Category: Shouts & Whispers

April 2nd, 2021 by Adhi Widjajanto

Saya memang lagi nyari TWS yang nyaman dan aman buat gowes karena Xiaomi True Wireless Earphone 2 yang dibeli beberapa bulan lalu terlalu kecil untuk di telinga. Setelah beberapa pertimbangan, antara beli IEM, atau earbuds yang ada fitur transparencynya, atau beli bone conduction ala-ala (open air?), antara yang terbaik termahal atau secukupnya murah, akhirnya ssya putuskan untuk mengakuisisi barang ini: Jete Openearpro. Bikinan Surabaya keknya.

Isi packaging

So, barang kemarin sampai di rumah, datang dalam keadaan fully charge, setelah coba sana sini malamnya saya charge lagi semalaman dan pagi ini menemani saya gowes 101km di Alsut selama 3 jam. Baterai bisa bertahan sampai saya selesai gowes, walau low battery warning sudah terdengar saat menit ke 150, padahal di hape masih tercatat 40%.

Volume saya pasang di max karena relatif kecil, bahkan untuk digunakan tanpa gowes pun, saya baru nyaman di volume max minus satu. Well, saat gowes, audio harus bersaing dengan gemuruh angin, jadi ya, set to max.

Soal keamanan, karena ini tipe bone conduction, jadi lubang telinga terbuka lebar, suara sekitar terdengar jelas, pun ketika pelotonan dengan Capedalist di belakang saya mengingatkan, “om jangan kriwil ya” terdengar jelas, saya yakin dia tidak berteriak… Hehehe…

Nyaman, jelas. Yakin ga akan jatuh karena posisinya nyantol di telinga. Lubang telinga pun ga ketutup kek pake earbud atau earphone. Dan cantolan di telinga somehow sangat nyaman, padahal ada tali masker dan gagang kacamata. Bone conductionnya sangat nyaman nempel di depan telinga. Kalau volume max sedikit terasa geli karena getarannya (mungkin saya belum terbiasa).

Terakhir, built quality, superb! Sesuai lah dengan harganya. Gitu dulu deh reviewnya, semoga bermanfaat.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

March 28th, 2021 by Adhi Widjajanto

Sebenarnya review ini ga sengaja. Saya pakai sepeda Polygon Strattos S3. Bawaan dari toko pakai ban Kenda ukuran 700×28. Praktis waktu ganti saya cari ukuran yang sama. Kenda lagi? Upgrade lah, saya melirik Continental Grand Sport Race (GSR) ukuran 700×28, harga miring karena teman salah beli ga bisa masuk ke sepeda aeronya.

Komparasi GSR 700×28 dengan US3 700×25

Ternyata setelah saya pasang, di S3 pun terlalu sempit untuk fork depan. Teman-teman STC menyarankan untuk ganti ke ukuran yang lebih kecil. Baiklah, biar mirip, saya beli Continental Ultra Sport III (US3) ukuran 700×25. Kalau dilihat ukurannya, GSR 700×28 itu jika dipompa sampai 100psi bakal mengembang sampai 30mm. Sementara US3 700×25 dengan tekanan yang sama akan mekar sampai 26mm. Terlihat jika pakai 700×28 nya Conti tinggal selebar kertas jarak ban dengan fork. Kalau pakai 700×25 lumayan lah, pasir ga akan nyangkut di fork. Oh ya, buat belakang saya tetap pakai GSR 700×28, kasian teman saya… Wkwkwk… Penampakannya tetap mepet dengan rem, cuman pasir masih lewat lah.

GSR 700×28 di seatstay S3, masih ada 2mm gap

Oh ya, sekalian review kedua ban. GSR warnanya hitam rada putih (tapi bukan abu-abu). Sementara US3 hitam full. GSR teksturnya lebih keras dari US3 yang beneran berasa “karet” di tangan. US3 bisa ditekan dengan kuku sementara GSR lebih keras. GSR tidak ada alur di telapaknya, hanya di pinggir saja. US3 ada alur sejajar dan melintang. Namun keduanya sama-sama ngegrip mampus kalau di atas lantai keramik. Keduanya juga sudah proven saya bawa 150km Cengkareng – Bogor pp (via Daan Mogot, Jl. Panjang, TBS, Raya Bogor) dan another 100km Alsut – Bogor pp (via Ciseeng yang ambyar penuh speed trap) seminggu kemudian. Semua trip saya pompa 100psi depan belakang walau US3 max pressure 123psi dan GSR max pressure 115psi.

