanty di kawasan Glodok (baca: semuanya murah).

22 tahun terlewati, kami dihadapkan dengan kondisi yang berbeda. Saya sekarang bekerja di perusahaan TI berbasis hardware yang ritme kerjanya super cepat. Proyek mungkin bisa selesai dalam hitungan minggu, bahkan hari. Waktu kerja juga sudah persis dengan SLA yang ditawarkan ke customer, 24×7 4 hours response time… wkwkwk… Sementara Yanty yang pindah kerja di bank dengan nasabah korporasi dan ekspat, menghadapi ritme kerja yang sangat berbeda juga. Masuk jam 8 pagi untuk senam, trus ada sesi penggugah semangat (menyorakkan slogan perusahaan, sharing session, main game, dan entah apa lagi), baru mulai kerja yang ritmenya sooo slow (menurut dia sih). Tiap akhir bulan satu departemen hang-out dinner dan diakhiri dengan karaoke. Intinya: nyante. Plus, kantor Yanty sekarang di Sudirman, sementara saya yang geser ke tempat yang sedikit lebih murah, gee…

Nah, trus apa hubungannya dengan work hard dan work smart? Sepertinya dua istilah itu relasinya dengan THP ya. Work hard: kerja mati-matian demi upah sekian, sementara work smart: kerja seperlunya demi upah yang sekian juga. Kasus saya dan Yanty 22 tahun yang lalu, sepertinya Yanty work hard, sementara saya tidak melakukan keduanya. Hahaha… kerja saya nyante, dan hasilnya ya ga gede juga (kalau dibandingkan dengan teman-teman seangkatan yang sudah meroket kemana-mana). Nah, sekarang? Semoga kami berdua mulai masuk ke ranah work smart: enjoying life. Walau definisi itu sangaaattt subyektif.

Posted in Job Loads, My Thoughts, Shouts & Whispers

February 13th, 2019 by Adhi Widjajanto

Saya pakai kabel ini sejak awal 2017 untuk speaker di pintu baris kedua. Pertengahan 2018 speakernya mulai rewel, storing, ngikut rpm mesin. Saya sudah cek kabel dari HU ke ampli, tuker sana sini, dan sampai pada kesimpulan yang bikin storing itu dari ampli ke speaker. Entah amplinya, entah speakernya (masih pakai speaker OEM dihajar ampli 75watt), entah kabelnya.

Beberapa minggu lalu saya bongkar untuk cek soket kabel ke speaker. Ternyata ada keraknya, oksidasi! Saya coba potong dikit-dikit buat dapat bagian yang masih bagus, ternyata hanya angan-angan. Sudah habis 20cm masih belum dapat yang bagus. Vonis: ganti kabel speaker.

Read more of this article »

Posted in Shouts & Whispers

February 5th, 2019 by Adhi Widjajanto

Ya belum setahun juga sih, cuman ada beberapa hal yang bisa dijadikan catatan.

Paket Combo dapat 3 baterai dan charging dock. Saya pikir bisa charge barengan ternyata gantian juga. Hanya memudahkan kita ga perlu cabut colok aja kalau mau charge sekaligus beberapa baterai.

Baterai yang disimpan fully charged, akan mulai turun isinya kalau disimpan tak terpakai lebih dari seminggu. Ternyata memang fitur dari baterai itu sendiri. Sesuai info dari DJI, baterai akan lebih awet kalau disimpan dengan kapasitas 1/3. So, plan well agar drone dan baterainya bisa awet sampai lama.

WiFi Mavic Air memang kurang kuat kalau dibandingkan dengan drone DJI lainnya. Teman yang awalnya punya Mavic Pro, lalu ganti dengan Mavic Air malah menyesal. Ada triknya sih, FCC Hack kata orang bilang. Mengakali firmware seakan drone beli di US, power WiFi jadi naik sedikit, tapi cukup signifikan. Yang tadinya distance 100 meter sudah lost signal, setelah FCC Hack sudah proof sampai distance setengah kilo juga masih tersambung lancar.

Gesture mode bisa jadi momen yang tepat buat show off, atau momen memalukan buat pilotnya, hehehe… Akan berasa mewah saat drone bisa melakukan perintah dengan gerakan tangan, mengikuti kemanapun pilot bergerak. Dan berasa memalukan juga saat dronenya membangkang. Kemarin saat di lapangan golf baru tahu kalau drone tidak bisa mendeteksi telapak tangan yang pakai sarung tangan. Mesti copot sarung tangan dulu.

Hati-hati dengan cuaca saat terbang, terutama di pegunungan. Pernah kejadian terbang hanya 50 meter, tiba-tiba drone tertutup kabut tebal. Sensor salah deteksi dipikir sudah dekat dengan tanah, memberikan perintah ke drone untuk landing. Untung sempat saya cancel. Teman juga pernah cerita kalau terbang rendah di atas air bisa mengalami kejadian yang sama.

Perhatikan juga posisi remote, apakah dekat dengan bahan yang menyerap sinyal seperti wiremesh. Walau sudah pakai FCC hack, saya pernah berdiri di depan kandang burung besar. Naik 15 meter langsung lost signal. Geser menjauh dari kandang burung, alls well.

Sama satu lagi yang terakhir, saat menandai RTH usahakan di tempat lapang, jangan di tempat yang sempit. Pengalaman saya drone pernah landing RTH di ujung atap kanopi, 5 senti lagi terjun bebas 3 meter. Pengalaman kedua saat terbang di pinggir kolam renang. Walau sudah lock ke banyak satelit, tetap saja RTH satu meter di kolam. Untung bisa ditangkap tangan, dan jari-jari saya masih utuh.

Next lanjut lagi kalau ada pengalaman tambahan lain.