Semoga bermanfaat.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , ,

January 27th, 2021 by Adhi Widjajanto

Tadi pagi ganti plat mobil di SAMSAT Daan Mogot. Jam buka layanan 08.00, tapi saya sengaja datang jam 7.30 biar dapat antrian awal. Masuk area langsung arahkan mobil ke lajur cek fisik (di sisi kiri gedung utama), nice, blom ada yang antri. Sementara Yanty bawa BPKB, STNK, dan KTP ke tempat fotokopi (bayar 5rb) yang berada di sisi kiri lajur cek fisik.

Jam 8 persis loket 1 buka, serahin seluruh berkas dan fotokopi, terima lembar cek fisik, naikin mobil ke ramp, buka kap, trus serahin lembar cek fisik ke petugas. Tar petugas yg melakukan cek fisik. Gausah kasih tip, bad habit, mereka udah digaji. Cek fisik kelar, geser mobil ke parkiran. Setelah itu lembar cek fisik balikin ke loket 2, dan nunggu untuk dipanggil dari loket 4.

Setelah dipanggil, ambil bukti pengesahan cek fisik di loket 4, lalu pindah ke gedung utama lantai 1 (lantai 2 untuk kendaraan roda 2). Di sini deretan komputer, self service di sini. Langkah ini baru, terakhir ke sini belum ada. Klik tombol ganti plat, ketik plat nomor dan nomor telepon, klik tombol print. Ambil lembar dari printer, bawa ke loket pendaftaran beserta berkas dari loket 4. BPKB dikembalikan sementara sisanya diambil sama petugasnya. Tunggu dipanggil.

Setelah dipanggil, dapat nota pembayaran, bawa ke loket pembayaran (di sebelah kanan loket pendaftaran), bayar (saya bayar cash, tapi di meja situ ada EDC sepertinya punya Bank DKI), trus dapat tanda bayar. Tanda bayar bawa ke loket pajak (paling kanan), serahkan lembar warna putih, trus tunggu dipanggil.

Setelah dipanggil, dapat kertas bukti pajak, lalu keluar gedung, pindah ke bangunan di belakang kanan gedung utama untuk ambil plat nomor. Berikan lembar pajak ke satu-satunya loket. Trus tunggu plat dicetak.

Setelah dipanggil, dapat plat nomor baru dan lembar pajak dikembalikan, lalu pulang, dan baru jam 9 pagi. Total biaya, BR-V Prestige: 4.454.000, fotokopi: 5.000, parkir SAMSAT: 5.000.

Posted in Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , ,

January 24th, 2021 by Adhi Widjajanto

Sebenarnya tadi saya pakai hujan-hujanan di Alam Sutera. Kebetulan hujannya cukup deras dan lampu jalan di Alsut Loop sudah dimatikan (sekitar jam 6 kurang). Terangnya superb, tanpa masalah menerangi jalanan aspal yang basah untuk kami bertiga. Sayang tak berani mengeluarkan hape untuk mengambil foto… Hehehe… Berikut foto-foto yang saya ambil sebelum hujan:

Lepas dari kualitas cahayanya, lampu sepeda ini menggunakan LED, sinarnya berwarna putih. Jadi cukup distinctive dengan lampu penerangan jalan dan lampu kendaraan yang biasa berwarna putih kekuningan. Beam patternnya hanya bundar, cenderung spotlight, tidak melebar (sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa lebar, pasang lensa tambahan?) Oh ya omong-omong lensa, kaca depan lampu ini berlubang tapi tak sampai tembus ke dalam, mungkin untuk membuat beam patternnya, kotoran bisa mengendap di situ tuh (mesti rajin dibersihkan).

Untuk mode nyala, selain pengaturan tingkat cahaya, ada mode rapid flash dan mode SOS (walau saya kira agak salah, harusnya tiga pendek, tiga panjang, lalu tiga pendek kan?). Diatur dengan menekan lama (satu-satunya) tombol di sisi atas lampu. Tombolnya dari karet silikon tebal, dan berukuran kecil, agak susah ditekan. Saya perlu pakai ujung kuku jempol.

Bobotnya lumayan berasa di telapak tangan. Bisa jadi tidak menjadi favorit pecinta sepeda ringan. Mungkin karena casingnya aluminium (bukan plastik) dan baterainya cukup besar (lupa berapa mAH, ada di brosurnya sih). Colokan charger USB-C, disertai dengan kabel charger. Waktu charging di brosur tertulis 6 jam. Entah benar tidak, saya charge semalaman, pagi jam 5 sudsh full (lampu indikator di tombol berubah dari merah menjadi hijau).

Bike mount nya cukup bagus. Pakai baut yang mudah dilepas pasang menggunakan tangan. Lampunya sendiri dapat secara mudah dilepas dari mountnya.

Summary: buat saya, worth to buy.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , ,

January 12th, 2021 by Adhi Widjajanto

Review TWS saya yang baru, Mi TW Earphones 2 Basic. Beli gegara perlu pakai TWS yang baterainya kuat buat meeting berjam-jam dan kualitas voice nya oke.

Langsung dipakai buat meeting

Beli dari Xiaomi Official Store, jaminan ori, jaminan kualitas. Dateng fully charged, sambung ke notebook, langsung geber Zoom meeting dari jam 9.30. Baterai habis sekitar jam 15.40. Pas lah sesuai brosur 5 jam (kepotong istirahat siang). Semoga awet baterainya.

Kualitas suara dan mic nya cakep. No complaints dari saya dan rekan-rekan meeting lainnya. Kalau buat lagu, nggak lah ya. Saya lebih suka jedug-jedug dan sudah dipastikan ga bisa didapat dari tipe open ear TWS.

Soal kuping, subyektif ya, buat saya round shapenya terlalu kecil. Kalau dipakai lama di telinga yang sudah keringetan jadi gampang lepas. Padahal rencananya bakal dipakai menemani gowes juga (sebelum dikomplen, TWS model open ear aman buat gowes karena ambience sounds masih kedengeran jelas).

So far, buat tujuan utama tercapai sih. Kalau mau irit, pakai TWS nya gantian kanan dan kiri jadi harusnya bisa dapat total 10 jam buat meeting (semoga ga pernah kejadian… 🤣)

Habis dalam 5 jam, sesuai brosur

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , ,

December 29th, 2020 by Adhi Widjajanto

Ini yang kali kedua saya merenovasi sebuah sepeda. Dapat “lungsuran” dari bokap, yang ternyata merek terkenal pada jamannya. Kondisinya sudah belasan tahun tak terpakai. Ban remuk, frame berdaki tebal, kabel semua seret, gemuk padat membatu, mata chainring sebagian rompal.

Perlu sekitar 6 jam untuk mempreteli semuanya. Bersihkan pakai sabun, bensin, dan sabun lagi. Bahkan frame sempat saya kompon pakai mesin biar dakinya hilang (ternyata warnanya gloss, bukan doff).

Dan perlu another 6 jam untuk merakitnya kembali. Grease baru, kabel luar dalam ganti, ban luar dalam ganti, sadel baru, dan tambah missing link untuk rantai agar mudah perawatannya di kemudian hari. Sisanya semua masih orisinil. Tinggal nambah goatlink (karena rd nyangkut ke sprocket) dan saddlebag atau handlebar bag tergantung yang mau pakai nanti.

Saya? Puas!!!

  • Frame: Bridgestone Trailblazer, cr-mo
  • Fork: Bridgestone, cr-mo
  • Seatpost: alloy
  • Saddle: Velo Plush
  • Stem & Handlebar: Ritchey
  • Brake lever: Shimano Exage SLR Trail BL-350
  • Brake: Shimano BR-M464
  • RD Shifter: Shimano SIS 7S SL-M300
  • FD Shifter: Shimano Light Action
  • RD: Shimano Exage 400 LX
  • FD: Shimano Exage 400 LX
  • Crank: Shimano Exage 500 LX
  • Bottom bracket: vintage
  • Pedal: Shimano Deore
  • Chainring: Shimano SG 3S 24-46
  • Cassette: Shimano 7S 13-34
  • Wires: Jagwire LEX-SL
  • Chain: Shimano CS-HG
  • Rims: Ritchey Vantage Sport 26
  • Hubs: Shimano Exage FH-HG50
  • Tires: Swallow 26 x 1.75
  • Bottle cage: Mt. Zefal

Posted in DIY, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , , , , , , ,

December 4th, 2020 by Adhi Widjajanto

Apa itu engine flush? Kalau dari Wikipedia, engine flush adalah suatu cara untuk mengurangi endapan/ deposit oli yang tak terbuang saat melakukan penggantian oli mesin. Sebelum kita bahas soal engine flush, ada baiknya kalau kita bahas soal endapan/ deposit oli tersebut. Kalau bahasa kerennya: oil sludge.