Posted in Shouts & Whispers

February 5th, 2019 by Adhi Widjajanto

Gunanya buat apa? Ya buat ngetest apakah gauge mobil anda baik-baik saja, hehehe. Saya juga sering pakai metode ini untuk cek Honda Civic FD gauge nya support cruise control atau tidak.

Caranya:
1. Posisi kontak off, tekan dan tahan tombol reset gauge, lalu nyalakan headlamp.
2. Putar kontak ke Ignition II
3. Matikan, nyalakan, dan matikan headlamp.
4. Lepas tombol reset gauge dan kemudian tekan dengan cepat sebanyak 4 kali

Untuk mematikan gauge cluster self diagnostic, putar kontak ke off.

Posted in DIY, Shouts & Whispers

February 2nd, 2019 by Adhi Widjajanto
Pivot 3Drive Alpha

Proyek ini sudah saya nantikan sejak 2013. Setelah beberapa kali gagal menyalakan cruise control secara OEM di Honda Jazz GE8, kemudian alternatif menggunakan modul tambahan dirasa cukup mahal, lambat laun proyek ini terpendam cukup dalam.

Sampai kemarin, saat dirasa punya modal cukup untuk mewujudkan, saya memberanikan diri mempersiapkan perangkatnya. Impor dari Jepang dengan harga cukup mahal, modul utama (3DA) plus harness pedal gas (TH-7A) dan pedal rem (BR-2) seharga 21.300 Yen, modul tambahan (THA-SA) seharga 4.801 Yen, plus ongkos kirim 1.620 Yen. Total kalau dirupiahkan hampir 3,8 juta. Wow.

Tunggu prosesnya ya, perjalanan masih panjang, target saya adalah OEM look.

Update:
Ternyata kena pajak sekitar 1,3 juta. Jadi saya spent sekitar 5,1 juta.

Posted in DIY, Extraordinary, Shouts & Whispers

January 24th, 2019 by Adhi Widjajanto

Ini dahsyat. Saya isi formulir perubahan daya PLN tanggal 22 jam sebelas malam via online. Beberapa menit kemudian saya mendapatkan kode bayar via email. Karena tanggal 23 sibuk, baru tadi pagi (tanggal 24) istri saya bayar via ATM. Proses administrasi dapat dicek via online juga. Dan hebatnya, sore ini petugas PLN datang mengganti MCB.

Salut buat bapak petugas yang datang, ramah dan cepat dalam pengerjaannya. Salut juga buat PLN yang sudah melakukan revolusi pelayanan.

Posted in Extraordinary, Shouts & Whispers

November 10th, 2018 by Adhi Widjajanto

Beberapa hari lalu saya update firmware Android, dan mendadak terlewatkan beberapa panggilan telepon saat berkendara. Usut punya usut ternyata saat kita sedang bergerak secara otomatis mode Do Not Disturb menyala. Jadi teringat setelah update fw ada konfirmasi Google Play Services meminta permission baru, lupa apa… asal klik OK (bad example).

Setelah baca sana sini, ternyata Google sudah meluncurkan intelligent mode untuk mendeteksi apakah pengguna Android sedang berkendara atau tidak. Deteksinya menggunakan beberapa sensor seperti apakah sedang bergerak, terdengar suara mesin, dan apakah Bluetooth dan WiFi terhubung ke perangkat tertentu. Hmm, interesting. Jadi kepikiran seberapa banyak data kita yang dikumpulkan dan diolah sama Google…

Di luar itu, bagi sebagian besar orang, Do Not Disturb While Driving akan mengganggu aktifitas harian (saya juga sih) walau sebenarnya fitur ini jelas membuat umur kita lebih panjang, bener ga? Cuman fitur ini masih belum bisa membedakan antara supir dan penumpang, Yanty sudah komplain tiap masuk mobil… Semalaman mencari cara untuk me-nonaktifkan fitur ini, akhirnya ketemu.

Mungkin beda-beda di tiap ponsel Android, buat di Huawei Nova 2i saya, cukup buka Settings, lalu search Do Not Disturb Access, dan matikan permission dari Google Play Services. Semoga tulisan ini membantu.

Posted in Shouts & Whispers

September 20th, 2018 by Adhi Widjajanto

Pada tengah roda terdapat tonjolan berbentuk lingkaran yang ikut menjaga agar velg terpasang tepat di tengah. Kendala muncul saat menggunakan velg aftermarket yang rata-rata memiliki lubang lebih besar. So, di sini fungsi pemasangan center ring, tetap menjaga velg terpasang tepat di tengah, untuk menjaga kestabilan kendaraan saat roda berputar.

Ukuran center ring untuk tiap kendaraan berbeda-beda, begitu pula untuk berbagai tipe velg aftermarket, walau pada umumnya memiliki diameter sekitar 73.1mm. Untuk honda BR-V, ukuran center ring yang diperlukan adalah ukuran 64mm.

Cara pasangnya cukup mudah…

Read more of this article »

Posted in DIY, Shouts & Whispers

May 10th, 2018 by Adhi Widjajanto

It’s very annoying for years, having notebooks (yes, two!) with Intel Dual Band AC while your router still in b/g/n technology. The connection is almost unusable since it will almost drop all the time and sudden disconnect. Surf around dozens of sites and suggestions, nothing works. Buying dual band wireless AC router is not an option, still expensive for my tight wallet, but it really will solve the problem since my office use it.

Till yesterday I found something interesting, worth to try. I downgrade the router’s speed to b/g only and yes! The AC Wi-Fi works flawlessly. Don’t know why, but it really works.

For your reference, my two notebooks are Acer Aspire V3-371 and Lenovo Yoga 720-13IKB while the home router is Dlink DIR 612 and office routers are Aruba AP-205.

Posted in IT Freaks, Shouts & Whispers