Oil sludge adalah oli yang sudah menjadi bentuk gel atau malah berbentuk padat yang dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya:

  • panasnya blok mesin yang seringkali di atas 100 derajat celcius
  • adanya kadar air di dalam oli yang terjadi karena oli mendidih/ mengeluarkan gelembung uap
  • penggunaan kendaraan dengan kuantitas oli yang kurang
  • penggunaan kendaraan dalam jangka waktu yang singkat sehingga temperatur mesin belum sempat cukup panas untuk membuang uap air yang ada di dalam mesin
  • kotoran dari luar blok mesin yang tercampur dengan oli (kerak pembakaran, debu, dsb)
  • sisa bahan bakar yang tak sepenuhnya terbakar dan tercampur ke dalam oli

Oil sludge dapat menimbulkan kerusakan pada mesin, seperti mengurangi kualitas pelumasan, mengganjal gerak mesin yang seharusnya terlumasi oli, bahkan bisa jadi penyebab mesin harus diganti baik sebagian atau secara keseluruhan.

Seperti yang telah disebut pada paragraf pertama, salah satu cara untuk mengurangi oil sludge adalah penggunaan cairan engine flush. Saya ga berani bilang menghilangkan karena rasanya terlalu ekstrim. Cairan engine flush dibuat dari bahan kimia, bekerja layaknya deterjen untuk menghancurkan oil sludge. Oh ya, penggunaan oli sintetis juga bisa mengurangi resiko terjadinya oil sludge, karena oli sintetis biasanya juga sudah mengandung deterjen dengan kuantitas yang terbatas.

Cara pakai engine flush cukup mudah:

  • Nyalakan mesin dan tunggu sampai suhu mesin cukup panas (running temperature)
  • Matikan mesin
  • Tuang cairan engine flush ke dalam lubang pengisian oli mesin
  • Nyalakan mesin selama 10 menit dalam posisi idle (AC dan beban listrik lainnya dimatikan)
  • Matikan mesin
  • Ganti oli mesin berikut filter oli mesinnya dengan yang baru

Semoga bermanfaat.

Referensi:

Posted in Shouts & Whispers Tagged with: , , , ,

September 27th, 2020 by Adhi Widjajanto
Packaging yang eksklusif

Packaging
Pertama terima barangnya saya terpesona dengan packagingnya. Very classy! Hard box presisi sekelas kotak HP hi end, cetakan di box jelas dan rapi, sangat profesional. Setelah dibuka, pada bagian atas dilapis busa tipis lembut, DVR ditaruh rapih terbenam securely di bagian bawah dengan pelindung layar sementara parts lainnya dimasukkan ke dalam box terpisah yang juga cukup representatif.

Isi

Isi Kotak
DVR dengan build quality superb, plastik berkualitas, dan berasa berbobot. Di dalam kotak aksesoris berisi kamera belakang plus double tape dan dua baut tambahan, kabel kamera belakang dengan kabel khusus warna merah untuk reverse camera, antena GPS dengan kabel yang cukup panjang, car charger lagi-lagi dengan panjang kabel yang lebih dari cukup, dua karet pengikat DVR serta dua karet berperekat untuk mengganjal DVR agar tidak licin pada kaca center mirror. Ada selembar quick user guide yang benar-benar quick sampai ga ada informasi apapun yang bisa saya pakai.

Diganjal agar terpasang erat

Pemasangan DVR
Karena saya pasang di center mirror yang punya fitur anti glare, bentuknya cukup tebal dan lebar, jadi pengait DVR tidak bisa meraih sempurna, akibatnya sedikit menggantung tidak menyentuk cermin center mirror, mudah bergetar walau terpasang erat dengan karet pengikatnya. Saya ganjal setebal 1cm di kanan dan kiri agar dapat menempel penuh di cermin center mirror.

Pemasangan kamera belakang

Pemasangan Kamera Belakang
Kabel cukup panjang untuk dilewatkan melalui plafond ke arah belakang mobil. Seharusnya kamera belakang dipasang di atas plat nomor karena ada fitur reverse camera. Namun karena di mobil saya sudah ada kamera bawaan, yang ini saya tempel menggunakan double tape yang sudah tersedia di dalam mobil tepat di bawah hi mount stop lamp. Jika reverse camera hendak diaktifkan, sambung kabel merah ke positif lampu mundur.

Antena GPS

Pemasangan Antena GPS
Karena kabelnya cukup panjang, antena GPS saya letakkan di tengah dashboard dekat dengan windshield agar mendapat penerimaan paling baik. Kabel diselipkan dari plafon melalui pilar A dan melipir di antara dashboard dan windshield.

Posisi kamera depan

Pengaturan Posisi Kamera Depan
Setelah dinyalakan, untuk pengaturan posisi kamera depan tidak begitu fleksibel. Posisi kamera di sisi kiri DVR, dan karena pengemudi ada di sisi kanan (obviously) maka DVR juga saya miringkan ke kanan agar dapat dilihat dengan jelas dan leluasa. Namun akibatnya kamera depan jadi tertarik ke belakang dan menyorot ke kiri. Saya sudah berusaha adjust posisinya untuk menyorot lurus ke depan namun sudah mentok. Mungkin karena badan saya yang pendek jadi DVR terlalu miring ke kanan. Akhirnya harus berkompromi dengan sorotan kamera depan yang agak ke kiri. Saya jadi berpikir, seandainya DVR ini dipasang pada mobil LHD mungkin bisa lebih pas (di Cina LHD kan?).

Dashboard
Google Map

Android Based
DVR ini berbasis Android, dan hampir seluruh fitur Android berfungsi di sini. Google Play Store sudah terinstall sehingga bisa mengupdate aplikasi bawaan (Gmap dan Gboard) serta menginstall aplikasi tambahan lainnya. Mungkin saya akan coba download offline area Gmap dan/ atau install Waze.

Internal Storage & SD card

Storage
Untuk media penyimpanan tersedia ROM 16GB untuk aplikasi dan slot MicroSD untuk menyimpan rekaman DVR. Tidak disebutkan ukuran maksimum MicroSD, namus saya coba dengan 32GB masih bisa berfungsi.

WiFi
Bluetooth

Konektivitas
DVR ini dilengkapi dengan WiFi 802.11 AC, cukup modern mengingat WiFi 6 baru populer setahun belakangan. Tak lupa bisa diaktifkan sebagai Hotspot/ Access Point (SoftAP). Lalu ada slot SIM card, yang sayangnya IMEI tidak terdaftar di KomInfo jadi walau SIM card Indosat saya terdeteksi dan dapat sinyal namun statusnya No Service. Lalu ada juga konektivitas Bluetooth sehingga bisa disambungkan dengan HP. Plus, untuk audio ditambahkan FM transmitter, jadi audionya bisa didengarkan via head unit.

Video Quality
Video Length

Resolusi Video
Baik kamera depan dan belakang hanya memiliki dua pilihan kualitas: HD dan FullHD. Terdapat opsi untuk merekam suara/ tidak. Untuk durasi video ada beberapa pilihan: 30 detik, 1, 2, atau 3 menit. Sudah ada G sensornya juga sehingga bisa secara otomatis lock recording saat misal terjadi tabrakan ataupun pengereman mendadak.

Sebagai pengganti center mirror
Center mirror plus penunjuk arah dan waktu (screen saving mode)
Center mirror menggunakan kamera belakang
Center mirror menggunakan kamera belakang, full screen

Fungsi Center Mirror
Karena DVR dipasang pada center mirror, mau tak mau kita harus menyalakan layar saat berkendara malam. Bagi mata saya yang sudah plus, hal ini jadi mengganggu karena tidak bisa melihat layar dengan jelas. Untuk siang hari atau lingkungan terang, layar DVR bisa dimatikan penuh (dengan menekan tombol di bagian bawah DVR) dan dijadikan sebagai cermin walau lebih gelap dari cermin biasa. Agar layar dapat menampilkan sorotan kamera secara terus menerus, harus diatur sebagai berikut:

Step 1: Auto Exit Preview dimatikan/ disable/ never
2. Auto Screen Saving: Forbid

View
Rasio kamera normal 4:3 sementara layar lebar 10 inch dengan tinggi hanya 2,5 inch. View kamera dapat dipilih cropped atau scaled. Jika cropped, layar hanya menampilkan sebagian sorotan kamera dan bisa di scroll atas bawah. Sementara untuk tampilan scaled sorotan kamera akan tertampil penuh namun terdistorsi jadi gepeng.

Aplikasi
Untuk pairing ke HP menggunakan CarAssist Go! Ada 3 cara koneksi, pertama DVR menjadi AP dan HP terhubung ke DVR melalui WiFi. Cara kedua adalah DVR terhubung ke Internet dan HP mengakses DVR melalui Internet juga. Cara ini sebenarnya kurang saya rekomendasikan karena terkait privasi. Ini produk Cina, dan pasti servernya di Cina juga, dan Pemerintah Cina menerapkan kebijakan untuk melakukan screening terhadap seluruh traffic Internet. Anyway, cara ketiga adalah melalui Bluetooth. Sementara pada aplikasi Car Assist Go! Terdapat beberapa fitur untuk melakukan pengaturan terhadap DVR seperti melihat rekaman, melihat realtime view, dan melihat posisi realtime. Wow, bisa buat tracker nih saat mobil kita dipinjam orang (dengan syarat DVR tersambung ke Internet).

Kualitas Rekaman
Well, kebetulan saya juga pakai DVR bikinan Cina, Yi Smart Dashcam. Untuk komparasi hasil rekaman bisa dilihat di bawah ini untuk siang dan malam. Resolusi Yi SmartDashcam sudah saya sesuaikan agar serupa. FullHD masing-masing DVR bisa dilihat di sini untuk Lenovo V7 Pro 4G WiFi dan Yi Smart Dashcam.

Siang hari
Malam hari
  • File extension: ts
  • Format: mp4
  • Ukuran file: 156MB untuk durasi2 menit
  • Resolusi: FullHD (1920 x 1080)
  • Bitrate: 10952
  • Audio: 96kbps, mono, 16MHz

Kesimpulan
Mobil di Indonesia RHD, sementara DVR terletak di tengah, jadi untuk pencet-pencet apalagi kalau mau mengoperasikan Google Map jadi rada susah, kecuali mungkin bagi yang kidal. Untuk hasil rekaman video, mirip-mirip lah dengan Yi Smart. Cuman untuk kualitas yang mirip, Lenovo menyimpan file lebih kecil dari Yi Smart, jadi untuk SD card ukuran sama, Lenovo menyimpan lebih banyak rekaman. DVR ini berbasis Android, dengan ROM 16GB sih bisa install macam-macam. Jika dipasang pada mobil yang belum punya smart head unit sih bisa dibilang ini upgrade banyak.

So, bagi anda yang pengen punya device all in one, Lenovo V7 Pro 4G WiFi ini bisa menjadi pertimbangan. Jika SIM card 4G nya bisa diaktifkan, DVR ini benar-benar worth to buy. Terima kasih untuk LineUp AutoShop diberi kesempatan untuk mereview DVR nya.

Posted in My Thoughts, Shouts & Whispers

September 14th, 2020 by Adhi Widjajanto

This was sucks, really, having this awesome notebook but can’t use the fancy fingerprint login. Months searching finally stuck on this post. Apparently it has to be done physically by re-seating the ribbon wires.

How: Shutdown the notebook. Open 10 tiny star screws, remember, 3 screws are longer than others are mounted near the hinges. Open the back cover, just pull it using your nails begin at front side, then lift and slide to release the back hook. Open 4 battery screws, and lift it a bit. Release fingerprint sensor ribbon wire and re-attach it. Put all back together. Turn on the notebook. Enter Device Manager. Delete Synaptic WBDI and uninstall the driver. Scan for hardware changes. If Synapric WBDI is up and run without any warning or error marks, then you’re up and go. Go to fingerprint settings and you know what to do.

Posted in DIY, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , ,

August 27th, 2020 by Adhi Widjajanto

Repair: lapisan chrome sudah banyak karat di sana sini. Busa dropbar sudah mengeras dan sobek di satu sisi. As crank (bottom bracket) bengkok.
Enhance: ganti sadel yang lebih comfortable dan ganti brake lever agar saya bisa dapat posisi hood yang lebih agresif.

Posted in DIY, Shouts & Whispers Tagged with: , , , , , , , , , ,